IAGI netters yang berbahagia, Ikut sedekah pendapat :). Sebagai pegawai Pertamina di era 'transformasi' saya sampaikan apresiasi atas kritik (baca: alarm) dari pak Rudi (Wamen ESDM?) tersebut, kalau itu benar pendapatnya.Mungkin pendapat saya kesannya subjektif. Tapi tidak masalah setidaknya sebagai penyeimbang pendapat beliau yang dimuat wartawan detikfinance (azas cover both side?). Sejujurnya dari dulu pak Rudi adalah salah satu dosen dan ilmuwan yang saya kagumi karena dedikasi, idealisme dan keberaniannya untuk melawan mainstream dan hegemoni asing. Semoga kekaguman saya tidak akan berkurang walaupun beliau sekarang berada di pusaran kekuasaan.
Sebelumnya perlu diperjelas lagi angka 47%, apakah itu luas area blok atau luas lapangan? Mungkin di antara IAGI netters ada yang punya info A1 (rahasia negara?). Baiklah untuk sementara saya anggap luas area blok dan produksinya karena itu yang paling sederhana menghitung dan membandingkannya. Saran saya agar lebih adil/fair (jeruk to jeruk) untuk membandingkan antara K3S satu dengan K3S yang lainnya adalah dengan melihat petroleum systemnya, play-nya, sumberdayanya, cadangannya, RtoP-nya, RF-nya atau CR-nya. Baru terakhir dengan melihat produksinya. Operasi dan HSE-nya jangan lupa. Kalau dibandingkan seperti itu maka saya kira akan terjadi kompetisi yang baik dan sehat, sehingga target penambahan cadangan dan produksi pemerintah akan diperoleh dengan maksimal. Saya coba melihat hubungan wilayah kerja Pertamina dan produksinya dari sudut pandang yang lain. Kita lihat sejarah eksplorasi & produksi migasnya. Sebagai yang masih awam, mohon dikoreksi. Kembali sejenak ketika Pertamina berperan sangat power full sebagai regulator, supervisor dan operator (sehingga cenderung korup?). Seperti kita ketahui bahwa blok Pertamina saat ini secara umum berasal dari 5 kategori. Pertama, blok Pertamina EP saat ini yang dulunya adalah blok yang operatornya murni Pertamina. Mungkin ini angka yang 47% itu yang dimaksud. Blok ini sebagian besar berada di onshore, playnya relatif dangkal. Umumnya lapangan minyak dan kebanyakan ditemukan oleh Belanda. Pendek kata lapangan yang sudah tua, tapi dekat dengan peradaban dan fasilitas peninggalan kolonial. Yang jadi pertanyaan, Pertamina sebagai regulator kenapa memilih blok dengan kondisi lapangannya seperti itu. Kenapa tidak yang di offshore. Mungkin karena terlalu beresiko tinggi. Kenapa tidak memilih blok yang ada lapangan besar cadangan dan produksinya, misalnya Lapangan Minas. Toh di onshore juga. Jawabannya saya pikir lebih cenderung psikologis dan politis daripada teknis. Kedua, blok PHE sekarang yang dulunya adalah eks JOB/BOB yang operatornya Pertamina tapi berpartner. Umumnya masih lapangan minyak dan masih dekat fasilitas produksi. Ketiga adalah blok yang operatornya K3S lain tapi PHE masih memilik share. Umumnya lapangan gas besar seperti Lapangan Suban. Keempat adalah blok eks TAC. Blok ini umumnya kembali ke Pertamina EP setelah kontraknya habis. Namun blok TAC yang menarik adalah blok Cepu. Ditemukan oleh Pertamina dan operatornya diberikan kepada 'asisten'nya. Jelas kalah secara politis dan psikologis. Mungkin juga teknis dengan paradigma pada saat itu? Kelima adalah blok yang diperoleh dengan 'jalan pintas' (baca: breakthrough) yaitu dengan cara akuisisi blok K3S lain. Yaitu seperti blok ONWJ & WMO. Dan sebentar lagi blok Mahakam, walaupun masih mendapat 'tantangan', sehingga strategu ubu . Inilah mungkin salah dua program Dirut Pertamina untuk mengamankan kebutuhan energi nasional yang membuat beliau dulu terpilih. Kesimpulannya, pembagian blok dulu diperkirakan berkorelasi dengan kondisi politik & psikologi para pengambil kebijakannya. Blok Pertamina EP (47%?) adalah blok bagus dengan play concept dulu. Dengan play concept baru (go deeper) atau target gas, blok ini bisa jadi bukan blok yang terlalu bagus, kecuali dengan menggunakan play yang keluar kotak (out of the box). Jadi luasnya blok Pertamina sekarang tidak otomatis berkorelasi dengan produksinya. Namun bagaimanapun kritikan tersebut bisa diambil pelajarannya terutam untuk transformasi SDMnya (baca: energi terbarukannya). waabs. rgds, aminb 3323 ________________________________ Dari: Bandono Salim <[email protected]> Kepada: Iagi <[email protected]> Dikirim: Kamis, 13 September 2012 13:30 Judul: Re: [iagi-net-l] Kuasai 47% Ladang Minyak RI, Tapi Produksi Pertamina Cuma Nomor 3 Asal minyak laku, kan bisa beli alat produksi. Apakah hasil minyak dibanding alat produksi lebih mahal alatnya? Semua kan dpt dihitung. Nyatanya prshaan asing dpt produksi besar kan? Aku tidak faham bagaimana menghitungnya. Salam. Powered by Telkomsel BlackBerry® -----Original Message----- From: <[email protected]> Date: Thu, 13 Sep 2012 13:11:26 To: <[email protected]> Reply-To: <[email protected]> Subject: [iagi-net-l] Kuasai 47% Ladang Minyak RI, Tapi Produksi Pertamina Cuma Nomor 3 Kuasai 47% Ladang Minyak RI, Tapi Produksi Pertamina Cuma Nomor 3 Rista Rama Dhany - detikfinance Kamis, 13/09/2012 12:52 WIB Jakarta - Pemerintah mengharapkan PT Pertamina (Persero) bisa lebih memaksimalkan ladang minyak yang dimilikinya saat ini. Karena, 47% ladang minyak dan gas di Indonesia dikuasai Pertamina, namun produksi migasnya hanya menduduki posisi nomor 3. "Pertamina itu menguasai 47% ladang minyak di wilayah kerja migas seluruh Indonesia. Tetapi produksinya malah masih nomor 3 dibanding perusahaan minyak yang lain di Indonesia," kata Rudi di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Kamis (13/9/2012). Menurut Rudi, Pertamina tidak perlu terlalu bernafsu untuk menguasai lapangan-lapangan minyak dan gas milik perusahaan asing yang kontraknya segera habis, seperti Blok Mahakam. Dikatakan Rudi, Blok Mahakam saat ini dikuasai oleh perusahaan asal Prancis Total Indonesie yang kontraknya akan habis 2018. Pertamina memang mengincar lapangan migas ini. "Maksimalkan ada yang dimiliki saat ini, tingkatkan produksinya, tingkatkan SDM dan teknologinya," kata Rudi. Memang, kata Rudi, secara nasionalisme, Pertamina perlu didukung untuk menjadi perusahaan minyak milik negara. Namun apabila Pertamina menguasai seluruh ladang minyak di Indonesia dan menyuruh perusahaan asing pergi, Rudi menyangsikan Pertamina mampu menggarap semuanya. "Kita tetap perlu asing untuk memproduksi minyak di Indonesia. Contoh misal mau menguasasi Blok Mahakam, apakah Pertamina mampu memproduksi minyak dan gas sebesar yang dilakukan Total? Sulit, karena memerlukan teknologi dan biaya yang tidak sedikit, dan apakah Total mau beri data-data teknis di blok tersebut yang puluhan tahun dikerjakannya? Tentu tidak. Artinya akan mulai dari awal lagi," ujar Rudi. Untuk itu, Rudi meminta kepada Pertamina untuk memaksimalkan produksi yang ada tersebar di seluruh Indonesia. "Maksimalkan apa yang ada dulu. Karena untuk produksi minyak saja saat ini Pertamina EP hanya ada di urutan ketiga, di mana produksi migas pada 2013 ditarget hanya sekitar 132,3 ribu barel setara minyak per hari, kalah dibandingkan Total dan Chevron yang hanya memiliki 2 wilayah kerja saja," tegas Rudi. Seperti diketahui, untuk estimasi lifting migas di 2013, Total E&P Indonesie dengan wilayah kerja Mahakam dan Tengah menjadi produsen terbesar dengan produksi 382,2 ribu barel setara minyak per hari. Lalu Chevron Pacific Indonesia di wilayah kerja Rokan dan Siak dengan estimasi produksi migas 335 ribu barel setara minyak per hari, dan Pertamina EP dengan wilayah kerja seluruh Indonesia estimasi produksi migas sebesar 290,3 ribu barel setara minyak per hari. ___________________________________________________________ indomail - Your everyday mail - http://indomail.indo.net.id -------------------------------------------------------------------------------- PP-IAGI 2011-2014: Ketua Umum: Rovicky Dwi Putrohari, rovicky[at]gmail.com Sekjen: Senoaji, ajiseno[at]ymail.com -------------------------------------------------------------------------------- Jangan lupa PIT IAGI 2012 di Jogjakarta tanggal 17-20 September 2012. REGISTER NOW ! Contact Person: Email : [email protected] Phone : +62 82223 222341 (lisa) -------------------------------------------------------------------------------- To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id For topics not directly related to Geology, users are advised to post the email to: [email protected] Visit IAGI Website: http://iagi.or.id Pembayaran iuran anggota ditujukan ke: Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta No. Rek: 123 0085005314 Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Bank BCA KCP. Manara Mulia No. Rekening: 255-1088580 A/n: Shinta Damayanti IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi --------------------------------------------------------------------- DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to information posted on its mailing lists, whether posted by IAGI or others. In no event shall IAGI or its members be liable for any, including but not limited to direct or indirect damages, or damages of any kind whatsoever, resulting from loss of use, data or profits, arising out of or in connection with the use of any information posted on IAGI mailing list. ---------------------------------------------------------------------

