Vicky

Terima kasih atas infonya.
Khusus mengenai Kontrak PSC sebagian besar jangka waktunya adalah 30 tahun , 
dan setelah itu "kepemilikan" harus diserahkan kpd "Perusahaan Nasional".

Mengingat sistim ekonomi thn 1974 dan selama Pak Harto memerintah sangat 
berbeda dengan sekarang , apakah UU PMA thn 1968 ini masih berlaku ?

si Abah


________________________________
 From: Rovicky Dwi Putrohari <[email protected]>
To: [email protected] 
Sent: Wednesday, September 26, 2012 9:58 AM
Subject: Re: [iagi-net-l] Apa itu Perusahaan Nasional ( was Revitalisasi 
Pertamina)
 



2012/9/26 Ok Taufik <[email protected]>

Abah,
>Langsung dari sumbernya 
>
>http://www.kbn.co.id/id/files/peraturan/UU/Undang-Undang%20No.%206%20Tahun%201968.pdf
> 
>
>BAB II.
>PENGERTIAN PERUSAHAAN NASIONAL DAN
>PERUSAHAAN ASING.
>Pasal 3.
>(1) Perusahaan nasional adalah perusahaan jang sekurang- kurangnja 51% 
>daripada modal dalam negeri jang ditanam didalammnja dimiliki oleh Negara 
>dan/atau, swasta nasional Persentase itu senantiasa harus ditingkatkan 
>sehingga pada tanggal 1 Januari 1974 menjadi tidak kurang dari 75%.Tulisanku 
>2008 juga menjelaskan peran NOC yang semakin kuat di beberapa negara penghasil 
>migas. 
Dibawah ini ada chart yg menunjukkan bahwa beban Pertamina semua politis 
(menurut studinya Rice University 2007).

rdp

Pergeseran peran NOC (National Oil Corporation) dalam kancah global energi
Posted on 9 Maret 2008 by Rovicky 
 
 
 
 
  
1 Votes

Ketika menulis (terlalu) banyaknya politik yang “bermain” di Pertamina, 
langsung banyak yang ngirim email, “Aah, apa iya atau hanya sekedar issue 
menjelang pemilu 2009“. Wah pemilu masih tahun depan, kan ? Bukan, … aku bukan 
menghubungkan 
dengan pemilu tetapi aku hanya ingin mengungkapkan bagaimana 
strategisnya NOC (National Oil Corporation) dalam sebuah negara saat ini.
Sekali lagi hanya mengingatkan bahwa jumlah cadangan migas di dunia 
saat ini berjumlah  1,119.615 (World Oil) hingga 1,292.936 (Oil and Gas 
Journal). Dari jumlah itu lebih dari 77% dikuasai oleh NOC. Dan 
produksinya saat ini lebih 50% diproduksi oleh NOC. Artinya secara 
relatif, IOC (International Oil Corporation) lebih banyak 
memproduksi minyaknya ketimbang NOC yang cenderung “menahan” atau 
menyimpan untuk persiapan di masa sulit mendatang.
 “Kalau gitu apa artinya ya, Pakdhe ?”
> “Banyak yang bisa disimak, Thole. Mungkin NOC lebih berpikir 
‘menyimpan’ untuk masa depan, mungkin juga NOC kurang cerdas dalam 
memproduksi, atau IOC hanya berpikir sepanjang masa kontrak saja, 
sehingga cenderung menyedotnya cepat-cepat”
Bagaimana kalau NOC vs IOC dihadapkan head to head ?
Pergeseran sumber energi global
NOC atau National Oil Company adalah perusahaan minyak yang dimiliki atau 
dikuasai oleh negara (state corporate). Perusahaan ini kebanyakan awalnya hanya 
sebagai regulator (pengatur) namun akhirnya banyak yang berevolusi menjadi 
sebuah perusahaan minyak 
yang juga ikut beroperasi. Pergeseran ini sangat mungkin dipicu oleh 
perubahan geopolitik dunia serta semakin langka atau justru semakin 
terkuncinya kebutuhan energi minyak dalam mengisi kebutuhan energi 
primer di dunia. (Bacaan terkait “Kemana “lari”nya minyak bumi ini ?).
Produksi minyak mungkin masih akan bertahan hingga 2020-2030, tetapi 
setelah itu harus ada sumber energi lain yang mampu menggantikannya. 
Oleh sebab itu kepastian pasokan energi ini menjadi hal yang penting dan harus 
dimulai dari saat ini. Dan sepertinya inilah yang menjadi dasar 
mengapa terjadi pergeseran peranan NOC dari regulator menjadi operator.
Siapa saja sih NOC dan IOC itu ?
NOC yang terkenal (cadangan dalam milyar barrel) antara lain: Saudi 
Arabian Oil Company (295); National Iranian Oil Company (287); Qatar 
Petroleum (165); Abu Dhabi National Oil Company (137); Iraq National Oil 
Company (137) ; Gazprom Russia (115); Kuwait Petroleum Corporation 
(107); Petróleos de Venezuela S.A. (102); Nigerian National Petroleum 
Corporation (62); National Oil Corporation (Libya) (45); Sonatrach 
Algeria (40); Rosneft Russia (35).  Tentunya juga termasuk Pertamina 
(Indonesia) dan Petronas (Malaysia).
Sedangkan IOC (International Oil Corporation) adalah perusahaan 
minyak yang usahanya terutama dalam bidang hulu Explorasi dan Produksi 
(Upstream)  dan juga usaha pengilangan dan pemasaran (Downstream) antara lain  
yang sering disebut major Exxon-Mobil, Chevron, BP, SHELL, dll. 
Dan juga perusahaan lebih kecil (independent) seperti HESS, Murphy oil, 
dll. Kepemilikan perusahaan ini seringkali ada pada personal maupun 
dijual dalam stock exchange market (pasar modal).
 “Looh kalau Schlumberger itu apa Pakdhe ?”
> “Mereka itu golongan ‘services company’,  ada yg sangat besar assetnya 
> diantaranyaSchlumberger, Halliburton, Baker, dll. Jadi kamu harus tahu 
ada beberapa kelompok perusahaan di bidang migas”
>
Tidak seluruhnya IOC merupakan saham swasta, beberapa merupakan 
gabungan. Misalnya Shell yg dimiliki kerajaan Belanda, BP, ENI, Total 
dsb.
Membandingkan beberapa NOC 
Dibawah ini ada beberapa gambar yang menunjukkan posisi beberapa NOC 
dan juga perbandingan dengan IOC di dunia. Sumber dari gambar dibawah 
ini kebanyakan dari studinya Rice University yang dilakukan beberapa 
tahun ini dan dipublikasikan pada tahun 2007. Jadi bukan berita baru 
tetapi (mungkin) jarang yang mengamati.
Kebijakan Socio-economic di NOC
Karena perusahaan ini merupakan state company atau milik 
negara tentusaja ada tujuan sosial. Seperti yang saya tuliskan 
sebelumnya mengapa Pertamina itu penting, karena fungsi ini akan melekat pada 
sebuah state company.
Masing-masing NOC tidak sama dalam menyikapi perubahan peran NOC 
dalam global energy market shift. Disini terlihat bahwa untuk Indonesia, 
Pertamina tidak lagi bertanggung jawab dalam energy security (ketananan energi 
nasional). Bahkan menurut studinya Rice University ini, 
kebanyakan kebijakan Pertamina merupakan kebijakan politik. Pertamina 
seolah menjadi banci (maaf) karena gaya atau policy ekonominyapun juga tidak 
dominan.
Tapi jangan buru-buru sewot, ini kan pandangan orang luar 
terhadap pertamina. Hanya orang dalam yang mungkin lebih pas memberikan 
keterangan.  Dalam sebuah acara BUMN Executive Breakfast Meeting di Pertamina 
tanggal 10 May 2007 diadakan pembicaraan bertopik : 
“Menuju Ketahanan Energi Nasional” yang tentusaja dihadiri oleh Menteri 
ESDM, dll. MESDM sangat konsen dengan peran Pertamina dalam energy 
security ini. Tapi sebaiknya untuk khususnya Pertamina ditulis terpisah 
saja ya. Kita bicara NOC di negara-negara lain.
 “Jangan lupa lo, Pakdhe. Pan aku pingin tahu bagaimana Pertamina dipandang 
oleh orang lain juga” 
Efisiensi penggunaan tenaga profesi
Cirikhas perusahaan negara adalah memiliki jumlah pekerja yang sangat buanyak. 
Hal ini tentusaja menjadi tolok ukur efisiensi dibanding jumlah minyak 
yang dihasilkan. Sekali lagi salah satu tujuan dibentuknya NOC adalah 
menampung tenaga kerja lokal. Petrochina merupakan perusahaan yg 
memiliki cirikhas ini, memiliki pekerja sangat banyak tetapi 
output/produksinya sedikit. Tetapi China juga memiliki  NOC lain yaitu 
CNOOC yang lebih efisien dalam menggunakan tenaga profesionalnya.
Aramco juga terlihat efisien, tetapi harus dimengerti bahwa 
lapangan-lapangan minyak Aramco sangat buagus, dan “mudah” dioperasikan. 
Produksinya yang suangat banyak ini akhirnya “menipu” (mis lead) .
Dari ilustrasi grafis diatas memperlihatkan bahwa IOC besar 
menggunakan tenaga kerjanya cukup efisien. Hanya dengan memerlukan 19-27 tenaga 
professional mampu memproduksi setiap juta minyaknya.
Jumlah produksi di dalam negeri
NOC ini tentusaja juga beroperasi di negerinya, namun juga ada perusahaan 
lain yang juga beroperasi sebagai produsen. Shingga tidak seluruh 
produksi sebuah negara itu dapat diklaim sebagai produksi dari NOC-nya. 
CNOOC kecil produksi dalam negerinya, tetapi Pterochina cukup besar, 
sehingga total NOC china memiliki produksi cukup besar di dalam 
negerinya sendiri.
Petronas memiliki operasi (daerah explorasi dan produksi) di 
negerinya sendiri, dan cukup kuat karena hampir semua blok selalu ada 
sahamnya Petronas Carigali sebagai local partner. Bahkan produksinya 
dapat mencapai 60% dari total produksi negeri itu. Hal ini disebabkan 
Petronas dapat mengeklaim produksi total negaranya. Untuk Pertamina, 
tunggu tulisan berikutnya ya  
Produksi dan aktifitas di negara lain
Tidak semua perusahaan NOC ini melakukan kegiatan eksplorasi di luar negerinya 
(go international).  Mungkin karena perusahaan NOCnya tidak hanya satu, 
sehingga ada pembagian tugas bagi NOC ini, atau cadangan sertapekerjaan 
rumahnya masih banyak yg belum selesai. Petronas merupakan perusahaan NOC yang 
paling aktif di luar negerinya, hal ini sangat mungkin disebabkan sudah 
merasa cukup puas dengan pekerjaan rumahnya, dan memiliki kemampuan 
berkiprah dan bersaing dengan IOC. Selain itu jumlah cekungan di 
Malaysia  hanya 3 yang utama dan tidak sekompleks diversitynya 
dibandingkan dengan Indonesia yang memiliki Cekungan sedimen lebih dari 
60.
Malaysia justru tidak memberikan kesempatan perusahaan migas bermodal swastanya 
untuk bereksplorasi di negerinya sendiri. Misalnya Genting 
oil, yang justru melakukan kegiatan eksplorasi di Indonesia.
Perolehan dari minyak yang dihasilkan perbarrel
Data tahun 2004 ini menunjukkan seberapa efisien perusahaan itu mengelola 
resourcesnya. Terlihat bahwa kebanyakan NOC tidak mampu mengalahkan 
efisiensi dari perusahaan migas  IOC. Ya tentusaja, kalau dilihat diatas jumlah 
pekerja professionalnya saja sangat banyak di NOC ini. Statoil 
dari Norwegia ini merupakan contoh paling bagus dari perolehan perbarrel 
minyaknya. Bahkan mampu mengalahkan perusahaan IOC lainnya.
Statoil ini saat ini sudah menggandeng Pertamina untuk mengekspolrasi daerah 
deepwater (laut dalam) di Indonesia. Bahkan Statoil ini sudah membuka kantor di 
Jakarta. Apakah Statoil akan eksplorasi saja, tentusaja tidak. Stat oil 
inginbelajar tentang LNG dari Indonesia. Jangan lupa Indonesia merupakan negara 
pioneer dalam pengembangan LNG di dunia ini, looh  .
Resource Replacement Ratio 
Dalam studinya Baker Institute-Rice University juga disebutkan bahwa penemuan 
migas selama ini lebih banyak dilakukan oleh IOC, karena perusahaan ini lebih 
aggresive dalam melakukan eksplorasi. Namun juga perusahaan ini 
jugalah yang juga aggresif memproduksi. Sehingga Resource replacement 
atau penemuan cadangan pengganti di perusahaan IOC sangat buruk. Kalau 
hal ini berlangsung terus, maka cadangan migas global akan lebih cepat 
habis sebelum mendapatkan pengganti.
Disebelah ini grafis cadangan minyak di negara-negara terbesar 
kandungan minyaknya, dan sisa waktu apabila diproduksi dengan laju 
konstant. (sumber data : Wikipedia)
Secara global perilaku ini akan membahayakan ketersediaan minyak dimasa depan.
Beban sosial NOC
Selain memiliki tugas untuk menjaga kontinuitas pasokan energi untuk 
negaranya, NOC juga sering dibebani dengan tugas sosial, antara lain 
dengan menyediakan BBM bagi warga negaranya. Disebelah ini grafis yang 
memperlihatkan bagaimana perbandingan harga BBM di negara-negara di 
dunia  yang memiliki NOC.  Memang tidak mudah mengelola NOC tetapi 
itulah tugas NOC.
Di China harga BBM cukup mahal, namun kalau dilihat dalam chart socio-economic 
diatas terlihat bahwa ada pembagian tugas di beberapa NOC yang dimiliki China. 
Sinopec merupakan NOC China yang bertanggung jawab terhadap 
welfare rakyatnya, namun pertimbangannya tetap bukan politik tetapi 
pertimbangan ekonomi. Sedangkan NOC-China lainnya (CNOOC) merupakan 
perusahaan NOC yang tugasnya mirip IOC, yaitu profit oriented.
Bagaimana dengan Indonesia ? Indonesia memiliki Pertamina yang 
memiliki peran strategis dalam menentukan ketahanan energi nasional. 
Tapi pertamina ini unik dan khusus, sebaiknya didongengkan terpisah, ya ?  
Apa yang bisa dipelajari ?
 “Wah ini cirikhas Pakdhe, belum apa-apa udah disuruh dipelajari. Kapan main 
D-3nya Pakdhe ?” 
>
Ada beberapa hal yang patut kita pelajari tentang kiprah NOC-NOC selama ini.
        * Peran NOC menjadi strategis untuk negara-negara yang energi primernya 
masih mengandalkan migas (seperti Indonesia).
        * Peran kebijakan sisio-politics sebuah NOC sangat menentukan kinerja 
perusahaan yang bersangkutan.
        * Tidak ada kesamaan antar satu NOC dengan NOC yang lain. 
Masing-masing memiliki cirikhas yang disesuaikan dengan kebutuhan 
negaranya masing-masing.
        * Satu negara dapat memiliki beberapa NOC untuk memberikan pembagian 
tugas.
        * Tidak semua NOC berevolusi atau bercita-cita menjadi seperti IOC.
        * Peran NOC yang kuat sangat diperlukan di Indonesia, …. Pertamina …. 
hmmm (tunggu tulisan selanjutnya)
Dongengan terkait :
        * Jual saja sebagian kecil sahamnya Pertamina di bursa 
        * Indonesia perlu Pertamina-Pertamina yang lain  sebagai NOC 
        * Sepintas mengenal IOC -International Oil Corporation - 
        * Pergeseran peran NOC (National Oil Corporation) dalam kancah 
global energi 
        * NOC dan IOC – Pentingnya Pertamina sebagai bagian dari Ketahanan 
(energi) Nasional
Sumber referensi :
-The Changing Role of National Oil Companies in International Energy Markets, 
Rice University, April 2007

Kirim email ke