Pak Presiden IAGI, koq malah ngajak balik kita2? Hehehehe. Maksud tulisan saya jelas. Tolong PP-IAGI membuat event khusus untuk membahas masalah panjang memperpanjang kontrak mengontrak blok2 migas kita ini, spt dulu 2005 IAGI-HAGI membahas resmi dan Press Release resmi masalah Blok Cepu.
Khan gak mungkin to saya, Gus Luthfi dan Pak Ong bertiga bikin panitia dan undangan untuk khalayak, pers, dan para professional membahas masalah ini??? Harus organisasi profesi kita yg melakukannya. IAGI!! Kemana IAGI? Nah, itulah maksudnya. Monggo!! ADB IAGI-0800 Powered by Telkomsel BlackBerry® -----Original Message----- From: Rovicky Dwi Putrohari <[email protected]> Date: Sun, 21 Oct 2012 14:03:29 To: [email protected]<[email protected]> Reply-To: <[email protected]> Subject: [iagi-net-l] kemana PP IAGI ? ---was Pertamina Acquire Petrodelta SA for USD 725 Million Ayoo mas ADB, Pak Luthfi dan kawan-kawan lain. PP IAGI kemarin sudah mulai memformulasikan Nasionalisasi SDA melalui Majalah IAGI. Kita (PP IAGI) sudah mendahului, dengan berbicara berdasar DATA, data discovery dan Produksi Blok Mahakam. Pantang bagi geologist berbicara tanpa data. PP IAGI mencoba tidak terjebak dalam satu permasalahan blok Mahakam saja. Masih banyak blok-blok lain, dan juga tidak hanya sda migas saja. Sebelumnya PP IaGi mengangkat persoalan tambang khususnya batubara dalam Berita IAGi edisi pertama 2012. Sebelumnya PP IaGI mengunjungi gunung padang untuk memiliki gambaran tentang issue gunung padang. Juga seminar (evening talk) tentang gunung padang. Tanpa ada data geologist hanya menduga saja, bahkan dengan data yg sama pun interpretasi dapat bermacam-macam. PP IAGI sekali lagi mencoba tidak terjebak dalam satu turnmoil saja dalam sebuah badai. Pekan kemarin PP IAGI bersama MgEi mengunjungi grasberg, juga sebagai salah satu upaya PP IAgI untuk mengerti persoalan dengan lebih baik. Termasuk harus bertaruh nyawa. Kami saya dan pak sukmandaru ketua mgei harus menggunakan baju anti peluru lengkap dengan topi baja untuk melalui daerah yg sering menjadikan target penembakan misterius. Kami harus menggunakan ini karena harus memiliki pengamatan, walau hanya dari dalam kendaraan anti peluru, terutama daerah tailing yg sudah dimulai reklamasinya. Sebagai geologist tentunya tidak dapat hanya sekedar membaca laporan untuk tahu permasalahan, geologist Harus melihat "batunya". Dan pengelola Grasberg sangat terbuka untuk itu. Kami diperbolehkan m asuk ke areal tambang, bahkan di core dari ore zona mineralisasi utamanya. Ini suatu keterbukaan pengelola grasberg pada IAGI dan MGEI. Apakah Pengelola Blok Mahakam juga akan terrbuka dengan IAGI ? NOC kita saja pernah menunjukkan ketertutupannya dengan IAGi, sewaktu IAGi mencoba masuk ke permasalahan Blok Madura. Ini jelas menunjukkan bahwa masing-masing pengelola migas masih memiliki ketertutupan dalam catatan dan datanya. Sekalilagi sebagai geologist saya selalu mengutamakan data sebelum berbicara. Ayo Mas ADB, Pak Luthfi, Pak Ong dan kawan-kawan IAGI lainnya. Jangan hanya satu persoalan ini saja yg kita ungkap. Kita manfaatkan momentum ini sekaligus membuka data-data kita pada publik. Berbicaralah dengan data .... Salam sukses RDP "Sedang di Manado, Menghadiri raker Forum Konsultasi Daerah Penghasil Migas - FKDPM" On Sunday, October 21, 2012, wrote: > ** > Kemana ini PP IAGI? Koq kita biarkan saja logika dan mentalitas bangsa > terjajah menguasai aura lingkungan profesionalisme migas kita lwt > pernyataan2 Menteri dan WaMen akhir2 ini??? > > Logika dan mentalitas bgs terjajah itu adalah > : > 1) Krn resikonya tinggi maka kita butuh orang asing untuk melakukan > eksplorasi sumberdaya kebumian di Indonesia (bgsa terjajah adlh bangsa yg > tdk mau mengambil resiko) > > 2) Krn teknologinya tinggi maka kita butuh modal asing untuk maju ke depan > memimpin kita dlm usaha eksplorasi sumberdaya migas dan mineral Indonesia > (bangsa terjajah adlh bangsa yg tdk peduli pengembangan teknologinya > sendiri, bahkan u/mencontek - mencuri - meniru teknologi luar negeri saja > tdk disemangati, tdk dihidupi) > > 3) Krn menyangkut cadangan raksasa, produksi yg besar dan operasi yg luar > biasa complicated dan sensitifnya, maka kita serahkan saja operatorship > pengelolaan blok2 migas yg sdh expired kontraknya ke perusahaan2 asing yg > sdh pengalaman; Pertamina atau perusahaan2 nasional lainnya silakan jadi > makmum saja . > > (bangsa terjajah adlh bangsa yg tidak percaya pada kemampuan diri sendiri, > bangsa terjajah adlh bangsa yg pemimpin2nya mengukurkan baju kemajuan > efisiensi teknologi kecanggihan operasional manajemen bangsa asing yg > kedodoran ke tubuhnya sendiri yg bebal dan kuper pdhl sebagian besar > rakyatnya yg professional sdh terbiasa memakai baju tersebut!!!!) > > Apakah masih akan kita biarkan ketololan logika dan mentalitas bangsa > terjajh spt ini? > > Ayo,.. Kemana PP IAGI? > > 7th lalu ketika Blok Cepu direkayasa spy bisa dikuasai oleh MNC dg segala > justifikasi yg aneh2nya: HAGI-IAGI menggeliat dan ikut berteriak lwt > Seminar Pelurusan Sejarah dan Press Release bhw kita MAMPU, meskipun > kekuatan politik bisnis G-to-G lah yg akhirnya memenangkan pertarungan (yg > akibatnya sampai skrg seolah-olah kita disandera oleh cara MNC tsb > mengoperasikannya: biaya tinggi, tunda2 sesuai mau mrk),.... > > Nah saat skrg ini ketika bahkan Menteri dan WaMen kita sendiri tdk percaya > (lagi2) atas kemampuan anak negeri mengoperasikan Blok Mahakam yg hendak > habis masa kontraknya ini,...apakah HAGI-IAGI-IATMI akan diam-diam saja dan > membiarkan pelecehan harga diri ini terus terjadi? > > Ayo kita tunjukkan, bahwa kita mampu!!! Mas Ilik, Pak dhe Rovicky, Kang > Salis ...kemana saja suara kaum professional migas Indonesia kita di urusan > Blok Mahakam ini??? Mana suara geologist, geophysicist, dan para insinyur > perminyakan kita?? Ayo kita bergerak rek, ojok meneng ae!!!! > > Kemana PP IAGI? Ini puisi untuk menutup uneg2 kami! > > kalau kata2 jadi racun dan metafora jadi fitnah > > seindah apapun puisi di tulis pujangga > > was2 dan buruk sangka akan terus meraja > > > kalau fakta jadi duri tajam dan proses jadi bencana > > sejernih apapun analisis geologi sumberdaya ahlinya > > politik dan bisnis akan jd kacamata > > menutupi jendela2 kesadaran > > : nasionalisme suatu bangsa > : kebenaran suatu fatwa > : keberpihakan nurani rasa > > (dan cepu-pun diambil mrk, lumpur lapindopun katanya krn gempa, lalu > mahakam block: tinggal tunggu waktunya) > > Balikpapan > 21 Oct 2012 > ADB > IAGI - 0800 > Powered by Telkomsel BlackBerry® > ------------------------------ > *From: * Muharram Jaya Panguriseng <[email protected]> > *Date: *Sun, 21 Oct 2012 11:20:41 +0800 (SGT) > *To: *Iagi-net<[email protected]>; [email protected]< > [email protected]> > *ReplyTo: * <[email protected]> > *Subject: *Re: [iagi-net-l] Pertamina Acquire Petrodelta SA for USD 725 > Million > > Apakah Pak Wamen ini pernah mempertanyakan kenapa pengelola Blok Cepu > tidak menjalankan komitmennya memproduksi minyak 150 ribu bopd sejak tahun > 2009 ya? Bukankah "kasihan anak cucu kita tidak bisa menikmati pengelolaan > sumber daya alamnya", meminjam kalimat Wamen. > > Ketika Pertamina dipaksa meningkatkan produksi dari lapangan2nya, kenapa > KKKS lain tidak diperlakukan sama? Bahkan yang tidak menjalankan komitmen > saja dibiarin. Bagaimana mungkin bangsa ini mencapai kedaulatan energy > kalau aparat negeri ini melempem atas nama menjaga minat investor > berinvestasi di Indonesia "demi anak cucu"? Ok lah bangsa ini butuh > investor tapi awasi dan tagih komitmennya dong. Kita butuh minyak sekarang. > > Menyangkut Blok Mahakam, menurut hemat saya sebaiknya tidak perlu > membawa-bawa Pertamina karena kelemahan Pertamina yang akan terus > dicari-cari akan digunakan oleh para antek neolib untuk tidak mengembalikan > Blok Mahakam kepada Negara selepas 2017 nanti. Sebaiknya diskusinya > dibatasi saja, pasca 2017 apakah Blok Mahakam akan dikembalikan kepada > negara sesuai termin kontrak atau para pemegang otoritas ini akan kembali > menyerahkan/mengadainya kepada asing? > > Salam ku pada Ibu Pertiwi, > MJP > > Sent from Yahoo! Mail on Android > > *From: *[email protected] **; > *To: ***; > *Subject: *Re: [iagi-net-l] Pertamina Acquire Petrodelta SA for USD 725 > Million > *Sent: *Fri, Oct 19, 2012 1:23:36 PM > > Pak Ong Ysh. > Mengenai Blok Mahakam setelah berakhir masa kontraknya 2017 menurut saya > tidak usahlah ditenderkan segala, karena kita tahu disamping resiko rendah, > cadangan migasnyapun masih besar. Langsung sajalah diberikan ke PMN (NOC), > dalam hal ini tidak ada ketentuan kontrak yg dilanggar. Sudah seharusnya > pemerintah berpihak kepada BUMNnya, akan aneh kalau pemerintah membela > kepentingan perusahaan migas asing. Kalau negara berprinsip mencari > keuntungan sebesar-besarnya, janganlah dilihat dari keuntungan finansial > belaka, tapi harus dilihat faktor lainnya seperti dari segi > kemandirian/kedaulatan energi. > Walaupun keuntungan yg akan dijanjikan tidak sebesar yg ditawarkan oleh > perusahaan migas asing, tapikan dikelola oleh bangsa sendiri > Disamping itu seandainya ditenderkan dan TEPI keluar sebagai pemenang > karena penawaran yg sangat besar, tapi apa jaminannya kalau komitmennya > tidak tercapai, apakah bisa atau berani pemerintah memutus kontraknya? > Pengalaman membuktikan pemerintah ternyata tidak berani, seperti halnya > Blok Cepu yg dikelola oleh Mobil Oil yg menjanjikan produksi minyak 150 > MBOPD pada tahun 2009. Ini sudah 3 tahun berlalu apa action/tindakan > pemerintah lewat BPMigas kepada Mobil Oil?. Ternyata pemerintah hanya > berani keras thd bangsa sendiri, terhadap KA melempem > Ma'af Pak Ong kita tidak sependapat > > Salam, > > MIK > > Salam, > > MIK > > Powered by Telkomsel BlackBerry® > > *From: *Ong Han Ling ** > > *Date: *Fri, 19 Oct 2012 13:18:17 +0700 > > *To: *** > > *ReplyTo: *** > > *Subject: *RE: [iagi-net-l] Pertamina Acquire Petrodelta SA for USD 725 > Million > > Pak Luthfi, > > > > Teman-teman IAGI harap jangan keliru, saya setuju extension Mahakam > diberikan kepada Pertamina. Saya juga tidak bisa lupakan jasa-jasa > Pertamina. Perusahaan dimana saya bekerja sebelumnya, PT Geoservices, > didirikan tahun 1971, bersama Durban Ardjo, dosen Tambang ITB, yang > sekarang menjadi Pres.Dir., dibesarkan oleh Pertamina. Siapa sih yang tidak > bangga kalau Pertamina bisa seperti Petronas, Petrobras, Pemex, SVPD, > StatOil, dsb. > > > > Tapi seperti yang pernah ditanyakan Pak Rovicky dan telah saya terangkan, > kita jangan berikan “at any price”. Kita jangan berikan blank cek. Harus > ada rambu-rambu. Prinsipnya Negara harus dapat keuntungan sebesar-besarnya. > Untuk ini kita perlu melakukan tender. Evaluasi tender berdasarkan NPV, > yang diterima Negara. Supaya risiko yang ditanggung negara kecil, kita > masukkan konsep cost recovery limit yang menjadi ciri khas suatu PSC. > Selain itu, Pertamina diberi preference, umpama 10%. Jadi Kalau Total waktu > tender memasukan NPV bagi Negara 100 dan Pertamina 90, maka blok diberikan > kepada Pertamina. Kalau Pertamina cuma memberikan NPV 85, ya diberikan ke > Total. Preference 10% diberikan untuk hal-hal yang tidak bisa diukur, > seperti nasionalism dan Indonesian content. Atau kalau merasa kurang, > preference bisa dinaikkan menjadi 20%. Tapi jangan “Pokoknya Pertamina”, > nanti kalau bid Pertamina cuma 10% dari bid Total bagaimana? > > > > Prinisip business jangan diabaikan. Jangan diberikan ke Pertamina sebagai > hadiah. Harus ada kompetisi. Karena ada kompetisi, kemungkinan Pertamina > memasukkan tender dengan NPV 150 bagi Negara menga > -- *"Sejarah itu tidak pernah usang untuk terus dipelajari"*

