Yang dimaksud dengan ‘Kang Salis’ oleh Mas Andang di bawah mungkin bpk.
Salis Aprilian, Dirut Pertamina Hulu Energi yang sekaligus juga sebagai Ketum
IATMI 2010-12?
Kebetulan saya pernah baca tulisan beliau di milis sebelah. Sebuah tulisan
menarik, yang diawali dengan
sejarah Pertamina dan industri perminyakan Indonesia di akhir 1800an lalu
ditutup dengan ajakan untuk memerdekan sektor migas Indonesia dan melepaskan
diri dari belenggu pesona asing.
Seandainya belum pernah dicoba, ini bisa menjadi salah satu contoh yang
patut ditiru oleh PP IAGI dalam menyuarakan aspirasinya ke lingkaran Istana ...
Angkat main issue yang sedang berkembang ke majalah IAGI dan sebarkan secara
gratis
ke istana dan lokasi-lokasi ‘potensial’ lainnya.
Salam ,
Andi / NPA 2994.
------------------------------------------------------------------------------------
From: Morry
Infra <[email protected]>
Subject: [IATMI-ME] Fwd: Memerdekakan Sektor Migas Indonesia by Salis S.
Aprilian
----------
Forwarded message ----------
From: Salis Aprilian <[email protected]>
Date: 2012/9/18
Subject: [TM-ITB-Bandung] Memerdekakan Sektor Migas Indonesia
Dear all,
Sebagai bacaan ringan, berikut ini terjemahan dari tulisan versi English yg
dimuat dalam Majalah Oil, Gas and Electricity (OGE) Asia, yang terbit sebagai
Edisi Khusus di hari Kemerdekaan RI ke 67 yl. Katanya majalah ini dibagaikan
gratis pada peserta upacara bendera di Istana Negara. Mudah2an ada manfaatnya.
Terima kasih.
Tabik,
Salis
------------
“Memerdekakan Sektor Migas Indonesia”
Oleh: Salis S. Aprilian
Ketua Umum IATMI 2010-2012
Bangsa Indonesia telah
memproklamasikan kemerdekaannya sejak 67 tahun yang lalu. Namun demikian, belum
begitu dirasakan dalam pengelolaan sektor migas kita.
Jauh sebelum hari kemerdekaan itu,
di tahun 1871, industri perminyakan di sektor hulu telah dimulai dengan adanya
pemboran sumur minyak pertama di Indonesia, yakni pemboran sumur di desa Maja,
Majalengka, Jawa Barat, oleh pengusaha belanda bernama Jan Reerink. Sumur ini
hanya berselang 12 tahun dari sumur minyak pertama di dunia yang dibor di
Pensylvania, Amerika Serikat, oleh Kolonel Edwin L Drake dan William Smith de
Titusville (1859). Akan tetapi tidak menuai hasil yang seperti diharapkan,
akhirnya Reerink menutup sumur tersebut.
Kemudian di tahun 1883, seorang
Belanda bernama AG Zeijlker mencoba membor sumur di tengah perkebunan karet dan
menemukan sumber minyak yang pertama di Indonesiayang relatif besar saat itu,
yaitu lapangan minyak Telaga Tiga dan Telaga Said di dekat Pangkalan Brandan.
Penemuan ini kemudian menjadi modal pertama suatu perusahaan minyak yang kini
dikenal sebagai Shell. Pada waktu yang bersamaan, juga ditemukan lapangan
minyak Ledok di Cepu (Jawa Tengah), Air Hitam di dekat Muara Enim (Sumatera
Selatan), dan Riam Kiwa di daerah Sanga-Sanga (Kalimantan).
Sejalan dengan sejarah perminyakan
Indonesia di sektor hulu, kegiatan perminyakan di sektor hilir juga sudah
dimulai sejak dibangunnya kilang pertama di Indonesia, yakni di
Wonokromo(1889), yaitu untuk mengolah minyak mentah hasil penemuan-penemuan
baru sumur-sumur minyak di daerah Cepu dan di Jabakota (dekat Surabaya).
Selanjutnya, beberapa kilangdidirikan untuk menampung dan mengolah minyak
mentah dari daerah Sumatra Utara, Sumatra Selatan, hingga Kalimantan. Maka,
tersebutlah dalam sejarah kilang Indonesia antara lain:kilang Pangkalan Brandan
(1891), kilang Cepu (1894), kilang Balikpapan (1894), kilang Plaju (1904),
kilang Sungai Gerong (1926), dan seterusnya hingga ke kilang generasi yang
terbaru di Cilacap (Jawa Tengah) dan Balongan (Jawa Barat) pada periode
1970-80an.
Dalam sejarah tersebut tertulis
bahwa pada periode awal, pengembangan lapangan migas dilakukan oleh orang-orang
Belanda untuk kepentingan perang. Belum ada perdagangan yang luas
(ekspor-import) mengenai produk yang dihasilkan, selain untuk kebutuhan
pembuatan jalan (aspal), bahan bakartransportasi, dan mesiu untuk berperang.
Baru pada periode kemerdekaan Indonesia (1945 – 1950), para pejuang berupaya
merebut penguasaan perusahaan migas dari tangan Jepang. Namun ternyata jalan
ceritanya tidak berjalan mulus, karena keburu Belanda datang kembali bersama
pasukan NICA, yang terkenal sebagai fase Agresi Belanda I (1947). Pada saat
itulah,para pejuang yang dipimpin Bung Karno mengambil alih
perusahaan-perusahaan
minyak Belanda untuk dapat dikelola sendiri. Beberapa perusahaan minyak pribumi
kemudian berdiri menggantikan sebagian perusahaan-perusahaan minyak Belanda,
seperti Perusahaan Tambang Minyak Negara Republik Indonesia Sumatera Utara
(PTMNRI Sumatera Utara), Perusahaan Negara Pertambangan Minyak Indonesia
(Permiri) Sumsel dan Jambi, dan Perusahaan Tambang Minyak Negara Cepu (PTMN
Cepu). Keadaan semakin sulit pada saat terjadi Agresi Belanda II (1948), dimana
mereka dapat kembali menguasai kilang Cepu dan Lapangan Kawengan, dan beberapa
lapangan minyak lainnya, seperti lapangan Bongas dan Randegan (Jawa Barat),
dibumi-hanguskan. Perang benar-benar mengakibatkan banyak kerusakan pada saat
itu karena antara pejuang dan penjajah saling menghancurkan fasilitas yang
dimiliki lawannya. Pejuang Indonesia menguasai beberapa lapangan minyak kecil
di daerah Pendopo, Talang Akar, Prabumulih dan Jambi. Sementara Belanda
menguasai lapangan dan kilang di Pulau Jawa dan Sumatra Selatan, seperti kilang
Wonokromo, Plaju, Sungai Gerong, dan Balikpapan(Kalimantan). Mereka menimbun
dan mendistribusikan melalui pengangkutan laut untuk memenuhi kebutuhan daerah
pendudukan Belanda, seperti Jakarta, Semarang, Surabaya, Medan, Banjarmasin,
Makassar, Menado, dan kota-kota lainnya.
Akhirnya, pada periode berikutnya
bangsa ini harus terusberjuang memperbaiki kembali puing-puing
perang,merehabilitasi lapangan minyak dan kilang yang sudah hancur, termasuk
perbaikan sarana penimbunan dan pendistribusian (jalur pipa-pipa produksi),
serta
pengangkutan.
Pada 10 Desember 1957 Dr. Ibnu
Sutowo diserahi tugasmembentuk sebuah perusahaan minyak yang berstatus hukum,
bernama P.T. PERMINA. Inilah cikal bakal terbentuknya perusahaan minyak
nasional Indonesia. Maka di tahun-tahun berikutnya PERMINA dapat mengekspor
minyak mentah untuk pertama kali, dan mengadakan perjanjian kerjasama dengan
perusahaan-perusahaan minyak asing. Lalu dengan diundangkannya UU Minyak dan
Gas Bumi No. 44 tahun 1960, tanggal 26 Oktober 1960, seluruh pengusahaan minyak
di Indonesia dilaksanakan oleh Negara. Akhirnya berdasarkan Peraturan
Pemerintah No. 27/1968 tanggal 20 Agustus 1968dibentuklah Perusahaan Negara
Pertambangan Minyak dan Gas Bumi Nasional, disingkat PN Pertamina. Dengan
bergulirnya Undang Undang No. 8 Tahun 1971 sebutan perusahaan menjadi
PERTAMINA. Sebutan ini tetap dipakai setelah PERTAMINA berubah status hukumnya
menjadi PT PERTAMINA (PERSERO) pada tanggal 17 September 2003 berdasarkan
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 22 tahun 2001 pada tanggal 23 November
2001 tentang Minyak dan Gas Bumi.
Begitu panjang dan berliku
perjuangan bangsa ini untuk membentuk perusahaan kebanggan nasional dalam
sektor migas. Sudah banyak sekali peran yang diberikannya dalam membangun
bangsa dan negara ini. Sebagai wahana perjuangandan wahana sosial, sudah jelas,
karena dari awalnya perusahaan nasional di sektor migas ini telah menopang
begitu banyak kebutuhan perjuangan, membangun sarana dan prasarana,mengisi
kemerdekaan dengan meningkatkan taraf pendidikan, menyelenggarakan berbagai
program pengentasan kemiskinan dan peningkatan kesehatan masyarakat Indonesia.
Maka, adalah naif jika bangsa ini
tidak ikut menumbuh-kembangkan perusahaan nasional. Pikiran-pikiran yang masih
terbelenggu oleh pesona asing yang lebih hebat dan mengerdilkan kemampuan
bangsa sendiri harus dihapuskan.Sektor migas harus di-merdeka-kan. Bangsa ini
harus cepat dibangunkan dari mimpi yang menina-bobokan. Bangun bersama untuk
berjuang demi kemajuan bangsa dan negara ini.
Kita semua harus sadar bahwa kita tidak
perlu perang, apalagi menjajah bangsa lain, untuk mendapatkan migas dan energi
lain di negeri orang. Kita cukup mengoptimalkan energi yang cukup berlimpah di
negeri ini. Yang kita perlukan adalah menyusunkebijakan yang membela bangsa
sendiri. Investor tidak akan kabur jika tidak mendapatkan sumber migas yang
sudah cukup lama dinikmatinya, bahkan sejak jaman jauh sebelum Kemerdekaan
Indonesia. Sumber-sumber migas harus kita kuasai dalam arti yang
sebenar-benarnya. Kita harusmembebaskannya dari belenggu penguasaan bangsa
lain, karenabangsa ini telah mampu dan sanggup mengelolanya sendiri.
Kalaupun kita masih memerlukan mitra
dalam mengelola energi ini, berikan mereka peluang di lahan-lahan eksplorasi
yang memang masih memerlukan pendalaman studi dan penerapan teknologi terkini.
Berikan mereka data yang cukup lengkap untuk dianalisa dan dikaji. Lakukan
survey oleh pemerintah dari sebagian hasil migas. Kita sediakan permadani yang
indah untuk para investor asing yang ingin menanamkan kapitalnya di Indonesia.
Permadani dalam berbagai macam data dan informasi yang mutakhir tentang sumber
daya energi kita.Bukan hanya migas, tapi berikan data untuk mengembangkan juga
energi alternatif, yang ramah lingkungan sebagai jawaban pertanggung-jawaban
kita pada pemilik alam ini, dan anak cucu kita di masa depan.
Kalau jalan itu sudah ditempuh, maka
lapang dan jelaslah tujuan kita. Merdekalah sektor migas dan energi kita, untuk
mengukir masa depannya sendiri, terbang bersama jiwa-jiwa yang melayang
menembus mimpi-mimpi besar para pejuang negeri ini, yakni: menjadi bangsa yang
besar dan dihormati,yang berdiri sejajar dengan bangsa-bangsa lain di dunia.
***
--
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
IATMI Middle East (Ikatan Ahli Teknik Perminyakan Indonesia Komisariat Timur
Tengah)
Website:
http://www.iatmi.or.id/iatmi/komisariat.php?id=12
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
--- On Sun, 10/21/12, [email protected] <[email protected]> wrote:
From: [email protected] <[email protected]>
Subject: Re: [iagi-net-l] kemana PP IAGI ? ---was Pertamina Acquire Petrodelta
SA for USD 725 Million
To: [email protected]
Date: Sunday, October 21, 2012, 2:30 AM
Pak Presiden IAGI, koq malah ngajak balik kita2? Hehehehe. Maksud tulisan saya
jelas. Tolong PP-IAGI membuat event khusus untuk membahas masalah panjang
memperpanjang kontrak mengontrak blok2 migas kita ini, spt dulu 2005 IAGI-HAGI
membahas resmi dan Press Release resmi masalah Blok Cepu.
Khan gak mungkin to saya, Gus Luthfi dan Pak Ong bertiga bikin panitia dan
undangan untuk khalayak, pers, dan para professional membahas masalah ini???
Harus organisasi profesi kita yg melakukannya. IAGI!! Kemana IAGI?
Nah, itulah maksudnya. Monggo!!
ADB
IAGI-0800
Powered by Telkomsel BlackBerry®From: Rovicky Dwi Putrohari <[email protected]>
Date: Sun, 21 Oct 2012 14:03:29 +0700To:
[email protected]<[email protected]>ReplyTo: <[email protected]>
Subject: [iagi-net-l] kemana PP IAGI ? ---was Pertamina Acquire Petrodelta SA
for USD 725 Million
Ayoo mas ADB, Pak Luthfi dan kawan-kawan lain.PP IAGI kemarin sudah mulai
memformulasikan Nasionalisasi SDA melalui Majalah IAGI. Kita (PP IAGI) sudah
mendahului, dengan berbicara berdasar DATA, data discovery dan Produksi Blok
Mahakam. Pantang bagi geologist berbicara tanpa data.
PP IAGI mencoba tidak terjebak dalam satu permasalahan blok Mahakam saja. Masih
banyak blok-blok lain, dan juga tidak hanya sda migas saja. Sebelumnya PP IaGi
mengangkat persoalan tambang khususnya batubara dalam Berita IAGi edisi
pertama 2012.
Sebelumnya PP IaGI mengunjungi gunung padang untuk memiliki gambaran tentang
issue gunung padang. Juga seminar (evening talk) tentang gunung padang. Tanpa
ada data geologist hanya menduga saja, bahkan dengan data yg sama pun
interpretasi dapat bermacam-macam. PP IAGI sekali lagi mencoba tidak terjebak
dalam satu turnmoil saja dalam sebuah badai.
Pekan kemarin PP IAGI bersama MgEi mengunjungi grasberg, juga sebagai salah
satu upaya PP IAgI untuk mengerti persoalan dengan lebih baik. Termasuk harus
bertaruh nyawa. Kami saya dan pak sukmandaru ketua mgei harus menggunakan baju
anti peluru lengkap dengan topi baja untuk melalui daerah yg sering menjadikan
target penembakan misterius. Kami harus menggunakan ini karena harus memiliki
pengamatan, walau hanya dari dalam kendaraan anti peluru, terutama daerah
tailing yg sudah dimulai reklamasinya. Sebagai geologist tentunya tidak dapat
hanya sekedar membaca laporan untuk tahu permasalahan, geologist Harus melihat
"batunya". Dan pengelola Grasberg sangat terbuka untuk itu. Kami diperbolehkan
m asuk ke areal tambang, bahkan di core dari ore zona mineralisasi utamanya.
Ini suatu keterbukaan pengelola grasberg pada IAGI dan MGEI.
Apakah Pengelola Blok Mahakam juga akan terrbuka dengan IAGI ?NOC kita saja
pernah menunjukkan ketertutupannya dengan IAGi, sewaktu IAGi mencoba masuk ke
permasalahan Blok Madura. Ini jelas menunjukkan bahwa masing-masing pengelola
migas masih memiliki ketertutupan dalam catatan dan datanya.
Sekalilagi sebagai geologist saya selalu mengutamakan data sebelum berbicara.
Ayo Mas ADB, Pak Luthfi, Pak Ong dan kawan-kawan IAGI lainnya. Jangan hanya
satu persoalan ini saja yg kita ungkap. Kita manfaatkan momentum ini sekaligus
membuka data-data kita pada publik.
Berbicaralah dengan data ....
Salam sukses
RDP"Sedang di Manado, Menghadiri raker Forum Konsultasi Daerah Penghasil Migas
- FKDPM"
On Sunday, October 21, 2012, wrote:
Kemana ini PP IAGI? Koq kita biarkan saja logika dan mentalitas bangsa terjajah
menguasai aura lingkungan profesionalisme migas kita lwt pernyataan2 Menteri
dan WaMen akhir2 ini???
Logika dan mentalitas bgs terjajah itu adalah
:
1) Krn resikonya tinggi maka kita butuh orang asing untuk melakukan eksplorasi
sumberdaya kebumian di Indonesia (bgsa terjajah adlh bangsa yg tdk mau
mengambil resiko)
2) Krn teknologinya tinggi maka kita butuh modal asing untuk maju ke depan
memimpin kita dlm usaha eksplorasi sumberdaya migas dan mineral Indonesia
(bangsa terjajah adlh bangsa yg tdk peduli pengembangan teknologinya sendiri,
bahkan u/mencontek - mencuri - meniru teknologi luar negeri saja tdk
disemangati, tdk dihidupi)
3) Krn menyangkut cadangan raksasa, produksi yg besar dan operasi yg luar biasa
complicated dan sensitifnya, maka kita serahkan saja operatorship pengelolaan
blok2 migas yg sdh expired kontraknya ke perusahaan2 asing yg sdh pengalaman;
Pertamina atau perusahaan2 nasional lainnya silakan jadi makmum saja .
(bangsa terjajah adlh bangsa yg tidak percaya pada kemampuan diri sendiri,
bangsa terjajah adlh bangsa yg pemimpin2nya mengukurkan baju kemajuan efisiensi
teknologi kecanggihan operasional manajemen bangsa asing yg kedodoran ke
tubuhnya sendiri yg bebal dan kuper pdhl sebagian besar rakyatnya yg
professional sdh terbiasa memakai baju tersebut!!!!)
Apakah masih akan kita biarkan ketololan logika dan mentalitas bangsa terjajh
spt ini?
Ayo,.. Kemana PP IAGI?
7th lalu ketika Blok Cepu direkayasa spy bisa dikuasai oleh MNC dg segala
justifikasi yg aneh2nya: HAGI-IAGI menggeliat dan ikut berteriak lwt Seminar
Pelurusan Sejarah dan Press Release bhw kita MAMPU, meskipun kekuatan politik
bisnis G-to-G lah yg akhirnya memenangkan pertarungan (yg akibatnya sampai skrg
seolah-olah kita disandera oleh cara MNC tsb mengoperasikannya: biaya tinggi,
tunda2 sesuai mau mrk),....
Nah saat skrg ini ketika bahkan Menteri dan WaMen kita sendiri tdk percaya
(lagi2) atas kemampuan anak negeri mengoperasikan Blok Mahakam yg hendak habis
masa kontraknya ini,...apakah HAGI-IAGI-IATMI akan diam-diam saja dan
membiarkan pelecehan harga diri ini terus terjadi?
Ayo kita tunjukkan, bahwa kita mampu!!! Mas Ilik, Pak dhe Rovicky, Kang Salis
...kemana saja suara kaum professional migas Indonesia kita di urusan Blok
Mahakam ini??? Mana suara geologist, geophysicist, dan para insinyur
perminyakan kita?? Ayo kita bergerak rek, ojok meneng ae!!!!
Kemana PP IAGI? Ini puisi untuk menutup uneg2 kami!
kalau kata2 jadi racun dan metafora jadi fitnah
seindah apapun puisi di tulis pujangga
was2 dan buruk sangka akan terus meraja
kalau fakta jadi duri tajam dan proses jadi bencana
sejernih apapun analisis geologi sumberdaya ahlinya
politik dan bisnis akan jd kacamata
menutupi jendela2 kesadaran
: nasionalisme suatu bangsa
: kebenaran suatu fatwa
: keberpihakan nurani rasa
(dan cepu-pun diambil mrk, lumpur lapindopun katanya krn gempa, lalu mahakam
block: tinggal tunggu waktunya)
Balikpapan
21 Oct 2012
ADB
IAGI - 0800Powered by Telkomsel BlackBerry®
--
"Sejarah itu tidak pernah usang untuk terus dipelajari"