Dear all SEMANGAT PAGI

Saya kira mana yg LEBIH Penting antara Blok Mahakam dan Natuna D-Alpha,
jawabannya simple, Natuna kurang penting..... yg urgent justru Blok
Mahakam. Itu saja kelihatan bahwa statement pak Wamen udah SALAH .....
sekali lagi SALAH.

 Kalau di lihat back ground pak Wamen ini setahu saya, blio ini adalah ahli
di bidang drilling operation, jadi bagaimana sbg "drilling engineer" bisa
tahu mengenai blok Mahakam as a whole, mungkin IAGI perlu menerangkan
kepada beliau tentang blok Mahakam ini. Secara praktisi di Oil and Gas blio
memang telah berhasil dalam memadamkan Blow-out di JOB Petrochina dg
membuat Relieve well, demikian juga yg blio usulkan untuk BP-1 nya Lapindo.
Padahal dalam akuisisi blok yg maju duluan kan G&G, kalau G&Gnya udah OK
baru Drilling dan Facilitis diperlukan untuk scoping potential Capex yg di
butuhkan untuk menghitung ke-ekonomiannya. Seingatku di Migas itu sangat
jarang pakar G&G migas (apa aku salah ya? mohon maaf sebelumnya), pakar ini
dalam artian orang yg betul2 pernah berkecimpung di O&G bukan yg cuman
baca, shg karena blio tidak punya penasehat ahli di biadng G&G maka pak
Wamen mereka-reka sendiri shg menimbulkan statement yg ANEH.

*Menambahin masukan dari pak Luthfi dan mungkin masukan buat pak Ong *mengenai
financial di TEPI, mestinya jauh lebih bagus dari di Arun, bbrp bulan yg
lalu saya ikut evaluasi blok Arun-NSO...yg kebetulan mau di *"spin
off"*punya ExxonMobil yg mau expire di 2019, projected cash flownya di
2012
sekitar USD250jt-an turun turun "as production declined" krn dipakai* "mode
do nothing" *sampai sekitar USD80jt di ahir kontrak, dg total NPV @12% DCF
maka dapat USD830jt net (2012-2019), memang di 2019 cash flow tinggal USD
80jt (hampir 1T), kalau blok ini di lepas jadi kan yg ambil bisa dapat
sekitar 1T di tahun 2020 (harap di ingat net 1T itu buat ExxonMobil loh).
Nah up-side potentialnya juga ada, lah ini kan artinya dapat tambahan P1+P2
gratis, krn lokasi Prospectnya sudah di bor, ada oil ada gas ada lognya ada
DST data apa lagi. Untuk hal yg sama tentunya berlaku buat blok Mahakam.
Dengan demikian Negara banyakan untungnya, karena kalaupun Pertamina dapat
split 60:40 (in favor for GOI), tapi yg 40% itu kan larinya ke pemerintah
juga, artinya kalau perlu sewaktu-waktu Negara bisa aja menjualnya aset
Pertamina ke Lokal or ASING shg Negara tetap dapat 100%. Kalau di split
85:15, yg 15% kan semuanya lari dari GOI dan GOI harus menanggung burden CR
yg cukup besar krn per Bule itu budgetin/th sekitar USD400K itu yg paling
bawah, kalau yg boz boz bisa sampe USD700K/th. Kalau Senior VP Nasional
paling USD100K-150K, jadi secara ekonomi dg memberdayakan Pertamina maka:

1. Untung Pemerintah 100% tidak 85% spt kalau yg mengerjakan orang luar.
2. Beban CR akan lebih kecil
3. Bottom line Pendapatan pemerintah pasti lebih BESAR

Ayo apa lagi...... Mohon pak Ong mempelajari ini.

I used to respect pak Wamen when he was proposing Lapindo but now he is
totally different person.

Aku memerlukan menonton life X-fire antara pak Wamen, Kurtubi dan Marwan
Batubara di TV, aku dulunya juga agak minor sama Kurtubi tapi setealah
melihat di TV ternyata Kurtubi memang lebih make sense pola pikirnya,
jelas2 pak Wamen di X-fire tersebut menyatakan "Pertamina punya luas
wilayah 47% tapi produksinya no.3" ini jelas jelas pembodohan publik,
begitu blio ngomong itu maka pak marwan langsung membantahnya, bahwa pak
Wamen telah melakukan pembodohan publik dg mengeluarkan statement itu. Kita
semua tahu yg aktif di perminyakan bahwa luas wilayah tidak selalu sama dg
jumlah reserves di subsurface, tapi reserves itu memang terletak di
kedalaman dan lapisan tertentu di daerah tertentu, tidak di semua lokasi.

Aku yakin se yakin yakinnya pak Wamen ini sekarang lagi maen "mumpet show"
atau si "cepot"


Salam
Avi
Tiadk pernah kerja di Pertamina tapi betul2 PRIHATIN dg statement Wamen
lately.

2012/10/22 Rovicky Dwi Putrohari <[email protected]>

> Ada satu alinea menarik dari tulisan Pak Wamen yg menurut saya akan
> memperlihatkan strategi Pak Wamen. Atau mungkin strategi pemerintah, karena
> bagaimanapun Wamen ESDM ini posisinya tertinggi dalam kompetensi
> perminyakan. Ya, karena Pak Jero bukan ahli migas (energi).
>
> Quote "Jadi, biarkanlah saya tidak TERKECOH oleh isue BLOK MAHAKAM,
> karena BLOK EAST NATUNA bagi saya lebih urgent karena POA nya akan berakhir
> di akhir november 2012, sehingga harus segera diputuskan, apakah permintaan
> insentif tersebut diterima atau tidak oleh pemerintah."
>
> Saya rasa mendiskusikan hal ini, mungkin dapat kita lihat sejauh mana
> sense of urgency. Ketika dihadapkan pada satu pilihan yg unik, setiap orang
> akan menunjukkan aslinya. Tulisan diatas memperlihatkan kalimat Pak Wamen
> yg tidak terdistorsi oleh wartawan.
>
> Bagaimana menurut anda strategi Pak Wamen ini ?
> Siapa yg terkecoh, dan siapa yg mengecoh ?
>
> Rdp
>
>
> --
> *"Sejarah itu tidak pernah usang untuk terus dipelajari"*
>

Kirim email ke