Pak Avi,

 

Saya berpikir mengapa teman-teman dari IAGI, tetap berpikir "pokoknya
Pertamina". Mungkin kita berbeda  karena persepsi risiko yang berbeda
perihal extension Mahakam? 

 

Saya melihanya begini:

1.       Total telah mengambil risiko besar sekali tahun 1967 dengan
ditemukan gas yang pada waktu itu tidak ada harganya di Kalimantan. Badak
adalah salah satu dari tiga world Class LNG plant pertama didunia.  Karena
memang gas pada waktu itu tidak laku dipasar domestik, DMO tidak ada. Inilah
adalah salah satu penyebab utama perusahaan Perncis CFP (Compagnie Francaise
du Petrole) yang masuk Indonesia tahun 1967, menjadi perusahaan raksasa
Internasional Total. LNG dijual dengan harga tinggi karena dipatok dengan
harga minyak. Reward-nya bagi Total juga besar sekali selama 45 tahun tanpa
dibebania DMO. Teori high risk - high reward berlaku. Waktu CFP masuk
Indonesia tidak ada apa-apanya dibandingkan Pertamina. Sekarang terbalik.
Dengan demikian juga dapat dimengerti bahwa keuntungan yang demikian
besarnya menjadi orang iri dan sebagai konsekwensi kita katakan pada Total,
"Enoug is enough", dan Pertamina akan ambil over. 

2.       Mahakam sudah dioperasikan selama 40 tahun hingga subsurface,
perilaku reservoir, dan production decline curve sudah kita ketahui
sifat-sifatnya dengan betul.  Jadi dari sudut production, dari sudut
cadangan, dari sudut operasi dengan memakai orang-orang Indonesia sendiri,
dan dari sudut marketing ke Taiwan dan Jepang semua sudah confirm sampai
selesainya kontrak tahun 2017 dan tidak akan ada soal. Tingkat keberhasilan
tinggi sekali, 90%. 

3.       Menurut saya teman-teman dari IAGI melihatnya sampai disini saja.
Risiko kecil. Keuntungan besar. Kenapa tidak diberikan saja kepada
Pertamina.  

4.       Namun saya melihatnya beyond 2017, yaitu setelah selesainya kontrak
dengan Total dan lapangan minyak dikembalikan kepada ESDM. Dengan selesainya
kontrak, putuslah kontrak dengan pembeli luar negeri. Harga LNG dilempar ke
pasar bebas dan harus dirunding lagi. Pembeli lama tidak mau dengan harga
lama karena kebetulan sekarang pasaran LNG sangat berlainan. Pembeli ingin
melepaskan terkaitannya dari harga minyak. Hal ini disebabkan karena
penemuan gas secara besar-bersaran di Western Australia, CBM di Queenland,
dan baru-baru ini shale gas di USA dan Canada.  Sekarang ini sekeliling
Pacific basin sedang dibangun 9 LNG Plant dan 14 dalam perencanaan. Harga
gas di USA anjlok dari $7/mmbtu beberapa tahun yang lalu menjadi $2/mmbtu.
Semua receiving LNG terminals di US dirubah menjadi LNG plant untuk ekspor.
Karena harga gas di US anjlok, Quatar akan mengalihkan penjualan LNG ke Asia
Pacific yang paling lucrative. Demikian juga Alaska yang kelebihan gas
karena terlalu mahal untuk kirim lewat pipa ke continental US dan bahkan
Lousiana lewat Panama canal yang telah diperlebar (lih., email Bambang
Istadi, 25 Oct.). Petronas sedang menungu izin ekspor dari Canada dan jika
diberikan akan menanam US$5.5 milliar untuk LNG Plant dari shale gas di
British Columbia dengan tujuan exspor ke Malaysia.  

5.       Disinilah risiko timbul. Saat ini harga LNG sangat tidak menentu.
Bagaimana dengan envronmental issue untuk CBM dan shale gas? Bagaimana kalau
US dan Canada membatasi atau bahkan melarang ekspor LNG mengingat security
energy dimana mereka tidak ingin ketergantungan dari Middle East oil. Atau
Jepang yang sekarang akan menutup semua nuclear power plant dalam kurun
waktu 20 tahun, berubah pikiran setelah masyarakat Jepang disuru membayar
harga energy yang jauh lebih mahal? Bagaimana kalau Taiwan dan Korea pindah
ke Nuclear atau energi lainnya seperti angin dan matahari yang sekarang
sedang maju-majunya? Dll. Karena faktor tidak menentu ini, harga LNG kita
berikan probability sebesar 50%. Berarti operasi Mahakam untuk mengharapkan
keuntungan seperti yang diharapkan sebelum-sebelumnya, "probablility of
sukses" berubah menjadi 90X50% atau hanya 45%. Ini berarti mengelola Mahakam
mengandung risiko tinggi, tidak lagi seperti sebelumnya yang 90%. Karena
risiko tinggi, maka itu saya cenderung untuk dilakukan tender dan Pertamina
diberi preference, entah matching, 10% atau berapa saja, tetapi for sure not
"Pokoknya Pertamina". Menurut tulisan Pak Luthfi, "rasanya matching bagi
Pertamina tidak jadi soal". Menurut saya memberikan preference 10-15% adalah
fair. Preference diberikan untuk hal-hal yang tidak terukur seperti
kebanggaan, nasionalism, Indonesian content, dsb. 

6.       Inilah yang perlu dipikirkan oleh Pertamina waktu mengambil
extension Mahakam, tidak hanya dari sudut operasi yang relatip mudah tetapi
juga dari sudut harga LNG "beyond 2017". 

7.       Dalam extension nantinya akan ada 10% Indonesia participation.
Biasanya diberikan kepada daerah. Saya pikir kalau lobbying kita kuat,
mungkin Kanwil IAGI Kaltim bisa minta 10% share untuk dijual kepada
anggotanya. Disini baru terlihat sokongan kita kepada Pertamina, tidak
dengan kata tapi dengan perbuatan, yaitu ikut investasi di Mahakam setelah
2017.

 

Maaf sekali lagi kalau tidak lagi. 

 

HL Ong  

 

 

From: rakhmadi avianto [mailto:[email protected]] 
Sent: Monday, October 22, 2012 1:10 PM
To: [email protected]
Subject: Re: [iagi-net-l] Sense of urgency : Mahakam atau Natuna ?

 

Iya deh, tapi sekarang gue udah diluar boz Luthfi, bener juga tuh Jango dan
007 ....

Avi

2012/10/22 Achmad Luthfi <[email protected]>

Pak Avi, Natuna D Alpha itu dulu dihuni Janggo Exxon, Janggo lebih serem.
Sedangkan Blok Mahakam dihuni Total gayanya mirip James Bond yang flamboyan
dikerubungi cewek. Ya gak salah Wamen milih ngerjain PR yang serem Janggonya
kalau melotot. Kan dulu Janggo juragannya Cak Avi



On Sunday, October 21, 2012, rakhmadi avianto wrote:

Dear all SEMANGAT PAGI

Saya kira mana yg LEBIH Penting antara Blok Mahakam dan Natuna D-Alpha,
jawabannya simple, Natuna kurang penting..... yg urgent justru Blok Mahakam.
Itu saja kelihatan bahwa statement pak Wamen udah SALAH ..... sekali lagi
SALAH.

 Kalau di lihat back ground pak Wamen ini setahu saya, blio ini adalah ahli
di bidang drilling operation, jadi bagaimana sbg "drilling engineer" bisa
tahu mengenai blok Mahakam as a whole, mungkin IAGI perlu menerangkan kepada
beliau tentang blok Mahakam ini. Secara praktisi di Oil and Gas blio memang
telah berhasil dalam memadamkan Blow-out di JOB Petrochina dg membuat
Relieve well, demikian juga yg blio usulkan untuk BP-1 nya Lapindo. Padahal
dalam akuisisi blok yg maju duluan kan G&G, kalau G&Gnya udah OK baru
Drilling dan Facilitis diperlukan untuk scoping potential Capex yg di
butuhkan untuk menghitung ke-ekonomiannya. Seingatku di Migas itu sangat
jarang pakar G&G migas (apa aku salah ya? mohon maaf sebelumnya), pakar ini
dalam artian orang yg betul2 pernah berkecimpung di O&G bukan yg cuman baca,
shg karena blio tidak punya penasehat ahli di biadng G&G maka pak Wamen
mereka-reka sendiri shg menimbulkan statement yg ANEH.

Menambahin masukan dari pak Luthfi dan mungkin masukan buat pak Ong mengenai
financial di TEPI, mestinya jauh lebih bagus dari di Arun, bbrp bulan yg
lalu saya ikut evaluasi blok Arun-NSO...yg kebetulan mau di "spin off" punya
ExxonMobil yg mau expire di 2019, projected cash flownya di 2012 sekitar
USD250jt-an turun turun "as production declined" krn dipakai "mode do
nothing" sampai sekitar USD80jt di ahir kontrak, dg total NPV @12% DCF maka
dapat USD830jt net (2012-2019), memang di 2019 cash flow tinggal USD 80jt
(hampir 1T), kalau blok ini di lepas jadi kan yg ambil bisa dapat sekitar 1T
di tahun 2020 (harap di ingat net 1T itu buat ExxonMobil loh). Nah up-side
potentialnya juga ada, lah ini kan artinya dapat tambahan P1+P2 gratis, krn
lokasi Prospectnya sudah di bor, ada oil ada gas ada lognya ada DST data apa
lagi. Untuk hal yg sama tentunya berlaku buat blok Mahakam. Dengan demikian
Negara banyakan untungnya, karena kalaupun Pertamina dapat split 60:40 (in
favor for GOI), tapi yg 40% itu kan larinya ke pemerintah juga, artinya
kalau perlu sewaktu-waktu Negara bisa aja menjualnya aset Pertamina ke Lokal
or ASING shg Negara tetap dapat 100%. Kalau di split 85:15, yg 15% kan
semuanya lari dari GOI dan GOI harus menanggung burden CR yg cukup besar krn
per Bule itu budgetin/th sekitar USD400K itu yg paling bawah, kalau yg boz
boz bisa sampe USD700K/th. Kalau Senior VP Nasional paling USD100K-150K,
jadi secara ekonomi dg memberdayakan Pertamina maka:

1. Untung Pemerintah 100% tidak 85% spt kalau yg mengerjakan orang luar.
2. Beban CR akan lebih kecil
3. Bottom line Pendapatan pemerintah pasti lebih BESAR

Ayo apa lagi...... Mohon pak Ong mempelajari ini.

I used to respect pak Wamen when he was proposing Lapindo but now he is
totally different person.

Aku memerlukan menonton life X-fire antara pak Wamen, Kurtubi dan Marwan
Batubara di TV, aku dulunya juga agak minor sama Kurtubi tapi setealah
melihat di TV ternyata Kurtubi memang lebih make sense pola pikirnya, jelas2
pak Wamen di X-fire tersebut menyatakan "Pertamina punya luas wilayah 47%
tapi produksinya no.3" ini jelas jelas pembodohan publik, begitu blio
ngomong itu maka pak marwan langsung membantahnya, bahwa pak Wamen telah
melakukan pembodohan publik dg mengeluarkan statement itu. Kita semua tahu
yg aktif di perminyakan bahwa luas wilayah tidak selalu sama dg jumlah
reserves di subsurface, tapi reserves itu memang terletak di kedalaman dan
lapisan tertentu di daerah tertentu, tidak di semua lokasi.

Aku yakin se yakin yakinnya pak Wamen ini sekarang lagi maen "mumpet show"
atau si "cepot"


Salam
Avi
Tiadk pernah kerja di Pertamina tapi betul2 PRIHATIN dg statement Wamen
lately.

2012/10/22 Rovicky Dwi Putrohari <[email protected]>

Ada satu alinea menarik dari tulisan Pak Wamen yg menurut saya akan
memperlihatkan strategi Pak Wamen. Atau mungkin strategi pemerintah, karena
bagaimanapun Wamen ESDM ini posisinya tertinggi dalam kompetensi
perminyakan. Ya, karena Pak Jero bukan ahli migas (energi).

 

Quote "Jadi, biarkanlah saya tidak TERKECOH oleh isue BLOK MAHAKAM, karena
BLOK EAST NATUNA bagi saya lebih urgent karena POA nya akan berakhir di
akhir november 2012, sehingga harus segera diputuskan, apakah permintaan
insentif tersebut diterima atau tidak oleh pemerintah."

 

Saya rasa mendiskusikan hal ini, mungkin dapat kita lihat sejauh mana sense
of urgency. Ketika dihadapkan pada satu pilihan yg unik, setiap orang akan
menunjukkan aslinya. Tulisan diatas memperlihatkan kalimat Pak Wamen yg
tidak terdistorsi oleh wartawan.

 

Bagaimana menurut anda strategi Pak Wamen ini ? 

Siapa yg terkecoh, dan siapa yg mengecoh ?

 

Rdp



-- 
"Sejarah itu tidak pernah usang untuk terus dipelajari"

 

 

Kirim email ke