Satu lagi: Jepang kalah dekat dengan China dibanding Korea. China adalah pabriknya Dunia, dan kedekatan korea dengan china digarap perusahaan2 korea dengan apik dan agresif. Dalam hal semikonduktor dan elektronik, Korea juga lebih agresif dibanding Jepang yang cenderung mengandalkan lini produk konstan: Tivi, radio, gaming console.
Korea juga lebih spartan; Korea sekarang adalah Jepang 30 tahun yang lalu. Jepang sekarang adalah Eropa 30 tahun yang lalu. Dan Amerika tetap jadi rentenir yang tetap menang siapapun yang menang... 2012/11/10 amien widodo <[email protected]> > Ada opini menarik...... > The Death of Samurai : Robohnya Sony, Panasonic, Sharp, Toshiba dan > Sanyo<http://strategimanajemen.net/2012/09/03/the-death-of-samurai-robohnya-sony-panasonic-sharp-dan-sanyo/> > **** > > > Hari-hari ini, langit diatas **kota** **Tokyo** terasa begitu kelabu. ** > Ada** kegetiran yang mencekam dibalik gedung-gedung raksasa yang > menjulang disana. Industri elektronika mereka yang begitu digdaya 20 tahun > silam, pelan-pelan memasuki lorong kegelapan yang terasa begitu perih. > **** > Bulan lalu, Sony diikuti Panasonic dan Sharp mengumumkan angka kerugian > trilyunan rupiah. Harga-harga saham mereka roboh berkeping-keping. Sanyo > bahkan harus rela menjual dirinya lantaran sudah hampir kolaps. Sharp > berencana menutup divisi AC dan TV Aquos-nya. Sony dan Panasonic akan > mem-PHK ribuan karyawan mereka. Dan Toshiba? Sebentar lagi divisi > notebook-nya mungkin akan bangkrut (setelah produk televisi mereka juga > mati).**** > Adakah ini pertanda salam sayonara harus dikumandangkan? Mengapa kegagalan > demi kegagalan terus menghujam industri elektronika raksasa Jepang itu? Di > Senin pagi ini, kita akan coba menelisiknya.**** > Serbuan Samsung dan LG itu mungkin terasa begitu telak. Di mata orang > Jepang, kedua produk **Korea** itu tampak seperti predator yang telah > meremuk-redamkan mereka di mana-mana. Di sisi lain, produk-produk > elektronika dari **China** dan produk domestik dengan harga yang amat > murah juga terus menggerus pasar produk Jepang. Lalu, dalam kategori > digital gadgets, Apple telah membuat Sony tampak seperti robot yang bodoh > dan tolol.**** > What went wrong? Kenapa perusahaan-perusahaan top Jepang itu jadi seperti > pecundang? **Ada** tiga faktor penyebab fundamental yang bisa kita petik > sebagai pelajaran.**** > *Faktor 1 : Harmony Culture Error.** *Dalam era digital seperti saat ini, > kecepatan adalah kunci. Speed in decision making. Speed in product > development. Speed in product launch. Dan persis di titik vital ini, > perusahaan Jepang termehek-mehek lantaran budaya mereka yang mengangungkan > harmoni dan konsensus.**** > Datanglah ke perusahaan Jepang, dan Anda pasti akan melihat kultur kerja > yang sangat mementingkan konsensus. Top manajemen Jepang bisa rapat > berminggu-minggu sekedar untuk menemukan konsensus mengenai produk apa yang > akan diluncurkan. Dan begitu rapat mereka selesai, Samsung atau LG sudah > keluar dengan produk baru, dan para senior manajer Jepang itu hanya bisa > melongo.**** > Budaya yang mementingkan konsensus membuat perusahaan-perusahaan Jepang > lamban mengambil keputusan (dan dalam era digital ini artinya tragedi).*** > * > Budaya yang menjaga harmoni juga membuat ide-ide kreatif yang radikal > nyaris tidak pernah bisa mekar. Sebab mereka keburu mati : dijadikan tumbal > demi menjaga “keindahan budaya harmoni”. Ouch.**** > *Faktor 2 : Seniority Error.** *Dalam era digital, inovasi adalah > oksigen. Inovasi adalah nafas yang terus mengalir. Sayangnya, budaya > inovasi ini tidak kompatibel dengan budaya kerja yang mementingkan > senioritas serta budaya sungkan pada atasan.**** > Sialnya, nyaris semua perusahaan-perusahaan Jepang memelihara budaya > senioritas. Datanglah ke perusahaan Jepang, dan hampir pasti Anda tidak > akan menemukan Senior Managers dalam usia 30-an tahun. Never. Istilah > Rising Stars dan Young Creative Guy adalah keanehan.**** > Promosi di hampir semua perusahaan Jepang menggunakan metode urut kacang. > Yang tua pasti didahulukan, no matter what. Dan ini dia : di perusahaan > Jepang, loyalitas pasti akan sampai pensiun. Jadi terus bekerja di satu > tempat sampai pensiun adalah kelaziman.**** > Lalu apa artinya semua itu bagi inovasi ? Kematian dini. Ya, dalam budaya > senioritas dan loyalitas permanen, benih-benih inovasi akan mudah layu, dan > kemudian semaput. Masuk ICU lalu mati.**** > *Faktor 3 : Old Nation Error*. Faktor terakhir ini mungkin ada kaitannya > dengan faktor kedua. Dan juga dengan aspek demografi. Jepang adalah negeri > yang menua. Maksudnya, lebih dari separo penduduk Jepang berusia diatas 50 > tahun.**** > Implikasinya : mayoritas Senior Manager di beragam perusahaan Jepang masuk > dalam kategori itu. Kategori karyawan yang sudah menua.**** > Disini hukum alam berlaku. Karyawan yang sudah menua, dan bertahun-tahun > bekerja pada lingkungan yang sama, biasanya kurang peka dengan perubahan > yang berlangsung cepat. **Ada** comfort zone yang bersemayam dalam raga > manajer-manajer senior dan tua itu.**** > Dan sekali lagi, apa artinya itu bagi nafas inovasi? Sama : nafas inovasi > akan selalu berjalan dengan tersengal-sengal.**** > Demikianlah, tiga faktor fundamental yang menjadi penyebab utama mengapa > raksasa-raksasa elektronika Jepang limbung. Tanpa ada perubahan radikal > pada tiga elemen diatas, masa depan Japan Co mungkin akan selalu berada > dalam bayang-bayang kematian.**** > > Maaf kalau sudah pernah > -- Visit http://www.strivearth.com and be entertained

