nDang, I need your opinion. Perusahaan asing yg minta pendapat saya sbg
konsultan independen ttg potentiality & risk blok CBM-nya itu (yg pernah saya
ingatkan daerah situ ga ada batubaranya, kalupun ada pasti gak komersial): skrg
malah nanya: kalau mau nuntut ("sue") siapa ya yg bisa kita tuntut? Krn mrk
merasa "ditipu" oleh perguruan tinggi pertama yg mengusulkan blok CBM ke mrk,
kemudian merasa "ditipu" juga oleh pemerintah yg memverifikasi hasil
joint-study yg mrk biayai yg dilakukan oleh perguruan tinggi kedua, dan yg
terakhir merasa wakil2 pemerintah yg ngawasi rencana dan pelaksanaan pemboran
eksplorasi sumur2 CBM-nyapun kayaknya membiarkan saja mrk meresikokan uang
sampai 15juta dollar u/ngebor dsb, pdhl harusnya mrk ngerti juga-lah bhw daerah
itu tdk prospek. Selain bingung mau nuntut siapa, mrk juga bingung mau ngapain
lagi dg blok yg mrk punya. Lha wong sdh gak ada apa2nya.
Wah, kalau nuntut secara hukum ya nggak bisalah, pak. Harusnya pengusaha asing
itu juga sdh mengerti: begitulah resiko eksplorasi. Bisa ilang samasekali duit
15juta dollar plus plus gak kembali. Meskipun itu menyangkut CBM yg bukan
konvensional oil-gas yg lebih beresiko lagi. Mestinya khan mrk juga punya
explorationist sendiri yg mempertimbangkan semua resiko venture-nya secara
lebih hati2, bukan sekedar modal duit dan menganggap ini semua spt dagang sapi
- sapinya ada tinggal dibeli, disembelih dan dijual lagi dpt untung rejeki.
Tapi bagaimanapun juga, nDang, sangat disayangkan kenapa koq dengan data yg
sama2 menunjukkan batubara di atas dan di bawah tanah-nya itu hanya beberapa
seam tipis: para pengusul, para pen-studi dan panel pem-verifikasi koq
menyimpulkan CBM-nya cadangannya besarnya luar biasa sekali? Malah dg terang2an
mrk memakai density 1.8 s/d 2.0 untuk menghitung volume batubara yg mana
menurut saya itu sudah keterlaluan gak professional-nya: membesar-besarkan
angka potensi. Khan harusnya pakai 1.3-an lah density. Belum lagi ketebalan yg
direkayasa jauh lebih besar dr data yg ada tanpa alasan yg jelas sama sekali.
Wah, kalau masalah yg spt itu, pak: ini yg ke-4 yg saya temui. Jangan heran
kalau sejak bbrp tahun terakhir ini banyak berkeliaran professional (kadang dg
label akademisi) yg membuat analisis blok2 u/oil&gas dan juga CBM (dan sebentar
lagi shale gas) untuk kemudian ditawarkan - dijual ke calon2 investor yg
termakan oleh iming2 jumlah "cadangan" yg dibikin besar sekali (bahkan tdk tahu
beda sumberdaya dg cadangan dan berbagai skenario penamaannya yg tdk pasti).
Kemudian stlah sang investor yg umumnya tdk berlatarbelakang oilgas E&P itu
yakin diajaklah mrk melakukan - membiayai joint study, dst dst sampai akhirnya
nanti diverifikasi - disetujui oleh pemerintah u/jadi blok yg ditawarkan dg
skema "direct-offer" bukan "open tender". Padahal blok2 yg ditawarkan itu juga
nggak nambah data apapun selain pembaruan peta2 lead-prospek dr kumpeni2
terdahulu atau bahkan dibikin lead-prospek baru dg data baru yg didapat dr
"pasar gelap" yg pemerintah juga gak punya inventori.
Bagi sebagian pihak di pemerintahan: performance mrk dinilai dr berapa banyak
bisa jualan blok migas/cbm/shalegas tanpa peduli apakah blok2 itu punya potensi
yg bener2 sdh terevaluasi. Bagi sebagian pihak petualang eksplorasi hal tsb
menjadi peluang untuk terus menerus melakukan "studi" - apapun kwalitas
studinya - dg alasan ikut membantu pemerintah menggalakkan eksplorasi. Bagi
kalangan investor yg tdk punya latar belakang new venturing eksplorasi:
hati-hati!!!!
Sayang banget ya, nDang. Saya koq malah kuatir: secara professional kita2 ini
di akademisi maupun di industri jadi kena imbasnya: gak dipercaya lagi oleh
publik krn mempermainkan ketidak tahuan publik atas ketidak-pastian / resiko
eksplorasi untuk alasan2 komersial sempit dan tujuan pemenuhan kinerja aparat.
Jangan2 mrk nanti - terutama orang2 luar negeri - jadi sinis melihat IAGI atau
HAGI yg membiarkan saja kasus2 un-ethical itu terjadi.
Kalau begitu mari kita bicarakan di forum organisasi, pak. Saya akan sampaikan
nanti insyaallah ke kawan2 G&G spy bisa jadi bahan untuk ditindaklanjuti.
Salam
Minggu yg mengendap
ADB - IAGI 0800
Jkt-Bandung : sepanjang jalan tol
Powered by Telkomsel BlackBerry®