Evolusi setiap pulau di Nusa Tenggara cukup kompleks dan suka diperdebatkan.
   
  Mempelajari pulau2 di Nusa Tenggara harus dibedakan antara pulau2 oseanik dan 
pulau2 kontinental. Pulau2 oseanik artinya pulau2 yang muncul dari kerak 
samudra yang terisolasi dari kerak benua sebagai hasil subduksi oseanik ke 
oseanik. Pulau2 oseanik ini di Nusa Tenggara membentuk baik busur dalam yang 
volkanik maupun busur luar yang non-volkanik. Semua pulau oseanik ini umurnya 
lebih muda daripada mid-Miosen (15 Ma). Pulau2 seperti ini misalnya 
Lombok-Sumbawa-Flores-Alor-Wetar-Damar-dst.di Busur Banda. Pulau2 kontinental 
masih merupakan bagian dari massa benua, masih berposisi di paparan benua, 
hanya dipisahkan oleh laut zaman deglasiasi, misalnya Bali, keraknya bisa benua 
bisa transisi. Termasuk ke dalam jenis ini adalah pulau berkerak benua, tetapi 
sudah terpisah dari massa benuanya akibat peristiwa tektonik pada zaman 
Paleogen. Contoh pulau seperti ini adalah Sumba. Ini kita sebut fragmen benua, 
mikro-kontinen, atau island raft.
   
  Lombok dan Sumbawa adalah busur kepulauan sebelah dalam  yang bersifat 
volkanik (inner volcanic island arc). Semua pulau busur dalam ini secara 
struktur adalah yang paling sederhana di Nusa Tenggara, merupakan pulau2 
oseanik volkanik muda (< 15 Ma), seringkali ditumbuhi terumbu karang di 
pinggirnya atau material sediment yang berasal dari erosi bagian utama pulau 
dan terlonggok (terakumulasi) di antara lidah-lidah lava dan material ekstrusi 
volkanik lainnya.
   
  Lombok dan Sumbawa merupakan bagian paling timur Busur Sunda. Setelah 
Sumbawa, pulau2 volkanik ke sebelah timurnya kita sebut Busur Banda. Batas 
antara Busur Sunda dan Busur Banda ini oleh Audley-Charles (1975) pernah 
disebut sebagai Sumba Fracture, bahkan ia menyebutkan bahwa batas ini sebagai 
batas struktur antara Indonesia Barat dan Timur. Dalam beberapa makalah
(Satyana, 2003; Satyana & Purwaningsih, 2011), saya menyambungkan Sumba 
Fracture ini ke suatu diskontinuitas  di Laut Flores, lalu masuk ke Lengan 
Sulawesi Selatan dan menyambungkannya ke 
Walanae Fault – sebuah lembah sangat dalam di lengan Sulawesi dan menggunakan 
diskontinuitas besar ini sebagai jalan untuk island raft Sumba berpindah dari 
tepi tenggara Sundaland ke tempatnya sekarang pada Paleogen sebelum Busur Banda 
menghalanginya (dalam suatu proses bernama slivering of the continent).
   
  Lombok dan Sumbawa pun karena posisinya paling barat sebagai pulau2 volkanik 
di Nusa Tenggara mereka paling tua umurnya sebab dari Busur Sunda ke Busur 
Banda cenderung material penyusunnya semakin muda bergerak ke timur. Bila kita 
urutkan dari kala tua ke kala muda, Pulau Lombok dan Sumbawa mempunyai sejarah 
sebagai berikut : 
   
  -         sebelum Miosen : tak ada kedua pulau ini
  -         base of pre-Miocene marine rocks (belum teridentifikasi, bisa ada 
bisa tidak)
  -         Miocene : southern volcanoes form (submarine volcanoes)
  -         Mio-Pliocene : sub-aerial volcanoes (makin bergerak ke utara)
  -         Pleistocene : coral reefs form and are uplifted; 0.2 Ma northern 
volcanoes form
  -         0.04 Ma : Tambora’s first caldera formed 
  -         Holocene : Central plain infills
   
  Dapat kita lihat bahwa di kedua pulau ini (juga hampir semua pulau di busur 
dalam Nusa Tenggara) terdapat dua mountain land (southern dan northern) yang 
terbentuk : gunungapi2 Mio-Pliosen yang sekarang tererosi tahap tua membentuk 
pematang-pematang sempit tertoreh dalam, dan gunungapi2 aktif Kuarter muda yang 
bentuknya masih kerucut. Ini mencerminkan perkembangan busur volkanik bagian 
dalam seiring dengan bergeraknya zone subduksi ke utara. Di Lombok dan Sumbawa 
jalur volkanik tua ada di sebelah selatan. Sisa-sisa gunungapi tua 
andesitik-basaltik ini misalnya Gunung Mareje (716 m) di dekat Mataram Lombok 
atau Gunung Sepakat dan Gunung Dinding di Sumbawa selatan. Di sekitar gunung 
ini dapat dipelajari dengan baik bagaimana asal dan sekuen gunung ini dalam 
hubungannya dengan batuan sediment yang tersingkap di sekitarnya, apakah 
intrusi magmatik yang menerobos batuan sediment lebih tua, apakah gunungapi tua 
yang di pinggirnya ditumbuhi terumbu karang, dsb.
   
  Pengangkatan Resen terjadi sangat kuat di sebelah selatan Lombok-Sumbawa. 
Batugamping dan konglomerat dari gunungapi2 tua terangkat membentuk tebing 
pantai, misalnya di dekat Kuta dan Blongas di Lombok selatan (bandingkan dengan 
pantai Uluwatu, Bali selatan – hal yang sama juga). Dataran tinggi sebelah 
selatan Taliwang di Sumbawa baratdaya, 
juga merupakan uplifted coral limestones yang dulunya tumbuh menumpu (onlap) 
gunungapi andesitik ke sebelah selatan dan tenggaranya. 
   
  Maka, di Lombok dan Sumbawa sebenarnya ada dua massif volkanik, di sebelah 
selatan yang lebih tua (Miosen-Pliosen), dan di sebelah utara yang lebih muda 
(Pleistosen-Holosen). Kedua masiff ini dipisahkan di bagian tengahnya oleh 
sebuah jalur laut dangkal yang kemudian terisi oleh endapan volkanik dari kedua 
gunungapi berbeda generasi ini, dan saat ini telah menjadi lembah di tengah 
kedua pulau ini yang subur dan menjadi lahan pertanian (di Sumbawa tak 
kelihatan lembah Central Plain ini karena massif gunungapi tua-nya “tebal” dan 
berkembang lebih intensif). Gunungapi terkenal Rinjani (3726 m) di Lombok dan 
Tambora (2850 m) di Sumbawa adalah produk gunungapi generasi ke dua yang 
bergerak ke utara di kedua pulau ini. 
   
  Maka, bisa disimpulkan bahwa Lombok dan Sumbawa merupakan dua pulau oseanik 
penyusun busur volkanik dalam di sistem Busur Sunda paling timur yang berasal 
dari subduksi antara kerak oseanik Hindia dengan kerak oseanik yang membatasi 
Sundaland di sebelah tenggara – maka kedua pulau ini adalah a proper island arc 
(bukan seperti Sumatra-Jawa-Bali yang merupakan produk subduksi kerak oseanik 
di bawah tepi kerak benua-transisi Eurasia –continental margin arc).
   
  Batas antara kerak kontinental-transisi Eurasia dengan kerak oseanik yang 
membatasi Sundaland di sebelah tenggaranya adalah Selat Lombok – sebuah selat 
sangat dalam tempat Alfred Russel Wallace menaruh garis demarkasi zoogeografi 
pada tahun 1869.  Maka cerita tentang rumpang keanekargaman hayati antara Bali 
dan Lombok, yang duduk sebelah-menyebelas terhadap garis demarkasi ini akan 
sama menariknya dengan cerita tentang diskontinuitas geologi kedua pulau ini 
yang duduk di dua massa kerak yang berlainan.
   
  Flores akan punya cerita tektonik yang lebih seru lagi sebab di selatan ia 
dihalangi oleh fragmen benua Sumba, di utara ia berhadapan dengan Flores 
megathrust – yang sebenarnya sebuah subduksi kerak oseanik West Banda. Cerita 
biogeografinya juga lebih seru dengan hadirnya sekian banyak makhluk endemic di 
pulau ini, dari komodo sampai Homo floresiansis. Jelas kita harus memikirkan 
Flores lain daripada yang lain.
   
  Salam,
  Awang

Kirim email ke