Terimakasih Pak Vicky Amir atas kiriman paper Forsyth dan Uyeda (F-U) 1975.


Saya sebagai geologist termasuk yang cenderung sepaham (school of thought)
dengan konsep slab-pull nya F-U yang bisa menerangkan kinematika/dinamika
dari pergerakan lempeng. Sedangkan triggernya masih bisa diperdebatkan.
Konsep ini banyak dikutip/disitir oleh para ahli geodinamik untuk
menerangkan inter-plate movement.  Apalagi sekarang didukung sangat didukung
dengan data/peta penunjaman dari hasil analisa tomografi. 

Konsep ini bisa menerangkan beberapa type convergence/divergence margin
seperti: Tipe high-angle (low stress) convergenge (Mariana Type -Philipine
Trench);  Tipe Low Angle (high stress) convergence (Andean Type); Oblique
collisions (Sumatera ) sampai fenomena kompartementalisasi pada downgoing
slab yang mengakibatkan ada fenomena kompartementalisasi juga pada
overridding platenya.  Bahkan fenomena  "trapped old ocean plate" juga bisa
diterangkan dg lebih mudah.  Demikian sebatas pengetahuan saya

Terimakasih.

RUS

  

 

From: [email protected] [mailto:[email protected]] On Behalf Of vicki
amir
Sent: 22 Januari 2013 3:18
To: iagi-net
Subject: Re: Bls: Re: [iagi-net] BACK TO BASIC # 4 - CEKUNGAN BELAKANG BUSUR
(BACKARC BASIN): KONTROL KINEMATIKA OVERRIDING PLATE VS. SLAB ROLLBACK

 

Pak Awang dan Pak Yatno, 

 

Saya izin ikut nimbrung diskusi yang menarik ini. Saya attach publikasi oleh
Forsyth & Uyeda (1975) yang cukup sering diacu oleh beberapa ahli tektonik
di beberapa univ di US dan Eropa, yang saya kira pastinya sudah pernah
diunduh oleh kawan2 yang lain juga. 

http://www.dynamicearth.de/Lectures/Tekto.SoSe12/Vorlesung/fu75.pdf

Pada dasarnya dia membuat empirical relationship antara trench length
(Active Continental Margin) dan ridge length (MOR) dengan kecepatan gerak
lempeng, yang mana dia menggunakan hampir semua batas lempeng besar (maupun
'kecil' ) seperti Eurasia, North America, South America, Antarctica, Africa,
India, Phillipines, Nazca, etc. Dalam crossplot ridge length/trench length
vs plate rate velocity (cm/yr), terlihat adanya perbedaan bahwa kecepatan
gerak lempeng nampak mempunyai korelasi yang baik dengan jumlah panjang dari
trench length/attached slab, sehingga menunjukkan bahwa slab pull relatively
lebih berperan sebagai major driving forces utk plate tectonics ditambah
dengan mekanisme basal drag juga tarikan gravitasi atas oceanic lithosfer
yang berumur lebih tua dan lebih besar densitynya ke bawah overriding plate
yang sebelumnya dijelaskan oleh Pak Awang yang semuanya itu terjadi di
sekitar active margin region; sekali lagi tentunya ini hanya dalam konteks
perbandingan antara relative importancy slab pull vs ridge push saja.
Driving forces utama tentunya adalah arus konveksi di mantel yang skalanya
jauh lebih besar dibandingkan lithospheric crust. Monggo didiskusikan.

 

Regards

Vicki Amir

 

 

From: Awang Satyana <[email protected]>
To: IAGI <[email protected]> 
Sent: Monday, 21 January 2013, 10:29
Subject: Bls: Re: [iagi-net] BACK TO BASIC # 4 - CEKUNGAN BELAKANG BUSUR
(BACKARC BASIN): KONTROL KINEMATIKA OVERRIDING PLATE VS. SLAB ROLLBACK


Ridge Push dan Slab Pull itu keduanya ada sebab ada MOR, dan ada subduction
zone, dan di antara keduanya tidak ada yang lebih dominan. Ridge Push dan
Slab Pull, keduanya, hanyalah manifestasi gravitasi lempeng samudera. Sebab
di MOR, lempeng samudera mencapai titik tertingginya, dan di zona subduksi
lempeng samudera mencapai titik terendahnya, maka differential gravity ini
menggerakkan lempeng. Perhatikan bahwa MOR itu tidak mendorong, seolah2
mendorong, maka disebut ridge push, sesungguhnya lempeng melakukan
gravitational gliding atau sliding dari MOR ke subduction zone. Tetapi
karena mendekati zona subduksi lempeng itu semakin tua dan semakin berat,
maka gravitasinya yang terbesar ada di zona subduksi, sehingga di sinilah
lempeng samudera tenggelam, dan menarik sisanya, melalui slab-pull. Kalau
kita tidak percaya ada slab-pull maka kita tidak percaya ada zona subduksi,
ada palung. Begitu juga kalau kita tidak percaya ada ridge-push, maka kita
tidak percaya ada MOR. Tidak sulit untuk menalar gerakan lempeng dengan
mekanisme ridge push dan slab pull sebab ini hanya fenomena gravitasi
lempeng di siklus Wilson. Arus konveksi astenosfer, inilah sebenarnya yang
kini diragukan merupakan faktor dominan penggerak lempeng. Ia bisa mendorong
lempeng bergerak lebih cepat setelah didorong dari MOR melalui mekanisme
'basal drag' dengan catatan arah aliran astenosfer searah dengan ridge push,
tetapi bila aliran astenosfer berlawanan dengan arah gravitational gliding
dari MOR, maka basal drag astenosfer justru akan menahan laju gerak lempeng.
Salam, Awang

From: yustinus yuwono <[email protected]>; 
To: <[email protected]>; 
Subject: Re: [iagi-net] BACK TO BASIC # 4 - CEKUNGAN BELAKANG BUSUR (BACKARC
BASIN): KONTROL KINEMATIKA OVERRIDING PLATE VS. SLAB ROLLBACK 
Sent: Mon, Jan 21, 2013 3:50:27 PM 


Pak RDP, 

Kalo masih meragukan argumen saya, bahwa gaya dorongan dari MOR jauh lebih
besar (dibandingkan dengan slab pull ini, kalo memang terbukti ada), mari
kita lihat peta bathymetri Global Ocean Floor yang klasik, tetapi adalah
data authentik dari Le Pichon th 80 an. Apa yang kita lihat di ocean floor?
Ternyata dipenuhi oleh sesar- sesar mendatar yang besar- besar menembus
sampai astenosfer (disebut sesar transformal, untuk membedakan dengan sesar
mendatar biasa). Arah transform fault itu tegak lurus dengan sumbu MOR.
Teman-teman ahli tektonik tentu sependapat dengan saya, bahwa penyebabnya
bukan tarikan (slab pull?), sebab gaya tarikan akan menyebabkan rezim
distensional yang menghasilkan pembentukan horst & graben dengan sesar
turunnya itu, jadi bukan sesar mendatar, karena sesar mendatar setahu saya
dari kuliah S1 th 60 an dulu (dari Prof Sukendar Asikin) penyebabnya adalah
gaya kompresional, bukan distensional, tolong dikoreksi kalau saya salah.
Saya juga heran kenapa masih ada pengikut teori slab pull ini. 

Salam,

YSY

2013/1/21 yustinus yuwono <[email protected]> 

RDP yth, 

Arus konveksi mungkin juga penyebab mekanisme Plate Tektonik yang diawali
dengan Teori Continental Drift yg terkenal itu. Tapi bagaimana
membuktikannya????? Bahkan ada wacana atau sudah disebut Teori? Bahwa ada
model double convection current. Yang diatas kecil-kecil ini katanya motor
dari gerakan lateral lempeng- lempeng, yang di bawahnya lebih besar dengan
arah konveksi terbalik dibanding yang di atas. Untuk men- detect gerakan
konveksi ini dengan alat apa? Maaf, karena saya petrologis yang selalu
bekerja dengan sample (batuan), saya lebih percaya dengan apa yang dapat
saya pegang (analisa), tanpa sample buat saya itu saya anggap bukan bukti
yang kuat. Kalo Vs, Vp magnetic susceptibility, electrict resistance,
density dsb yang dipakai instrumen rekan- rekan geophysisist untuk mengendus
bawah permukaan itu masih mudah dimengerti, karena angka- angkanya dapat
dikonversi dari pengukuran laboratorium dari masing-2 batuannya. Sedangkan
untuk mendetect gerakan arus konveksi di dalam mantel dengan kecepatannya
yang hanya sekian cm per tahun pada kedalaman ratusan bahkan ribuan km di
bawah permukaan? Aya- aya wae...

Salam,

YSY 

2013/1/21 Rovicky Dwi Putrohari <[email protected]> 

Pak Awang konsep "Slab pull - rigde push" ini kok mirip perpetual system. 

Kecuali ada arus konveksi yg menjadi sumber gayanya. Sedangkan konveksi
merupakan akibat pemanasan dari mantle dalam atau malah realsi radioktofotas
pada into bumi. Sumber energinya pemanasan dari dalam Cmiiw.

. 

Rdp

On Monday, January 21, 2013, Awang Satyana wrote: 


Fauzan, Slab-pull force itu pasti ada untuk menarik lempeng samudera masuk
ke dalam zona konvergen. Ada karena litosfer oseanik saat masuk palung
umurnya tua, umur tua buat lempeng itu akan berat dan dingin, sehingga
negatif secara buoyancy, bahkan lebih berat daripada astenosfer di bawahnya,
sehingga lempeng oseanik ini akan tenggelam ke dalam mantel dan basalt-nya
berubah jadi eklogit yang akan membuatnya lebih berat lagi. Maka slab-pull
sebenarnya hanyalah gaya gravitasi benda berat menarik benda ringan yang ada
di atasnya. Saya meyakini slab- pull dan ridge-push sama2 berkontribusi
kepada jalannya lempeng. Ridge-push pun permainan gravitasi saja antara MOR
dan palung. Maka saya meyakini bahwa cekungan belakang busur terbuka karena
gerakan roll-back dari slab yang subducted makin berat sehingga membuat zona
Wadati-Benioff yang curam, lalu membuka cekungan di overriding plate. Akan
halnya astenosfer, ini benda yang hangat dan plastis jadi agak berlaku
seperti barang viscous fluid. Juga berlaku secara elastik karena terbukti
gelombang seismik masih bisa melaluinya, jadi bukan barang cairan. Jadi bila
suatu benda berat ditaruh di atas astenosfer, benda berat ini akan
tenggelam, lalu akibat tekanan dari muatan itu, terjadi aliran fluida
astenosfer keluar dari titik beratnya. Juga karena astenosfer tidak punya
flexural rigidity, maka perbedaan lateral density-nya, yang dihasilkan oleh
variasi komposisi dan temperatur, dapat menyebabkan astenosfer itu mengalir.
Materi astenosfer yang lebih hangat dan ringan akan naik, sedangkan yang
lebih padat dan dingin akan tenggelam. Dengan kata lain, transfer panas di
dalam astenosfer terjadi dengan cara konveksi. Tetapi harap diketahui,
meskipun astenosfer mampu mengalir, hampir seluruhnya astenosfer merupakan
batuan padat, jadi jangan dibayangkan semacam magma yang mengalir di bawah
litosfer. Tetapi bagian paling atas astenosfer, yang dikenal sebagai 'low
velocity zone' memang ada magma di situ. Di sini sejumlah kecil leburan
batuan ditemukan sebagai lapisan film di atas permukaan butiran batuan. Di
wilayah volkanik pun leburan ini ditemukan. Bagian atas astenosfer itu dapat
didefinisikan pada isoterm sekitar 1280 C, karena di atas thermal boundary
ini, peridotit cukup dingin untuk bertindak sebagai materi rigid, tetapi di
bawah thermal boundary ini peridotit berlaku sebagai materi plastis. Maka
lempeng-lempeng bergerak karena ridge push, arus konveksi di astenosfer, dan
slab pull, termasuk menyebabkan implikasi atas pembukaan backarc basin.
Salam, Awang

From: Fauzan Arif <[email protected]>; 
To: [email protected] <[email protected]>; 
Subject: Re: [iagi-net] BACK TO BASIC # 4 - CEKUNGAN BELAKANG BUSUR (BACKARC
BASIN): KONTROL KINEMATIKA OVERRIDING PLATE VS. SLAB ROLLBACK 
Sent: Mon, Jan 21, 2013 6:16:29 AM 


Pak Awang dan Pak Yatno,

Terkait postingan pak awang sebelumnya jilid#3 yang dikomentari pak yatno.
Kalau mekanisme ridge push dominan dan slab pull dapat diabaikan spt yg
dikemukakan pak Yatno, maka sulit menjelaskan trench rollback dan back arc
extension seperti yg disinggung pak Awang disini dan juga pada thread
sebelumnya (BTB#1).

Mengenai asthenosphere...saya juga termasuk yg "sesat" pak. Saya memahami
bahwa asthenosphere itu cairan semua. Kimiawinya sama dg upper mantle
(lithosphere) tapi lebih panas, liquid dan BJ nya lebih kecil.

Pak Awang, langsung saja pak...menurut bapak kalau bukan back arc, cekungan2
itu terbentuk karena apa?

Terima kasih sebelumnya

Salam,

Fauzan

On 21 Jan 2013, at 03:26, Awang Satyana <[email protected]> wrote:


Cekungan belakang busur adalah cekungan sedimen yang terletak di belakang
busur volkanik, yaitu di sisi dekat benua. Pasangannya adalah cekungan depan
busur (forearc basin) yang berada di sisi dekat samudera. Cekungan belakang
busur (volkanik) tentu baru ada setelah jalur volkanik ada sebab jalur
volkanik inilah yang menjadi referensi namanya. Cekungan ini penting untuk
Indonesia sebab cekungan2 penghasil hidrokarbon terbesar di Indonesia adalah
dari tipe ini: Cekungan Sumatra Utara, Sumatra Tengah, Sumatra Selatan,
Sunda-Asri, Jawa Baratlaut, dan Jawa Timurlaut. Tetapi harus berhati2, sebab
cekungan2 ini baru jelas (proper) menjadi cekungan belakang busur setelah
Neogen.  Jadi bila kita mempelajari suatu cekungan lihatlah riwayat cekungan
sejak terbentuknya sampai saat ini, sebab tipe cekungan akan memengaruhi
sistem hidrokarbonnya. Dari berbagai literatur, cekungan belakang busur ada
tiga tipe: 1. kontraksi, 2. ekstensi, dan 3. stabil.  Pada tipe KONTRAKSI,
cekungan tak jelas terbentuk sebab terkompresi menjadi jalur lipatan dan
sesar (fold-thrust belt) atau tinggian batuan dasar. Ini suka disebut
Andean-type backarc.  Pada tipe EKSTENSI, cekungan belakang busur jelas
terlihat. Bila ekstensi hanya membuat kerak benua retak-retak sebagai horst
dan graben, maka cekungan ini berbatuan dasar kerak benua, tetapi bila
ekstensi berhasil membuat kerak benua retak sampai memisah kemudian terjadi
pemekaran dasar samudera, maka dasar cekungan ini adalah kerak samudera. Ini
suka disebut Mariana-type backarc. Pada tipe STABIL, bisa berasal dari tipe
kontraksi atau ekstensi, tetapi kemudian berhenti menjadi stabil karena
terjadi perubahan gerakan lempeng di sekitarnya. Ini suka disebut Japan-type
backarc. Kapan terbentuk tipe-tope tersebut, semuanya dikontrol oleh
kinematika gerak lempeng, yaitu vektornya (arah dan kecepatan lempeng
bergerak) Tipe KONTRAKSI akan terbentuk bila arah gerakan lempeng benua
(sebagai overriding plate, atau lempeng di atas) menuju zona subduksi dan
kecepatannyan lebih tinggi daripada kecepatan gerakan rollback subducted
plate/slab.  Pada kondisi ini cekungan belakang busur akan terkompresi.
ROLLBACK adalah gerakan 'guling ke belakang' lempeng samudera yang menunjam
menjauhi benua yang menyebabkan bidang subduksi menjadi semakin curam.
ROLLBACK akan terjadi pada lempeng samudera yang tua dan bergerak pelan.
Tipe EKSTENSI akan terbentuk terutama bila kecepatan rollback subducted
plate lebih tinggi daripada kecepatan lempeng di atasnya (overriding plate),
apakah lempeng di atas ini bergerak menjauhi zona subduksi atau mendekati
zona subduksi. Pada kondisi ini cekungan belakang busur aktif membuka. Tipe
STABIL akan terbentuk terutama bila kecepatan rollback subducted plate sama
dengan kecepatan gerakan lempeng di atasnya (overriding plate), baik arah
gerakan lempeng ini mendekati atau menjauhi zona subduksi. Pada kondisi ini
cekungan belakang busur berhenti membuka. Satu cekungan belakang busur dapat
berubah-ubah tipenya sepanjang evolusinya, bergantung kepada pola
konvergensi lempeng di sekitarnya. Mengacu kepada tiga tipe di atas, apakah
tipe cekungan belakang busur dari Sumatra sampai Jawa itu? Harus  diingat
bahwa semua rifting yang mengawali semua cekungan ini terjadi pada saat
Paleogen, sekitar Eosen-Oligosen awal, pada saat cekungan2 ini belum menjadi
'proper backarc basin' dan harus diingat pula bahwa cekungan2 ini pada
Neogen secara isostatik tenggelam mengkompensasi jalur volkanik di sebelah
luarnya.  Silakan dipikirkan... Salam, Awang

-- 
- Seorang manusia terlihat tinggi bila dia tidak merendahkan yang lain -

 

Kirim email ke