IAGI netter yth,
Sambil menikmati Cer-Bernya Pak Awang yang komplit plit, runut dan enak
dibaca, saya igin juga urun rembug tentang pengetahuan plate tektonik yg
mungkin saat ini sudah ketinggalan jaman, hanya ingin menambahkan bbeberapa
argumentasi masing-masing konsep sehingga kita mengerti prosesnya dan
melengkapi yang sudah dikemukakan Pak Awang.
  
Diagram terlampir adalah penggambaran Teori klasik mekanisma Tektonik
Lempeng (Hess& McKenzie) yang diawali dari proses arus konveksi dalam mantel
sehingga mentriger MOR. Massa yang dikeluarkan mendesak lempeng dan
mendorong kerak samodra sehingga terjadi subduksi di ujung kerak lainnya.  
Kalau tidak salah teori ini generasi 60-80 sudah banyak yang menchallange
kebenarannya, di mid 90an-2000an karena dinamika plate tektonik tidak lagi
simple dg argumen sebagai berikut:
A. Arus konveksi yang normal, mestinya berbentuk hemisperical bukan
linear/curvi-linear seperti kenampakan kebanyakan spreading center di MOR.
Menggambar arus konveksi pada sayatan vertikal itu mudah
(upwelling-downgoing) muter ditambah anak panah sudah bisa membuat
continental berlayar!  Coba kita gambar arus konveksi di peta, seperti apa ?
apakah persegi panjang sesuai dengan paleomagnetic stripes ?    
B. Kalau sumber tenaga yang mentriger subduksi adalah desakan volumetrik
dari masa sekitar MOR secara logika semestinya terjadi penumpukan material
oceanic yang luar biasa terlebih dahulu di area MOR dan desakan/stressnya
diteruskan sepanjang kerak samodra sampai ketemu dinding lithosphere yang
memaksa kerak samodra nonduk, dan tersubduksi.    
Kenyataannya : 
1. Profile di MOR strukturnya berupa patahan normal cenderung listric-shape
(tensional regime)
2. Study dari Team Exxon menunjukkan tidak ada korelasi antara tambahan
volume MOR (paleomagnetic) tidak ada korelasi dengan eustacy. Argumen mereka
(Vail's School) kalau aktfitas expulsi volume magma di MOR sangat signifikan
akan mempengaruhi/mengurangi volume ocean basin, sehingga terjadi major
flooding. Ternyata hanya sedikit korelasi antara eustacy dan kegiatan MOR
ini.  Ada juga paper yang menggali lebih detail hubungan antara kecepatan
tarikan (creating space) dan emplacement magma (replenishment) dari
paleomagnetic study, kesimpulannya pengaruhnya memang ada, tapi hanya minor
saja. 
3. Fenomena deep trench spt Palung Philipina agak dilematik diterangkan
dengan desakan MOR. Apalagi untuk menerangkan terbentuknya "Trapped oceanic
crust" a piece of oceanic crust pada kedalaman 5,000-8,000 m tapi tidak bisa
lagi terjadi subduksi.                 

Ternyata alam semesta memang diciptakanNYA dalam ke-seimbangan/balance, apa
yang dikonsumsi/subducted hampir sama dengan apa yang dikeluarkan kembali di
spreading center. Sehingga kalau ada quiz Bumi itu mengecil, membesar atau
tetap ? apa jawaban yang logic ?

A. Kalau pakai logika temperatur, makin tua makin dingin... pasti mengkerut
dong ! Bumi mengecil
B. Kalau memakai teori arus konveksi, ada sumber superheat convection dari
"core" membawa/mengalirkan banyak material baru dari asthenosphere ke
permukaan density tinggi menjadi rendah akan nambah volumenya, bumi membesar

C. Pilihan ketiga dengan berpikir sederhana/KISS, bumi itu volumenya relatif
"TETAP" dan tetap setia berada di orbitnya. Pendinginan kerak yang
menyebabkan subduksi dan dikonsumsi, akan di rejuvinasi dengan keluarnya
magma di spreading center.

Sebagian besar ahli diakhir 90-an dan era 2000an, ditambah dengan data-data
Peta Lithospheric Tomography nampaknya mereka sepakat bahwa yang menyebabkan
pergerakan lithospere adalah karena proses pendinginan kerak sesuai hukum
gravitasi di mana makin bertambah umurnya makin dingin dan tenggelam dengan
sendirinya tanpa didorong dan dibantu tenaga lain sekalipun. Konsep ini
kalau gak salah satunya dalam papernya Forsyth & Uyeda (1975) yang intinya
adalah konsep Slab-Pull.. 
Dasar dari penelitian Slatter (lupa tahunnya) beliau meneliti hubungan
antara kedalaman dasar samodra dan umur kerak, hasilnya mengejutkan bahwa
kedalam dan umur kerak samodera dimana saja hampir konsistan terkenal dengan
Slatter's Curve, plot kedalaman dan jarak dari kerak samodra. Kerak samodra
yang tua akan mendingin dan menebal diujungnya seperti kepala baji (kartun
terlampir). Nah ujung tsb berfungsi sebagai bandul atau lokomotif suatu
proses subduksi dengan membawa gerbong, bisa berupa tholeitic lava (bahan
ophilite), deep marine pelagic sedimen (bahan melange) atau bahkan membawa
pecahan continental/platelet (silisic lithospeher) dan apa saja yang ada di
belakangnya yang akhirnya di slam kan ke kontinen yang menghalanginya.
Demikian hebatnya sehingga terbentuk granitoide, granite type S yang
akhirnya docked, berhenti mati membetuk garis memanjang dengan batuan
gado-gado yang disebut suture zone.   

Apabila 2 lokomotif bergerak dan salah satunya, karena suatu hal terganjal
kontinen subduksi, kecepatanya menjadi berbeda dengan kereta disebelahnya
akan terbentuk sobekan mendatar trancurrent.. 
Akhirnya gerbong dari kereta satu akan berdampingan dengan gerbong lain yang
berbeda umur (berbeda kedalamannya) nah yang tua mulai main mata dan
keberatan bandul dan akan mentrigger subduksi dibawah kerak samodra yang
lebih muda (Island arc). Nah subduksi baru akan menjadi lokomotif baru
dengan arah yang berbeda dengan kedua loko yang terdahulu..

Dalam sejarah Tektonik indonesia timur hal ini di mana kerak yura menuju
keutara (kearah Alaska) nah sekitar late Kretasius (40-50 mya), bagian sisi
barat pacific sudah cukup umur untuk ber-subduksi menjadi loko baru.
Nampaknya membawa gerbong kecil-kecil banyak, mulai dari Sulawesi dari
pecahan lempeng Bonaparte basin yang kaya minyak sepanjang Sorong sampai
banggai dan buton.

Nasib jelek adalah lokomotif yang langsung berhadapan dengan pecahan benua
yang sudah terlebih dahulu dibawa lokomatif lain yang lebih tua, terpaksalah
nyungsep dibawah P Timor, bahkan karena lokomotif sangat kuat narik,
shelfnya Nortwest Australi walaupun relatif ringan jadi ikut tersubduksikan,
sehingga seperti diserut pakai pasah (embricates structures)

Maaf, cerita ini hanya ilustrasi atau semacam "science fiction" bagaimana
proses "gravity driven slab-pull mekanism" yang mungkin dibantu ridge push
(? Masih ragu), bisa menerangkan pergerakan plate tektonik dengan sederhana.

Dalam konsep interaksi antar lempeng secara garis besar sudah banyak
diterangkan olek Pak Awang dalam hubungannya dengan konsep Slab-pull Ridge
push.. Kalau ada pertanyaan, sialahkan ditanyakan ke Pak Awang ahlinya
geodinamik.
Salam 
RUS




-----Original Message-----
From: [email protected] [mailto:[email protected]] On Behalf Of godang
shaban
Sent: 04 Februari 2013 10:55
To: [email protected]
Subject: Re: [iagi-net] BACK TO BASIC # 5 ? YANG TERJADI PADA SUATU
KONVERGENSI LEMPENG-LEMPENG

ikut nimplung dan ikut belajar.

Pak Chusni Ansori,
mungkin attach file : Understanding Earth (A Dynamic and Evolving
Planet).jpg bisa menjawab pertanyaan Bpk.

dimana Oceanic-oceanic (Kerak Samudra-Samudra) bisa menghasilkan "Subduction
Zone" yg kita sebut dgn "Oceanic-oceanic convergent plate boundary" yg
akhirnya menghasilkan "Island Arc (Busur Kepulauan)"
Contohnya : "Kepulauan Mariana (U.S.) yg dilautan pacific" merupakan salah
satu bukti dari hasil Oceanic-oceanic convergent plate boundary.

Salam,
Godang.S



2013/2/4 chusni ansori <[email protected]>:
> Yth P. Awang
> Kalau menyimak poit -1, tulisan Bpk ada 3 tipe utama konvergensi 
> lempeng, dimana 2 tipe (samudera-benua, samudera-samudera) 
> menghasilkan subduksi dan benua-benua menghasilkan collision. Jika 
> samudera-benua menghasilkan subduksi OK, benua-benua menghasilkan 
> collison OK, tapi bagaimana samudera-samudera menghasilkan subduksi... 
> ? karena berat jenis keduanya sama. Di daerah prisma akresi, setahu 
> saya ada bagian depan, puncak dan belakang (buritan)... bagaimana kita 
> bisa membedakannya dari ciri batuannya (mestinya kan semuanya melange)
>
> Nuhun
> Chusni
>
>
>
> ________________________________
> From: "[email protected]" <[email protected]>
> To: [email protected]
> Sent: Saturday, February 2, 2013 3:49 PM
> Subject: Re: [iagi-net] BACK TO BASIC # 5 ? YANG TERJADI PADA SUATU 
> KONVERGENSI LEMPENG-LEMPENG
>
> Dear Pak Awang,
>
> Menarik sekali membaca tulisan Bapak.
>
> Mengenai point ke-6, dikatakan bahwa:
> "Magma digenerasikan di zona penunjaman pada kedalaman 100-200 km..."
>
> Saya sedikit kuatir jika kalimat diatas akan ditafsirkan menjadi: 
> bahwa generasi magma akan terjadi pada kedalaman berapa pun asalkan 
> diantara rentang tersebut.
>
> Jika kita mengacu pada paper Uto dan Tatsumi (1996), maka yang 
> sebenarnya terjadi adalah:
> 1. Pada kedalaman ~110 km akan terjadi dehidrasi mineral amfibol dan 
> klorit yang aman menghasilkan magma (relatif besar secara volumetrik) 
> dan menjadi cikal bakal trench side volcanic chain.
>
> 2. Pada kedalaman ~180 km akan terjadi dehidrasi mineral plogopit yang 
> aman menghasilkan magma (relatif kecil secara volumetrik) dan menjadi 
> cikal bakal back arc side volcanic chain.
>
> Point dari paper uto dan Tatsumi (1996) juga menjadi sebuah penegasan 
> bahwa generasi magma terjadi pada kedalaman yang sama, sehingga 
> istilah arc-trench gap -ATG muncul kemudian dan benar adanya.
>
>
> Salam,
> Mirzam A
>
>> Indonesia adalah wilayah yang secara geologi merupakan pertemuan 
>> lempeng-lempeng litosfer (konvergensi). Maka kesepuluh ciri 
>> konvergensi lempeng ini semuanya telah terjadi dan akan terjadi di
Indonesia.
>>
>> Beberapa fakta/konsep di bawah tidak jarang kita kelirukan 
>> memahaminya, mari kita coba pahami lagi dengan benar.
>>
>> 1. Batas-batas lempeng konvergen adalah zona-zona tempat 
>> lempeng-lempeng litosfer bertemu. Terdapat tiga tipe utama interaksi
lempeng konvergen:
>> (a) konvergensi antara dua lempeng samudera, (b) konvergensi antara 
>> lempeng benua dan lempeng samudera, dan (c) benturan (collision) dua 
>> lempeng benua. Konvergensi (a) dan (b) akan menyebabkan penunjaman
>> (subduction) lempeng samudera ke dalam mantel.
>>
>> 2. Suatu collision antarbenua akan didahului oleh subduction lempeng 
>> samudera di bawah satu benua. Samudera kemudian semakin menyempit 
>> oleh semakin mendekatnya kedua benua dan akhirnya tertutup ketika 
>> kedua benua berbenturan. Dalam proses benturan, sebagian kerak 
>> samudera akan lepas dari lempeng samudera, dan menumpu kepada satu 
>> benua dalam proses obduction. Jalur penutupan samudera atau jalur 
>> obduction ini dikenal sebagai suture benturan.
>>
>> 3. Kebanyakan zona penunjaman memiliki morfologi tektonik dari arah 
>> samudera ke arah benua sebagai berikut: tinggian di luar palung 
>> (outer swell), palung, busur nonmagmatik (prisma akresi, melange), 
>> cekungan depan busur (forearc basin), busur magmatik, dan cekungan 
>> belakang busur (backarc basin). Secara kontras, benturan antarbenua 
>> menghasilkan jalur lebar pegunungan lipatan dan tersesarkan yang terletak
di zona benturan.
>>
>> 4. Penunjaman litosfer samudera menghasilkan zona gempa yang miring 
>> dan sempit, zona Wadati-Benioff, yang menerus sampai kedalaman lebih 
>> dari 600 km. Zona lebar gempa dangkal terjadi di wilayah benturan benua.
>>
>> 5. Deformasi kerak di zona penunjaman menghasilkan melange di forearc 
>> dan ekstensi atau kompresi di wilayah busur volkanik dan belakang busur.
>> Benturan benua selalu dicirikan oleh kompresi lateral yang kuat yang 
>> menyebabkan pelipatan dan sesar anjak (thrust faulting).
>>
>> 6. Magma digenerasikan di zona penunjaman pada kedalaman 100-200 km 
>> oleh proses dehidrasi kerak samudera yang menyebabkan peleburan 
>> sebagian mantel di atasnya. Andesit dan magma asam lainnya yang 
>> seringkali tererupsi secara eksplosif adalah magma khas batas lempeng 
>> konvergen. Di tempat dalam, pluton-pluton diorit-granit terbentuk. Di 
>> zona benturan benua, magma tidak terlalu banyak, didominasi oleh 
>> granit, dan mungkin berasal dari peleburan kerak benua yang ada
(anateksis).
>>
>> 7. Dari zaman ke zaman pada suatu konvergensi lempeng yang menerus, 
>> jalur penunjaman akan semakin maju ke arah samudera karena benua 
>> semakin melebar oleh proses akresi konvergensi sebelumnya, tetapi 
>> jalur volkanik atau magmatik belum tentu mengikuti perpindahan jalur 
>> penunjaman yaitu maju ke arah samudera. Perpindahan jalur 
>> volkanik/magmatik akan ditentukan oleh kemiringan zona 
>> Wadati-Benioff. Bila zona Wadati Benioff semakin curam, jalur 
>> volkanik/magmatik akan semakin mendekati jalur penunjaman. Bila zona 
>> Wadati Benioff semakin landai, jalur volkanik/magmatik akan semakin
menjauhi jalur penunjaman.
>>
>> 8. Rumpang busur volkanik/magmatik - palung (arc-trench gap -ATG) 
>> adalah jarak antara busur magmatik/volkanik dan palung. ATG akan 
>> semakin lebar bila kemiringan zona Wadati-Benioff semakin landai. ATG 
>> akan semakin sempit bila kemiringan zona Wadati-Benioff semakin 
>> curam. Curam dan landainya zona Wadati-Benioff ditentukan oleh tua 
>> dan mudanya umur lempeng samudera. Penunjaman akan landai bila umur 
>> lempeng samudera muda (< 50 juta tahun), dan akan curam bila umurnya 
>> tua (>50 juta tahun)
>>
>> 9. Metamorfisme di zona penunjaman menghasilkan fasies metamorfik 
>> LTHP
>> (low-temperature?high-pressure) di dekat palung, dan fasies 
>> metamorfik HT
>> (higher-temperature) di dekat busur magmatik. Jalaur lebar batuan 
>> metamorf yang terdeformasi kuat mencirikan wilayah posisi benturan benua.
>>
>> 10. Benua-benua tumbuh melebar (continental growth) karena batuan 
>> kaya-silikat berdensitas rendah ditambahkan kepada kerak benua pada 
>> batas-batas lempeng konvergen melalui proses terrane accretion.
>>
>> Ciri-ciri konvergensi lempeng tidak hanya kesepuluh ini, silakan 
>> ditambahkan.
>>
>> salam,
>> Awang
>>
>
>
>
>

<<attachment: Classical-Ridge Push .jpg>>

<<attachment: Slab-Pull Dominant force.jpg>>

Kirim email ke