Pak RDP.
Menurut saya arus konveksi harus ada, paling tidak  untuk menjaga heat balance 
disekitar subduction di mana heat sink di response oleh mantle menjadi konveksi 
di back arc yang menimbulkan anomali thermal dan konveksi juga terjadi di area 
spreading center karena menipisnya lithoshere. Apakah arus konveksi itu sebagai 
menyebabkan utama plate movement ? 
Dari argumen terdahulu, melihat data-data plate movement (rekonstruksi 
Pangea-Recent day) arus konveksi sebagai penyebab utama masih susah dibuktikan 
kebenarannya, karena setiap microcontinent docking spreading center di 
belakangnya juga ceases dan pindah ketempat lain dimana leading edge subduction 
masih aktif. 
Selanjutnya saya serahkan pakar geodynamic anggota IAGI untuk menjawabnya, 
karena ilmu saya sudah mentok.
Silahkan para pakar sharing ngelmunya..
Salam RUS 1061
  

  


________________________________
 From: Rovicky Dwi Putrohari <[email protected]>
To: "[email protected]" <[email protected]> 
Sent: Friday, February 8, 2013 8:07 PM
Subject: Re: [iagi-net] BACK TO BASIC # 5 ? YANG TERJADI PADA SUATU KONVERGENSI 
LEMPENG-LEMPENG
 

Tanpa adanya  heat convection energy, saya kok melihat sumber gaya slab pull 
ini mirip perpetual motion, which is impossible in physics.
Cmiiw.

Rdp


On Friday, February 8, 2013, Ruskamto Soeripto  wrote:

Pak Yuwono..kita lanjut sedikiiiit saja, sebelum ilmu saya mentok Pak. 
>Saya setuju bahwa memang ada 3 (konveksi/SFS/MOR,  ridge push dan slab pull) 
>bahkan lebih ada core mantle convection plume dll. 
>Saat ini masih banyak dalam taraf hipotesa, menunggu sampai bisa diterima 
>sebagai konsep yang universal. 
>Karena masing-masing proses punya kelebihan dan kekurangan, nah kita jadi 
>punya kebebasan untuk memilih proses mana yang paling dominanmempengaruhi 
>plate-interactions yang membentuk mukabumi ini.   Kalau saya melihatnya dari 
>kajian pembentukan basin dalam hubungnya dg explorasi minyakbumi (hydrocarbon 
>habitat) satu proses punya dampak dan implikasi berbeda dengan proses yang 
>lain terutama dalam tectonostratigraphy, pematangan batuan induk yg 
>berhubungan paleo heatflow yang disebabkan adanya proses crustal thickening 
>dan thinningselama sejarah terbentuknya basin tersebut.   Sejauh ini slab pull 
>relatif lebih mudah dicerna eksplorasionist utk  menerangkan terbentuknya 
>basin dan memodelkannya.  
>Aplikasi dari pengetahuan slab pull adalah bahwa suatu basin yang didasari 
>oleh kerak samodra tua baik active subduksi atau trapped oceanic crust, 
>kemungkinan dasarnya adalah oceanic crust tua yg tebal sehingga kemungkinan 
>besar low temp grad konsekuensinya petroleum risknya tertinggi adalah maturity 
>source, apalagi di daerah tersebut belum ada stratigraphic holenya..
>Mengenai adjoining oceanic crust yang satunya subduksi karena perbedaan 
>kecepatan antara dua gerbong yang bersebelahan. 
>Kalau tidak salah contoh klasik perbedaan kecepatan 2-3 kereta ada di Lautan 
>Hindia dimana sejak docking India -40 mya melambat/berhenti ? sedangkan 
>sebelah timur (Sum-Jawa) masih sangat aktif  NNE  7 cm/year  (CMIW), adalah 
>batas transcurrent yang kelak akan berpotensi mempunyai perbedaan 
>umur/ketebalan dan kedalam.. Di lautan ini juga perkembangan MOR tidak seindah 
>Atlantic. 
>Monggo Pak Yuwono, biarkan ada perbedaan di antara kita jadi bisa berdiskusi 
>“ringan” takiya.
>Terimakasih tanggapannya Pak
>Salam,
>RUS
>     
> 
> 
>From:[email protected] [mailto:[email protected]] On Behalf Of yustinus 
>yuwono
>Sent: 07 Februari 2013 0:12
>To: [email protected]
>Subject: Re: FW: [iagi-net] BACK TO BASIC # 5 ? YANG TERJADI PADA SUATU 
>KONVERGENSI LEMPENG-LEMPENG
> 
>Cak Rus dan rekan lainnya,
>Gambar- gambar yang dibuat para ahli geodynamic terutama tentang Plate 
>Tectonic itu semua sangat di- simplified, sehingga mudah diterima. Kalo 
>gambar2 itu dibuat dengan skala sebenarnya (skala vertikal sama dengan skala 
>horisontal) nanti persepsi pembaca akan jauh berbeda, kalo gk percaya 
>iseng-iseng silakan coba bikin.
>Nah masih banyak perdebatan dari mekanisme plate tectonic, sementara ini 
>current model dari para ahli tektonik saat ini ada 3 faktor penggerak: arus 
>konveksi, MOR Push, dan Slab Pull dengan segala kelebihan dan kelemahannya 
>masing2. Contohnya, pada kasus subduksi island arc, dua plate kan sama-sama 
>berat (lempeng dengan kerak samudera) kenapa gak dua- duanya tenggelam? kenapa 
>hanya satu yang tersubduksi? Kan dua- duanya punya gaya pull yang sama karena 
>density relatif sama? Bahkan di West Pacific kerak yang relatif muda 
>tersubduksi di bawah yang lebih tua, kalau pengaruh umur kerak cukup 
>signifikan berbanding lurus dengan density nya? Di West Pacific kita tentu 
>semua setuju makin ke barat makin tua karena kerak dengan zero age ada di mid 
>oceanic ridge yang lokasinya berada di sebelah timur.
> 
>Omong-2 apa sudah ada instrumen yang dapat mengukur kecepatan arus konveksi 
>ini ya? Kalo sudah ada berapa kecepatannya ya? (bukan secara normatif dari 
>perhitungan-2), tetapi diukur langsung, seperti mengukur pergerakan Lempeng 
>oleh rekan-rekan geodesi itu? Ada yang bisa memberi pencerahan?
> 
>Salam,
>YSY
> 
>2013/2/5 Ruskamto Soeripto <[email protected]>
>IAGI netter yth,
>Sambil menikmati Cer-Bernya Pak Awang yang komplit plit, runut dan enak
>dibaca, saya igin juga urun rembug tentang pengetahuan plate tektonik yg
>mungkin saat ini sudah ketinggalan jaman, hanya ingin menambahkan bbeberapa
>argumentasi masing-masing konsep sehingga kita mengerti prosesnya dan
>melengkapi yang sudah dikemukakan Pak Awang.
>
>Diagram terlampir adalah penggambaran Teori klasik mekanisma Tektonik
>Lempeng (Hess& McKenzie) yang diawali dari proses arus konveksi dalam mantel
>sehingga mentriger MOR. Massa yang dikeluarkan mendesak lempeng dan
>mendorong kerak samodra sehingga terjadi subduksi di ujung kerak lainnya.
>Kalau tidak salah teori ini generasi 60-80 sudah banyak yang menchallange
>kebenarannya, di mid 90an-2000an karena dinamika plate tektonik tidak lagi
>simple dg argumen sebagai berikut:
>A. Arus konveksi yang normal, mestinya berbentuk hemisperical bukan
>linear/curvi-linear seperti kenampakan kebanyakan spreading center di MOR.
>Menggambar arus konveksi pada sayatan vertikal itu mudah
>(upwelling-downgoing) muter ditambah anak panah sudah bisa membuat
>continental berlayar!  Coba kita gambar arus konveksi di peta, seperti apa ?
>apakah persegi panjang sesuai dengan paleomagnetic stripes ?
>B. Kalau sumber tenaga yang mentriger subduksi adalah desakan volumetrik
>dari masa sekitar MOR secara logika semestinya terjadi penumpukan material
>oceanic yang luar biasa terlebih dahulu di area MOR dan desakan/stressnya
>diteruskan sepanjang kerak samodra sampai ketemu dinding lithosphere yang
>memaksa kerak samodra nonduk, dan tersubduksi.
>Kenyataannya :
>1. Profile di MOR strukturnya berupa patahan normal cenderung listric-shape
>(tensional regime)
>2. Study dari Team Exxon menunjukkan tidak ada korelasi antara tambahan
>volume MOR (paleomagnetic) tidak ada korelasi dengan eustacy. Argumen mereka
>(Vail's School) kalau aktfitas expulsi volume magma di MOR sangat signifikan
>akan mempengaruhi/mengurangi volume ocean basin, sehingga terjadi major
>flooding. Ternyata hanya sedikit korelasi antara eustacy dan kegiatan MOR
>ini.  Ada juga paper yang menggali lebih detail hubungan antara kecepatan
>tarikan (creating space) dan emplacement magma (replenishment) dari
>paleomagnetic study, kesimpulannya pengaruhnya memang ada, tapi hanya minor
>saja.
>3. Fenomena deep trench spt Palung Philipina agak dilematik diterangkan
>dengan desakan MOR. Apalagi untuk menerangkan terbentuknya "Trapped oceanic
>crust" a piece of oceanic crust pada kedalaman 5,000-8,000 m tapi tidak bisa
>lagi terjadi subduksi.
>
>Ternyata alam semesta memang diciptakanNYA dalam ke-seimbangan/balance, apa
>yang dikonsumsi/subducted hampir sama dengan apa yang dikeluarkan kembali di
>spreading center. Sehingga kalau ada quiz Bumi itu mengecil, membesar atau
>tetap ? apa jawaban yang logic ?
>
>A.

-- 
- Seorang manusia terlihat tinggi bila dia tidak merendahkan yang lain -

Kirim email ke