Setuju, perlu dibangun kekuatan bersama dari semua stake holder pemerhati 
energi migas untuk bangsa/ rakyat ,  untuk memberikan perlawanan secara 
"smart". Kandungan migas di blok Mahakam harus dimanfaatkan sebesar besarnya 
bagi bangsa / rakyat Indonesia. Policy pengelolaan harus berpihak kepada 
manfaat sebesarnya bagi bangsa. Bukan policy dari sekolompok elite pemerintah 
atau dirut. Sungguh menjadi pertanyaan bahwa statement dirut Pertamina bisa 
berubah ubah, bahasa jawa nya esuk dele sore Tempe .....

WS
Powered by Telkomsel BlackBerry®

-----Original Message-----
From: Andang Bachtiar <[email protected]>
Sender: <[email protected]>
Date: Tue, 26 Feb 2013 11:23:45 
To: iagi-net<[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: [iagi-net] 7 TAHUN LALU & HARI-HARI INI (CEPU & MAHAKAM LAGI)

MARI KITA CEGAH SAMA-SAMA KEBOHONGAN PUBLIK INI (BLOK MAHAKAM LAGI)

Andang Bachtiar – Dewan Penasehat IAGI

Peristiwa 7 tahun lalu – ketika pejabat Pertamina dipaksa bilang bahwa  
kita tidak mampu kelola Blok Cepu - akan berulang lagi beberapa saat  
nanti. Para pejabat PERTAMINA sudah mulai dipaksa untuk bicara ke  
rakyat bahwa Pertamina BELUM/TIDAK MAMPU mengelola Blok Mahakam,  
ditengah keinginan kuat masyarakat untuk tidak lagi membiarkan asset  
migas/energi kita dikuasai pihak asing setelah habis masa kontraknya.

Apakah kita akan membiarkan kebohongan2 itu diulangi lagi hanya dalam  
rangka kepentingan sekelompok / golongan tertentu yang sedang memegang  
tampuk kekuasaan untuk  mendapatkan “konsesi” tertentu dari orang2  
asing???

Jangan sampai  kita para professional IAGI, HAGI, atau IATMI terjebak  
seperti 7 tahun yang lalu ketika salah satu dari kita disuruh bicara  
terbuka juga bahwa “kita” tidak mampu secara professional, teknologi  
dan finansial mengelola blok Cepu – kali ini untuk Blok Mahakam!!  
Jangan sampai terulang lagi. Mari kita sadarkan sama2, kita awasi  
sama2, kita teriaki sama2.

Saya cuplikkan berita hari ini yg meng”quote” Karen Agustiawan Dirut  
Pertamina  yang “…sepakat dengan analogi Kepala Satuan Kerja Khusus  
Pelaksana Kegiatan Migas (SKK Migas) Rudi Rubiandini. yang menyebutkan  
pengelolaan blok Mahakam seperti makan bubur ayam, Pertamina  
diharuskan belajar makan blok Mahakam dari pinggir dan selanjutnya ke  
tengah."Kita coba dahulu berapa persen. Bila nanti sudah mampu, SKK  
migas juga akan memberikan 100 persen ke Pertamina,.." lengkapnya  
ikuti :  
http://www.merdeka.com/uang/pertamina-ogah-kelola-sendiri-blok-mahakam.html  
atau baca Koran Tempo hari ini yg menuliskan “PERTAMINA MENYERAH –  
Kementrian Energi menyarankan bagian Pertamina berkisar 30-40% saja.  
Disitu dituliskan bahwa Karen menyatakan: “Kami coba dulu beberapa  
persen. Bila nanti sudah mampu, SKK Migas juga akan member 100% ke  
Pertamina. Sesuai arahan Men BUMN & Presiden, Pertamina tidak hanya  
focus garap ladang minyak dalam negeri, tapi juga ekspansi LN. Jadi,  
portofolionya nanti kami bagi…” Kalau kita analisis gerak-gerik para  
pejabat Negara dan pemegang amanah atas kekayaan migas-energi negeri  
ini terkait dengan Blok Mahakam, terlihat jelas sekali bagaimana  
ngotot-nya Ka SKK Migas dan Menteri ESDM meng-goal-kan usaha  
kembalinya perusahaan asing pemegang kontrak lama untuk menguasai.

Berita hari ini tadi itu menyusul berita serupa kemarin Senin 25 Feb  
2013, tapi yang bicara adalah: Ari Sumarno, bekas Dirut Pertamina  
ketika Cepu diserahkan juga pengelolaannya ke pihak asing (Exxon  
Mobil) 2005-2006 yang lalu. Saya cuplikkan beritanya: “PT Pertamina  
(Persero) dinilai belum mampu mengelola Blok Mahakam tanpa bantuan  
operator lain. Pasalnya, dengan aset yang dimiliki saat ini, Pertamina  
belum juga mampu meningkatkan cadangan minyak dan gas bumi di lapangan  
milik mereka sendiri. Mantan Direktur Utama Pertamina Ari Sumarno  
mengatakan Blok Mahakam merupakan lapangan migas yang secara teknis  
sulit dikelola lantaran terdiri dari dua jenis lapangan yaitu di darat  
(onshore) dan di laut (offshore). Dengan begitu, diperlukan teknologi  
yang lebih rumit dibanding lapangan migas di darat."Jadi direksi  
Pertamina jangan gegabah dan mudah mengatakan mampu mengoperasikannya  
sendiri. Tidak ada lapangannya yang teknis serumit itu atau volume  
produksinya sebesar itu," ujar Ari kepada wartawan di Jakarta Senin  
(25/2). Lengkapnya, ikuti:   
http://www.merdeka.com/uang/pertamina-dinilai-belum-mampu-kelola-blok-mahakam-sendiri.html

Untuk lebih melengkapi cermin masa lalu saya cuplikkan juga berita dr  
Jakarta Post MARET 2006 yang menyebutkan boss2 Pertamina ragu untuk  
mengoperasikan Blok Cepu, bahkan salah satu professional yang notabene  
anggota IAGI juga bicara di Metro TV bahwa “kita” tidak mampu  
mengelola Blok Cepu (belakangan setiap kali digugat oleh kawan2 dia  
selalu menyatakan: SAYA DIPAKSA, …sayang dia tidak mau membuat  
pernyataan terbuka tentang hal itu). Cuplikannya: ….” Meanwhile, in a  
Thursday talk show on Metro TV, the head of Pertamina's Cepu block  
exploration and production unit, Hestu Bagyo, said that his company  
would be unable to operate the block alone due to a lack of technology  
and finance”. Lengkpnya ikuti:   
http://www.thejakartapost.com/news/2006/03/11/pertamina-boss-doubtful-cepu-block-operatorship.html

Semoga Allah SWT selalu memberi jalan terang kepada pemimpin2 kita.  
Semoga mereka semua sadar bahwa membohongi rakyat se Indonesia itu  
luar biasa besarnya dosanya!!! Kita mampu dan kita mau INDONESIA  
mengelola Blok Mahakam sendiri atau sebagai operator majority!!!  
Sudahlah, jangan diutak-utik lagi. Jangan lagi menyebar2kan kebohongan  
yang menyakitkan hati itu kepada rakyat negeri ini.

Allahuakbar

ADB – Geologist Merdeka – IAGI 0800


Kirim email ke