Sayang sekaLi antara RILIS ASLI dg RILIS YG DISUSUN GAYA BERITA terdapat 
perbedaan - kontradiksi yg cukup signifikan.

Di rilis asLi yang ditandatangani resmi oleh Ketua Umum IAGI disebutkan bahwa 
IAGI menyaranKan BloK Mahakam dibagi dua menjadi Area Produksi dan Area Belum 
Dikembangkan (Undeveloped). Area Produksi diprioritas untuk dikelola Pertamina, 
sementara Area Belum Dikembangkan ditenderkan terbuka.

Di rilis yg disusun dg gaya berita samasekali tidak disinggung pembagian Blok 
Mahakam menjadi 2 itu, tetapi penekanan lebih ke TENDER TERBUKA. Menurut logika 
sistimatika dan konsistensi, isi dari pres rilis gaya berita itu logikanya dan 
sistimatiKanya bertabrakan dg rilis resmi dan tidak konsisten. Untung saja itu 
tdk ditandatangani. Jadi bisa dianggap tidak (ab)sah.

Mudah2an lain kali lebih teliti dan berhati2.

Salut IAGI.

Salam
ADB - Dewan Penasehat IAGI
IAGI-0800
Powered by Telkomsel BlackBerry®

-----Original Message-----
From: "iagi" <[email protected]>
Date: Thu, 28 Feb 2013 12:26:28 
To: <[email protected]>; <[email protected]>; <[email protected]>; 
<[email protected]>; <[email protected]>; 
<[email protected]>; <[email protected]>; <[email protected]>; 
<[email protected]>; <[email protected]>; <[email protected]>; 
<[email protected]>; <[email protected]>; <[email protected]>; 
<[email protected]>; <[email protected]>; <[email protected]>; 
<[email protected]>; <[email protected]>; <[email protected]>; 
<[email protected]>; <[email protected]>; <[email protected]>; 
<[email protected]>; <[email protected]>; 
<[email protected]>; <[email protected]>; 
<[email protected]>; <[email protected]>; 
<[email protected]>; <"'mailto:[email protected]'"@vega.idgx.net>; 
<[email protected]>; <[email protected]>; 
<[email protected]>; <[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Cc: <[email protected]>
Subject: [iagi-net] Press Release IAGI: Blok Mahakam
Press Release IAGI (Ikatan Ahli Geologi Indonesia)
28 Februari 2013

Strategi Pengelolaan Sumberdaya Migas Indonesia

Sumberdaya minyak dan gas bumi merupakan aset nasional yang perlu dilakukan
pengelolaan seoptimal mungkin dengan memaksimalkan peran serta seluruh
komponen bangsa Indonesia untuk meningkatkan kinerja dan produktivitasnya,
sehingga sumberdaya minyak dan gas bumi dapat dimanfaatkan untuk
sebesar-besar kemakmuran rakyat Indonesia.

Selama 50 tahun terakhir, bangsa Indonesia sudah berpengalaman dalam
pengelolaan lapangan minyak dan gas bumi, sehingga telah memiliki kemampuan
keuangan, teknis mau pun pengendalian resikonya. Dari sisi sumberdaya
manusia, bangsa Indonesia mempunyai ahli-ahli geologi, perminyakan, maupun
ahli hukum dan ekonomi yang telah mumpuni dan terbukti berperan aktif dalam
pengelolaan sumberdaya migas baik di Indonesia mau pun di manca negara.

Pemerintah Indonesia sudah selayaknya memberikan kesempatan sebesar-besarnya
bagi sumber daya manusia Indonesia untuk meningkatkan perannya dalam
pengelolaan sumber daya migas nasional. Pertamina sebagai perusahaan milik
negara beserta perusahaan-perusahaan migas nasional telah terbukti mampu
melakukan pengelolaan sumber daya migas nasional dengan baik.

IAGI mendukung Pertamina sebagai perusahan migas milik negara untuk turut
berkembang dan diberi kepercayaan dengan fokus untuk pengelolaan lapangan
migas yang berskala besar, sehingga menjadi perusahaan yang lebih efisien
dan memberikan hasil keuntungan maksimum untuk negara, Sedangkan untuk
pengembangan lapangan berskala kecil atau marjinal,Pertamina diharapkan
untuk terus meningkatkan pembinaan perusahaan migas nasional melalui
kerjasama operasi pengelolaan lapangan migas marjinal dengan mengutamakan
perusahaan-perusahaan migas nasional yang telah terbukti berprestasi dalam
pengelolaan lapangan migas marjinal.

Dalam kerangka cetak biru Pertamina untuk menjadi pengelola lapangan migas
besar, seharusnya Pertamina diberi kesempatan untuk mengelolaan lapangan
migas yang terletak di Blok Mahakam yang telah dinikmati oleh Total
Indonesia selama 50 tahun terakhir dan akan berakhir masa kontraknya.
Tentunya Pertamina perlu melakukan strategi bisnis dan investasi untuk
pengendalian resiko secara konsorsium dengan mitra yang terpercaya, terutama
Total Indonesia yang telah berpengalaman mengelola Blok Mahakam.

Mengingat risiko dalam pengelolaan dan besarnya Blok Mahakam yang meliputi
Producing Area dan Undeveloped Area (termasuk deeper target), maka perlu
dipikirkan pemisahan pengelolaannya sehingga operasi pengelolaan lapangan
menjadi lebih efisien, yaitu menjadi Blok Mahakam Producing Area dan Blok
Mahakam Undeveloped Area. Pertamina sebagai perusahaan milik negara dapat
diberikan prioritas terutama untuk pengelolaan Blok Mahakam yang terletak di
Producing Area.

Untuk Area yang masih belum dikembangkan, termasuk target lebih dalam), IAGI
mengusulkan untuk dilakukan tender terbuka dengan memberikan "right to
match" kepada konsorsium Pertamina dan Total Indonesia, sehingga pemerintah
Indonesia dapat mengoptimalkan tingkat investasi untuk pengelolaan Blok
Mahakam serta memastikan besarnya komitmen eksplorasi migas di daerah
tersebut. Dengan mekanisme "right to match", maka konsorsium Pertamina dan
Total Indonesia mendapatkan prioritas untuk mendapatkan Blok Mahakam. Dalam
rangka meningkatkan kapasitas nasional, para peserta tender dapat diutamakan
dalam bentuk konsorsium dengan porsi minimal 30% untuk perusahaan migas
nasional lainnya.

Untuk memenuhi kebutuhan energy di dalam negeri yang akan meningkat 3 kali
lipat dalam 20 tahun kedepan, alokasi energy menjadi sangat strategis.
Sehingga kontrak pengusahaan migas juga harus mencantumkan peruntukan
pemanfaatan energy untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri sesuai dengan harga
keekonomiannya.

IAGI sebagai organisasi profesi para ahli geologi Indonesia bersedia untuk
memberikan pertimbangan dan evaluasi teknis untuk pengelolaan Blok Mahakam,
terutama untuk mengoptimumkan komitmen eksplorasi migas yang bertujuan untuk
meningkatkan cadangan sumber daya migas nasional.

Ikatan Ahli Geologi Indonesia - IAGI

Ketua Umum,

Rovicky Dwi Putrohari

(email : [email protected] HP :08159120363)




 

 


Kirim email ke