Banyak hal mungkin dijadikan dasar kondisi investasi migas Indonesia, tapi saya 
kira yang utama adalah ketidak pastian hukum yang selalu menjadi konsiderasi 
utama para investor. Pemerintah indonesia tidak pernah menolak asing terutama 
untuk membuka lahan eksplorasi baru yang memerlukan biaya dan teknologi tinggi. 
Masalah resorces atau reserve, low grade n tonage mungkin ada benarnya, tapi 
ini bukan masalah utama. Yang lebih menjadi konsern calon invester adalah 
fiskal term, geo politik dan ekonomi. Sebagai contoh cadangan di lapangan 
minyak timur tengah dimensinya adalah bbo atau mega tcf, tapi karena fiskal 
term nya sangat melindungi pemerintah setempat, ya banyak investor yang measa 
melakukan kerja bakti. Wood side australia mempunyai 4 blok produksi di lybia 
cenderung untuk angkat kaki. Sementara di indonesia masalah cost recovery bak 
kue tart bagi para operator asing. ....,
Belum selesai nih ... Keburu boarding ...
Waluyo
Powered by Telkomsel BlackBerry®

-----Original Message-----
From: Rovicky Dwi Putrohari <[email protected]>
Sender: <[email protected]>
Date: Sat, 2 Mar 2013 19:35:40 
To: [email protected]<[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Cc: [email protected]<[email protected]>
Subject: [iagi-net] [economicgeology] Indonesia termasuk negara yg harus 
dihindari utk
 investasi pertambangan

And the *places you should avoid at all costs* are Indonesia, Vietnam,
Venezuela, Democratic Republic of Congo (DRC), Kyrgyzstan, Zimbabwe,
Bolivia, Guatemala, Philippines, and Greece, concludes the survey.

End quotw ----

Bila dilihat sebagai hal negatip ... Sebagai sebuah tindakan koreksi, perlu
kita lihat daftar negara-negara yg dihindari diatas, perlu diketahui apa
penyebab mereka menghindarinya, apakah karena tidak ada potensinya (low
grade low tonnage), apakah karena negara ini "menolak" investor asing
secara eksplosit, misal venezuella, ataukah negara ini termasuk negara
sulit karena ingin mandiri dab.

Bisa saja sebuah hal positip apabila memang karena "sulitnya atau kerasnya
persaingan" dengan investor lain, atau negeri yg terlalu diminati. Jadi
himbauan dihindari karena persaingannya, atau pertempurannya sudah massive.

Sebagai geolog, mungki kajian kita lebih tepat bila dilihat dari kondisi
geologi atau potensi yg teridentifikasi. Seberapa besar potensi terduga yg
sudah kita ketahui. Sudahkan pemerintah atau host country memiliki "angka"
sedemikian sehingga angka ini bisa dipakai untuk menentukan plicy dengan
benar ?

Mungkin rekan-rekan MGEI dapat menguraikannya.

Salam

Rdp


-- 
- Seorang manusia terlihat tinggi bila dia tidak merendahkan yang lain -

Kirim email ke