Saya kirim ulang karena attachmentnya kebesaran utk IAGI-net
Attachment aku japri Mas Henky saja
--------------------------------------------

Mas Henky terlampir artikel dari OGJ yang saya copy linknya.

Tentang transforming HESS (saya tidak bicara atas nama HESS tentunya),
memang disitu disitu disebutkan salah satu mengapa HESS menjual asset di
beberapa negara adalah untuk konsentrasi dan perubahan arah bisnis salah
satunya ke unconventional shale gas/shale oil.

Mas Noor,
Bener sekali bahwa import adalah salah satu solusi praktis, karena solusi
lain sudah tidak memungkinkan, kalau dilihat skedulnya
saya cuplik salah satu diskusi dengan penasehat IAGI

=== Quote
Kalau masalah penambahan cadangan dan produksi ini sangat dipengaruhi oleh
jumlah aktifitas pemboran. 2012 realisasi jumlah pemboran eksplorasi 64
sumur atau kurang dari target diatas 140 sumur, sedangkan pemboran
pengembangan kurang dari 900 sumur dengan target diatas 1200 sumur.
Berbagai kendala eksekusi rencana pemboran baik pemboran eksplorasi maupun
pemboran pengembangan, menurut hemat saya kendala utama adalah masalah
finansial sebagian KKKS terutama yang masih dalam fase eksplorasi, sehingga
hampir tidak ada penambahan jumlah rig yang beredar di Indonesia. Prediksi
saya 2013 pemboran eksplorasi yang bisa diselesaikan sekitar 70 sumur dan
pemboran pengembangan sekitar 900 sumur, berarti tambahan produksi 2013
untuk menutup natural decline saja sulit, bisa-bisa di 2014 produksi minyak
nasional tinggal sekitar 800 mbopd. Bila akhir 2014 atau paling telat awal
2015 bisa onstream 180 mbopd, maka sampai 2015 produksi minyak tak akan
mencapai 1 juta barel/hari. Harapan lain adalah dari proyek EOR, yang
sekala besar adalah Minas Surfaktan Project, kalau pilotnya berhasil semula
program on stream EOR Minas di 2016, saya dengar akan mundur ke 2018.
Sedangkan yang dari EOR skala kecil bisa cepat onsteam kalau berhasil,
tamabahan produksi per-harinya sekitar 1000 barel/hari. Saya tidak
pesimistic attitude tetapi berdasarkan kondisi eksisting tanpa ada
terobosan peningkatan kemampuan finansial KKKS dan pertambahan jumlah rig
berkondisi bagus yang beredar di Indonesia.
Untuk proyek CBM dan Shale Gas sementara kita mimpi dulu untuk
mengembangkan secara komersial dalam sekala besar. Sementara kita ekspor
batubara besar-besaran karena kurang dimanfaatkan didalam negeri.
=== end quote

Kalau kita yakini bahwa 2020-2030 tenaga kerja Indonesia mencapai 180 juta,
maka kebutuhan energi mereka akan sangat besar. Dan ini mustahil dipenuhi
oleh produksi dalam negeri.
Inipun kalau tidak disiapkan secara serius mungkin masih akan meleset kalau
infrastruktur import tidak disiapkan termasuk LNG Receiving, Refinery, PLN
PLant piping dll.

Beberapa pekan lalu saya bertemu dengan salah satu anggota Komisi 7 DPR
yang mengatakan bahwa soal net import energi ini belum pernah dipikirkan
(dibahas). Padahal dari skeduling sudah jelas harus dimulai, atau malah
sudah telat ?

Salam

Rovicky DP



2013/4/8 Rovicky Dwi Putrohari <[email protected]>

> Mas Henky terlampir artikel dari OGJ yang saya copy linknya.
>
> Tentang transforming HESS (saya tidak bicara atas nama HESS tentunya),
> memang disitu disitu disebutkan salah satu mengapa HESS menjual asset di
> beberapa negara adalah untuk konsentrasi dan perubahan arah bisnis salah
> satunya ke unconventional shale gas/shale oil.
>
> Mas Noor,
> Bener sekali bahwa import adalah salah satu solusi praktis, karena solusi
> lain sudah tidak memungkinkan, kalau dilihat skedulnya
> saya cuplik salah satu diskusi dengan penasehat IAGI
>
> === Quote
> Kalau masalah penambahan cadangan dan produksi ini sangat dipengaruhi oleh
> jumlah aktifitas pemboran. 2012 realisasi jumlah pemboran eksplorasi 64
> sumur atau kurang dari target diatas 140 sumur, sedangkan pemboran
> pengembangan kurang dari 900 sumur dengan target diatas 1200 sumur.
> Berbagai kendala eksekusi rencana pemboran baik pemboran eksplorasi maupun
> pemboran pengembangan, menurut hemat saya kendala utama adalah masalah
> finansial sebagian KKKS terutama yang masih dalam fase eksplorasi, sehingga
> hampir tidak ada penambahan jumlah rig yang beredar di Indonesia. Prediksi
> saya 2013 pemboran eksplorasi yang bisa diselesaikan sekitar 70 sumur dan
> pemboran pengembangan sekitar 900 sumur, berarti tambahan produksi 2013
> untuk menutup natural decline saja sulit, bisa-bisa di 2014 produksi minyak
> nasional tinggal sekitar 800 mbopd. Bila akhir 2014 atau paling telat awal
> 2015 bisa onstream 180 mbopd, maka sampai 2015 produksi minyak tak akan
> mencapai 1 juta barel/hari. Harapan lain adalah dari proyek EOR, yang
> sekala besar adalah Minas Surfaktan Project, kalau pilotnya berhasil semula
> program on stream EOR Minas di 2016, saya dengar akan mundur ke 2018.
> Sedangkan yang dari EOR skala kecil bisa cepat onsteam kalau berhasil,
> tamabahan produksi per-harinya sekitar 1000 barel/hari. Saya tidak
> pesimistic attitude tetapi berdasarkan kondisi eksisting tanpa ada
> terobosan peningkatan kemampuan finansial KKKS dan pertambahan jumlah rig
> berkondisi bagus yang beredar di Indonesia.
> Untuk proyek CBM dan Shale Gas sementara kita mimpi dulu untuk
> mengembangkan secara komersial dalam sekala besar. Sementara kita ekspor
> batubara besar-besaran karena kurang dimanfaatkan didalam negeri.
> === end quote
>
> Kalau kita yakini bahwa 2020-2030 tenaga kerja Indonesia mencapai 180
> juta, maka kebutuhan energi mereka akan sangat besar. Dan ini mustahil
> dipenuhi oleh produksi dalam negeri.
> Inipun kalau tidak disiapkan secara serius mungkin masih akan meleset
> kalau infrastruktur import tidak disiapkan termasuk LNG Receiving,
> Refinery, PLN PLant piping dll.
>
> Beberapa pekan lalu saya bertemu dengan salah satu anggota Komisi 7 DPR
> yang mengatakan bahwa soal net import energi ini belum pernah dipikirkan
> (dibahas). Padahal dari skeduling sudah jelas harus dimulai, atau malah
> sudah telat ?
>
> Salam
>
> Rovicky DP
>
>
>
>
>
>
>
> 2013/4/5 Rovicky Dwi Putrohari <[email protected]>
>
>> On Fri, Apr 5, 2013 at 2:24 AM, H Herwin <[email protected]>wrote:
>>
>>> Abah,
>>> Kebetulan Newfield sedang berencana menjual portfolio mereka di Asia (Di
>>> Cina dan di Malaysia), walaupun mereka mungkin berubah pikiran setelah
>>> discovery ini :) Atau malah mengambil keuntungan karena nilainya jadi lebih
>>> tinggi .......... Strategi mereka ingin focul dgn shale asset mereka di USA.
>>>
>>
>> Wah kok strateginya mirip HESS juga ya.
>> Shale gas/oil di Amerika ini banyak menyedot perhatian investor lokal
>> untuk menanamkan di negerinya sendiri. Walau harga gas disananya jatuh
>> tetep saja mereka ingin mengembangkan negaranya sendiri dengan dana sendiri
>> dan dipakai sendiri (setahu saya debat ijin ekspor masih berlangsung seru).
>> Intinya Amerika sedang berusaha untuk mencari pasokan "energi" untuk
>> negerinya sendiri.
>> http://www.ogj.com/articles/print/volume-111/issue-4/special-report-lng-update/us-debate-on-lng-exports-centered.html
>>
>> Sementara saya sedang berpikir realis (walau sebagai explorer tetap harus
>> optimis), sedang concern kemungkinan Indonesia menjadi net importir LNG
>> (2016) dan menjadi net import energi (setelah 2025). Padahal kita memiliki
>> insentive demografi atau Demography Bonus tahun 2020-2030 dimana akan ada
>> 180 juta tenaga kerja siap menjadi mesin yang perlu bahan bakar dan bahan
>> baku.
>>
>> Kalau pembangunan FSRU, Electric Plant, pipelines, jaringan kabel
>> distribusi dan infrastruktur lainnya tidak disiapkan maka akan terjadi
>> braindrain tenaga kerja Indonesia ke negara-negara yang mampu memberikan
>> "kerja".
>>
>> Doh piye iki ?
>>
>> RDP
>>
>>
>
>
> --
> *"**Good idea is important key to success, "working on it" will make it
> real."*
>



-- 
*"**Good idea is important key to success, "working on it" will make it
real."*

Kirim email ke