Hallo Pak Rovicky,
Saya rasa fokus ke shale business di Amerika lebih di dorong oleh
kepentingan bisnis dibanding dengan sekadar nasionalisme. Keberhasilan
shale gas memang membuat harga gas di sana (Henry Hub) menjadi sangat
rendah, ini yang membuat industri di sana berpindah ke shale "wet gas" dan
shale oil. Produksi liquid yang membuat shale industry di Amerika masih
menarik walaupun harga gasnya sangat rendah.

Iseng2 saya lihat draft corporate meeting HESS May ini di internet.
http://www.transforminghess.com/

HESS mempunyai asset Shale Oil yang bagus di Bakken (17% prod, 23% reserves
Hess group ada di sana) dan di emerging Utica Shale. Di Indonesia sendiri
asset mereka relatif kurang baik dibanding asset2 HESS yang lain dan hasil
ekplorasi mereka di tahun2 belakangan ini juga negative.
Saya tidak punyak akses ke www.ogj.com. Apakah Pak Rovicky bisa kirim
artikelnya. Export gas dari Amerika memang patut dicermati karena akan
mempengaruhi harga jual gas di Asia ................... Well, seperti bapak
bilang, bila harga gas sangat murah, tidak ada salahnya kita beli gas kan
?? :)

Salam hangat,
Henky
2013/4/5 Rovicky Dwi Putrohari <[email protected]>

>  On Fri, Apr 5, 2013 at 2:24 AM, H Herwin <[email protected]>wrote:
>
>> Abah,
>> Kebetulan Newfield sedang berencana menjual portfolio mereka di Asia (Di
>> Cina dan di Malaysia), walaupun mereka mungkin berubah pikiran setelah
>> discovery ini :) Atau malah mengambil keuntungan karena nilainya jadi lebih
>> tinggi .......... Strategi mereka ingin focul dgn shale asset mereka di USA.
>>
>
> Wah kok strateginya mirip HESS juga ya.
> Shale gas/oil di Amerika ini banyak menyedot perhatian investor lokal
> untuk menanamkan di negerinya sendiri. Walau harga gas disananya jatuh
> tetep saja mereka ingin mengembangkan negaranya sendiri dengan dana sendiri
> dan dipakai sendiri (setahu saya debat ijin ekspor masih berlangsung seru).
> Intinya Amerika sedang berusaha untuk mencari pasokan "energi" untuk
> negerinya sendiri.
> http://www.ogj.com/articles/print/volume-111/issue-4/special-report-lng-update/us-debate-on-lng-exports-centered.html
>
> Sementara saya sedang berpikir realis (walau sebagai explorer tetap harus
> optimis), sedang concern kemungkinan Indonesia menjadi net importir LNG
> (2016) dan menjadi net import energi (setelah 2025). Padahal kita memiliki
> insentive demografi atau Demography Bonus tahun 2020-2030 dimana akan ada
> 180 juta tenaga kerja siap menjadi mesin yang perlu bahan bakar dan bahan
> baku.
>
> Kalau pembangunan FSRU, Electric Plant, pipelines, jaringan kabel
> distribusi dan infrastruktur lainnya tidak disiapkan maka akan terjadi
> braindrain tenaga kerja Indonesia ke negara-negara yang mampu memberikan
> "kerja".
>
> Doh piye iki ?
>
> RDP
>
>

Kirim email ke