Bersatu Selamat di Bumi Pertiwi
*Menyambut Hari Bumi 22 April 2013*


Bumi yang dihuni manusia sudah berumur lebih dari 4,5 milyar tahun.  Sudah
renta atau justru sedang menuju kesempurnaan? Kita lebih sering mendengar
pernyataan bumi sudah renta sehingga perlu perawatan khusus. Ataukah
sebetulnya bumi sedang menuju kedewasaan hingga bumi berulah layaknya
*ABG* yang
penuh energi ekstra.  Mungkin kita tak akan pernah tahu.

Apapun yang kita percayai sebagai persepsi tingkat kedewasaan bumi saja
mampu membuat manusia lupa akan tugas lengkapnya dalam memanfaatkan isi dan
hasil bumi, mengerti perilaku bumi hingga harus menjaga lingkungan di bumi
untuk menunjang kehidupan.
Ekstraksi – Mitigasi – Konservasi

* **Tiga aspek holistik yang tak terpisahkan.*

Mengambil hasil bumi dan sumberdaya alam merupakan salah satu kegiatan
manusia sejak mereka diciptakan. Demi bertahan hidup, manusia awalnya
memanfaatkan air, buah-buahan, dedaunan, hutan hingga sumber daya pangan
dan juga sumber daya energi. Kemajuan ilmu pengetahuan mampu memperkirakan
kebutuhan air tawar dan bahan makanan satu individu manusia.

Ekstraksi sumberdaya alam sudah seharusnya dilakukan manusia dengan bijak,
lantaran bila berlebihan akan menimbulkan ketimpangan ekosistem. Tentu kita
tidak boleh mengambil semua saat ini, dan memproduksi sebanyak-banyak untuk
hari ini. Ekstraksi sumberdaya alam harus dikontrol dengan ilmu, akal dan
pengetahuan serta diproyeksikan untuk memenuhi  kebutuhan tidak sekadar
masa kini, tetapi harus  memperkiraan kebutuhan anak cucu kita pada masa
depan.

Bumi bukanlah sekedar benda mati yang diam. Bumi memiliki siklus aktifitas
seolah bernafas. Bumi juga bergerak, bergetar, dan air laut pun terus
mengalun. Dinamika bumi juga mengikuti kaidah fisis serta memiliki mahluk
lain yang menghuninya selain manusia, yang juga harus kita mengerti. Tanpa
pengetahuan akan dinamika bumi, manusia akan memandang seluruh aktifitas
bumi yang mengganggu sebagai bencana.

Banjir adalah mekanisme pengaliran air yang juga menjadi agen pengangkut
unsur hara penyebar kesuburan. Longsoran merupakan proses stabilitasi
lereng secara alamiah, gempa merupakan pelepasan tenaga akibat gerakan
tektonik kulitnya. Letusan gunungapi sejatinya kegiatan magma di dalam bumi
yang perlu disalurkan.

Dinamika geologi bumi merupakan ciri planet yang layak untuk menunjang
kehidupan manusia. Mitigasi dinamika geologi bumi ini tidak dapat
diabaikan. Banjir tidak perlu selalu dimusuhi, longsoran jangan hanya
dicaci. Semua dinamika geologi bumi ini perlu dimitigasi, diketahui dan
dimengerti untuk menunjang lingkungan yang layak, dan aman.  Dengan begitu
nafas dan detak-detak bumi tidak hanya dianggap sebagai bencana.

Manusia memerlukan ruang untuk menunjang kehidupan. Namun, tidak semua
tempat layak dihuni, dan mampu menunjang seluruh kebutuhan manusia. Ada
ruang di bumi yang pas untuk ditinggali, ada ruang yang hanya dapat
ditanami.  Selain itu, ada pula ruang yang dapat dimanfaatkan hasil
buminya, airnya, mineralnya, minyaknya, gasnya. Dan ada pula yang dapat
dimanfaatkan secara bersama dan bergantian.

Ekosistem yang layak huni luasnya terbatas. Ekstraksi sumberdaya alam yang
tak terkontrol, dan tanpa usaha  mitigasi dinamika lingkungan akan
membahayakan kelangsungan hidup. Manusia dengan ilmu, akal dan
pengetahuannya dituntut harus mampu melakukan konservasi ekosistemnya
secara bijak. Keterbatasan ruang harus dipelihara.  Singkatnya, konservasi
lingkungan hidup perlu dilakukan dengan lebih bijak.

Keberagaman Indonesia tersebar di lebih dari 17.000 pulau. Keberagaman ini
termasuk ragam sumberdaya alam dan ragam dinamika geologinya. Tidak semua
tempat mengalami gempabumi, dan merasakan letusan gunung api.  Namun, kita
di Indonesia perlu tahu dimana tempat-tempat yang penuh dengan dinamika
bumi yang khas ini. Tidak semua tempat memiliki batubara, emas, minyakbumi,
dan air yang layak dikonsumsi. Namun dengan kesatuan negara Republik
Indonesia maka rakyat akan terus bertahan, maju dan berkembang secara
bersama-sama.

Kondisi spesifik Indonesia ini harus kita kenali. Salah satunya kondisi
demografi tahun 2020-2030, ketika terjadi bonus demografi.  Pada saat itu
161 juta diantara 260 juta penduduk Indonesia merupakan usia produktif.
 Rakyat Indonesia membutuhkan sumberdaya alam mineral dan energi yang cukup
untuk bekerja, serta lingkungan yang aman dari dinamika geologi.  Sangat
disadari, manusia memiliki keterbatasan.  Kegiatan ekstraksi, mitigasi dan
usaha konservasi  tidak mungkin dilakukan sendiri atau secara sektoral.
 Bersatunya para pengelola bumi Nusantara semestinya mampu menjadikan
penduduk Indonesia tetap bertahan, berkembang, dan maju bersama saat
terjadi bonus demografi sepuluh tahun lagi.

 Dalam rangka Hari Bumi, pemerhati bumi di Indonesia harus BERSATU dalam
menyediakan sumberdaya alam dan menyiapkan lingkungan yang sehat dan aman
bagi generasi penerus bangsa.

 Jakarta, 22 April 2013

Salam Bumi Lestari

-- 
*" **"*

Kirim email ke