Keterangan terhadap uraian mang Okim di bawah:
1. Kotak gali itu sudah tertutup. Yang terlihat di atas hanya tanah penutup
dan serakan batu kolom longsoran dari atas.
2. Mang Okim lihat piroklastik di mana di Teras 4-5 ya? Kami tidak menemukan
lapisan piroklastik (dari data bor dan korelasi subsurface -
georadar&geolistrik).
3. Nampaknya interpretasi geolistrik Mang Okim "misunderstanding".  Perlu
diketahui bahwa Mang Okim dan rekan-rekan yang tergabung di Tim Petisi 34
hanya pernah melihat hasil geolisrik-georadar Tim Mandiri sekitar setahun
lalu ketika data masih sedikit dan belum diolah tuntas.  Sekarang sudah jauh
lebih banyak dan sudah tuntas.  Tim Petisi 34 sama sekali belum pernah
melihat dan tidak pernah meminta kami untuk presentasi dan diskusi.
Sebaiknya tidak terlalu cepat mengambil kesimpulan hanya berdasarkan dari
berita news.  Dalam dunia ilmiah beneran kesimpulan model begini tidak
pernah ada.  
4. Perihal Lava Andesit sudah kami presentasikan sejak 7 Februari 2012 (Mang
Okim hadir), namun waktu itu lehernya belum ketemu. Lidah lava sudah saya
uraikan di email sebelumnya di artikel "Dialog Imajineer Tim Terpadu Mandiri
dan Tim Arkenas/Petisi 34.  Di dalam Gunung Padang ada unsur geologi ada
unsur fitur budaya.  Kalau penamaan Gunung Purba saya kira tidak ada
perbedaan, hanya kalau kami lebih spesifik bagian apa, strukturnya seperti
apa, dimana dan pada kedalaman berapa; tapi kalau Tim petisi 34 tidak,
pokok-e Gunung Purba.  Dengar-dengar sih Tim Petisi 34 percaya Gunung Padang
itu terbentuk dari "volcanic plug"nya (pada main conduit).  Kalau memang
demikian, ya beda banget walaupun sama-sama Gunung Api Purba.  Kami sih
berdasarkan data subsurface geophysics dan geology.  Entah Tim Petisi 34 ada
data lain selain data permukaan atau tidak?
Akhir kata, kedua tim harus ketemu dalam satu forum diskusi ilmiah, baru
akan jelas permasalahannya. Asal dalam diskusi satu kata harus dilarang,
yaitu kata "poko-e".  
Demikian.  


-----Original Message-----
From: [email protected] [mailto:[email protected]] On Behalf Of
Sujatmiko
Sent: 05 Mei 2013 18:11
To: [email protected]
Cc: MGEI
Subject: [iagi-net] HASIL GEOLISTRIK-GEORADAR : G.PADANG ADALAH GUNUNG API
PURBA

Rekan-rekan IAGI yang budiman,

Di postingan mang Okim tanggal 2 Mei 2013  berjudul  Petisi 34 : Situs
Gunung Padang Terselamatkan , disebutkan bahwa dari hasil peninjauan ke
lokasi lobang ekskavasi di tebing timur Teras III ( mang Okim salah, yang
benar Teras I ), mang Okim dkk menyimpulkan bahwa beberapa balok andesit
yang terlihat di lokasi tersebut adalah fenomena alamiah, bukan produk
budaya. Selanjutnya diinterpretasikan bahwa batuan andesit penyusun Gunung
Padang hanya nongol di permukaan Teras I , Teras II, dan  Teras III,
sedangkan  Teras IV dan V  tertutup oleh produk klastik gunung api yang
telah lapuk.  Dari  tulisan Pak Danny Hilman di VIVAnews Senin 1 April 2013,
interpretasi mang Okim dkk tersebut ternyata tidak berbeda dengan hasil
interpretasi geolistrik -georadar di lintasan sekitar lobang ekskavasi Teras
I. 

 

Cobalah rekan-rekan simak dengan seksama sebagian dari  tulisan Pak Danny
Hilman di bawah ini . Seandainya Tim Mandiri tidak tergesa-gesa menganggap
bahwa balok-balok andesit di lobang ekskavasi adalah struktur bangunan (
gara-gara susunannya yang dianggap bikinan orang dan ada bahan pengisi yang
diyakini sebagai semen purba ), maka hasil interpretasi geolistrik-georadar
sudah sangat sesuai dengan kenyataan di lapangan yaitu  bukit Gunung Padang
adalah lapisan batuan ( andesit ) dengan ketebalan 30-50 meter. Analisa
petrologi oleh Dr. Andri Subandrio demikian juga, sangat aneh bahwa
retakan-retakan mikroskopik pada sayatan tipis batu kolom andesit  diduga
non-alamiah. Kalau non-alamiah, apakah retakan mikroskopik tersebut hasil
kerjaan manusia prasejarah ??? 

 

Hal lainnya yang membuat mang Okim bersorak gembira adalah interpretasi  Pak
Danny Hilman tentang adanya lidah lava dengan leher intrusinya  di area
selatan Situs Gunung Padang. Nah, kalau sudah demikian, mengapa Tim Mandiri
masih keukeuh menyatakan bahwa Gunung Padang adalah Bangunan Mahakarya
Peradaban yang Hilang ta' iya !!! Bukankah yang dijelaskan Pak Danny Hilman
tersebut , yang didasarkan pada hasil interpretasi geolistrik-georadar ,
adalah fenomena geologi dari sebuah gunung api purba ???  Sehubungan dengan
itu, marilah kita tinggalkan imaginasi yang tidak-tidak tentang isi perut
Gunung Padang. Bangunan Megalitik Punden Berundak yang ada di atasnya sudah
berstatus terbesar dan termegah di kawasan Asia Tenggara.  Janganlah kita
merindukan burung di langit, sementara burung di tangan dilepaskan. 

 

Salam Cinta Geo-Arkeologi

 

Mang Okim

 

----------------------------------------------------------------------------
-----------------------------------------------------------------------

Gunung Padang, Mahakarya Peradaban yang Hilang

( Dr Danny Hilman ,VIVAnews 1 April 2013 ) :

Sampai saat ini penggalian dilakukan baru sampai kedalaman 4 meteran saja,
namun survei geolistrik memperlihatkan di bawahnya masih ada kenampakan
struktur bangunan dengan geometri yang terlihat menakjubkan sampai kedalaman
lebih dari 10 meter. Hasil survei geolistrik, dan georadar juga sudah dapat
memperlihatkan struktur (geologi) bawah permukaan yang membentuk morfologi
bukit Gunung Padang adalah lapisan batuan dengan ketebalan 30-50 meter yang
mempunyai nilai tahanan listrik (resistivitas) sangat tinggi (ribuan
Ohm-Meter) berbentuk seperti lidah dengan posisi hampir horisontal, selaras
dengan bukit memanjang utara-selatan, dan miring landai ke arah utara. Jadi
selaras juga dengan undak-undak teras yang dibangun di atasnya. Lapisan batu
berbentuk seperli lidah ini juga mempunyai bidang miring yang rata ke arah
barat dan timur bukit selaras dengan kemiringan lerengnya. Lapisan lava ini
berada pada kedalaman lebih dari 10 meter di bawah permukaan.

Dari data pemboran yang dilakukan oleh DR. Andang Bachtiar dan juga analisis
mikroskopik batuan dari sampel inti bor yang dilakukan oleh DR. Andri
Subandrio, ahli geologi batuan gunung api dari Lab. Petrologi ITB, dapat
dipastikan tubuh batuan dengan resistivitas tinggi ini adalah batuan lava
andesit, sama seperti tipe batu kolom dari situs Gunung Padang. Hal lain
cukup menarik dari analisa petrologi adalah temuan banyaknya retakan-retakan
mikroskopik pada sayatan tipis batu kolom andesit yang diduga non-alamiah.
Soalnya, retakan itu memotong kristal-kristal mineral penyusunnya.

Dari banyak penampang geolistrik, terlihat lidah lava andesit ini mempunyai
leher intrusi (sumber terobosan batuan vulkanis dari bawah) berlokasi di
area lereng selatan dari situs Gunung Padang. Jadi setelah cairan panas
intrusi magma mencapai permukaan kemudian mengalir ke utara, dan setelah
mendingin membentuk lidah lava tersebut. Yang masih menjadi teka-teki besar
adalah apakah tubuh batuan lava di perut Gunung Padang ini adalah sumber
dari batu-batu kolom andesit yang dipakai untuk menyusun situs?

 


Kirim email ke