Good point Pak Ketum, jalan terus! OH ya Kompas hari ini memuat lagi berita penelitian G Padang dihentikan sementara. YSY
2013/5/6 <[email protected]> > ** > Bbrp hari lalu, aku ketemu prof YZaim, ternyata dia mengikuti milis Iagi > ttg gn padang. > Mnrt aku, beliau terbuka kok kalau diminta bicara ttg gn padang. > Salam. > Powered by Telkomsel BlackBerry® > ------------------------------ > *From: * Rovicky Dwi Putrohari <[email protected]> > *Sender: * <[email protected]> > *Date: *Mon, 6 May 2013 07:52:08 +0700 > *To: *IAGI<[email protected]>; economicgeology< > [email protected]>; <[email protected]> > *ReplyTo: * [email protected] > *Subject: *[iagi-net] Pertemuan 'empat mata' Ketua IAGI dan IAAI seputar > Gunung Padang. > > Dear All IAGI-ers, > > Sabtu siang kemarin saya bertemu Pak Junus Ketua Umum IAAI di Chitos, saya > sendiri dan beliau juga sendiri saja, empat mata. Sehingga saya tidak dapat > hadir diacara FGMI MGEI di hari yg sama. > > Kami ngobrol santai sampai hampir 2 jam tentang issue Gunung Padang. Dan > kami saling mengemukakan pandangan organisasi pada issue yang sedang > berkembang ini. Beliau mengemukakan kekhawatiran kalau issue ini berkembang > lanjut akan mempengaruhi profesi arkeologi secara umum. Saya mengerti > concern beliau tentang hal ini. Saya juga mengemukakan bahwa dalam > eksplorasi situs arkeologi ini, anggota IAGI atau geolog sebagai "*supporting > science*"nya. Penggalian situs Arkeologi bukan ranah utamanya ahli > geologi. Namun ilmu geologi sudah berinteraksi dengan arkeologi dalam hal > ini. > * > Gunung Padang* > > Saya memberitahukan bahwa IAGI sebagai organisasi profesi sangat terbuka > kepada semua anggotanya untuk berkreasi dan berkiprah dalam bidang apapun > asalkan masih dalam koridor ilmiah akademis. Walaupun pada akhirnya ada > perbedaan dan bahkan kontradiksi dalam hal interpretasi atau opini, IAGI > tidak akan memihak salah satu. Justru dengan dua tiga hingga berapapun > macam hasil interpretasinya akan menambah wawasan dan perkembangan > berpendapat, dan IAGI tetap akan melindunginya sebagai hak mengemukakan > pendapat, sekali lagi, asalkan semuanya kaidah keilmuannya tidak dilanggar. > Saya memberikan contoh bagaimana IAGI saat ini berusaha tidak memberikan > opini karena adanya perbedaan pendapat tentang Lusi yang juga ada > pro-kontra diantara anggota IAGI. > > Pak Junus mengerti pendapat IAGI diatas, beliau juga sama dalam hal hak > dan kebebasan berpendapat pada anggotanya ini. Tetapi beliau, sebagai > arkeolog, dan kawan-kawan lainnya, sangat konsen dengan masa depan > profesinya (ahli arkeologi) bila pengambilan kesimpulan yang menurut beliau > sangat terburu-buru ini masuk dalam keputusan kepemerintahan dan menjadi > kebiasaan yang berkelanjutan. Saya rasa ini hal yang wajar kalau beliau > sangat konsen. > > Beberapa aspek keilmuan dalam pengujian hipotesa arkeologi juga > diceritakan termasuk bagaimana menjelaskan aspek *supporting socia > (community, group, kelopon state dll)* ketika sebuah bangunan > (konstruksi) yang sangat besar dibangun pada satu masa saja. Seberapa > besarnya aspek sosial ini. Dalam pembangunan sebuah candi yg besar, > memerlukan waktu, jumlah tenaga manusia yang besar, *food*, *shelter*, > dll dimana didalamnya ada sebuah manajemen sosial yg tentunya juga masih > harus dijawab sebelum memberikan sebuah kesimpulan final adanya bangunan > besar dibawah situs, apalagi untuk melakukan sebuah excavasi atau > penggalian penemuan yang baru. > > Salah satu diskusi lain yaitu tentang ijin, justifikasi serta otorita > excavasi situs purbakala juga mengemuka tadi siang. Kalau misalnya ada satu > penemuan situs candi di Jogja tentunya relatif mudah untuk melakukan > justifikasi serta ijin excavasi, apalagi diatasnya tidak ada situs yg harus > dilindungi. Namun untuk excavasi di G Padang tentunya harus ada banyak > "*reasons > based on researches*" yang perlu dilakukan sebelum melakukan excavasi > besar-besaran. Beliau mengingatkan juga bahwa situs G Padang bukanlah > satu-satunya situs megalith di Jawa Barat, namun merupakan situs Megalith > terbesar di Asia. Jadi perlu perlindungan khusus. Penggalian dibawah situs > purbakala ini memang sepertinya belum ada rujukan pastinya. (catatan: ini > PR untuk institusi kepurbakalaan) > > Sebagai seorang PNS Penyidik, beliau mengkhawatirkan apabila nantinya > mengarah pada penyidikan. Salah satu kasus yang beliau lakukan pada kasus > pembongkaran Batutulis dahulu, yang merupakan salah satu dugaan > (kemungkinan) adanya pelanggaran aturan yang berlaku. Sepertinya memang > team mandiri ini harus bersabar sebelum melakukan pembuktian melalui > excavasi dibawah Gunung Padang. Dan saya pribadi beberapa kali menyingung > dengan menuliskan bahwa "*sebuah penemuan besar itu sering tidak disadari > oleh penemunya*". Jadi kalau ini nantinya menjadi sebuah penemuan besar > ya waktulah yang membuktikan, seolah begitu. Yang penting ada* publikasi > ilmiah yang akan menjadi catatan* dan rekaman sebuah penelitian ilmiah. > Ini berkali-kali saya dorong ke semua Anggota IAGI yang rajin meneliti. > > Akhirnya saya dan Pak Junus sepakat untuk mengadakan seminar bersama IAAI > dan IAGI tentang Gunung Padang ini. Nanti IAGI dan IAAI menghadirkan > pembicara-pembicara baik yang pro, kontra juga yang dianggap netral. > Walaupun ini diselenggarakan bersama, namun karena hal ini lebih dekat > dengan profesi Arkeologi, maka beliau (IAAI) yang akan menginisiasi jadwal, > waktu serta pengaturan tempatnya. IAGI akan menjadi pendamping > penyelenggaranya dan memberikan usulan pembicara dari ahli anggota IAGI. > > *Geoscience dan Arkeologi* > > Pemanfaatan Georadar serta pengeboran yg dilakukan oleh team mandiri ini > memang lazim di dalam penyelidikan kebumian, namun belum atau masih belum > berkembang didalam penyelidikan Arkeologi di Indonesia. Ini sangat disadari > Pak Junus. Beliau juga terbuka untuk mendapat ilmu tentang "*mengintai*" > bawah permukaan dengan GPR, *slimhole drilling*, Geolistrik dll. Ini > wacana baru untuk Arkeolog pada umumnya. > Geoarkeologi sendiri juga belum lama berkembang di dunia ini. Jadi > kolaborasi dua keilmuan ini harus mulai dikembangkan di Indonesia. > *Archaeological > geology is a term coined by Werner Kasig in 1980. It is a sub-field of > geology which emphasises the value of earth constituents for human life. * > > Saya juga kemukakan beberapa anggota IAGI yang saat ini banyak tertarik > sejarah manusia dan interaksinya dengan manusia. Termasuk bagaimana aspek > Gunung Merapi dalam kehidupan untuk melihat konsep mitigasi jaman dahulu yg > mungkin dapat dipelajari. Termasuk Candi Kedulan yg diperkirakan ditinggal > karena gempa, bukan karena lahar, hipotesa danau mengelilingi Candi > Borobudur dll. > Menurut Pak Junus, saat ini ada beberapa geolog yang menjadi anggota IAAI, > salah satunya Pak Zaim yang beliau ingat. Mungkin Pak Zaim dapat bercerita > banyak tentang hal ini. > > *Hal lain yang juga lebih penting* > *Simposium Internasional 200 tahun Letusan G. Tambora,* > > Saya mengemukakan tentang rencana IAGI dan HAGI untuk memperingati 200 > tahun Gunung Tambora tahun 2015 (TAmbora klimax meletus 10 April 1815), dan > ternyata sejalan dengan beliau (IAAI) yang sudah melakukan beberapa > penggalian di "Pompei of Indonesia" ini. Letusan ini meninggalkan beberapa > lokasi yang dapat diteliti dan diselidiki aspek Arkeologisnya. Namun banyak > hal yang tidak dapat dijelaskan oleh arkeolog ketika melihat > sedimen-sedimen penutup yang semestinya menjadi domain geolog (*Quartenary > stratigrapher*). > > Juga kita sepakat sudah harus dimulai kerjasama IAAI dan IAGI ini tidak > hanya untuk hal ini (G Padang) saja, banyak hal-hal yang mengemuka selama > ngobrol santai dengan Pak Junus ini. Ini salah satu hikmah dari issue > tentang Gunung Padang barangkali. > > Apabila diperlukan IAGI mungkin akan menyelenggarakan pertemuan terpisah > sendiri di kalangan IAGI untuk sekalilagi berargumentasi tentang > kontroversi geologi. > > Salam Sukses ! > > > > Rovicky Dwi Putrohari > Ketua Umum IAGI. > > *Penemuan besar itu bukan karena menghasilkan, tetapi menCERAHkan, > mengINSPIRASI, dan meMOTIVASI yang lain untuk meneruskannya.* > > -- > "Nasionalisme itu ekspresi perasaan ketika negaramu terpuruk" >

