Kekhawatiran yang wajar tetapi PII dan Kemenlu kurang jeli melihat
fenomenanya. Paling tidak ada dua hal yang harus diperhatikan, kekurangan
insinyur dan kehilangan insinyur. Yang Benar adalah Indonesia tidak cakap
dalam menciptakan lapangan kerja yang bergengsi dan menghargai profesi
insinyur dan geosaintis.

Dalam profesi ilmu kebumian khususnya ekstraksi (migas, tambang mineral
maupun batubara, dll) Indonesia justru kekurangan tenaga ini. Hal ini
diakibatkan juga oleh dua hal utama. Insinyur Indonesia yang kualitas
eksport sudah hengkang dari negeri ini, karena penghargaan remunerasi yang
lebih rendah dari di LN. Sedangkan yang kemungkinan akan menyerbu masuk ke
negeri ini adalah mereka yang hanya KW2 atau KW3, karena di dinegerinya
juga tidak laku atau kalah bersaing bahkan dengan orang Indonesia yang ada
disana.
Negara-negara Asean, Malaysia, Thailand, Brunei dan juga Timur Tengah
(Middle East) adalah negeri tujuan para Insinyur Indonesia dengan "kualitas
ekspor". Bahkan sudah banyak di negeri Eropa dan Amerika. Silahkan PII dan
Kemenlu menengok lebih teliti berapa jumlah tenaga insinyur dan
geoscientist Indonesia di negeri-negeri ini. Dan jangan lupa tanyakan
"Berapa penghasilan mereka ?". Insinyur-insinyur dan geosaintist Indonesia
ini adalah hasil pendidikan lembaga pendidikan di dalam negeri yg sudah
teruji kemampuan dan pengalamannya. Dan mereka juga mencari pekerjaan
bergengsi dengan remunerasi sepadan.
Di dalam negeri di Indonesia saat ini memang sudah mulai banyak
pekerjaan-pekerjaan besar namun tetap saja MASIH KURANG untuk menarik minat
insinyur-insinyur Indonesia yang "kualitas ekspor".
"Serangan" masuknya insinyur asing (selain Indonesia) ke Malaysiapun sudah
dirasakan oleh beberapa rekan-rekan disana. Insinyur-insinyur ini dari
India, Pakistan, dan bahkan Iran. Mereka ini bersaing dalam soal "harga",
berani dibayar lebih murah dari insiyur Indonesia. Bahkan beberapa insinyur
ini "lari" dari negerinya untuk mencari 'kemerdekaan'. Ya, kondisi
negaranya dirasakan kurang memerdekakan mereka. Sehingga dengan digaji
rendahpun mereka bersedia. Mereka dari negeri inilah yang juga akan
merambah Indonesia dalam waktu dekat.
Jadi sekali lagi yang harus diperhatikan bukan hanya mencetak insinyur,
tetapi juga "menciptakan lapangan kerja yang bergengsi dan memberikan
remunerasi yang sepadan" dengan negara-negara lain.

RDP
http://www.gatra.com/nusantara-1/nasional-1/31100-insinyur-indonesia-harus-
siap-hadapi-“insinyur-impor”.html
*--
"**Nasionalisme itu ekspresi perasaan ketika negaramu terpuruk"*


2013/5/25 Bhaskara Aji <[email protected]>

> 2015 - AFTA " Persiapkan SDM yg berkualitas untuk bersaing di Rumah
> sendiri!! "
>
> Semoga IAGI dapat terus berkontribusi nyata dalam mempersiapkan SDM
> Geosaintis yg siap untuk bersaing di era global...
>
>
> Maju IAGI!!!
>
>
> Salam
> Bhaskara Aji
> -Forum Geosaintis Muda Indonesia-
>
> AWAS INSINYUR ASING MENYERBU!
> Ropesta Sitorus - Harian detik
>
> Jakarta - Para insinyur Indonesia pantas cemas karena mungkin bakal
> mendapat pesaing dari negara tetangga. Apalagi dua tahun lagi Indonesia dan
> negara Asia Tenggara lain bakal masuk era Masyarakat Ekonomi Asean yang
> memungkinkan perpindahan pekerja jauh lebih mudah.
>
> Ketua Umum Persatuan Insinyur Indonesia, Bobby Gafur Umar, mengatakan
> jumlah insinyur Indonesia masih jauh dari jumlah ideal yakni baru mencapai
> 600 ribu - 700 ribu. Untuk mendukung proyek Masterplan Percepatan dan
> Perluasan Pembangunan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) dan mencapai
> target pertumbuhan ekonomi, maka Indonesia masih kekurangan 1,2 juta orang
> insinyur.
>
> "Kita masih kekurangan insinyur,” katanya. “Untuk mendukung pertumbuhan
> ekonomi 6,8-7 persen, setidaknya kita masih butuh 1,2 juta insinyur
> sehingga bisa memenuhi jumlah ideal 2 juta insinyur," katanya kemarin.
>
> Ia mengatakan ancaman bagi insinyur lokal lebih berat setelah Masyarakat
> Ekonomi ASEAN efektif mulai tahun 2015. Ini, katanya, akan menjadi momok
> menakutkan apabila Indonesia tidak lebih matang mempersiapkan diri.
>
> Bobby mengatakan insinyur Indonesia saat ini pantas untuk cemas, karena
> negeri ini hampir pasti akan menjadi lahan empuk bagi para insinyur asing
> yang masih kalah banyak dibanding negara tetangga. "Menurut saya, buat para
> insinyur Indonesia, tidak mudah untuk menerima kenyataan ini,” katanya.
> “Tapi kita harus hadapi.”
>
> Bobby melanjutkan yang paling dibutuhkan saat Ini adalah insinyur yang
> bisa mengelola sumber daya alam. "Indonesia kaya akan SDA tapi yang
> mengelolanya masih minim, insinyur teknologi dan elektronika memang juga
> diperlukan tapi tidak sebanyak kebutuhan akan insinyur pertanian dan
> perikanan," kata dia.
>
> Senada, Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto mengakui pertumbuhan
> insinyur di Indonesia per tahunnya amat rendah. Akibatnya, indeks
> pembangunan Indonesia juga lebih rendah, yaitu hanya berada di angka 0,60.
> Sedangkan Malaysia ada di angka 0,86 dan Thailand di angka 0,69.
>
> Dalam 1 juta penduduk, jumlah insinyur di Indonesia hanya rata-rata 164
> orang dari 1 juta penduduk. Sedangkan Malaysia mencapai 503 insinyur per 1
> juta penduduk dan Singapura yang sebanyak 5.700 insiyur per 1 juta
> penduduk. "Ini berakibat pada peringkat efisiensi inovasi dan kesiapan
> teknologi untuk meningkatkan nilai tambah bangunan menjadi kurang bagus,"
> kata Djoko.
>
> Wakil Ketua Umum PII Hermanto Dardak mengatakan kekurangan ini juga
> didorong banyaknya insinyur tersebut tidak bekerja sesuai dengan latar
> belakang pendidikannya. Dari segi profesi, kebanyakan insinyur yang ada di
> tanah air masih terkonsentrasi di bidang sipil.
>
> "Sebanyak 50 persen insinyur profesional adalah di bidang sipil yang
> membangun jalan, gedung dan jembatan. Karena itu insinyur profesional di
> bidang lain perlu ditingkatkan agar pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak
> stagnan," kata dia.
>
> Karena itu, kata Hermanto, pembentukan Rancangan Undang-Undang
> Keinsinyuran diharapkan bisa memicu ketertarikan para insinyur untuk
> meningkatkan kompetensi serta menekuni profesi sesuai latar belakang
> pendidikannya.
>
> Ropesta Sitorus
> Salam
>
> Bhaskara Aji / Koko

Kirim email ke