kalau yg ini sudah sampai dimana Ya ?

ISM

Penandatanganan Nota Kesepahaman Antara PT PLN (Persero) dan
Vico Tentang Jual Beli CBMKEMENTERIAN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL
REPUBLIK INDONESIA

SIARAN PERS

PENANDATANGANAN NOTA KESEPAHAMAN ANTARA
PT PLN (Persero) dan VICO TENTANG
JUAL BELI GAS METANA BATUBARA

Pemerintah, dalam hal ini Kementerian Energi dan Sumber Daya
Mineral (KESDM) secara terus menerus berupaya meningkatkan
penggunaan gas bumi untuk kebutuhan dalam negeri khususnya
untuk pasokan tenaga listrik. Salah satu upaya yang dilakukan
adalah dengan mencanangkan program pembangunan nasional tahun
2011 untuk memanfaatkan Gas Metana Batubara (GMB) sebagai bahan
bakar untuk ketenagalistrikan bagi masyarakat sekitar wilayah
kerja tersebut.
Dalam rangka merealisasikan program tersebut, pada hari ini,
Jumat tanggal 4 November 2011, bertempat di kantor Kementerian
ESDM, Menteri ESDM Jero Wacik menyaksikan penandatanganan Nota
Kesepahaman (MoU) antara PT PLN (persero) dan Virginia
Indonesia Co. CBM Limited (VICO) tentang Jual Beli Gas Metana
Batubara dari wilayah kerja CBM Sanga Sanga Kalimantan Timur.
Nota Kesepahaman ini akan menjadi tonggak sejarah bagi
pemanfaatan GMB untuk listrik yang pertama kali di Indonesia.
Salah satu lingkup MoU ini adalah pihak VICO bersedia menjual
dan menyalurkan GMB kepada pihak PLN dengan volume yang cukup
untuk mensuplai listrik bagi konsumen lokal dengan pasokan GMB
konstan sebesar 0,5 mmscfd untuk periode minimal 5 tahun, dan
PLN akan menggunakan GMB tersebut sebagai bahan bakar untuk
tenaga listrik yang akan didistribusikan bagi desa-desa yang
terletak di dalam atau sekitar wilayah kerja Sanga Sanga.
Nota Kesepahaman ini berlaku sejak tanggal ditanda tanganinya
dan akan berakhir secara otomatis pada saat ditandatanganinya
Perjanjian Jual Beli Gas (PJBG).



> Mas Avi,
> Bagaimana kalau dicoba jualan listrik.
> Jadi anda pasang genset didekat lapangan kemudian listriknya
> dijual ke PLN. Ini menghindari transfer price sbg gas.
> Jadi anda jualan listrik bukan jualan gas. Apakah masih bisa
> make profit ? Kontraknya menjadi full project mirip kontrak
> geothermal yang jualan listrik. Menggabungkan upstream dan
> doenstream.
>
> RDP
> *--
> "**Control yourself, and you got freedom"*
>
>
> 2013/6/20 rakhmadi avianto <[email protected]>
>
>> Dear all good afternoon,
>>
>>  Mimpinya kan CBM itu bisa menghasilkan rate
>>  300,000-500,000 CFG/day,
>> nyatanya cuman 30,000-100,000 CFG/day. Sedangkan di Ausie
>> dan Amrik lapangan CBM bisa menghasilkan 1-4 mmcf/d – per
>> sumur (indah nian kata adikku Donda di Medan sana). Kalau
>> melihat itu semua maka sepertinya proyek CBM kayaknya masih
>> tidak realistis untuk saat ini.
>>
>>  Pernah coba nge-run project economic untuk CBM dg
>>  parameter sbb,
>>
>> Rate/well = 200KCF/day, Jumlah sumur = 600 biji, Cost/well=
>> 520KUSD, harga jual gas=USD 7.0/KCF, Cum Prod selama 40
>> tahun= 328 BCF, estimated total investasi = USD 650 juta,
>> maka didapat Pay-out=11 tahun, IRR=23% sebetulnya not too
>> bad.
>>
>>  Nah kalau harga sumur > dari USD 520K/well maka IRRnya
>>  tergerus jadi
>> dibawah 20% dan investasi awal naik jadi > dari 650 jt USD.
>>
>> NAH YG PALING MENGERIKAN KALAU RATENYA <100KCF/day maka Pay
>> Outnya jadi > 15 tahun dg IRR < 10%, apa lagi kalau sudah
>> dg rate 50KCF/day sudah mati proyeknya. Dg data keekonomian
>> spt ini maka proyek ini ngga bisa terbang meskipun dilempar
>> keatas, ya jatuh dan jatuh lagi ke tanah.
>>
>>  Ini kira2 mungkin kenapa kok proyek CBM agak lari mundur
>>  dari pada lari
>> maju.
>>
>>  Banyak hal lain yg sifatnya teknis, kaya pelaksanaan
>>  pemboran dg under
>> balance juga menaikkan biaya sumur shg menurunkan IRR,
>> menaikan PO dan menurunkan NPV.
>>
>>  Soal potensial CBM di Indonesia PASTI!!!!, *tapi to get it
>>  out off the
>> ground* yg masih perlu evaluasi lebih lanjut. Kalau aku
>> jadi pemerintah biarkan aja pemegang Laison CBM tetap
>> mengangkangi konsesinya sampai mereka bisa menemukan titik
>> keekonomiannya. Masalahnya mau ngga ya Pemerintah? Kasi
>> ngga Ya? Eemmm masalah ga ya?
>>
>>  Kalau melihat gas-usage di Indonesia memang masih sangat
>>  rendah (lihat
>> attachment), kenaikan gas-usage dari 5.5 million cubic feet
>> (MCF)/th ke 10 MCF/th tentu akan menaikan harga gas.
>>
>> Harga 12kg LPG adalah IDR 90K (USD 9.0), kalau dihitung
>> sebener 1 MMCF Methane = 18,916 kg, kalau harga gas = USD
>> 10/KCF (per 1000 cubic feet) maka harga methane / kg = Rp
>> 529,- saja, jadi harga 12KG methane = Rp 6,344,-, itu harga
>> di well head, jadi kalau infra struktur ada jualan gas ke
>> community lebih untung dari pada di Export. Bayangkan harga
>> Methane 12KG dibandingkan 12 KG LPG harganya 14 kalinya.
>> Nah kalau harga jual gas cuman USD 5.0 / KCF maka 12KG
>> methane harganya cuman IDR 3200 atau tepatnya IDR 3,171 di
>> well head, nah dipikirkan bagaimana pemipaannya, shg
>> komuniti bisa beli gas dg harga yg sangat terjangkau.
>>
>> Yang belum aku hitung kalori yg dihasilkan 12KG LPG = ?KG
>> Methane, kalau ada hitungan ini maka kita bisa komparing
>> nanas dan nanas.
>>
>>  Iseng iseng buat pemikiran bersama.
>>
>>  Just sharing guys, have a good day.
>>
>>  Avi



___________________________________________________________
indomail - Your everyday mail - http://indomail.indo.net.id


Kirim email ke