Kalau di Geothermal malah untuk mendapatkan WKP /IUP ( belum
ekplorasi) saja sdh harus memberikan penawaran harga listriknya
, ibaratnya kalau di Migas untuk mendapatkan Blok/WK melalui
tender dimana tolok ukur nya siapa yg menawarkan harga BBM yg
paling murah yg diproduksi dari Blok/WK tsb itu yg menang
(mendapatkan blok eklporasi/ekploitasi).....
ISM




> Mas Avi,
> Bagaimana kalau dicoba jualan listrik.
> Jadi anda pasang genset didekat lapangan kemudian listriknya
> dijual ke PLN. Ini menghindari transfer price sbg gas.
> Jadi anda jualan listrik bukan jualan gas. Apakah masih bisa
> make profit ? Kontraknya menjadi full project mirip kontrak
> geothermal yang jualan listrik. Menggabungkan upstream dan
> doenstream.
>
> RDP
> *--
> "**Control yourself, and you got freedom"*
>
>
> 2013/6/20 rakhmadi avianto <[email protected]>
>
>> Dear all good afternoon,
>>
>>  Mimpinya kan CBM itu bisa menghasilkan rate
>>  300,000-500,000 CFG/day,
>> nyatanya cuman 30,000-100,000 CFG/day. Sedangkan di Ausie
>> dan Amrik lapangan CBM bisa menghasilkan 1-4 mmcf/d – per
>> sumur (indah nian kata adikku Donda di Medan sana). Kalau
>> melihat itu semua maka sepertinya proyek CBM kayaknya masih
>> tidak realistis untuk saat ini.
>>
>>  Pernah coba nge-run project economic untuk CBM dg
>>  parameter sbb,
>>
>> Rate/well = 200KCF/day, Jumlah sumur = 600 biji, Cost/well=
>> 520KUSD, harga jual gas=USD 7.0/KCF, Cum Prod selama 40
>> tahun= 328 BCF, estimated total investasi = USD 650 juta,
>> maka didapat Pay-out=11 tahun, IRR=23% sebetulnya not too
>> bad.
>>
>>  Nah kalau harga sumur > dari USD 520K/well maka IRRnya
>>  tergerus jadi
>> dibawah 20% dan investasi awal naik jadi > dari 650 jt USD.
>>
>> NAH YG PALING MENGERIKAN KALAU RATENYA <100KCF/day maka Pay
>> Outnya jadi > 15 tahun dg IRR < 10%, apa lagi kalau sudah
>> dg rate 50KCF/day sudah mati proyeknya. Dg data keekonomian
>> spt ini maka proyek ini ngga bisa terbang meskipun dilempar
>> keatas, ya jatuh dan jatuh lagi ke tanah.
>>
>>  Ini kira2 mungkin kenapa kok proyek CBM agak lari mundur
>>  dari pada lari
>> maju.
>>
>>  Banyak hal lain yg sifatnya teknis, kaya pelaksanaan
>>  pemboran dg under
>> balance juga menaikkan biaya sumur shg menurunkan IRR,
>> menaikan PO dan menurunkan NPV.
>>
>>  Soal potensial CBM di Indonesia PASTI!!!!, *tapi to get it
>>  out off the
>> ground* yg masih perlu evaluasi lebih lanjut. Kalau aku
>> jadi pemerintah biarkan aja pemegang Laison CBM tetap
>> mengangkangi konsesinya sampai mereka bisa menemukan titik
>> keekonomiannya. Masalahnya mau ngga ya Pemerintah? Kasi
>> ngga Ya? Eemmm masalah ga ya?
>>
>>  Kalau melihat gas-usage di Indonesia memang masih sangat
>>  rendah (lihat
>> attachment), kenaikan gas-usage dari 5.5 million cubic feet
>> (MCF)/th ke 10 MCF/th tentu akan menaikan harga gas.
>>
>> Harga 12kg LPG adalah IDR 90K (USD 9.0), kalau dihitung
>> sebener 1 MMCF Methane = 18,916 kg, kalau harga gas = USD
>> 10/KCF (per 1000 cubic feet) maka harga methane / kg = Rp
>> 529,- saja, jadi harga 12KG methane = Rp 6,344,-, itu harga
>> di well head, jadi kalau infra struktur ada jualan gas ke
>> community lebih untung dari pada di Export. Bayangkan harga
>> Methane 12KG dibandingkan 12 KG LPG harganya 14 kalinya.
>> Nah kalau harga jual gas cuman USD 5.0 / KCF maka 12KG
>> methane harganya cuman IDR 3200 atau tepatnya IDR 3,171 di
>> well head, nah dipikirkan bagaimana pemipaannya, shg
>> komuniti bisa beli gas dg harga yg sangat terjangkau.
>>
>> Yang belum aku hitung kalori yg dihasilkan 12KG LPG = ?KG
>> Methane, kalau ada hitungan ini maka kita bisa komparing
>> nanas dan nanas.
>>
>>  Iseng iseng buat pemikiran bersama.
>>
>>  Just sharing guys, have a good day.
>>
>>  Avi



___________________________________________________________
indomail - Your everyday mail - http://indomail.indo.net.id


Kirim email ke