Cher Monsieur Noor et al, bonjour !
Merci beaucoup pour votre email de clarification. Alhamdulilah, akhirnya ada tanggapan dari praktisi eksplorasi perminyakan , yang walaupun sangat singkat tetapi langsung menusuk akar permasalahan yaitu tentang makna dan pengertian data yang " masih hypothesis " dan data yang " sudah conclusive ". Masalah ini sebetulnya sudah dibahas dengan sangat jelas oleh Pak Awang beberapa waktu lalu, hanya ya itulah , selalu dimarginalkan , dan kita-kita ini dipaksa untuk percaya dan mengakui bahwa data yang "masih hypothesis " adalah data yang " sudah conclusive " . Alasannya karena hipotesis tersebut didasarkan pada hasil survey geofisika yang super canggih selama 2 tahun terakhir. Naah, kalau hipotesisnya memperkirakan ada bangunan budaya lebih 10 kali Borobudur dengan ruang kosong berisi harta karun berupa emas lebih 3 Ton , pintu gerbang setinggi 18 meter, dan terakhir ada bangunan reaktor listrik hidro di dalam perut G. Padang berikut saluran-saluran airnya, apa kita harus percaya ? Seperti biasanya, Presiden SBY mungkin bisa percaya , juga Wagub Jabar yang seniman berikut aparatnya yang "safety player " - - - apalagi di dalam ruangan diskusi ada Stafsus Presiden yang super-power - - - ta' iya ! Sebetulnya, kalau mau berpikir sederhana dan mau kembali ke ilmu dasar Geologi Fisik ( pelajaran semester 1 ), ada beberapa hal kecil yang seharusnya segera dipecahkan karena akan menentukan validitas jenis penelitian TTRM, arkeologi atau geologi. Hal-hal kecil tersebut antara lain masalah pasir ayakan peredam gempa dan semen purba super canggih yang merekatkan kekar-kekar tiang ( informasi awal diciptakan pada periode 10.000 - 23.000 tahun BP ). Untuk masalah pertama, apalah sulitnya menjelaskan tentang alasan yang mendukung hipotesis bahwa pasir tersebut adalah benar-benar pasir ayakan dan bukan pasir " air fall " alias pasir vulkanik seperti yang diduga kuat oleh pakar volkanologi. Untuk masalah kedua, mang Okim yang langsung mengamati dan memotret singkapan di lapangan menyimpulkan bahwa yang disebut semen perekat canggih tersebut tak lain adalah tanah pelapukan dari batuan andesit basalt berstruktur kekar tiang. Tanda-tandanya sangat jelas antara lain adanya struktur pseudo-layers yang simetris di antara 2 kekar tiang dengan lapisan kerak besi di bagian tengahnya ( foto di lampiran ). Fenomena geologi semacam ini dipastikan tidak akan pernah terlihat di pelapukan semen artifisial. Beberapa hari lalu , Prof Sutikno Bronto yang ekskursi ke G. Padang bersama mahasiswa UGM mengirim foto singkapan yang sama dan mengonfirmasi bahwa singkapan tersebut bukan semen purba melainkan tanah pelapukan model kulit bawang / spheroidal weathering. Naah, nanti kalau email mang Okim ini ditanggapi, sebaiknya tidak lagi mengungkit masalah di luar pasir ayakan dan semen purba termasuk hasil interpretasi geofisik, langsung saja ke interpretasi pengamatan TTRM di singkapan berikut hasil laboratoriumnya - - - mah ennyak setelah lebih setahun ditemukan, tidak keluar pisan hasilna - - - ta' iya ! Hal ini penting karena kalau terbukti bahwa semen perekatnya ternyata alamiah alias residual soil dari kekar tiang, maka penelitian TTRM termasuk dating dari 4 lapisan yang konon terindikasi di perut G. Padang adalah murni penelitian geologi bawah permukaan dan nothing to do dengan penelitian arkeologi ( bisa melanggar UU niih ! ). Selain dari itu, anggapan dari beberapa expert TTRM ( antara lain tim Tomografi , Geodesi , Sipil, Arsitektur , dll ) bahwa lebih 2 juta batu tiang bersegi yang bertebaran dan " insitu " di G. Padang adalah bentukan manusia pendiri G. Padang hendaknya dapat segera diluruskan. Malu aah kalau mereka keukeuh beranggapan demikian, sementara di TTRM ada beberapa pakar geologi yang mumpuni, yang seharusnya dapat menjelaskan tentang proses pembentukan kekar tiang di batuan andesit basalt. Sekedar tambahan, karena TTRM selalu nyebut-nyebut Machu Picchu di Peru, waktu TTRM ninjau ke sana, apakah sempat mengamati 3 tembok massif dari benteng Sacsahuaman yang tiap-tiap tembok panjangnya 365 meter? Tembok-tembok tersebut tersusun dari balok-balok batuan tanpa semen lho, padahal di abad 16 Masehi ? Well, mohon beribu maaf kalau email mang Okim ini mengganggu ketenangan week-end rekan-rekan. Wassalam, Mang Okim From: noor syarifuddin [mailto:[email protected]] Sent: 05 Oktober 2013 8:00 To: [email protected] Subject: Re: [iagi-net] SITUS GUNUNG PADANG : TEMUAN REAKTOR HYDROELECTRIC DI PERUTNYA All, Memang kelihatannya ada perbedaan pendapat yg sangat mendasar yg saya pahami sejak bberapa waktu yl. Saat itu didiskusikan soal apakah "barang" yg dilihat di seismik itu adalah hasil interpretasi atau seperti kita melihat foto... Ini mungkin latar belakang ini yg menimbulkan kenapa ada perbedaan pengertian mengenai konsep "masih hipothesis" atau "sudah conclusive".... Salam, On Tuesday, October 1, 2013, yustinus yuwono wrote: Mungkin anda tidak membaca tanggapan dari teman2 lain di milis ini, misalnya dari rekan saya Awang Harun, serta yang lainnya? Salam, YSY 2013/10/1 Danny Hilman Natawidjaja <[email protected]> Hipothesis apa atau yang mana ya Pak? Ini beda pemakaian istilah kayanya. Sepemahaman saya hipothesis itu ada di awal penelitian. Orang setelah melakukan penelitian, apalagi sudah tahap lanjut, maka hasil data-analisa-interpretasinya tidak lagi dalam tahap ber-hipothesis, menurut hemat saya. Masalah sependapat atau tidak lain perkara. Nanti orang yang berinterpretasi atau berkeyakinan bulat bahwa di bawah Situs Gunung Padang itu tidak ada 'apa-apanya' tanpa ditunjang (analisa) data subsurface sama sekali disebutnya apa dong? Masa mau disebut ber-imajinasi atau ber-halusinasi pak. Nanti orangnya marah. Salam DHN From: [email protected] [mailto:[email protected]] On Behalf Of yustinus yuwono Sent: 01 Oktober 2013 16:14 To: iagi-net Subject: Re: [iagi-net] SITUS GUNUNG PADANG : TEMUAN REAKTOR HYDROELECTRIC DI PERUTNYA Danny yang baik, Yang mulai meng-analogi dengan explor HC kan anda sendiri. Sekarang rekan2 HC (Awang dkk) telah menjelaskan dengan baik (menurut saya). Juga rekan miner ikut menjelaskan. Saya urun dikit: Di Oil Company yang saya dengar (dari P Koesoema) berlaku kiat: banyak yang tidak ngebor lapangannya, meskipun sudah segudang data geofisik yang menunjang adanya HC di tempat tersebut kenapa? Karena belum terbukti ada HC nya, supaya harga jual lapangan tetap tinggi ya gak usah di bor dulu. Karena kalo sudah di bor ternyata kosong, harga jual akan anjlok alih-2 dapat untung malah buntung (rugi), data geofisik yang mungkin harganya milyaran itu baru sekedar tool, bukan real evidence. Jadi ya apapun itu selama belum "proven" saya menganggap masih hypothesis saja. Salam, YSY 2013/9/26 <[email protected]> Ooo begitu. Powered by Telkomsel BlackBerryR _____ From: kamsul hidayat <[email protected]> Sender: < ---------------------------------------------------- Joint Convention Medan 2013 (JCM 2013) The 38th HAGI and 42nd IAGI Annual Convention & Exhibition Register Now! http://www.jcm2013.com/registration/ ---------------------------------------------------- Visit IAGI Website: http://iagi.or.id Hubungi Kami: http://www.iagi.or.id/contact ---------------------------------------------------- Iuran tahunan Rp.250.000,- (profesional) dan Rp.100.000,- (mahasiswa) Pembayaran iuran anggota ditujukan ke: Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta No. Rek: 123 0085005314 Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Bank BCA KCP. Manara Mulia No. Rekening: 255-1088580 A/n: Shinta Damayanti ---------------------------------------------------- Subscribe: [email protected] Unsubscribe: [email protected] ---------------------------------------------------- DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to information posted on its mailing lists, whether posted by IAGI or others. In no event shall IAGI or its members be liable for any, including but not limited to direct or indirect damages, or damages of any kind whatsoever, resulting from loss of use, data or profits, arising out of or in connection with the use of any information posted on IAGI mailing list. ---------------------------------------------------- = ---------------------------------------------------- Joint Convention Medan 2013 (JCM 2013) The 38th HAGI and 42nd IAGI Annual Convention & Exhibition Register Now! http://www.jcm2013.com/registration/ ---------------------------------------------------- Visit IAGI Website: http://iagi.or.id Hubungi Kami: http://www.iagi.or.id/contact ---------------------------------------------------- Iuran tahunan Rp.250.000,- (profesional) dan Rp.100.000,- (mahasiswa) Pembayaran iuran anggota ditujukan ke: Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta No. Rek: 123 0085005314 Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Bank BCA KCP. Manara Mulia No. Rekening: 255-1088580 A/n: Shinta Damayanti ---------------------------------------------------- Subscribe: [email protected] Unsubscribe: [email protected] ---------------------------------------------------- DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to information posted on its mailing lists, whether posted by IAGI or others. In no event shall IAGI or its members be liable for any, including but not limited to direct or indirect damages, or damages of any kind whatsoever, resulting from loss of use, data or profits, arising out of or in connection with the use of any information posted on IAGI mailing list. ----------------------------------------------------

