Mas Rovicky, 1.Sangat menarik kalau Malay menerapkan WR 2,5% sebagai constraint peluang utk diproduksikannya sebuah lapangan.
2. WR yang disampaikan skk migas, seperti yang dikutip, merupakan nilai WR average utk seluruh lapangan di Indonesia (pada 2012 jumlah lapangan yg tercatat dalam data cadangan nasional ada sebanyak 1019 lapangan) 3. Besaran nilai WR, merupakan salah satu nilai indikator tingkat kematangan suatu lapangan dalam menerapkan teknologi recovery HC. WR=volume produksi 1thn/volume Reserves Proven yg dimiliki pada tahun produksi tsb. 4.Sedangkan MER dengan definisi uncle google: Maximum Efficient Rate (MER) means the maximum sustainable daily oil or gas withdrawal rate from a reservoir which will permit economic development and depletion of that reservoir without detriment to ultimate recovery. The MER is the maximum rate at which oil or gas can be produced without damaging the reservoirs natural energy. If oil is extracted from a reservoir at a rate greater than the maximum efficient rate of recovery, then the natural pressure of the reservoir will decline resulting in a decrease in the amount of oil ultimately recoverable. (Ref: http://definitions.uslegal.com/m/maximum-efficient-rate-mer/) 5.Mengacu ke difinisi no 4, menurut saya MER lebih cocok disandingkan dengan istilah productivity index (PI) utk minyak atau Absolute open flow (AOF) utk gas, dari pada menyadingkan MER dengan WR. Kelihatannya MER sebanding dengan optimum deliverability. 6. Dalam persetujuan commercial, PI/AOF memegang peranan sangat penting, dan ditentukan dari Hasil flowing Test (semisal DST), karena istilah optimum rate/deliverability sangat berbeda dgn maximum deliverability dari kinerja flowing sebuah sumur. 7.Optimum rate produksi sangat dipengaruhi ukuran tubing produksi, delta pressure, skin effect, permeability, viscosity fluida dan pola alir fluida. 8. Sedangkan maksimum rate hanya ditentukan ukuran tubing produksi dan delta pressure. 9. Meskipun akan berbeda satu kinerja sumur dengan lainnya, sebagai rules of thumbs yg biasa dilakukan dalam perhitungan point 7 (optimum rate produksi) biasanya mengunakan 30%AOF utk sumuran. Namun AOF total suatu lapangan bisa berkisar antara 20-40% (fungsi average dari jumlah sumur di lapangan dimaksud). Kalau PI biasanya akan mempertimbangkan curva IPR. 10. Fungsi MER kelihatannya tidak akan terlepas dari strategi pengembangan dan keekonomian. Semisal dgn data penunjang test (interference test) suatu sumur di test memiliki konektivitas dgn sumur lainnya yg berjarak 10km, sehingga dpt dibayangkan berapa besar permeability yg dimiliki. Namun jika akan dikembangkan dgn mengunakan tubing produksi yg standar (dgn asumsi AOF yg optimum akan diatas 30%) maka akan menyebabkan rencana pengembangan yg mahal (banyak sekali sumur yg diperlukan untuk mendapatkan nilai Recovery Factor yg optimum), jika dibandingkan rencana pengembangannya dgn Big Bor (ukuran lubang sumur/tubing produksi yg lebih besar dr standad). Pengembangan lapangan tsb semisal adalah lapangan Suban, dimana AOF bisa dijaga pada average 30% utk masing masing sumur + dengan predisksi keberhasilan RF diatas 70%an + keekonomian yg optimum, krn tidak membutuhkan banyak jumlah sumur. 11.Besaran RF optimum didasarkan kepada 2 faktor. Faktor1 = jumlah dan jarak radius pengurasan pd setiap sumur + faktor ke2 constraint besaran fasilitas produksi yg akan dibangun. Dalam hal ini kedua faktor tersebut bisa di sebut faktor teknologi yg digunakan pada saat ini (biasanya teknologi yg dipilih sesuai dengan keekonomian lapangannya) 12. Berdasarkan hal-hal tersebut diatas (point 2-12), kelihatannya MER yang kecil (seperti malay 2.5%) kurang memiliki hubungan yang langsung dengan Withdrawal rate (rata2 minyak Indonesia 8%). Namun kelihatannya berhubungan dengan nilai PI atau AOF yg digunakan sebagai constraint nilai rate produksi. 13. WR rata2 national utk minyak sebesar 8%, mengambarkan kinerja teknologi yg sudah diterapkan di Indonesia sudah sangat sangat baik dan Indonesia telah mengelola lapangan2nya hingga sangat optimum (tidak hanya Primary Recovery). Ada beberapa KKKS yg telah memiliki WR diatas 12% (average dr keseluruhan lapangan yg dimiliki kkks dimaksud). Hal itu mengambarkan bahwa KKKS dimaksud telah mengupayakan produksi yg optimum pada tahun yg telah berjalan dengan mengunakan teknologi yg lebih baik, jika dibandingkan pada saat teknologi yg digunakan sewaktu menilai reserves yg ada. 14. Sehingga apakah MER adalah suatu indikator keuangan ataukah indikator produksi? Sehingga utk mengetahui berapa MER Indonesia? Kayanya perlu dihitung terlebih dahulu dengan mengunakan definisi MER yang sama seperti yg digunakan negara yg akan dibandingkan, sehingga bisa baik penyebandingannya. Mudah2an tidak terlalu membosankan dan membinggungkan utk dibaca. Mas Rovicky, boleh sekalian bertanya, apakah kita di kegiatan eksplorasi memiliki kriteria indikator terkait dengan produksi secara langsung? Atau indikator kinerja eksplorasi yg ada hanya mengindikasikan indikator relatif terhadap keuangan semisal RRR atau SR? Salam Hormat. GWA -----Original Message----- From: Rovicky Dwi Putrohari <[email protected]> Sender: <[email protected]> Date: Sat, 16 Nov 2013 08:38:07 To: IAGI<[email protected]> Reply-To: [email protected] Subject: Re: [iagi-net] Apakah MER diberlakukan dalam PSC di Indonesia ? Bu Nuning kalau dari Annual Report SKKMIGAS 2013 ini di Indonesia withdrawal rate (WR) minyak 8.41% dan gas 2.87% (sumber http://www.skkmigas.go.id/wp-content/uploads/2013/06/SKK_Migas_Annual_Report_2013.pdf) Kalau tidak salah di Malaysia WR dibatasi hingga 2.5% saja (cmiiw). Saya kira dengan WR yang terlalu besar maka lapangan akan cepat habis, dan cenderung rusak. Namun kalau hanya diperbolehkan kecil, keekonomian lapangan akan jauh berkurang. disinilah harus ada titik temu untuk optimasinya yg semestinya memberikan win-win antara kontraktor dan government yg tidak hanya pada satu saat ini saja. rdp -- *"Tidak ada satu cara terbaik untuk menyelesaikan masalah bangsa. Tapi pasti ada satu langkah kemajuan bila anda ikut serta memperbaikinya".* 2013/11/15 Nugrahani <[email protected]> > > > Dear pakdhe Vicky, > > Dalam pengajuan POD, memang tidak secara jelas disebutkan pembatasan angka > withdrawal rate (laju pengurasan), namun dalam POD ada pengajuan dan > evaluasi terhadap production forecast dan juga reserves analysis yang > termasuk di dalamnya ada angka perkiraan withdrawal rate. Biasanya, pada > waktu diskusi WP&B, dan juga saat diskusi soal angka produksi, KKKS > diminta untuk memasukkan angka2 proved reserved, produksi kumulatif, > produksi saat tersebut, dan juga angka withdrawal rate sehingga kita dapat > mengeavaluasi apakan pekerjaan yang dilakukan di tahun tersebut (drilling, > well services, workover, dll) dapat meningkatkan laju pengurasan dan > tentunya angka produksi/lifting-nya. > > Sepengetahuan saya, angka laju pengurasan di Indonesia umumnya masih > relatif kecil (- CMIIW - ), berkisar di 30% atau kurang, apalagi > sumur2/lapangan2 di Pertamina EP dan JOB-JOB PHE, sehingga bahkan kami > mendorong untuk melakukan IOR dan EOR yang lebih intensif untuk > meningkatkan produksi. > > > > > > Salam, > > Nuning > > > > > > > > > > > > *From:* [email protected] [mailto:[email protected]] *On Behalf Of > *Rovicky > Dwi Putrohari > *Sent:* Thursday, November 14, 2013 4:48 PM > *To:* IAGI > *Subject:* [iagi-net] Apakah MER diberlakukan dalam PSC di Indonesia ? > > > > Maximum Efficient Rate (MER) means the maximum sustainable daily oil or > gas withdrawal rate from a reservoir which will permit economic. > Di Malaysia ada pembatasan Withdrawl rate, sehingga tidak semua cadangan > akan dihabiskan pada saat kontrak habis. > > Bagaimana dalam penyusunan POD di Indonesia? > > Apakah hal ini dibicarakan juga ? > > > > *Background.* > > Setiap lapangan memiliki kapasitas tertentu sehingga dapat diproduksikan. > Lapangan bisa saja digenjot disedot dengan kapasitas maksimumnya dengan > segera. Secara ekonomis tentunya akan mendapatkan NPV (Net Present Value) > yang lebih baik. Namun konsenkuensinya kondisi reservoir "terkorbankan". > Itulah sebabnya ada teori "withdrawal rate" (laju pengurasan), dimana ada > pembatasan karena secara ilmiah diperlukan untuk menjaga supaya reservoir > tidak rusak, selain itu, dalam sistem kontrak dalam jangka waktu tertentu > akan membatasi jumlah minyak yang dapat diambil selama masa kontrak. Ini > akan melindungi negara tuan rumah pemilik lapangan nantinya apabila kontrak > pengelolaan sudah habis masanya. > > Salah satu tambahan dan perkembangan dari teori ini adalah MER, dimana > ada tolok ukur lain yaitu keekonomian. DImana ini akan melindungi > kontraktor pengelola lapangan supaya tetap dapat mengelola lapangan sesuai > dengan keekonomiannya. > > Salam > > > > Rdp > > -- > *"Tidak ada satu cara terbaik untuk menyelesaikan masalah bangsa. Tapi > pasti ada satu langkah kemajuan bila anda ikut serta memperbaikinya".* > > > ---------------------------------------------------- > Joint Convention Medan 2013 (JCM 2013) > The 38th HAGI and 42nd IAGI Annual Convention & Exhibition > Register Now! http://www.jcm2013.com/registration/ > ---------------------------------------------------- > Visit IAGI Website: http://iagi.or.id > Hubungi Kami: http://www.iagi.or.id/contact > ---------------------------------------------------- > Iuran tahunan Rp.250.000,- (profesional) dan Rp.100.000,- (mahasiswa) > Pembayaran iuran anggota ditujukan ke: > Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta > No. Rek: 123 0085005314 > Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) > Bank BCA KCP. Manara Mulia > No. Rekening: 255-1088580 > A/n: Shinta Damayanti > ---------------------------------------------------- > Subscribe: [email protected] > Unsubscribe: [email protected] > ---------------------------------------------------- > DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to information > posted on its mailing lists, whether posted by IAGI or others. > In no event shall IAGI or its members be liable for any, including but not > limited > to direct or indirect damages, or damages of any kind whatsoever, > resulting > from loss of use, data or profits, arising out of or in connection with > the use of > any information posted on IAGI mailing list. > ---------------------------------------------------- > > > ---------------------------------------------------- > Joint Convention Medan 2013 (JCM 2013) > The 38th HAGI and 42nd IAGI Annual Convention & Exhibition > Register Now! http://www.jcm2013.com/registration/ > ---------------------------------------------------- > Visit IAGI Website: http://iagi.or.id > Hubungi Kami: http://www.iagi.or.id/contact > ---------------------------------------------------- > Iuran tahunan Rp.250.000,- (profesional) dan Rp.100.000,- (mahasiswa) > Pembayaran iuran anggota ditujukan ke: > Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta > No. Rek: 123 0085005314 > Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) > Bank BCA KCP. Manara Mulia > No. Rekening: 255-1088580 > A/n: Shinta Damayanti > ---------------------------------------------------- > Subscribe: [email protected] > Unsubscribe: [email protected] > ---------------------------------------------------- > DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to information > posted on its mailing lists, whether posted by IAGI or others. > In no event shall IAGI or its members be liable for any, including but not > limited > to direct or indirect damages, or damages of any kind whatsoever, > resulting > from loss of use, data or profits, arising out of or in connection with > the use of > any information posted on IAGI mailing list. > ---------------------------------------------------- > > ---------------------------------------------------- Joint Convention Medan 2013 (JCM 2013) The 38th HAGI and 42nd IAGI Annual Convention & Exhibition Register Now! http://www.jcm2013.com/registration/ ---------------------------------------------------- Visit IAGI Website: http://iagi.or.id Hubungi Kami: http://www.iagi.or.id/contact ---------------------------------------------------- Iuran tahunan Rp.250.000,- (profesional) dan Rp.100.000,- (mahasiswa) Pembayaran iuran anggota ditujukan ke: Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta No. Rek: 123 0085005314 Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Bank BCA KCP. Manara Mulia No. Rekening: 255-1088580 A/n: Shinta Damayanti ---------------------------------------------------- Subscribe: [email protected] Unsubscribe: [email protected] ---------------------------------------------------- DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to information posted on its mailing lists, whether posted by IAGI or others. In no event shall IAGI or its members be liable for any, including but not limited to direct or indirect damages, or damages of any kind whatsoever, resulting from loss of use, data or profits, arising out of or in connection with the use of any information posted on IAGI mailing list. ----------------------------------------------------

