Kalau energy primer untuk listrik ( energy mix listrik ) saya
kira tidak begitu masalah dibandingkan dg untuk BBM.skenario energi primer 
untuk listrik nantinya (2020 )
penggunaan BBM hanya akan terbatas untuk daerah yg isolated /
kepulauan yg kira kira kontribusinya hanya 3 % dlm energi
primer untuk listrik , sebagaian besar ( 60 % ) dari batubara.
belum lagi sumber energi yang lain ( geothermal ,air, biodesel,
gas , batubara, mungkin CBM serta ET yang lain ) disisi lain
perbedaan anatar biaya pruduksi ( BPP ) dengan tarif listrik
(TDL) sdh tidak begitu besar hanya kira kira 300-400 Rp/Kwh.
dan semakin lama harganya akan sama antara BPP dg TDL. apalagi
kalau progran batubaranisasi pembangkit ( FTP-1 dan FTP- 2 )
selesai.
yang justru mengkawatirkan adalah semakin tingginya konsumsi
BBM khususnya untuk transportasi lebih lebih ada program mobil
murah (LCGC) yg memicu penjualan mobil yg ujung ujungnya minum
BBM semua. dari statmen pak Wamen bahwa impor BBM dan crude
sudah mencapai 900 ribu BOPD sedangkan konsumsi sudah 1,4 juta
BOPD , ini artinya sampai kapanpun akan impor minyak. disisi
lain pengganti minyak untuk transportasi masih sulit , program
gasifikasipun berjalannya masih terseok seok. sedangkan
perbedaan biaya pokok produksi BBM dg harga jual semakin tinggi
bahkan bisa mencapai lbh 4000 Rp/lt tergantung harga minyak dan
kurs dollar. dengan meningkatknya konsusmsi selalu dibarengi dg
peningkatan quota BBM bersubsidi yg sdh mencapai 48 juta KL. oleh karena itu  
program pengurangan penggunaan BBM dan
 diversikasi bahan bakar untuk transportasi serta  peningkatan
 produksi minyak menjadi hal yg krusial kedepan dibandingkan dg
 permasalahan di listrik.

ISM




>
> Kendaraan listrik,
> Kelihatannya gampang,
> Tapi listrik masih senin-kamis (alias : pulau jawa-bali
> masih kekurangan listrik : sini padam, sana padam).

> Memang "hulu"-nya dipertahankan dulu yaitu : kesinambungan
> energi ("listrik").
 Semoga DEN bisa memberikan solusi yg
> terbaik bagi energi indonesia kedepan.

>
> Powered by Telkomsel BlackBerry®
>
> -----Original Message-----
> From: Eko Prasetyo <[email protected]>
> Sender: <[email protected]>
> Date: Thu, 13 Feb 2014 13:25:42
> To: <[email protected]>
> Reply-To: [email protected]
> Subject: Re: [iagi-net] membingungkan...
> Pak Ong,
>
> Ketahanan Energi Negara sudah disandera para calo,
> dan batubara sendiri sudah jadi emas baru yang bisa membuat
> raja-raja kecil
 di daerah, yang cenderung mengekspor batu
> bara ke...China.
>
> Tapi saya setuju, kalau memang bisa bertahan 200 tahun, batu
> bara harus
 ditahan di dalam negeri dan didaya gunakan untuk
> energi.
>
> Mungkin bisa disinergikan dengan kebijakan ekstrim dalam
> soal kendaraan
 probadi: konversi ke sistem listrik atau
> paksa dengan harga bensin tinggi.
 Kendaraan listrik pun
> diprioritaskan untuk angkutan umum.
>
>
> 2014-02-13 Ong Han Ling <[email protected]>:
>
>> Teman2 IAGI,
>>
>> Kalau melihat angka2 impor minyak dari Biro Pusat Statistik
>>   dan apa yang
 dikemukan oleh Wamen ESDM, bahwa jika
>> Singapore dan Malaysia stop ekspor ke
 Indonesia 5 hari
>> kita bisa meninggal adalah sesuatu yang mengerikan.
>>
>> Kalau kita ingin meningkatkan Energy Security dan tidak
>> tergantung dari
 Singapore dan Malysia, kita harus berani
>> berkorban.
>>
>> Komposisi energy yang diusulkan oleh DEN untuk tahun 2025
>> adalah untuk
 negara kaya. Sebaiknya Indonesia berkiblat
>> pada Negara yang sedang
 berkembang seperti China dan
>> India. Kebijakan energy China tahun 2030, akan
 mamakai 70%
>> batubara, 4% gas, dan hanya 1% minyak, untuk power
>> generation.
 Bandingkan secara garis besarnya dengan
>> kebijakan DEN tahun 2025: 30%
 batubara, 22% gas, 25%
>> minyak, dan 23% alternative.
>>
>> Idonesia untuk power generation akan "impor" LNG dari
>> Bontang dan Wiryagar secara besar-besar dengan dibangunnya
>> regassing plant
 di Jakarta bay, dan rencana di Jawa
>> Tengah/Timur, Sumatra Selatan, dan
 Arun.
>> Memang udara Indonesia akan bersih, tetapi can we afford
>> it?
>>
>> LNG untuk power Generation adalah sangat mahal. Sebagai
>> perhitungan kasar.
 Pertama gas harus di liquefied,
>> $3.50/mmbtu. Diangkut ke Jakarta
 $0.50/mmbtu. Dikembalikan
>> ke gas untuk bisa dipakai di PLN Muara Karang,
>> $3.00/mmbtu. Jadi ongkos angkut gas saja dari Bontang
>> sampai di PLN Muara
 Karang adalah $8/mmbtu. Sedangkan
>> harga jual gas K3S ke PLN dipatok ESDM
 $5,80.mmbtu untuk
>> Jawa dan Sumatra.
>>
>> Pemakaian Geothermal sebagai alternative energy, adalah
>> menarik karena
 clean
>> dan tidak bisa di ekspor, hingga seyogianya dikembangkan.
>> Tapi Geothermal
 seperti minyak memerlukan minimum 10 tahun
>> untuk mendapatkan produksi yang
 berarti. Jangan diharapkan
>> produksi akan naik 400% dalam kurun waktu 11
 tahun,
>> seperti yang diusulkan DEN dan disetujui DPR.
>>
>> Dilain sisi, banyak Negara berkembang menggunakan batubara
>> kalor rendah
 untuk power generation karena harga murah.
>> Bahkan batuabara jenis lignitic
 yang kadar kalorinya hanya
>> 2000 kcal, bisa menghasilkan listrik dengan
 skala
>> besar secara ekonomis seperti di Victoria, Australia dan
>> Mamau Mines,
 Thailand. Kita tinggal meniru mereka.
>>
>> Banyak geologist percaya bahwa cadangan batubara Indonesia
>> bisa memenuhi
 kebutuhan domestik selama 200 tahun
>> berdasarkan konsumsi sekarang. Apalagi
 kalau yang dipakai
>> hanya 2000-3000 kcal. Sekarang batubara kalor rendah
 yang
>> dibuang sebagai overburden, bisa kita manfaatkan.
>>
>> Memang coal akan menimbulkan polusi. Itulah kejelekannya
>> tetapi sebagai
 Negara developing kita harus menerimanya
>> pumpung Kyoto Protocol masih
 memperbolehkan. Inilah
>> pengorbanan yang perlu diambil.
>>
>> Kalau kita tidak ingin tergantung dari Negara lain,
>> seyogianya kita pakai
 batubara kalori rendah untuk semua
>> pembangkit listrik termasuk industri.
 Sedangkan batubara
>> kalor tinggi, yang selama ini juga dipakai oleh PLN,
 hanya
>> diperuntukkan untuk  ekspor. Gas LNG juga hanya untuk
>> ekspor. Minyak
 khusus untuk transportasi.
>>
>> Salam,
>>
>> HL Ong
>>
>>
>>
>> -----Original Message-----
>> From: [email protected] [mailto:[email protected]] On
>> Behalf Of
 [email protected]
>> Sent: Wednesday, 12 February 2014 11:06 AM
>> To: [email protected]
>> Subject: Re: [iagi-net] membingungkan...
>>
>> Indonesia Ketegantungan Impor Minyak dari Singapura, Ini
>> Buktinya
 Maikel Jefriando - detikfinance
>>
>> Jakarta -Indonesia mengimpor 900.000 barel per hari minyak
>> mentah dan BBM dari total kebutuhan 1,4 juta barel per
>> hari.
>> Sebagian besar diimpor dari Singapura. Benarkah Indonesia
>> ketergantungan impor BBM dari Singapura?
>> "Apa yang terjadi kalau Singapura setop ekspor BBM ke
>> Indonesia, apa yang terjadi kalau Malaysia juga setop
>> ekspor
>> BBM ke Indonesia? 5 hari kita bisa meninggal," ungkap
>> Wakil
>> Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Susilo
>> Siswoutomo
>> akhir pekan lalu.
>> Dari data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dikutip
>> detikFinance, Selasa (11/2/2014), sepanjang 2013 lalu,
>> Indonesia mengimpor hasil minyak atau BBM dengan total US$
>> 28,56 miliar atau sekitar Rp 285 triliun, berjumlah 29,6
>> juta
>> ton. Dari jumlah itu, nilai impor BBM dari Singapura adalah
>> US$
 15,145 miliar atau sekitar Rp 151 triliun. Jumlah BBM
>> yang
>> diimpor Indonesia dari Singapura mencapai 29,6 juta ton.
>> Selain Singapura, berikut negara-negara yang BBM-nya
>> sering
>> dibeli oleh Indonesia sepanjang 2013:
>> .Malaysia, dengan nilai US$ 6,4 miliar atau Rp 64 triliun.
>> Jumlahnya 6,7 juta ton
>> .Korea Selatan, dengan nilai US$ 2,53 miliar atau sekitar
>> Rp 25
 triliun. Jumlahnya 2,7 juta ton
>> .Kuwait, dengan nilai US$ 906 juta atau sekitar Rp 9
>> triliun.
>> Jumlahnya 1,07 juta ton
>> .Arab Saudi, dengan nilai US$ 709 juta atau sekitar Rp 7
>> triliun. Jumlahnya 735 ribu ton
>> .Qatar, dengan nilai US$ 538 juta atau sekitar Rp 5
>> triliun.
>> Jumlahnya 562 ribu ton
>> .Uni Emirat Arab, dengan nilai US$ 367 juta atau sekitar Rp
>> 3
>> triliun. Jumlahnya 371 ribu ton
>> .Taiwan, dengan nilai US$ 312 juta atau sekitar Rp 3
>> triliun.
>> Jumlahnya 310 ribu ton
>> .Rusia, dengan nilai US$ 261 juta atau sekitar Rp 2
>> triliun
>> lebih. Jumlahnya 277 ribu ton
>> .China, dengan nilai US$ 257 juta atau sekitar Rp 2
>> triliun
>> lebih. Jumlahnya 245 ribu ton
>> .Sisanya dari negara lain, dengan nilai US$ 1,05 miliar
>> atau Rp
 10 triliun lebih. Jumlahnya 1,01 juta
>> ton(dnl/ang)
>>
>>
>>
>>
>>
>>
>>
>> > Sodara iagi-ers,
>> > Memang perencanaan yang dibuat harus disesuaikan dengan
>> > "kemampuan" real. Terutama untuk geotermal, sepertinya
>> > masih
>> > terbentur dengan UU kehutanan dan kata "pertambangan"
>> > yang
>> > di analog-kan oleh para penentang.  Hal ini terjadi di
>> > daerah WKP tangkuban perahu, belum apa-apa Walhi sudah
>> > protes ngg jelas, dan cenderung membabi buta.  Mereka
>> > tidak
>> > bisa membedakan antara WKP, P=Pertambangan dengan P =
>> > Pengeboran Panasbumi. dan Walhi menyebutkan bahwa panas
>> > bumi
>> > menghasilkan gas (?), padahal yang kita cari adalah uap
>> > (=steam). Begitu juga yang terjadi di Sarella, hiruk
>> > pikuk
>> > "protes" lebih di dominasi masalah "kami" tidak mendapat
>> > kesempatan kerja, alias masalah sosial-ekonomi, bukan
>> > masalah teknis.
>> > Ternyata merubah paradigma menjadi PR kita bersama untuk
>> > menjamin program yang dibuat akan berjalan seperti yang
>> > direncanakan.
>> >
>> > Go Green Energy
>> > Sustainable development
>> >
>> > *Rahmawan Helmi*
>> > GeologistNPA3541
>> > GeoUnpad-MIG89
>> > Geotermal.ITB-2011
>> > DisESDM.ProvJabar
>> > +62 853 9542 0580
>> >
>> >
>> > Pada 11 Februari 2014 08.43, Yanto R. Sumantri
>> > <[email protected]> menulis:
>> >
>> >>
>> >> Pak HL Ong ysh dan rekan IAGI netters
>> >>
>> >> Salah satu tugas KEN dan juga DEN saat INI , adalah
>> >> melakukan pengkajian mengenai seberapa target sudah
>> >> dicapai
>> >> SAAT INI , Pelajari dengan jujur secara tekno -
>> >> ekonomik
>> >> dan peraturan "Apa saja yang menjadi kendala". Sebagai
>> >> prakatisi , saya mengalami peraturan peraturan yang ada
>> >> saat ini TIDAK memberikan atmosfoir yang
>> >> memberikanudara
>> >> segar kepada  perusahaan yang bergerak didalam
>> >> ekstraksi
>> >> sumber daya alam.
>> >> Terus terang terlalu banyak "raja raja kecil" dan
>> >> peraturan
>> >> yang overlaped.
>> >>
>> >> Kembali ke laptop , hanya dengan cara yang jujur dan
>> >> evaluasi teknis yang benar benar didasarkan atas
>> >> pengetahuan ( termasuk pengetahuan dasar mengenai
>> >> keberadaan sumber energi khususnya non renewable yi
>> >> geologi) ,teknologi reservoir , drilling dsb ,  dapat
>> >> ditemukan dasar yang kokoh untuk melakukan langkah
>> >> langkah
>> >> kedepan.
>> >>
>> >> Saya mabil contoh : CBM . Dari sejak awal saya melihat
>> >> bahwa spertinya kita melangkah kearah eksploitasi CBM
>> >> tanpa
>> >> sesuatu kerangka pemikiran yang kokoh.
>> >> Apakah status CBM saat ini ? Sukses kah ? Gagal kah ?
>> >> Belum
>> >> ada  informasi yang dapat kita pakai sebagai bahan
>> >> pemikiran . Bahkan diantara para profesional sekalipun
>> >> !!!
>> >>
>> >> Kemudian ada pemikiran lagi shale gas yang sukses di
>> >> USA
>> >> sana , apakah Indonesia akan cocok untuk pengembangan
>> >> shale
>> >> gas ? Saya belum tahu ,mungkin ada teman yang mempunyai
>> >> panangan ?
>> >>
>> >>
>> >>
>> >> Jadi tanpa perencanaan , kemudian evaluasi ,
>> >> merencanakan
>> >> kembali dst maka saya pesimis bahwa kebijakan "energy
>> >> mixed" Indonesia akan memberikan hasil yang sesuai
>> >> dengan
>> >> harapan kita semua.
>> >>
>> >> Semoga kehawatiran saya ini tidak terjadi .
>> >>
>> >> si Abah
>> >>
>> >>
>> >>   On Tuesday, February 11, 2014 6:58 AM,
>> >>   "[email protected]" <
>> >> [email protected]> wrote:
>> >>
>> >> Mencermati ulasan pak Ong memang dirasakan KEN disusun
>> >> tergesa-gesa. Salah satu driver kebutuhan energi adalah
>> >> pertumbuhan ekonomi dan pertumbuhan penduduk. Dirasakan
>> >> era
>> >> harga minyak & gas murah telah berakhir, maka
>> >> penggunaan
>> >> minyak & gas dalam memenuhi kebutuhan energi kita
>> >> memerlukan biaya tinggi (energi biaya tinggi). Inilah
>> >> peduli pak Ong dengan sebutan "komposisi energi"
>> >> bergaya
>> >> negara kaya.
>> >> Pada saat volume bbm bersubsidi dikurangi, begitu cepat
>> >> pasokan bbm industri beralih ke gas, kebutuhan gas
>> >> dalam
>> >> negeri meningkat pesat sementara pasokan tak mencukupi
>> >> maka
>> >> harga gas naik drastis. Untuk memenuhi kebutuhan gas
>> >> dibangun infrastruktur termasuk FSRU (floating storage
>> >> regasification unit).
>> >> Dirasakan dalam menyusun KEN, sangat kurang
>> >> mempertimbangkan melimpahnya cadangan batubara.
>> >> Prosentase minyak masih tinggi padahal produksi sendiri
>> >> tak
>> >> bisa mencukupi, berarti harus impor, maka importir
>> >> minyak
>> >> dan bbm sangat diuntungkan.
>> >> Dengan membangun infrastruktur maka banyak proyek
>> >> (project
>> >> oriented) untuk menyalurkan gas ke konsumen, sementara
>> >> gas
>> >> DN diekspor, 40% gas Tangguh train tiga sudah
>> >> dialokasikan
>> >> pemerintah untuk ekspor, bisa-bisa kalau tak impor gas
>> >> FSRU
>> >> yg dibangun hanya bisa terisi separuh (idle capacity).
>> >> Disisi lain batubara ditambang secara sporadis dan
>> >> diekspor.
>> >>
>> >> Saya sependapat dengan pendapat pak Ong bahwa KEN yang
>> >> telah disetujui adalah energi biaya tinggi "tidak fit"
>> >> dengan negara kita yang kaya akan energi yang lebih
>> >> murah.
>> >> Mengenai energi alternatif melihat yang sudah
>> >> dilaksanakan
>> >> koq belum memunculkan optimisme. Contohnya CBM yang
>> >> di-declare onstream @ 2011, realisasinya semu. Begitu
>> >> juga
>> >> shale gas.
>> >> Komposisi energi dalam KEN yang telah disetujui tidak
>> >> logis
>> >> ditinjau dari sudut kemandirian energi karena akan
>> >> bertumpu
>> >> pada energi impor. Energi dipandang sebagai komoditi
>> >> ekonomi, bukan dipandang sebagai komoditi vital dan
>> >> strategis. Barangkali Banyak kepentingan/interest yang
>> >> mencampuri penyusunan KEN.
>> >>
>> >> Apakah organisasi seperti IAGI/HAGI/IATMI, dsb mampu
>> >> menolak dan merubah arah KEN tsb ? Apapun hasil upaya
>> >> untuk
>> >> merubah KEN ada baiknya ada upaya yang dilakukan.
>> >>
>> >>
>> >> Salam,
>> >> LTH
>> >>
>> >> Sent from my BlackBerry(R)
>> >> powered by Sinyal Kuat INDOSAT
>> >> ------------------------------
>> >> *From: * Ong Han Ling <[email protected]>
>> >> *Sender: * <[email protected]>
>> >> *Date: *Mon, 10 Feb 2014 19:24:23 +0700
>> >> *To: *<[email protected]>
>> >> *ReplyTo: * [email protected]
>> >> *Subject: *RE: [iagi-net] membingungkan...
>> >>
>> >>  Maaf, saya kirim ulang via email biasa bukan
>> >>  attachment.
>> >>
>> >> HL Ong
>> >>
>> >> Teman2 IAGI,                                   Februari
>> >> 9,
>> >> 2014. Tulisan Kompas ttg. rancangan Peraturan
>> >> Pemerintah
>> >> tentang Kebijakan Energy Nasional (PP KEN) yang disusun
>> >> Dewan Energy Nasional (DEN) dan disetujui DPR 28/1/2014
>> >> perlu dibahas karena pentingnya bagi kita semua. Dua
>> >> hal
>> >> yang menjadi persoalan jika PP KEN dilaksanakan adalah
>> >> perihal besarnya prosentase dari  commoditas dan
>> >> tentang
>> >> focus dan prioritas yang diberikan kepada alternative
>> >> energy.
>> >>
>> >> *Komposisi dari commodity energy dalam PP KEN
>> >> menyerupai
>> >> Negara kaya. * Target dari PP KEN untuk tahun 2025
>> >> adalah
>> >> pemakaian Oil 25%, Coal 30%, Gas 22%, dan Energy Baru
>> >> dan
>> >> Terbarukan atau Alternative Energy 23%. Besarnya
>> >> prosentase
>> >> commodity PP KEN menyerupai Negara kaya seperti US dan
>> >> Europe. Untuk tahun 2025, coal yang murah hanya dipakai
>> >> 30%
>> >> sedangkan minyak yang perlu disubsidi sampai 25%.
>> >> Bandingkan dengan China yang  pada tahun 2030 akan
>> >> memakai
>> >> coal sebesar 70% sedangkan minyak plus gas ditekan
>> >> sampai
>> >> 5% untuk pembangkit listriknya.
>> >> Indonesia dilain pihak akan menggunakan gas LNG dalam
>> >> skala
>> >> besar untuk power generation. Regassing plant telah
>> >> beroperasi di Teluk Jakarta. Rencana berikutnya adalah
>> >> di
>> >> Jawa Tengah atau Jawa Timur, Sumatra Selatan, dan Arun
>> >> dengan  menjagakan supply LNG dari Badak dan dari
>> >> Wiryagar.
>> >> Ini tidak masuk akal samasekali karena harganya sangat
>> >> mahal. Seharusnya DEN, IAGI, IATMI, atau siapapun harus
>> >> mencegah hal ini.
>> >> Coal adalah energy paling murah. Di Indonesia Biaya
>> >> Pokok
>> >> Produksi (BPP) PLN untuk tahun 2010 dengan mengunakan
>> >> coal
>> >> harga pasar dunia cuma Rp.450/kwh dibandingkan dengan
>> >> solar
>> >> dan gas alam yang disubsidi harganya jauh lebih besar,
>> >> yaitu Rp. 1,800/kwh dan Rp.800/kwh. Harga solar dan gas
>> >> akan naik 20-30% kalau subsidi dihilangkan.
>> >> Sebagai pembanding, produksi coal China 3X dan India
>> >> hampir2X dari produksi batubara Indonesia. Namun China
>> >> dan
>> >> India masih perlu import coal dari Indonesia. Indonesia
>> >> bangga sebagai "the biggest thermal coal exporter in
>> >> the
>> >> world". Indonesia bangga pakai clean energy, yaitu gas
>> >> alam
>> >> dan alternative energy, yang cukup besar. Namun apakah
>> >> Indonesia siap untuk membayar "clean energy"?
>> >> Jawabannya
>> >> belum karena terlalu mahal.
>> >> Kita harus meniru China dan India, memakai coal dalam
>> >> semua
>> >> pembangkit istrik. Memang beberapa kota di China
>> >> terkena
>> >> smog yang parah karena pemakain coal yang berlebihan.
>> >> Tapi
>> >> diain pihak, pemakaian coal yang sangat murah merupakan
>> >> pemacu untuk kemajuan industrinya. Sekarang setelah
>> >> China
>> >> maju, baru kota-kota mulai dibersihkan (lih.  Beijing
>> >> waktu
>> >> Olimpics). Indonesia seyogianya harus pakai low rank
>> >> coal
>> >> dalam semua pembangkit listriknya. Coal diatas 4,500
>> >> kalori
>> >> diekspor. Bukan sekarang dimana low kalori coal perlu
>> >> di
>> >> ditingkatakan sebelum di ekspor. Suatu kebijakan yang
>> >> keliru.
>> >> Perlu diketahui bahwa coal Indonesia "relatively
>> >> clean".
>> >> Kebanyakan batubara Indonesia adalah thermal coal
>> >> dengan
>> >> moisture tinggi tetapi rendah kadar  ash dan belerang.
>> >> Selain itu, kebuthan energy  terbesar adalah di Jawa
>> >> dan
>> >> Bali, yang merupakan kepulauan didaerah tropis. Asap
>> >> dari
>> >> pembangkit listrik bisa lewat dengan cepat dan hujan
>> >> tropis
>> >>  akan membersihkannya. Contoh adalah Cilacap refinery
>> >>  yang
>> >> menerima crude dari Middle East yang ditolak
>> >> dimana-mana
>> >> karena kadar belerang. Penduduk sekitarnya tidak ada
>> >> yang
>> >> complaint. Tidak demikian dengan China, asap yang
>> >> keluar
>> >> berputar-putar di pedalaman.
>> >> Indonesia seperti China dan India masih diperkenankan,
>> >> berdasarkn Kyoto Protocol, untuk mengotori udara. Kita
>> >> harus memanfaatkan kesempatan ini.
>> >>
>> >> *Keputusan DEN memberikan prioristas kepada alternative
>> >> energy perlu dikaji kembali. *
>> >> PP KEN baru men-targetkan kenaikan alternative energy
>> >> dari
>> >> sekarang 6%, menjadi 23% ditahun 2025 dan 31% ditahun
>> >> 2050,
>> >> kenaikan luar biasa sampai 4-5 kali hanya dalam kurun
>> >> waktu
>> >> 11 tahun, sesuatu yang tidak masuk akal untuk suatu
>> >> resource industry.
>> >> Indonesia bukan kecualian. Puluhan produsen migas
>> >> didunia
>> >> bernasib sama seperti Indonesia. Minyak  mulai
>> >> "depleted"
>> >> sedangkan kemajuan ekonomi, menyebabkan konsumsi
>> >> domestic
>> >> naik exponentially. Terjadilah "gap" yang makin lama
>> >> makin
>> >> besar.
>> >> Suatu badan independent, The Association for the Study
>> >> of
>> >> Peak Oil atau ASPO, yang anggotanya adalah orang2
>> >> independent terutama akademisi dari 31 Negara, memberi
>> >> anjuran  tentang strategi yang perlu diambil dengan
>> >> adanya
>> >> "gap" yang membesar.  Studi dari ASPO menjimpulkan
>> >> suatu
>> >> strategi energy berdasarkan empat prioritas. Prioritas
>> >> ke-4
>> >> atau terakir adalah Alternative Energy.
>> >> Sedangkan PP KEN , memprioritaskan Alternative Energy
>> >> sebagai prioritas pertama dengan menaikkannya sampai
>> >> 4-5
>> >> kali dari sebelumnya. Ini bertentangan dengan
>> >> "guidance"
>> >> dari ASPO.
>> >> Textbook karangan David MacKay "Sustainable Energy
>> >> without
>> >> the hot air"
>> >>  adalah buku yang mengambarkan kesalahan persepsi dari
>> >>  banyak orang tentang
>> >> sustainable (alternative) energy. Buku ini bisa di
>> >> download
>> >> free. MacKay mengambarkan sangat besarnya lahan yang
>> >> diperlukan untuk mengembangkan alternative energy
>> >> seperti
>> >> matahari, onshore dan offshore wind farms, hydro,
>> >> biomass,
>> >> wave, tide, dll. Sedangkan kebutuhan energy dalam
>> >> jumlah
>> >> besar di Indonesia  terbatas di Jawa dan Bali yang
>> >> lahannya
>> >> mahal sekali hingga alternative energy sukar
>> >> berkembang.
>> >> Negara maju di Eropa, Canada dan akir-akir ini
>> >> Australia
>> >> telah meng-adopsi Kyoto Protocol dimana emisisi CO2,
>> >> adalah
>> >> penyebab "Global Warming", dan perlu dibatasi. Amerika
>> >> Serikat punya US Clean Air Act. Dengan adanya "Global
>> >> warming", Negara kaya yang selama puluhan tahun telah
>> >> emisi
>> >> CO2, wajib membersihkan dengan mengembangkan
>> >> alternative
>> >> energy yang
>> >> "sustainable" atau yang emisi CO2 kecil. Meskipun
>> >> memang
>> >> ada  kemajuan yang pesat dalam pengembangan alternative
>> >> energy oleh Negara-negara maju, seperti wind energy di
>> >> Germany dan Denmark, namun sampai sekarang mereka masih
>> >> sangat mahal dan perlu di disubsidi oleh Negaranya
>> >> hingga
>> >> dibentuk carbon credit dipasar bebas Eropa.
>> >> Indonesia secara agresif ingin mengembangkan
>> >> alternative
>> >> energy mengikuti jejak Negara kaya dengan dalih energy
>> >> migas Indonesia sudah terkuras dan coal mengotori
>> >> udara.
>> >> Indonesia tidak diminta tetapi ingin "sok green".
>> >> Pertanyaan adalah apakah kita tahu  biayanya untuk
>> >> "green"
>> >> dan apakah kita sangup membayarnya?
>> >> Amerika Serikat berkiblat pada US clean air act, dan
>> >> tidak
>> >> mau
>> >> menandatangani Kyoto Protocol meskipun dapat tekanan
>> >> dari
>> >> seluruh dunia dan Copenhagen meeting secara jelas
>> >> menyalahkan global warming adalah tingkah laku manusia.
>> >> Amerika menganaggap Kyoto Protocol terlalu mahal dan
>> >> akan
>> >> menghalangi kemajuan ekonominya.  Canada memberi
>> >> aba-aba
>> >> ingin keluar dari Kyoto Protocol karena dengan harga
>> >> energy
>> >> yang mahal, mineral resources mereka tidak dapat
>> >> dikembangkan. Australia yang akan menutup beberapa coal
>> >> generating power plant karena polusi, sekarang berpikir
>> >> balik karena dibeberapa daerah, daya beli masyarakat
>> >> rendah. Artinya, "green" itu  mahal sekali dan
>> >> sebaiknya
>> >> Indonesia jangan ikut-ikutan.
>> >> Indonesia memang perlu ngomong "green" supaya tidak
>> >> dimusuhi Negara lain. Tapi jangan ikut melaksanakan
>> >> "green"
>> >> karena masih terlalu mahal. Indonesia mempunyai
>> >> beberapa
>> >> option untuk mengurangi suibsidi BBM. Option yang
>> >> diambil
>> >> oleh PP KEN adalah membesarkan alternative energy,
>> >> suatu
>> >> "unchartered territory" kalau dibandingkan dengan migas
>> >> yang telah kita tekuni lebih dari satu abad. Memang,
>> >> alternative energy seperti biodiesel, geothermal, CBM,
>> >> dsb.
>> >> perlu ditanggapi secara serious, tetapi tidak perlu
>> >> diutamakan dengan menaikkan dari 6% menjadi 4 sampai 5
>> >> kali
>> >>  liapat. Apakah tidak sebaiknya kita meninjau kembali
>> >> potensi migas kita yang telah kita tekuni dan betul2
>> >> kita
>> >> ketahui ada cadangannya tinggal applikasi teknologi
>> >> yang
>> >> memadai?
>> >> Sebagai akir kata, saya ingin mengemukakan tentang
>> >> batubara
>> >> Indonesia. Memang menggunakan batubara menyebabakan
>> >> pengotoran udara yang cukup parah. Namun Jawa/Bali
>> >> adalah
>> >> pulau di daerah tropis, hujan dan angin akan
>> >> membersihkannya. Dalam keadaan sekarang, coal mempunyai
>> >> potential paling besar untuk dikembangkan. Marilah kita
>> >> memanfaatkan batubara kalori rendah yang cadangannya
>> >> terjamin, berlimpah sampai 200 tahun,  berrisiko
>> >> rendah,
>> >> relative bersih, harga murah, bisa bersaing di pasar
>> >> International, diperkenankan oleh Kyoto Protocol, dan
>> >> pengolahannya relative murah, tinggal carigali.
>> >> Salam,
>> >> HL Ong
>> >>
>> >>
>> >>  *From:* [email protected]
>> >>  [mailto:[email protected]]
>> >>  *On Behalf Of *Isamail
>> >> Zaini
>> >> *Sent:* Monday, 10 February 2014 6:14 PM
>> >> *To:* [email protected]
>> >> *Subject:* RE: [iagi-net] membingungkan...
>> >>
>> >> Kayaknya millist ini tidak bisa ngirimkan attachment -
>> >> nya
>> >> ya
>> >>
>> >> ISM
>> >>
>> >>
>> >>  *From:* [email protected]
>> >>  [mailto:[email protected]]
>> >>  *On Behalf Of *Ong
>> >> Han Ling
>> >> *Sent:* 10 February 2014 16:35
>> >> *To:* [email protected]
>> >> *Subject:* RE: [iagi-net] membingungkan...
>> >>
>> >> Maaf saya kirim kembali attachment-nya
>> >>
>> >>  *From:* [email protected]
>> >>  [mailto:[email protected]<[email protected]>]
>> >> *On Behalf Of *[email protected]
>> >> *Sent:* Monday, 10 February 2014 3:28 PM
>> >> *To:* [email protected]
>> >> *Subject:* Re: [iagi-net] membingungkan...
>> >>
>> >> Kayaknya lampiranya tidak ikut.
>> >>
>> >> Pada PP tsb target kedepan 2025 dalam energy mix
>> >> penggunaan
>> >> minyak berkurang dari 49% menjadi 25 % disisi lain gas
>> >> minimal 22 % { saat ini kira kira 50 % dari total
>> >> produksinya } batubara 30 % { saat ini hanya 25% dari
>> >> total
>> >> produksinya } yg paling besar peningkatannya Energi
>> >> terbarukan yg didalamnya ada Geothermal mejadi 23 %
>> >> dari
>> >> target sebelumnya hanya 6 % di KEN 2006 {saat ini hanya
>> >> 3%
>> >> }. Pertanyanya target tsb apakah cukup realistik dg
>> >> kondisi
>> >> saat ini ? Ditengah lesunya investasi dibidang ekplorasi
>> >> ,
>> >> langkah langkah apa yg perlu dilakukan secara konsisten
>> >> untuk mencapai target tsb dalam 10 thn kedepan ini {2025
>> >> }
>> >> ini tugasnya DEN dg Pemerintah baru kedepan atau malah
>> >> akan
>> >> dilakukan revisi PP KEN tsb .
>> >>
>> >> Dlm PP tsb prioritas pengembangan energi
>> >> mempertimbangkan
>> >> kesimbangan keekonomian , keamanan pasokan ,
>> >> pelestarian
>> >> fungsi lingkungan dan diprioritaskan untuk memenuhi
>> >> kebutuhan dalam negeri oleh kerena itu ekpor dikurangi
>> >> bahkan di tiadakan, untuk memenuhi komitmen ini
>> >> tentunya
>> >> kebijakan dalam industri energi spt migas dan batubara
>> >> akan
>> >> berubah terutama dlm hal meminimalkan ekpor sampai nol
>> >> persen, Pertanyaannya bagaimana dg komitmen ekpor
>> >> jangka
>> >> panjang yg sdh ada apakah perlu penyusaian kembali spt
>> >> halnya di ekpor bahan mineral { adanya larangan ekpor
>> >> bahan
>> >> mentah } , ini semua harus direncanakan dg matang dan
>> >> dituangkan dalam Rencana Umum Energi Nasional yg akan
>> >> dibuat oleh Den baru dg pemerintah sbg kelanjutannya
>> >> dari
>> >> KEN
>> >> Selanjutnya Den baru juga harus mengawal { fungsi
>> >> pengendalian dan pengawanan
>> >> Thd implemenmtasi dari KEN tsb kususnya bagaimana
>> >> penjabarannya ditiap sektoral yg biasanya saling
>> >> tumpang
>> >> tindih dg ego sektoralnya masing masing , inilah
>> >> tantangan
>> >> Den baru nantinya apakah bisa mencapai target traget yg
>> >> telah dibuatnya sendiri tsb
>> >>  Powered by Telkomsel BlackBerry(R)
>> >>  ------------------------------
>> >>  *From: *Ong Han Ling <[email protected]>
>> >>  *Sender: *<[email protected]>
>> >>  *Date: *Mon, 10 Feb 2014 13:54:18 +0700
>> >>  *To: *<[email protected]>
>> >>  *ReplyTo: *[email protected]
>> >>  *Subject: *RE: [iagi-net] membingungkan...
>> >>
>> >>  Teman2 IAGI,
>> >>
>> >> Tulisan Kompas ttg. rancangan Peraturan Pemerintah
>> >> tentang
>> >> Kebijakan Energy Nasional (PP KEN) yang disusun Dewan
>> >> Energy Nasional (DEN)dan disetujui DPR 28/1/2014 perlu
>> >> diberi comment dan dibahas karena pentingnya bagi kita
>> >> semua.
>> >>
>> >> Saya ingin memberikan response terhadap PP KEN yang
>> >> baru.
>> >> Namun karena tulisan agak panjang dan untuk mempermudah
>> >> pembaca dan juga karena tidak semua anggota berminat,
>> >> saya
>> >> sampaikan sebagai attachment.
>> >>
>> >> Coment Anda saya hargai, terutama untuk diskusi
>> >> mengingat
>> >> pentingnya kebijakan energy yang efeknya baru setelah
>> >> 10
>> >> tahun lagi terlihat. Seperti sekarang kemacetan dan
>> >> kebanjiran dimana-mana adalah hasil penundaan membangun
>> >> tol
>> >> road dan banjir kanaal yang sudah direncanakan 10 -15
>> >> tahun
>> >> lalu.
>> >>
>> >> Salam,
>> >>
>> >> HL Ong
>> >>
>> >> ----------------------------------------------------
>> >> Siapkan waktu PIT IAGI ke-43
>> >> Mark your date 43rd IAGI Annual Convention & Exhibition
>> >> JAKARTA,15-18 September 2014
>> >> ----------------------------------------------------
>> >> Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
>> >> Hubungi Kami: http://www.iagi.or.id/contact
>> >> ----------------------------------------------------
>> >> Iuran tahunan Rp.250.000,- (profesional) dan
>> >> Rp.100.000,-
>> >> (mahasiswa) Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
>> >> Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
>> >> No. Rek: 123 0085005314
>> >> Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
>> >> Bank BCA KCP. Manara Mulia
>> >> No. Rekening: 255-1088580
>> >> A/n: Shinta Damayanti
>> >> ----------------------------------------------------
>> >> Subscribe: [email protected]
>> >> Unsubscribe: [email protected]
>> >> ----------------------------------------------------
>> >> DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard
>> >> to
>> >> information posted on its mailing lists, whether posted
>> >> by
>> >> IAGI or others.
>> >> In no event shall IAGI or its members be liable for
>> >> any,
>> >> including but not limited
>> >> to direct or indirect damages, or damages of any kind
>> >> whatsoever, resulting
>> >> from loss of use, data or profits, arising out of or in
>> >> connection with the use of
>> >> any information posted on IAGI mailing list.
>> >> ----------------------------------------------------
>> >>
>> >> ----------------------------------------------------
>> >> Siapkan waktu PIT IAGI ke-43
>> >> Mark your date 43rd IAGI Annual Convention & Exhibition
>> >> JAKARTA,15-18 September 2014
>> >> ----------------------------------------------------
>> >> Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
>> >> Hubungi Kami: http://www.iagi.or.id/contact
>> >> ----------------------------------------------------
>> >> Iuran tahunan Rp.250.000,- (profesional) dan
>> >> Rp.100.000,-
>> >> (mahasiswa) Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
>> >> Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
>> >> No. Rek: 123 0085005314
>> >> Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
>> >> Bank BCA KCP. Manara Mulia
>> >> No. Rekening: 255-1088580
>> >> A/n: Shinta Damayanti
>> >> ----------------------------------------------------
>> >> Subscribe: [email protected]
>> >> Unsubscribe: [email protected]
>> >> ----------------------------------------------------
>> >> DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard
>> >> to
>> >> information posted on its mailing lists, whether posted
>> >> by
>> >> IAGI or others.
>> >> In no event shall IAGI or its members be liable for
>> >> any,
>> >> including but not limited
>> >> to direct or indirect damages, or damages of any kind
>> >> whatsoever, resulting
>> >> from loss of use, data or profits, arising out of or in
>> >> connection with the use of
>> >> any information posted on IAGI mailing list.
>> >> ----------------------------------------------------
>> >>
>> >> ----------------------------------------------------
>> >> Siapkan waktu PIT IAGI ke-43
>> >> Mark your date 43rd IAGI Annual Convention & Exhibition
>> >> JAKARTA,15-18 September 2014
>> >> ----------------------------------------------------
>> >> Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
>> >> Hubungi Kami: http://www.iagi.or.id/contact
>> >> ----------------------------------------------------
>> >> Iuran tahunan Rp.250.000,- (profesional) dan
>> >> Rp.100.000,-
>> >> (mahasiswa) Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
>> >> Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
>> >> No. Rek: 123 0085005314
>> >> Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
>> >> Bank BCA KCP. Manara Mulia
>> >> No. Rekening: 255-1088580
>> >> A/n: Shinta Damayanti
>> >> ----------------------------------------------------
>> >> Subscribe: [email protected]
>> >> Unsubscribe: [email protected]
>> >> ----------------------------------------------------
>> >> DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard
>> >> to
>> >> information posted on its mailing lists, whether posted
>> >> by
>> >> IAGI or others.
>> >> In no event shall IAGI or its members be liable for
>> >> any,
>> >> including but not limited
>> >> to direct or indirect damages, or damages of any kind
>> >> whatsoever, resulting
>> >> from loss of use, data or profits, arising out of or in
>> >> connection with the use of
>> >> any information posted on IAGI mailing list.
>> >> ----------------------------------------------------
>> >>
>> >> ----------------------------------------------------
>> >> Siapkan waktu PIT IAGI ke-43
>> >> Mark your date 43rd IAGI Annual Convention & Exhibition
>> >> JAKARTA,15-18 September 2014
>> >> ----------------------------------------------------
>> >> Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
>> >> Hubungi Kami: http://www.iagi.or.id/contact
>> >> ----------------------------------------------------
>> >> Iuran tahunan Rp.250.000,- (profesional) dan
>> >> Rp.100.000,-
>> >> (mahasiswa) Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
>> >> Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
>> >> No. Rek: 123 0085005314
>> >> Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
>> >> Bank BCA KCP. Manara Mulia
>> >> No. Rekening: 255-1088580
>> >> A/n: Shinta Damayanti
>> >> ----------------------------------------------------
>> >> Subscribe: [email protected]
>> >> Unsubscribe: [email protected]
>> >> ----------------------------------------------------
>> >> DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard
>> >> to
>> >> information posted on its mailing lists, whether posted
>> >> by
>> >> IAGI or others.
>> >> In no event shall IAGI or its members be liable for
>> >> any,
>> >> including but not limited
>> >> to direct or indirect damages, or damages of any kind
>> >> whatsoever, resulting
>> >> from loss of use, data or profits, arising out of or in
>> >> connection with the use of
>> >> any information posted on IAGI mailing list.
>> >> ----------------------------------------------------
>> >>
>> >>
>> >>
>> >>
>> >> ----------------------------------------------------
>> >> Siapkan waktu PIT IAGI ke-43
>> >> Mark your date 43rd IAGI Annual Convention & Exhibition
>> >> JAKARTA,15-18 September 2014
>> >> ----------------------------------------------------
>> >> Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
>> >> Hubungi Kami: http://www.iagi.or.id/contact
>> >> ----------------------------------------------------
>> >> Iuran tahunan Rp.250.000,- (profesional) dan
>> >> Rp.100.000,-
>> >> (mahasiswa) Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
>> >> Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
>> >> No. Rek: 123 0085005314
>> >> Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
>> >> Bank BCA KCP. Manara Mulia
>> >> No. Rekening: 255-1088580
>> >> A/n: Shinta Damayanti
>> >> ----------------------------------------------------
>> >> Subscribe: [email protected]
>> >> Unsubscribe: [email protected]
>> >> ----------------------------------------------------
>> >> DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard
>> >> to
>> >> information posted on its mailing lists, whether posted
>> >> by
>> >> IAGI or others.
>> >> In no event shall IAGI or its members be liable for
>> >> any,
>> >> including but not limited
>> >> to direct or indirect damages, or damages of any kind
>> >> whatsoever, resulting
>> >> from loss of use, data or profits, arising out of or in
>> >> connection with the use of
>> >> any information posted on IAGI mailing list.
>> >> ----------------------------------------------------
>> >>
>> >>
>> >
>> > ----------------------------------------------------
>> > Siapkan waktu PIT IAGI ke-43
>> > Mark your date 43rd IAGI Annual Convention & Exhibition
>> > JAKARTA,15-18 September 2014
>> > ----------------------------------------------------
>> > Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
>> > Hubungi Kami: http://www.iagi.or.id/contact
>> > ----------------------------------------------------
>> > Iuran tahunan Rp.250.000,- (profesional) dan
>> > Rp.100.000,-
>> > (mahasiswa) Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
>> > Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
>> > No. Rek: 123 0085005314
>> > Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
>> > Bank BCA KCP. Manara Mulia
>> > No. Rekening: 255-1088580
>> > A/n: Shinta Damayanti
>> > ----------------------------------------------------
>> > Subscribe: [email protected]
>> > Unsubscribe: [email protected]
>> > ----------------------------------------------------
>> > DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to
>> > information  posted on its mailing lists, whether posted
>> > by
>> > IAGI or others.
>> > In no event shall IAGI or its members be liable for any,
>> > including but not limited to direct or indirect damages,
>> > or
>> > damages of any kind whatsoever, resulting  from loss of
>> > use,
>> > data or profits, arising out of or in connection with
>> > the
>> > use of  any information posted on IAGI mailing list.
>> > ----------------------------------------------------
>>
>>
>>
>> ___________________________________________________________
>> indomail - Your everyday mail -
>> http://indomail.indo.net.id
>>
>>
>> ----------------------------------------------------
>> Siapkan waktu PIT IAGI ke-43
>> Mark your date 43rd IAGI Annual Convention & Exhibition
>> JAKARTA,15-18 September 2014
>> ----------------------------------------------------
>> Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
>> Hubungi Kami: http://www.iagi.or.id/contact
>> ----------------------------------------------------
>> Iuran tahunan Rp.250.000,- (profesional) dan Rp.100.000,-
>> (mahasiswa)
 Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
>> Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
>> No. Rek: 123 0085005314
>> Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
>> Bank BCA KCP. Manara Mulia
>> No. Rekening: 255-1088580
>> A/n: Shinta Damayanti
>> ----------------------------------------------------
>> Subscribe: [email protected]
>> Unsubscribe: [email protected]
>> ----------------------------------------------------
>> DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to
>> information
 posted on its mailing lists, whether posted by
>> IAGI or others.
>> In no event shall IAGI or its members be liable for any,
>> including but not
 limited
>> to direct or indirect damages, or damages of any kind
>> whatsoever, resulting
 from loss of use, data or profits,
>> arising out of or in connection with the
 use of
>> any information posted on IAGI mailing list.
>> ----------------------------------------------------
>>
>> ----------------------------------------------------
>> Siapkan waktu PIT IAGI ke-43
>> Mark your date 43rd IAGI Annual Convention & Exhibition
>> JAKARTA,15-18 September 2014
>> ----------------------------------------------------
>> Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
>> Hubungi Kami: http://www.iagi.or.id/contact
>> ----------------------------------------------------
>> Iuran tahunan Rp.250.000,- (profesional) dan Rp.100.000,-
>> (mahasiswa)
 Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
>> Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
>> No. Rek: 123 0085005314
>> Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
>> Bank BCA KCP. Manara Mulia
>> No. Rekening: 255-1088580
>> A/n: Shinta Damayanti
>> ----------------------------------------------------
>> Subscribe: [email protected]
>> Unsubscribe: [email protected]
>> ----------------------------------------------------
>> DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to
>> information
 posted on its mailing lists, whether posted by
>> IAGI or others.
>> In no event shall IAGI or its members be liable for any,
>> including but not
 limited
>> to direct or indirect damages, or damages of any kind
>> whatsoever, resulting
 from loss of use, data or profits,
>> arising out of or in connection with
 the use of
>> any information posted on IAGI mailing list.
>> ----------------------------------------------------
>>
>
>
>
> --
> Visit http://www.strivearth.com and be entertained
>
> ----------------------------------------------------
> Siapkan waktu PIT IAGI ke-43
> Mark your date 43rd IAGI Annual Convention & Exhibition
> JAKARTA,15-18 September 2014
> ----------------------------------------------------
> Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
> Hubungi Kami: http://www.iagi.or.id/contact
> ----------------------------------------------------
> Iuran tahunan Rp.250.000,- (profesional) dan Rp.100.000,-
> (mahasiswa)
 Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
> Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
> No. Rek: 123 0085005314
> Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
> Bank BCA KCP. Manara Mulia
> No. Rekening: 255-1088580
> A/n: Shinta Damayanti
> ----------------------------------------------------
> Subscribe: [email protected]
> Unsubscribe: [email protected]
> ----------------------------------------------------
> DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to
> information
 posted on its mailing lists, whether posted by
> IAGI or others.
> In no event shall IAGI or its members be liable for any,
> including but not limited
 to direct or indirect damages, or
> damages of any kind whatsoever, resulting
 from loss of
> use, data or profits, arising out of or in connection with
> the use of
 any information posted on IAGI mailing list.
> ----------------------------------------------------



___________________________________________________________
indomail - Your everyday mail - http://indomail.indo.net.id


----------------------------------------------------
Siapkan waktu PIT IAGI ke-43
Mark your date 43rd IAGI Annual Convention & Exhibition
JAKARTA,15-18 September 2014
----------------------------------------------------
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Hubungi Kami: http://www.iagi.or.id/contact
----------------------------------------------------
Iuran tahunan Rp.250.000,- (profesional) dan Rp.100.000,- (mahasiswa)
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
----------------------------------------------------
Subscribe: [email protected]
Unsubscribe: [email protected]
----------------------------------------------------
DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to information 
posted on its mailing lists, whether posted by IAGI or others. 
In no event shall IAGI or its members be liable for any, including but not 
limited
to direct or indirect damages, or damages of any kind whatsoever, resulting 
from loss of use, data or profits, arising out of or in connection with the use 
of 
any information posted on IAGI mailing list.
----------------------------------------------------

Kirim email ke