Omong omong ttg Buku Putih tentunya ada Buku Hitamnya yg perlu
diklarifikasi dg Buku Putih. Kira kira isu isu apa saja yg
perlu di Buku Putihkan ya.
kalau melihat perdebatan ttg Visi Misi para capres di bberapa
media , ada beberapa hal yg menjadi Pertanyaan ,
1. Dalam programnya ttg  tatakelola migas dan meningkatkan
produksi semua capres ingin melakukan revisi UU Migas ,
sebetulnya revisi ini sdh berjalan tanpa harus menunggu Capres
, yang tidak dijelaskan apa apa saja dari masing masing capres
point point yg akan di revisi , shg secepatnya dapat
meningkatkan ekplorasi besar besaran untuk menaikan
produksinya,  kita belum melihat perbedaan antar capres terkait
keinginannya merevisi UU Migas point point apa saja antara
capres satu dg yang lain karena hanya normatif saja yg
disampaikan.
2. Untuk mengurangi subsidi tanpa harus menaikan harga BBM (
mencabut subsidi ) Semua Capres berkeinginan mengembangkan
Energi baru Terbarukan ( EBT), Pertanyaannya apa saja yg akan
dilakukan , ini yg tdk dijelaskan dg rinci.
kebutuhan energi kita itu ada dua jenis BBM dan listrik , kalau
EBT itu banyak terkait dg untuk mengatasi kebutuhan Listriknya
dan EBT yg paling siap dg kapasitas besar untuk listrik itu
hanya Geothermal dan Air, kedua nya memerlukan investsai yg
besar > 5 juta $/MW dg waktu pembangunannya antara 5-10 tahun.
belum lagi ketersediaan cadangan terbuktinya , krena yg ada
baru Potensi sumber dayanya ,  bisa jadi setelah selesai
Presiden belum juga terbangun satupun EBT, Padahal kebutuhan
subsidi begitu dilantik sdh harus disediakan , untuk tahun 2014
ini saja sdh hampir tembus 400 T ( APBNP 2014 ), dan tahun ini
penambahannya sudah diatas 100 T , mangkanya Departemen dan
lembaga harus merevisi anggrannya sampai 30 % ( pemotongan ) ,
itupun masih harus nambah utang LN. Jadi rasanya Pengembangan
EBT dalam waktu dekat Tidak bisa mengatasi Subsidi BBM.
Mengingat waktu dan ketersediaan dana investasinya.
Untuk kebutuhan energi diluar listrik ( BBM) ini lbh sulit
untuk menggantikannya  dg EBT , ketersediaan BBN Bahan Bakar
Nabati ( Biodesel, bioetanol) sbg pengganti BBM Desel
kemampuanya masih dibawah 10 % , dan harus diingat BBN ini juga
masih harus disubsidi yg besarnya  Rp.3000 ,- perliternya,
artinya meskipun dikembangkan juga tidak otomatis mengurangi
subsidi.
3. Dibidang SDE yg lain ( Batubara) juga tidak ada yg
menyinggung secara detail dalam program nya para capres,
padahal ini juga tidak kalah pentingnya karena batubara akan
menjadi penopang utama sbg energy primer untuk listrik yg saat
ini sdh kira kira 50% kontribusinya untuk listrik atau kira
kira 80 an Juta Ton Pertahun ( kalau semua proyek 10.000 MW
tahap 1&2( FTP-1&2 ) selesai . disisilain produksi nya digenjot
terus menerus untuk ekpor diaman total sdh mencapai 400 juta
ton ( kira kira 80 an % untuk konsumsi ekpor ), Saat ini
kapasitas terpasang Listrik kita kira kira 47 GW , sesuai
target pertumbuhan permintaan listrik maka tahun 2025 akan
menjadi hampir 3 kali lipatnya atau kira kira 115 GW ini
artinya kebutuhan batubara juga kan mengalami peningkatan yg
besar dimasa datang , belum lagi kalau para Capres juga
memprogramkan Rasio elektrifikasi 100 % , sekarang saja baru 75
% ( bahkan untuk di IBT masih dibawah 50 %)  masih sulit untuk
mengatasinya,karena memerlukan dana investsai yg besar dan
ketersediaan energi primernya juga besar.
4. dalam programnya Captres juga akan membangun Kilang , ini
juga tidak mudah dan cepat  karena pembangunan kilang juga
memerlukan Dana besar dan Ketersediaan dan kesinambungan adanya
suplai crude yg tercukupi. Kalau diserahkan swasta tentunya
harus ada incentif fiskal , dll lagi lagi ini juga tidak akan
bisa cepat menyelesaikan masalah kebutuhan energi tanpa
mengurangi subsidi. apalagi kalu duitnya dari APBN yg untuk
membiayayi rutin saja sdh terseok seok.kalau Duit tdk ada untuk mbangun dan  
semuanya di serahkan
swasta ( Investor Asing ) nanti apa nggak kena pukul balik ,
katanya mau mandiri dibidang energi tanpa investasi asing....
Program apapun yg bagus bagus dari para capres ujung ujungnya
untuk mengeksekusinya diperlukan biaya , karena ini Pemerintah
biaya tsb harus disediakan di APBN , kalau beban APBN sudah
berat maka akan sulit untuk menyediaakan dan mengeksekusinya ,
mungkin harus ada "Revolusi APBN " misalnya Kurangi subsidi dan
kurangi Belanja pemerintah , fokuskan semuanya ke pembangunan
infrastruktur termasuk intfra struktur adalan peningkatan
ekplorasi. karena yg namanya infrastruktur adalah kewajiban
negara,makanya ekplorasi harus masuk dalam infrastruktur
sebagai penunjang ketersediaan energi untuk meningkatkan
pertumbuhan ekonomi. Jadi siapaun nanti presidenya kok rasanya
ya kondisinya biasa biasa saja spt saat ini ..........

Dari pada Sepiiiiiiii

ISM








___________________________________________________________
indomail - Your everyday mail - http://indomail.indo.net.id


----------------------------------------------------
Siapkan waktu PIT IAGI ke-43
Mark your date 43rd IAGI Annual Convention & Exhibition
JAKARTA,15-18 September 2014
----------------------------------------------------
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Hubungi Kami: http://www.iagi.or.id/contact
----------------------------------------------------
Iuran tahunan Rp.250.000,- (profesional) dan Rp.100.000,- (mahasiswa)
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
----------------------------------------------------
Subscribe: [email protected]
Unsubscribe: [email protected]
----------------------------------------------------
DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to information 
posted on its mailing lists, whether posted by IAGI or others. 
In no event shall IAGI or its members be liable for any, including but not 
limited
to direct or indirect damages, or damages of any kind whatsoever, resulting 
from loss of use, data or profits, arising out of or in connection with the use 
of 
any information posted on IAGI mailing list.
----------------------------------------------------

Kirim email ke