Peliknya Rehabilitasi Lahan Gambut Sorce : Republika
Ketika sudah rusak, lahan gambut sulit pulih. Masih ingat program lahan gambut sejuta hektare? Program yang dicanangkan oleh pemerintah di masa Orde Baru di kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah itu kini terbengkalai sudah. Bukan karena ganti pemerintahan tetapi akibat kesalahan perencanaan. Setidaknya, begitulah analisis yang disampaikan Dibjo Sartono, programme director Wetlands International Indonesia Programme kepada Republika. Menurutnya, pengalihan lahan gambut menjadi sawah adalah pemikiran yang mustahil untuk dilakukan. ''Lahan gambut tidak bisa dijadikan sawah,'' komentarnya di sela-sela workshop pengelolaan lahan gambut berkelanjutan di Jakarta (30/11). Ketika akan dijadikan sawah, para pelaksana program lahan gambut sejuta hektare sempat membuat kanal-kanal. Dibjo berpendapat, di situlah letak kesalahannya. ''Air yang tadinya menggenangi lahan gambut secara alamiah akan mencari tempat yang lebih rendah, dalam hal ini kanal,'' jelasnya. Ketika air sudah tertampung di kanal, lahan gambut pun menjadi kering. Kondisi tersebut membuat pertanian jauh dari mungkin untuk terlaksana. ''Agar tidak sia-sia, semestinya program pemanfaatan lahan gambut harus didasari oleh hasil penelitian yang dapat dipertanggungjawabkan,'' ujar Dibjo. Program lahan gambut sejuta hektare meninggalkan kerusakan gambut yang luar biasa. Padahal, lahan gambut sulit dipulihkan. Kalaupun bisa, waktu yang dibutuhkan sangatlah lama. ''Sementara itu, dana yang diperlukan terbilang banyak,'' kata Dibjo. Hal tersebut disepakati oleh Seman Widjojo, dirjen bina pembangunan daerah, Depdagri. Menurutnya, pemerintah memang tidak memiliki dana untuk rehabilitasi lahan gambut. ''Andaikan ada, jumlahnya dipastikan sangat sedikit,'' ungkapnya. Lantas, apa yang bisa dilakukan untuk menyelamatkan lahan gambut? Dibjo memaparkan ada dua pendekatan yang dapat dijalankan. ''Menyelamatkan lahan yang belum rusak dan menghentikan perusakan lahan gambut,'' paparnya. Selama ini, kerusakan lahan gambut telah banyak merugikan masyarakat. Termasuk penduduk yang tinggal di negara-negara tetangga. Sebab, ketika dalam keadaan kering, lahan gambut sangat mudah terbakar dan asapnya menyebar kemanapun angin berhembus. Sampai sekarang, lahan gambut di Jambi, sebagian Riau, dan Kalimantan Tengah masih tercatat sebagai daerah rawan kebakaran. Berdasarkan perkiraan Wetlands International, asap yang ditimbulkan dari kebakaran lahan gambut setara dengan emisi kendaraan bermotor dan pabrik di seluruh dataran Eropa. Sebuah fakta yang amat mengejutkan. Jika terus dibiarkan, Indonesia akan menjadi salah satu negara yang paling bertanggung jawab dalam pemanasan global. Jadi, apa yang bisa dilakukan? Membiarkan lahan gambut seperti apa adanya tentu bukan tindakan yang populer. Bagaimanapun masyarakat ingin mendapat manfaat dari lahan gambut. ''Pemanfaatannya mesti disertai dengan pemahaman yang mendalam tentang karakteristik lahan gambut,'' ujar Dibjo. Kegagalan pemerintah Malaysia dalam perluasan areal tanam kelapa sawit di kawasan gambut merupakan kejadian yang bisa dipelajari Indonesia. Itu artinya, lahan gambut sangat sulit untuk diubah peruntukannya. ''Yang harus dipikirkan adalah mencari model pengelolaan yang memberikan manfaat ekologis maupun ekonomis bagi masyarakat lokal.'' Sebagai langkah awal, kawasan bekas program lahan gambut sejuta hektare dijadikan prioritas penyelamatan lahan gambut. Wetlands International menyumbang 600 ribu euro -- sekitar 7,14 miliar rupiah -- untuk mendanai rehabilitasi tersebut. Program ini disambut dengan antusias oleh pemerintah kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah. Burhanudin Ali selaku Bupati Kapuas mengatakan lahan gambut di Kapuas mencapai 524 ribu hektare, sekitar 35 persen dari luas total wilayahnya. Karena itulah, Kapuas amat mengandalkan areal lahan bergambut. ''Lewat proyek empat tahun tadi, pemerintah kabupaten Kapuas dan Wetlands International akan melakukan penelitian tentang cara pemanfaatan dan pemulihan kembali lahan gambut,'' ujarnya. Pemerintah pusat, lanjut Burhanudin, belum memperlihatkan komitmennya dalam menyelesaikan persoalan di areal bekas program lahan gambut sejuta hektare. Rencana detail memang sudah ada namun belum sampai pada rencana detail. ''Keputusan presiden yang semestinya menjadi pedoman penyelamatan lahan gambut tersebut juga belum ada,'' katanya. Sebanyak 50 persen lahan gambut dunia terhampar di Indonesia. Tepatnya, luas rawa dan lahan gambut Indonesia mencapai 13 juta hektare. Ini menjadikan Indonesia sebagai pemilik rawa gambut tropis terbesar di dunia. Namun, soal pengelolaan Indonesia masih jauh dari memadai. Buktinya, kebakaran dan sulit air di musim kemarau serta banjir di musim hujan selalu menghantui masyarakat di sekitar kawasan gambut yang sudah rusak. ''Kalau tidak dipelihara dengan baik, masyarakat bakal menuai bahayanya,'' tandas Burhanudin. -- _______________________________________________ Find what you are looking for with the Lycos Yellow Pages http://r.lycos.com/r/yp_emailfooter/http://yellowpages.lycos.com/default.asp?SRC=lycos10 ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> $4.98 domain names from Yahoo!. Register anything. http://us.click.yahoo.com/Q7_YsB/neXJAA/yQLSAA/S8XolB/TM --------------------------------------------------------------------~-> IASA homepage: http://welcomte.to/iasa_japan or http://www.geocities.com/iasa_japan/iasa.html Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/iasa/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
