http://goo.gl/lGv2x

Jakarta - Perangkat komunikasi bernyawa Android sudah banyak beredar
di pasaran. Umumnya gadget tipe ini dioperasikan dengan layar sentuh
dan jarang dilengkapi tombol navigasi fisik. Inilah yang menghambat
tunanetra untuk dapat menggunakannya, namun bukan berarti tunanetra
tak dapat memanfaatkannya.

Nah, artikel ini akan mengulas beberapa langkah yang dapat dilakukan
untuk menjadikan gadget Android "aksesibel" bagi tunanetra.

Sebelum teknologi layar sentuh diimplementasikan pada gadget
komunikasi, tunanetra dapat dengan mudah menggunakan hampir sebagian
besar produk komunikasi yang ada.

Mereka biasanya menghapal letak tombol, dan memanfaatkan teknologi
pembaca layar yang dapat membacakan informasi di layar gadget.

Namun, saat teknologi layar sentuh mulai diperkenalkan, tunanetra pun
dihadapkan pada kondisi di mana mereka tak lagi dapat menghapal letak
tombol atau shortcut, mengingat pada gadget berlayar sentuh tak
terdapat tombol berupa fisik. Kalau pun ada, biasanya hanya sebatas
tombol ON/OFF, tombol Power, atau tombol untuk membesarkan dan
mengecilkan volume.

Hal ini sudah mulai diatasi Apple (iPhone, iPad, Mac) yang telah
mengusung teknologi pembaca layar bernama Voice Over. Tunanetra dapat
memakai Voice Over untuk bernavigasi dan mengakses aplikasi yang
disajikan di layar sentuh.


Android?

Lalu, bagaimana dengan platform besutan Google, Android?

Karena OS ini masih tergolong baru, ditambah lagi statusnya yang open
source, maka pengembangan Accessibility API (pemrograman antarmuka
yang memungkinkan aplikasi bagi tunanetra bekerja) pun belum seumur
jagung alias masih dalam tahap pertumbuhan.

Keadaan semacam ini tentu membuat tunanetra tak dapat sepenuhnya
menikmati gadget-gadget yang berjalan menggunakan OS Android, pasalnya
sebagian besar perangkat Android menggunakan layar sentuh sebagai
interface dan input informasi.

Namun, ada beberapa trik yang dapat dilakukan agar tunanetra bisa
menggunakan gadget Android.

Perlu diperhatikan bahwa soal aksesibilitas pada sistem operasi
Android masih dalam tahap WIP alias work in progress, artinya meski
Android sudah dapat dipakai oleh tunanetra, namun tingkat
aksesibilitasnya belum dapat disamakan dengan gadget OS Symbian atau
Windows.

Contohnya, pembaca layar yang tersedia belum memiliki tombol shortcut,
misalnya untuk mengeja kata, membaca per kalimat atau per paragraf,
mengakses sinyal dan baterai, atau melakukan perintah spesifik lainnya
yang harusnya dapat dieksekusi dengan menekan kombinasi tombol
tertentu.

Selain itu, beberapa aplikasi bawaan Android seperti Browser, Camera,
dan e-mail client masih belum dapat diakses pembaca layar, sehingga
pengguna membutuhkan aplikasi pihak ketiga.

Tapi, tak ada salahnya untuk dicoba, khususnya bagi tunanetra yang
penasaran ingin menjajal Android.



Memilih gadget yang tepat

Pilihlah gadget Android yang minimal memiliki tombol navigasi fisik
untuk menggerakkan kursor ke atas bawah kiri kanan dan enter
(trackball, trackpad, D-pad). Penulis merekomendasikan Google Nexus 1
yang masih memiliki tombol navigasi fisik, atau Motorola Milestone 2
yang memiliki keyboard QWERTY. Dua perangkat ini yang penulis gunakan
untuk pengujian, dan sudah terbukti aksesibel bagi tunanetra.

Usahakan juga memilih gadget yang masih menggunakan menu standar
bawaan Android. Contoh gadget yang tidak menggunakan menu standar
Android adalah HTC Sense. Dikhawatirkan pembaca layar tak akan dapat
berinteraksi dengan interface yang dikustomisasi oleh pihak ketiga,
jadi penulis menyarankan untuk menghindari gadget yang menunya sudah
dimodifikasi.

Jika ingin memilih produk lain (tetap harus ada tombol navigasi
fisik), periksalah dulu di bagian Settings > Accessibility, apakah di
dalamnya terdapat pembaca layar bawaan Android bernama Talkback. Kalau
ada, silahkan gunakan gadget tersebut.

Pastikan juga gadget yang dipilih memiliki OS Android minimal versi 2.2.


Memasang aplikasi yang dibutuhkan

Banyak sekali aplikasi yang dapat digunakan tunanetra di Android,
namun untuk kali ini penulis hanya memberikan yang penting saja,
pokoknya pengguna tunanetra dapat mengakses fitur dasar dari Android.

Umumnya aplikasi yang penulis sarankan gratis dan langsung dapat
diperoleh melalui Android market.

Pertama, install aplikasi Eyes-Free Shell agar home screen menjadi
lebih mudah digunakan. Eyes-Free Shell memungkinkan tunanetra
mengakses informasi seperti sinyal jaringan, tenaga baterai, daftar
aplikasi, dan lain-lain.

Selanjutnya, install aplikasi Ideal Accessibility Installer. Program
ini berfungsi memunculkan aplikasi mana saja yang perlu dipasang di
gadget bagi pengguna tunanetra, sehingga tak perlu repot mencari-cari
di market.

Berikutnya, install pembaca layar bernama Spiel. Ini tidak wajib,
karena TalkBack sudah cukup memadai. Namun Spiel memiliki fitur
tambahan yang diperlukan pengguna tunanetra yang aktif dan membutuhkan
keterangan tambahan, misalnya informasi jumlah item pada menu.


Mengaktifkan pembaca layar

Mintalah orang berpenglihatan untuk mengaktifkan pembaca layar yang
terdapat pada Settings > Accessibility. Jalankan Talkback sebagai
pembaca layarnya, bisa juga mengaktifkan Soundback yang akan
membunyikan suara bila jari menyentuh obyek di layar, atau Kickback
yang akan menggetarkan gadget bila jari digerakkan dan menemukan obyek
di layar.

Jika Spiel sudah terpasang, sebaiknya matikan Talkback dan gunakan
Spiel sebagai pembaca layar utama. Tentu saja pengguna dapat berganti
pembaca layar sesuai kebutuhan.


Empat tombol utama

Pada gadget Android terdapat empat tombol utama, baik berupa fisik
maupun sentuh. Tiap gadget berbeda letak dan cara mengaktifkannya,
namun untuk Google Nexus 1 tombol-tombol ini berbentuk sentuh dan
letaknya ada di bagian bawah layar.

Ingatlah fungsi tombol-tombol ini karena akan sangat berguna dalam
pengoperasian gadget.

BACK - Fungsinya untuk kembali ke layar sebelumnya. Jika jari
diletakkan selama beberapa detik maka akan mengaktifkan home screen.

MENU - Memunculkan pilihan-pilihan, isinya akan menyesuaikan dengan
aplikasi yang sedang dijalankan.

HOME - Mengembalikan posisi ke home screen (sesuai dengan yang
terpasang atau terpilih). Jika jari diletakkan selama beberapa detik
akan memunculkan daftar aplikasi yang terakhir digunakan.

SEARCH - Memunculkan kotak dialog search layaknya mesin pencari
Google, dapat digunakan untuk pencarian website atau isi ponsel. Jika
jari diletakkan beberapa detik maka akan muncul fungsi Voice Search.


Cara bernavigasi

Untuk menggerakkan kursor pada menu pilihan, gunakan trackball / D-Pad
ke atas dan ke bawah. Kalau menunya berformat Grid, maka selain ke
atas dan ke bawah, kursor dapat digerakkan ke kiri dan kanan.

Untuk mengaktifkan menu yang diinginkan, klik dengan tombol enter.


Akses ponsel dengan Free-Eyes Shell

Penulis menyarankan memasang home screen ini karena akan memudahkan
tunanetra mengakses berbagai fungsi ponsel. Tekan tombol Home, maka
Free-Eyes Shell akan aktif. Kalau di ponsel terpasang lebih dari satu
home screen maka pilihlah Free-Eyes Shell.

Nah, letakkanlah jari di tengah-tengah layar. Bayangkan posisi tengah
layar sebagai angka 5, berarti sebelah kirinya adalah 4, sebelah
kanannya adalah 6, sebelah kiri atas adalah 1, sebelah atas adalah 2,
sebelah kanan atas adalah 3, dan seterusnya (ingat-ingat pola tombol
dial telepon).

Untuk mengetahui sinyal jaringan, letakkan jari di tengah layar
(bayangkan posisi jari di angka 5), lalu geser ke atas (angka 2), lalu
ke kiri (angka 1), dan lepaskan.

Untuk mengakses daftar aplikasi secara alfabetis, letakkan jari di
tengah layar (angka 5), lalu geser ke bawah (angka 8), lalu lepaskan.

Untuk fungsi lain silahkan mengacu pada dokumentasi yang disertakan
Free-Eyes Shell. Penulis hanya memberi contoh penggunaannya saja.



Penutup

Berhubung tiap gadget Android berbeda layout dan isinya, maka penulis
tak dapat memberi penjelasan lebih detail mengenai bagaimana menemukan
item tertentu. Penulis hanya dapat menjelaskan garis besarnya saja,
dan semoga isi artikel ini dapat menjadi gambaran bagaimana kira-kira
tunanetra dapat memfungsikan gadget Android.

Selain itu, keterbatasan perangkat membuat penulis tak dapat
bereksperimen dengan gadget Android lain. Oleh karena itu diharapkan
pembaca dapat membantu bereksperimen dengan gadget Android yang
dijumpai dan sepertinya memiliki spesifikasi yang penulis sebutkan di
atas.

Bila membutuhkan aplikasi yang lebih aksesibel, Anda dapat mengakses
www.codefactory.es dan membeli Mobile Accessibility, aplikasi untuk
Android berisi 10 program yang dapat digunakan oleh tunanetra (Web,
kalender, GPS, dan lain-lain).

Bila Anda tertarik mendiskusikan langkah-langkah di atas, atau
menemukan gadget Android lain yang aksesibel, silahkan menghubungi
penulis via e-mail di [email protected] atau via Twitter di
@ramadityaknight. Informasi dan saran yang diberikan akan sangat
berguna bagi tunanetra di Indonesia yang ingin memakai gadget Android.

Selamat mencoba!


-- 
Salam,


Agus Hamonangan

Founder Indonesian Android Community
http://forum.android.or.id

Indonesian Android Community
http://groups.google.com/group/id-android

Gtalk  : id.android
Follow : @agushamonangan
E-mail :  [email protected]

-- 
"Indonesian Android Community"  Join: http://forum.android.or.id

===============
Xperia arc with Mobile BRAVIA Engine
http://www.sonyericsson.com/product/xperiaarc/video/mbe
---------------------
Gunakan Paket Unlimited Data XL Mobile Broadband  
http://www.xl.co.id/XLInternet/BroadbandInternet
--------------------
PING'S Mobile - Plaza Semanggi
E-mail: [email protected] Ph. 021-25536796
--------------------
i-gadget Store - BEC Bandung
E-mail: [email protected] Ph. 0812-21111191
--------------------
Toko EceranShop - BEC  Bandung
E-mail: [email protected]  Ph. 0815-56599888
===============

Aturan Jualan dan Kloteran ID-Android http://goo.gl/YBN21

Kirim email ke