Dengan berat hati Penulis ingin membagikan sebuah pengalaman yang luar 
biasa bersama salah satu perangkat Android terbaik pada masanya, The 
Samsung Galaxy Nexus Sprint (CDMA). Waktu yang telah dilewatkan bersama 
selama satu tahun lebih, telah memberikan pengalaman yang sangat berharga, 
times of ups-and-downs, masa sedih dan gembira, kesukaan dan keceriaan, 
kemarahan dan kegeraman, semua berbaur menjadi satu.


 Sedikit menengok ke belakang, saat Penulis pertama kali berkenalan dengan 
sistem Operasi Android, kala itu satu-satunya sistem operasi yang 
dipergunakan Penulis adalah sistem Operasi BlackBerry versi 5.0. Penulis 
hanya berkutat di aplikasi messaging berbasis text yang tersedia di 
BlackBerry App World. Saat itu pilihannya tidak terlalu banyak, ditambah 
lagi dengan keterbatasan perangkat keras yang dimiliki oleh BlackBerry 9000 
yang hanya memiliki internal memory sebesar 128 MB. 


 But then, it was the hottest trend available. Everyone is BBM-ing 
everybody. Life is so simple that days. Haha. Mari kita coba bandingkan 
dengan kondisi per-messaging-an saat ini: BBM, WhatsApp, KakaoTalk, Line, 
Yahoo Messenger, Google Talk, WeChat, and many more to come.. **Sigh**


 Sebelum beranjak ke diskusi lebih lanjut, dalam kesempatan ini ijinkan 
Penulis mengucapkan terima kasih kepada beberapa rekan yang telah menjadi 
guru dan rekan diskusi, rela berbagi pengalaman dan pengajarannya:


 Alvin “The Gentleman Importers” Kurniawan

Beliau menjadi salah satu sumber terpercaya untuk bisa mendapatkan Gadgets 
terpanas, selain dari seorang yang selalu berupaya untuk always-keep-up 
dengan teknologi terkini. Memiliki jejaring yang merentang jauh sampai ke 
negara yang dianggap sebagai pusat perkembangan teknologi. Adalah hal yang 
biasa jika bermacam Gadget yang baru saja dirilis, dalam hitungan hari 
sudah berada di tangan Beliau. Bukan hanya itu, he is one of the most noble 
gentleman seller you ever find. Your purchase is as safe as Swiss Banks 
deposits. So if you're looking for a peace of mind in transaction, look no 
further. 


 Anwar “Babah Bandung” Thamrin

Do I need to say anything for this person? I doubt it. Almost everybody 
knows him. Beliau menjadi salah satu penentu trend Gadget terkini. He 
usually has the latest and greatest Gadgets available. Beliau menjadi salah 
satu rujukan paling terpercaya untuk penilaian kinerja sebuah Gadget. Namun 
jangan tanya Beliau akan perangkat BlackBerry ya. At least for the moments. 
Haha. Berkat “pengarahan” Beliau juga, Penulis mendapatkan kesempatan untuk 
mencicipi The Amazing Apple World dan akan banyak menimba ilmu dari Beliau.


 Prayudi “Doc Berry” Aji Murtolo

Mencari informasi terkini yang berhubungan dengan operator? Promosi? 
Solusi? He's the guy. Pengetahuan Beliau yang sangat menyeluruh akan 
bagaimana sebuah operator bekerja membuat Beliau menjadi salah satu sumber 
terpercaya dalam segala sesuatu yang berhubungan dengan Operator 
Telekomunikasi. Want to learn a bit about BlackBerry? Want to be a 
BlackBerry Master? You've already know who's to ask.


 Steve “The Kicker” Listiawan

Mengambil spesialisasi di bidang tablet, Beliau mengkoleksi (atau 
setidaknya mencoba) mungkin hampir semua tablet yang pernah diproduksi. 
Setidaknya yang memiliki kemampuan teleponi dan berukuran 7” keatas. 
Kegemaran Beliau akan tablets sudah tidak usah diragukan lagi. Ask him how 
many tablets he has. You'll be surprised. So if it's 7” or bigger and has 
phone capabilities, he usually has one. Salute! Go for more, Mister...


 Andi “The Newsmaker” Leo

Wants to know the latest news and trends on Gadgets world? You've meet the 
man himself. Hampir semua informasi terkini yang berkaitan dengan dunia 
Gadget sudah termonitor Beliau. Bukan hanya sekedar informasi namun 
seringkali hands-on experience dengan produk yang akan diluncurkan pun 
sudah menjadi makanan sehari-hari. Sayangnya karena terikat NDA, tidak 
banyak informasi yang dapat diberikan oleh Beliau, because he's a man of 
his words.


 Lim “JazzDeDragon” Heriyadi

Siapa yang tidak mengenal Beliau? Tidak hanya aktif di dunia milis dan 
social media, sebagai seorang avid photographer, Beliau juga memiliki 
kiprah di dunia entertainment. Beliau jugalah yang saat-saat awal “berbagi” 
akan kecanggihan Galaxy “The Dark Side” Camera, sehingga akhirnya Penulis 
memutuskan untuk mencoba belajar “Newbie” Photography. Hehe


 Satyadhi “The Photographer” Hendra 

Sebagai seorang fotografer profesional yang telah memiliki begitu banyak 
pengalaman, Beliau menjadi salah satu nara sumber paling terpercaya akan 
segala sesuatu berkenaan dengan dunia fotografi. Beliau juga dengan 
dermawan membagi semua ilmu yang dimilikinya kepada siapapun yang yang 
rindu untuk belajar fotografi. Semoga Penulis mendapatkan kesempatan 
berharga menjadi salah satu murid Beliau.


 Johan “The Humble Guy” Teddy

Kerendahan hati dan kegemaran untuk menolong orang lain, menjadi salah satu 
karakter yang paling menonjol dari Beliau. Selain itu Penulis juga belajar 
salah satu ilmu yang paling penting di dunia Gadget dari Beliau: “Cukupkan 
dirimu dengan apa yang ada padamu”. Bagaimana tidak? Beliau selalu 
mendahulukan kepentingan “Staff” nya dibanding kepentingan pribadi. This is 
rare qualities. 


 Hendra “Whorty” Gunawan

Berdomisili di kota Malang yang relatif jauh dari Jakarta, tidak membuat 
Beliau ketinggalan teknologi dan berita. Sebagai salah satu aktivis di 
dunia Apple, kiprah Beliau tidak dapat dikesampingkan. Mengambil 
spesialisasi high-end products, jaringan Beliau merentang sampai ke seluruh 
Indonesia.


 Subanindyo “Master Sifu” Ardi

Rekan-rekan yang aktif berkecimpung dalam ekosistem Android, kemungkina 
besar sudah mengenal nama besar Beliau. Pengalaman yang luas, ditambah 
dengan pengetahuan tentang lika-liku Android yang komprehensif, dilengkapi 
dengan rasa ingin tahu yang tinggi, menjadi kombinasi maut yang menjadikan 
Beliau sebagai salah satu sumber referensi Android paling kredibel. Jika 
bukan karena Beliau, Nexus CDMA masih tetap menjadi WiFi only devices. 
Beliaulah yang telah bersusah payah membuatkan script dalam proses inject 
nomor dan data. Yang super rumit itu. Hehe


 Anton “Carnivorous” Susanto

Penulis belajar tentang sikap praktis dan to-the-point dari Beliau. 
Down-to-earth dan get-things-done adalah sifat yang menonjol. Selera yang 
tinggi akan makanan membuat Beliau tau dengan pasti lokasi makan enak di 
Jakarta dan sekitarnya. Dalam menentukan pilihan Gadget pun, prinsip common 
sense, practicality, usefulness dan kehati-hatian sangat dikedepankan. 


 Beliau-Beliau inilah yang telah memberikan pengajaran, arahan, tips dan 
tuntunan, saat Penulis mulai belajar mengenal ekosistem Android. Selain 
dari nama-nama tersebut diatas, dalam kesempatan ini Penulis juga ingin 
mengucapkan banyak terima kasih kepada rekan-rekan sekalian yang tergabung 
di komunitas dan milis tercinta ini, yang juga telah berkenan memberikan 
masukan, tips, arahan, kritikan, usulan, pengajaran dan pendapat akan 
segala sesuatu yang baik secara langsung ataupun tidak langsung, 
berkontribusi dalam membangun pengetahuan dan pengenalan Penulis akan 
ekosistem Android.


 Dimulai dari Android pertama yang menjadi kelinci percobaan: Smartfren 
Andro E910, kemudian disusul dengan Samsung Nexus S dan dilanjutkan dengan 
Galaxy Nexus CDMA. Sementara untuk tablet, dimulai dengan BlackBerry 
Playbook (Yang dapat juga menjalankan beberapa aplikasi Android hasil 
porting), SmartFren Andro Tab dan Asus Transformer Infinity.


 Sekali lagi saya ucapkan banyak terima kasih kepada rekan-rekan semua.


 Kembali ke topik awal, sejatinya tidak banyak yang perlu dikeluhkan akan 
performa dan kinerja dari Galaxy Nexus CDMA ini (Selanjutnya akan 
disebutkan Nexus CDMA saja). Selain dari baterai tentunya! Haha. Penulis 
biasa menyediakan lima baterai (Yep, you got it right! Lima in L-I-M-A), 
demi untuk dapat mengarungi aktivitas Penulis selama seharian penuh. 


 Secara jujur, harus diakui memang cara Penulis memakai Nexus CDMA 
cenderung berat, bahkan mengarah abusive. Mulai dari membaca E-Mail, 
Messaging Apps, Endomondo, Songza, mendengarkan musik, browsing, 
menjalankan program MobileBiz dan banyak lainnya. Mengapa harus meyediakan 
begitu banyak baterai? Bukankah tersedia Battery Box (Power Banks)? Tentu 
saja. Namun tipe Penulis adalah tipe yang agak kurang cocok dengan juntaian 
kabel saat kita mengisi baterai smartphone dengan sebuah Battery Box. 
Simply say, I'm addicted to battery. Hehe


 Meskipun pada akhirnya tuntutan ketersediaan baterai ini pun pada akhirnya 
terpaksa dikompromikan. Namun untuk pembahasan akan hal ini, akan coba 
dibagikan di tulisan lain, dan bukan pada tulisan ini. After all, life is 
full of compromises, right? Hehe.


 Back to the Nexus CDMA issue. Let the story begins...


 Beberapa waktu lalu, performa data dari salah satu operator yang 
dipergunakan di Nexus CDMA, menunjukkan penurunan kinerja. Sebelum Penulis 
melanjutkan, perlu perlu digarisbawahi, bahwa tulisan ini tidak memiliki 
tendensi untuk mengkritisi kinerja satu atau beberapa Operator. Bukan juga 
merupakan sebuah kampanye hitam maupun upaya boikot akan jenis operator 
tertentu. Sama sekali bukan. Bukan juga merupakan upaya menjelek-jelekkan 
satu atau beberapa Operator atau malah berupaya untuk menunjukkan kelemahan 
dan kekurangan satu atau beberapa Operator. Sama sekali bukan.


 Penurunan ini mungkin salah satunya dikarenakan: Penulis ada di Jogja!


 Jogja memiliki banyak keunikan dan “keunikan”. Keunikan dan “keunikan” 
tersebut itulah yang justru membuat Jogja menjadi sangat istimewa. Salah 
satu dari “keunikan” tersebut adalah kehausan (Baca: kerakusan) Bandwith 
Internet. Seberapa besarpun Bandwith yang diberikan oleh pihak Operator, 
sudah dapat dipastikan akan tetap kurang, khususnya jika dilabeli dengan 
biaya “terjangkau” plus distempel dengan label “unlimited”. 


 Sebelum meledaknya era Smartphone, Bandwith yang tersedia masih dapat 
ditoleransi. Not blazingly fast. Just tolerable. Namun sejak meluasnya 
pengguna Smartphone, khususnya Android, maka habislah semua Bandwith yang 
disediakan oleh Operator. Nothing left on the table. Sapu bersih. Bukankah 
pihak Operator hanya perlu melakukan investasi peralatan (CAPEX) demi untuk 
memperbaiki sekaligus meningkatkan kualitas layanan data? Tidak sesederhana 
itu. 


 Dengan semakin umumnya seseorang mempergunakan lebih dari satu perangkat 
mobile, kita akan dengan mudah membandingkan kinerja satu Operator dengan 
Operator lainnya, hanya dengan mempergunakan beberapa perangkat yang kita 
miliki. Dan apabila memang perbedaan yang ditemui begitu jauh, kita akan 
dengan mudah juga berpindah ke Operator tersebut. Jika ditambah dengan 
adanya peluncuran produk baru atau bentuk promosi yang agresif, perpindahan 
pemakai dari satu Operator ke Operator lain akan terjadi dengan begitu 
cepat dan tidak dapat dihindari. Sama sekali tidak ada yang dinamakan 
loyalitas pelanggan (Customer Loyalty) disini. Lalu bagaimana kedua fakta 
tersebut saling terhubung?


 Bagaimana jika setelah menggelontorkan begitu banyak biaya investasi 
(CAPEX), ternyata User yang diharapkan loyal malah justru berpindah ke 
Operator lain, yang pada saat yang sama, lebih berani menawarkan layanan 
data yang memiliki kualitas kurang lebih sama, dengan harga yang lebih 
murah? Hal ini semakin memperumit analisa investasi dari semua Operator. 
It's a tough decisions for any Operators. 


 Tambahan lagi, Jogja merupakan salah satu pasar yang paling kompetitif dan 
sensitif. Baik dari sisi harga maupun dari sisi kualitas. Statement barusan 
merupakan pembahasaan lain dari bagaimana kami-kami di Jogja berusaha untuk 
mencari Operator yang rela memberikan kuota dan kecepatan 
setinggi-tingginya, dengan harga semurah-murahnya. Hehe. Ini Jogja, Dab!


 Tekanan dalam bentuk penurunan kualitas dan kecepatan layanan data ini 
akan semakin menyesakkan dada Penulis, manakala Penulis membandingkan 
kecepatan Nexus CDMA dengan perangkat Gadget lain yang kebetulan berbasis 
GSM. Saat terakhir Penulis mempergunakan Nexus CDMA, kecepatan yang 
didapatkan berkisar di 300 kbps, sementara perangkat lainnya yang berbasis 
GSM mampu mendapatkan kecepatan sampai dengan 12.000 kbps. Bahkan lebih.


 Ketidakpuasan Penulis seringkali memuncak menjadi-jadi saat Penulis 
berupaya membagikan kecanggihan The Mighty “Google Now”. Dimana kecepatan 
response Google Now adalah sangat bergantung kepada Bandwith dan kecepatan 
data yang disediakan Operator. Seringkali dalam beberapa kesempatan, 
“Google Now” malah menjadi “Google Then”atau malah “Google Wait, and Wait, 
and Wait” **Sigh**


 Oya, sebelum lupa. Bagi para rekan yang masih mempergunakan Nexus CDMA dan 
mengalami kesulitan melakukan proses inject nomor, mungkin dapat mencoba 
kombinasi angka “*228;1”. Works like magic for me.


 Mari kita lanjutkan. Sungguh amat disayangkan apabila kecanggihan sebuah 
Gadget terkendala keterbatasan kecepatan data dan bandwith yang tersedia. 
Pada akhirnya seluruh potensi dari perangkat pintar tersebut tidak dapat 
tergali maksimal. 


 Contoh lain: kemampuan perangkat Android untuk dapat mengubah kata-kata 
yang kita ucapkan menjadi tulisan (Voice to text). Sayangnya untuk Bahasa 
Indonesia belum tersedia secara Offline, sehingga seluruh proses sangat 
bergantung akan kecepatan dan bandwith data. Untuk bahasa lain, misalnya 
Inggris, Jepang, Belanda, Rusia, Perancis, Spanyol, Italia, Portugis, 
Mandarin dan Korea, semua telah tersedia secara Offline. Wake up, Google! 
Please do something about this.


 Alhasil, Penulis mengambil sebuah kesimpulan sederhana: seluruh potensi 
dan kemampuan dari sebuah perangkat Android tidak dapat sepenuhnya 
dimaksimalkan, jika tidak dibarengi dengan kecepatan dan reliabilitas data 
yang mumpuni. A very poweful sports car without a proper fuel will go 
wasted. That's what I felt.


 So? What should we do?


 Bagaimana? Apa yang harus kita lakukan sekarang?


 It's time to change the fuel to the higher octane! Highest if possible.


 Singkat cerita, supaya tidak berkepanjangan, berkat seorang Trusted Seller 
di Medan yang sangat baik hati, Oom Jhon Halim, Penulis berhasil 
mendapatkan pengganti Nexus CDMA: Galaxy Nexus GSM! Let's try this new 
baby. Vroooom... Vrooom...


 Mengapa masih tetap Nexus? What's so special about Nexus family line?


 Everybody knows that Nexus phone probably is not the latest, fastest, 
hottest, coolest and most sophisticated device available. But surely it's 
one of the most stable and and widely supported, especially by many of our 
brilliant friends at XDA. 


 Sejak mulai mengenal keluarga Nexus, yang dimulai dari Nexus S, Penulis 
sudah jatuh hati. Mulai dari desainnya, kelengkapannya, interfacenya, 
update support-nya, kesederhanaannya, komunitasnya, oprek-able-nya, 
ROM-nya, Kernelnya, aksesorisnya, sampai kepada harganya dan nya-nya 
lainnya. Meskipun bagi beberapa rekan, interface Nexus dianggap kuno dan 
terlalu sederhana, Penulis justru menemukan keindahan dalam keserhanaan 
tersebut. No additional launcher, no bloatwares, no un-necessary 
interfaces. So simple, powerfully effective. Just Android. Pure Google. 


 Sebagian orang mengganggap Nexus user adalah orang-orang yang senang 
meng-oprek Nexusnya. Menggantinya dengan Custom ROM, mengutak-atik 
kernelnya, mengganti themes, overclocking dan lain sebagainya. Betul. Namun 
tidak semua. Saya pun awalnya seperti itu. Bolak balik mencari ROM terbaik, 
tercepat dan terstabil. Mengganti kernel dari yang satu ke yang lainnya. 
Berusaha mencari kombinasi dan keseimbangan antara kinerja dan baterai. Not 
anymore. Saya sudah insaf sekarang. Hehe


 Now it's time to do things WITH your device and not to do things TO your 
device. Hehe


 Also don't forget the upcoming Android 5, also known as Key Lime Pie. 
Konon akan dirilis saat Google I/O Conference tanggal 15-17 Mei 2013. Konon 
pula, Galaxy Nexus masih dapat mencicipi dessert baru besutan Google 
tersebut. Hopefully.


 Kembali ke Nexus GSM.


 Awalnya Penulis berencana untuk menjadikan Nexus GSM sebagai kuda beban 
untuk semua aktivitas komunikasi dan interaksi digital. Minus BBM tentunya. 
E-Mails, Messengers, Photos, Videos, Games dan lain sebagainya. Did it 
work? 


 It did, originally. Not for long.


 Awalnya semua berjalan mulus dan lancar. Buttery smooth. Seperti yang 
dijanjikan oleh Google. 


 N-A-M-U-N


 Sejalan dengan waktu, dengan semakin bertambahnya aplikasi yang dibenamkan 
dan dengan semakin kompleksnya program-program baru yang dirilis, maka 
bertambah tinggi pula tuntutan perangkat keras yang dibutuhkan. Nexus 
ageing processor/GPU and it's diminutive 1 GB RAM is starting to toll its 
performace. Perlahan namun pasti, terjadi beberapa perubahan. 


 Buttery smooth mulai berubah menjadi B'but'ter'ry Sm'mo'ot'th. Interaksi 
dan perpindahan menu maupun program mulai mengalami ketersendatan. Free RAM 
usually drops to an average of 200-ish Megabytes. An alarming sign. 


 Houston, we have problem!


 Sedikit flashback ke belakang. Saat Nexus 4 baru dirilis, Penulis dan Oom 
Alvin “The Gentleman Importers” Kurniawan sempat berdiskusi dan 
membandingkan spesifikasi Galaxy Nexus dengan Nexus 4. Di atas kertas, 
spesifikasi yang tertera tidak terlalu jauh berbeda. Dual vs Quad core, 1 
GB RAM vs 2 GB RAM, 1280 x 720 vs 1280 x 768. Belum lagi sentimen negatif 
yang sempat dihembuskan saat launching, masalah kamera, build quality dan 
after sales support. Kesemua hal tersebut kemungkinan memberikan tekanan 
yang berat dan pada saat yang sama membuat persepsi negatif ke banyak 
orang. 


 Saya termasuk salah satunya. Berbekal perbandingan spesifikasi di atas 
kertas, antara Galaxy Nexus dan Nexus 4, dibumbui dengan rumor-rumor dan 
sentimen negatif yang beredar, lengkaplah keengganan Penulis untuk 
mengganti Galaxy Nexus ke Nexus 4. Disamping harganya yang masih premium 
tentunya. Hehe. 


 At that time, I was so confident that Nexus 4 is not-that-so-different 
compared to Galaxy Nexus. Not-that-superior and not-that-good. E-T 
C-E-T-E-R-A. Is that true?


 I was wrong. 


 T-E-R-R-I-B-L-Y W-R-O-N-G


 Dengan rendah hati, Penulis pun sudah mengakui kesalahan fatal ini kepada 
Beliau. Jadi, dimana letak kesalahannya? 


 Never, ever, build your final opinion based on specifications alone.


 N-E-V-E-R


 E-V-E-R


 Kita harus sungguh-sungguh mencoba, memakai dan mempergunakan perangkat 
tersebut, sesuai dengan kondisi dan situasi yang biasa kita hadapi sehari 
hari. Not only for one hour or two. Make it one week or two. After that, 
then you decide.


 Sebenarnya Penulis masih ingin terus berdiskusi, akan beberapa kriteria 
dan spesifikasi dasar yang menjadi persyaratan sebuah perangkat Android. 
Diskusi ini didasari akan observasi dan pengamatan penggunaan beberapa 
perangkat Android, khususnya keluarga Nexus. Namun karena tulisan ini sudah 
terlalu panjang, maka diskusi tersebut akan kita tunda di tulisan 
berikutnya: How I choose my Android device.


 Maka dengan berat hati, Penulis mengucapkan selamat tinggal kepada Galaxy 
Nexus, both CDMA and GSM version. Farewell my dear faithful one. You have 
served your master very well. I thank you both.


 EPILOGUE


What am I using now?


 Still a Nexus.


 Part four


 

-- 
==========
Download Aplikasi Kompas  versi Digital dan Keren
https://play.google.com/store/apps/details?id=com.kompas.android.kec
--------------------------
Ayo ikutan kompetisi foto di Indosat Smartphone Photography Festival 2013
Info: http://smartphonephotography.indosatmentari.com
---------------------
Galaxy Note 2 Best Deal Rp. 6,499rb hanya di Multiply.com! 
Garansi resmi. Dapatkan segera! http://bit.ly/gaddrotor 
--------------------
Web Hosting, Zimbra Mail Server, VPS gratis Raspberry Pi : 
http://www.hostune.com
--------------------
Aturan Umum  ID-Android: http://goo.gl/MpVq8
Join Forum  ID-ANDROID: http://forum.android.or.id
==========
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "[id-android] Indonesian 
Android Community " dari Grup Google.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke id-android+berhenti [email protected] .
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.


Kirim email ke