Intinya saya setuju dengan pandangan bung Iwan, bahwa komputer dan OSnya
hanyalah alat bantu kita. Namun saya punya pandangan tersendiri terhadap OS
dan strategi business saya di Indonesia. Dulu sewaktu saya banyak waktu dan
bekerja pada bidang teknis di suatu ISP, saya masih suka otak-atik beberapa
OS dari System 7 sampe 8, Windows NT dan sempat install slackware, namun
setelah saya ngurus manajemen usaha, maka saya memutuskan Windows NT untuk
pekerjaan sehari-hari. Alasan saya Windows NT semudah Win95 ataupun Mac, dan
cukup robust. Sedangkan server web saya percayakan ama BSDInya Om Carlos
..................yang saya yakin dan melihat sendiri memang robust untuk
menerima hit yang sedemikian gede (saya host jawapos.com dan beberapa
homepage populer yg tinggi trafficnya). Perlu diingat dan digarisbawahi,
untuk kalangan usaha yang mereka butuhkan adalah kemudahan pakai/user
friendly dan mudah mendapatkan. Kedua hal inilah yg menjadi analisa Hermawan
Kertajaya dalam menyikapi kesuksesan Win95. Kalangan bisnis tidak akan
sempat baca how-to, atau memecahkan masalah yg terjadi ketika install,
makanya mereka juga pilih komputer branded yg pake Win95 asli yg tentunya
lebih mahal, ini suatu kepercayaan yg tidak bisa ditawar lagi. Anda
kadangkala pasti menertawakan mereka yg pilih bayar mahal daripada pake
bajakan yg secara teknis punya code sama dan kualitas sama, namun bagi
mereka kepercayaan memang tidak mengenal mahal.
Dengan fenomena diatas, saya punya pendapat, Linux akan sukses jika memenuhi
unsur
1. Mudah dipakai
2. Mudah didapatkan
3. After servicenya bagus
4. dikeluarkan oleh perusahaan terpercaya
5. cukup Robust
Justru GPL Linux ini yg kurang bagus untuk image kalangan business.
Kesimpulan saya, Linux tetap harus dipelajari, disebarluaskan bagi kalangan
TI, saya yakin penggunanya banyak dari TI yg bisa sempat gonta-ganti OS,
sedangkan kalangan bisnis tidak akan mau coba-coba OS, mereka hanya mau 1 yg
mudah dipakai dan terpercaya menurut kepercayaan mereka (untuk ini
diperlukan penanaman image). Untuk itu keberhasilan Linux menguasai pasar OS
di Indonesia setidaknya kelima unsur diatas harus dipenuhi dengan
memperhatikan nomor urutnya.
Tentang komunitas Linux, saya juga heran kok punya kebiasaan menyindir,
jangan-jangan nanti Win95 bisa jadi kayak Megawati.............semakin
banyak disindir makin dicari orang ..........yah mungkin ingin lihat
keanehan tampilan birunya atau GPFnya..hehehhehe
Saya juga punya kekhawatiran jika terbentuk komunitas exklusif dengan
pemujaan yang berlebihan. Jika Anda sudah menjadi EDP suatu perusahaan yg
sudah menginstal server Win NT atau Novell, dan klien Win95, dan disuruh
membereskan sesuatu yg kecil terhadap Win95, Anda bisa lupa tuh cara
membereskannya jika Anda terlalu sibuk dengan Linux, dan tentu saja Anda
tidak bisa ngomong ganti Linux saja semua................singkatnya Anda
harus bisa menyesuaikan dengan komunitas besar yg ada.
Atau mungkin idealnya Linux adalah value added bagi kemampuan Anda.
Ada masukan lain ?
Regards
WAWAN
http://www.mediaselaras.co.id
-----Original Message-----
From: Herdarmadhi Kuswandito Utomo <[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Tuesday, November 17, 1998 9:28 AM
Subject: Re: [id-linux] Fwd: Re: [id-linux] tanya-tanya linux
>Ach...enggak juga tuuuh...si iwan dulu begitu cintanyan sama si macintosh,
>walau perkenalan pertama pake cp/m lalu ke dos terus ke lisa dan ke
macintosh
>nach pas kenalan sama unix (dulu masih pake amiga 2000 unix terus ke mesin
>ultrix) engga ada tuh yg namanya ngeyel...malah dengan kenal mac, terus
kenal
>
----------------------------------------------------------------------
Unsubscribe: [EMAIL PROTECTED]
Archive: http://www.vlsm.org/linux-archive/
Netiket autoresponder: [EMAIL PROTECTED]