On Tue, 17 Nov 1998, wawan wrote:
> Intinya saya setuju dengan pandangan bung Iwan, bahwa komputer dan OSnya
> hanyalah alat bantu kita.
>
Yap,
setidaknya kita punya kesepakatan yang bisa jadi awal.
> Namun saya punya pandangan tersendiri terhadap OS
> dan strategi business saya di Indonesia.
>
Ini diskusi yang menarik, sayangnya nggak pernah tuntas dibicarakan di
id-linux@ meski sudah beberapa kali disinggung. ada milis yang lebih cocok
untuk ini nggak ya ? nggak enak kalau newbie yang sedang nyari informasi
install gagal kok ketemu 'topik berat' seperti ini :-)
> setelah saya ngurus manajemen usaha, maka saya memutuskan Windows NT untuk
> pekerjaan sehari-hari.
>
Kira - kira sama seperti ketika saya membuat proposal untuk satu kantor
untuk intranet-nya, saya suruh pakai NT sebagai OS, meski untuk
network server software-nya waktu itu saya ngusulin pakai Netscape server
> Perlu diingat dan digarisbawahi,
> untuk kalangan usaha yang mereka butuhkan adalah kemudahan pakai/user
> friendly dan mudah mendapatkan.
>
menurut saya faktor 'mudah mendapatkan' dan 'mudah digunakan' tersebut
perlu kita kaji lagi.
pertama, rasanya kita sepakat bahwa kedua faktor adalah akibat dari ingin
mendapatkan keuntungan yang lebih besar: penghematan waktu, penghematan
SDM, dan seterusnya. yang perlu kita kaji sebetulnya berapa sih nilai
penghematan ini ? apakah seimbang dengan biaya biaya lain. Total Cost
Ownership sudah biasa kita pakai sebagai tolok ukur rasanya.
kedua, apakah benar semua Unix (secara umum) itu 'tidak mudah didapatkan'
dan 'tidak mudah digunakan' ?
> Kedua hal inilah yg menjadi analisa Hermawan
> Kertajaya dalam menyikapi kesuksesan Win95.
>
yang saya ragukan adalah informasi yang didapat sudah lengkap. misalnya
apakah Mac juga dihitung, untuk Linux apakah Caldera OpenLinux beserta
support-nya juga dihitung.
kalau kesimpulan itu cuma untuk Indonesia, apalagi kalau cuma untuk sektor
desktop. kalau ini, diskusi jadi lain, bagaimana agar yang model Mac dan
Caldera bisa jalan di Indonesia.
> Kalangan bisnis tidak akan
> sempat baca how-to, atau memecahkan masalah yg terjadi ketika install,
>
Setuju,
namun sebetulnya, kita bisa kaji lagi:
- untuk install: apakah setup sebentar lalu siap dipakai cuma dipunya Win
bukankah Mac lebih dulu, dan NeXT Cube (meski sayang sudah
almarhum).
- untuk pemeliharaan selanjutnya: apakah baca Resource-Kit yang tebel itu
disertai Registry Editor itu lebih 'manusiawi' dibanding baca
AnswerBook-nya Solaris misalnya...
sekali lagi, TCO kan harus memperhitungkan nggak cuma waktu beli lalu
jalan, problem - problem yang susul menyusul selanjutnya mesti juga kita
hitung.
> ini suatu kepercayaan yg tidak bisa ditawar lagi.
>
setuju.
kepercayaan ini mirip kok dengan kepercayaan saya.
kepercayaan saya sebagai sysadmin dan mantan programmer, kalau saya tidak
tahu cara kerja X, maka akan terjadi satu problem atas X yang saya tidak
tahu bagaimana menyelesaikannya. ini juga susah ditawar :-)
> Anda
> kadangkala pasti menertawakan mereka
>
Nggak kok,
karena saya juga merasa rekan saya menertawakan saya kenapa ngotot install
Linux pakai text.gz (yang mulai Slackware 3.5 di-obsolte-kan) kalau
install sendiri (kalau untuk orang lain ya suruh pakai color.gz, atau
sekalian RedHat atau OpenLinux). lebih susah, lebih pegel :-)
kepercayaan saya ada hasilnya, kemarin mau upgrade slackware, scsinet.s
nggak bisa dipakai, cuma jalan pakai aha2x7x.s, padahal mau install via
NFS. utak - atik color.gz agar bisa load network module sebelum setup, eh
malah jadi ngacau script hdsetup-nya, nggak punya waktu men-trace dialog
script yang salah dimana. ingat ada text.gz di direktori obsolete, saya
coba deh yang di-utak-atik text.gz, bakal ketahuan kalau ada yang error,
eh mulus.
> Dengan fenomena diatas, saya punya pendapat, Linux akan sukses jika memenuhi
> unsur
> 1. Mudah dipakai
> 2. Mudah didapatkan
> 3. After servicenya bagus
> 4. dikeluarkan oleh perusahaan terpercaya
> 5. cukup Robust
>
kalau menurut saya sebetulnya akhirnya adalah investasi itu harus
menguntungkan dari segala segi.
untuk poin 5, rasanya tidak perlu dibahas, Linux sudah cukup Robust
melebihi NT. untuk point 2, 3, & 4 bisa dibahas sekalian, intinya sudah
ada Caldera, jadi cuma perl perusahaan semacam Caldera di Indonesia. Ini
sudah mulai dirintis beberapa perusahaan IT di jakarta. saya mau komentar
yang nomor 1 saja.
kekurangan Unix kan dalam pandangan kebanyakan orang adalah susah
dipelajari, lebih mudah Win yang tinggal click. Untuk ini, Pak Made
Wiryana sudah membahas di diskusi sebelumnya bahwa ini lebih menjurus ke
mitos, bukan ilmiah.
Kalau saya pribadi melihat bahwa literasi orang ke komputer kan tidak
cuma sampai saya bisa mengetik. Mungkin dulu ya, dalam satu perusahan
paling komputer cuma dipakai oleh segelintir orang, jadi cukup punya satu
technical support juga selesai semua masalah besar sampai kecil.
Namun di masa depan dengan mahalnya SDM dan makin menjamurnya komputer,
tuntutan literasi misal seorang sekretaris tentang komputer saya prediksi
akan makin tinggi, bukan hanya menggunakan, tapi juga bisa menyelesaikan
masalah yang kecil - kecil. nggak lucu kalau semua sekretaris cuma cukup
tahu cara mengetik di Office, lalu muncul error sedikit panggil hotline.
uang perusahaan bisa habis untuk gaji banyak hotline.
Ini bukan mengingkari adanya kemudahan remote management seperti SMS
(dalam konsep ZEN dan sejenisnya). Meski remote tetap saja kurang kalau
pengguna tidak tahu cara menyelesaikan masalah - masalah dasar.
Sekarang apa hubungannya dengan Unix ?
Saya melihat kalau tuntutan orang akan literasi komputer mulai naik, maka
mitos Win mudah dipelajari sementara Unix susah jadi menipis. Belajar
tentang click ini click itu gampang emang, tapi menjawab mengapa error
begini bukan hal gampang. Sebab yang kedua ini butuh latar belakang yang
mendasar seperti: konsep komputasi, cara kerja komputer, cara kerja OS,
cara kerja software. Saya yakin literasi dasar seperti ini akan jadi wajib
buat setiap orang yang kerja menggunakan komputer. atau dengan kata lain
ada evolusi 'dumb user / sysadmin' ke 'smart user / sysadmin'. Nah, kalau
latar belakang seperti ini sudah ada, Unix tidak terasa susah lagi, bahkan
Error windows yang sering menyesatkan jadi kelihatan sebagai momok :-)
Jadi pepatah _kasar_ bahwa 'dumb user' dan 'dumb sysadmin' cuma layak
dapat NT karena Unix itu cuma buat 'smart user' dan 'smart sysadmin' ada
benarnya. atau kalau saya lihat di signature salah satu orang RedHat, Unix
itu user friendly, cuma dia milih - milih saja dalam mengambil friend :-)
Apakah itu masih lama ?
Saya berpendapat pentahapan mencapai 'kesulitan' Unix dianggap biasa:
1. Tahap kebutuhan perusahaan atas 'dumb user'
ini sudah lewat, perusahaan butuh sekedar orang bisa ngetik
ada masalah akan panggil vendor, selesai...
=> OS populer ya akan Win-95. (dan Mac, sayang dulu mahal)
2. Tahap kebutuhan 'dumb sysadmin'
ini baru mulai, dengan adanya Intranet, setiap kantor akan butuh
sysadmin sekedar untuk meng-install, membuat user, dan sejenisnya
kalau yang susah akan panggil vendor.
mengapa butuh ? karena kalau cuma buat user panggil vendor, rugi
=> OS populer akan Win-NT (dan mungkin IntranetWare)
3. Tahap kebutuhan 'smart sysadmin'
ini sebentar lagi. ternyata begitu berjaringan, masalah yang tidak
tertangani oleh 'dumb sysadmin' sering muncul, jadi lebih efektif
kalau punya 'smart sysadmin' daripada sering panggil vendor.
=> Unix akan muncul sebagai alternatif untuk server.
4. Tahap kebutuhan 'smart user'
ini muncul kalau komunitas pc di perusahaan itu sudah kurang
lebih sama dengan manusianya. pada tahap ini perusahaan hanya mau
investasi sysadmin untuk pekerjaan di sisi jaringan dan server
saja, untuk di sisi user, user mesti kerjain sendiri.
=> Unix akan muncul sebagai alternatif untuk user.
> Justru GPL Linux ini yg kurang bagus untuk image kalangan business.
>
kurang bagus karena apanya ?
OpenSource-nya ?
atau masalah Vendor ?
> sedangkan kalangan bisnis tidak akan mau coba-coba OS, mereka hanya mau 1 yg
> mudah dipakai dan terpercaya menurut kepercayaan mereka (untuk ini
> diperlukan penanaman image).
>
menurut saya mereka cuma perlu mendapat pengertian aspek - aspek bisnis
dalam IT. terbukti dari perusahaan Multi Nasional misalnya, yang
kebijakannya dari luar, mereka OS-nya beragam sesuai dengan kebutuhan,
tidak seragam MS semua, tidak juga seragam Unix semua atau terminal semua.
> Untuk itu keberhasilan Linux menguasai pasar OS
> di Indonesia setidaknya kelima unsur diatas harus dipenuhi dengan
> memperhatikan nomor urutnya.
>
Sekali lagi, menurut saya nomor 5 sudah lewat, nomor 2 - 3 - 4 akan lewat
jika jasa semacam Caldera sudah muncul, untuk nomor 1, Unix tidak perlu
berubah jadi Windows, pengguna yang akan berubah dari 'dumb user' menjadi
'smart user'.
> Saya juga punya kekhawatiran jika terbentuk komunitas exklusif dengan
> pemujaan yang berlebihan.
>
saya sih merasa Linux nggak ekslusif, dia sangat inklusif. yang mungkin
bakal ekslusif saya rasa BSD-erz semacam FreeBSD, OpenBSD, NetBSD, dan tak
lupa BSDI.
> singkatnya Anda
> harus bisa menyesuaikan dengan komunitas besar yg ada.
>
kalau menurut saya kita hidup itu dengan kompromi, atau pakai istilah yang
umum di reformasi sekarang, menghindari otoriter ataupun anarki :-) jadi
kalau kerja di lingkunga MS semua atau campur aduk, ya nggak perlu kita
langsung usul ganti semua, atau sebaliknya kita meninggalkan perjuangan
untuk me-Linux-kan Indonesia :-) untuk yang pas pakai Linux, kenapa nggak
usul diganti, kalau yang sudah optimal pakai AS/400 misalnya, kenapa tidak
dibiarkan ?
seperti di sini, secara wajar beberapa SCO Unix di-Linux-kan, meski tetap
masih dipertahankan setidaknya satu - dua SCO Unix. Juga dalam rencana
me-Linux-kan Netware, meski baru saja kemarin saya nulis registrasi
IntranetWare karena tetap ada yang dipertahankan juga. Juga kebanyakan
tech-support pc-nya dual-boot, win95 dan Linux, cuma malah atasannya
sendiri yang nggak, lantaran kehabisan pc jadi pakai NeXT :-)
+- and with none but Allah is the direction of my affair to the right issue;
/ /_/ _/ /_/_/_/_/ on Him do I rely and to Him do I turn (QS 11:88) ///
_/_/_/_/ _/ HDS5 _/ [EMAIL PROTECTED] (Syafrudin)
/_/ _/ /_/_/_/_/_/ = pramuka.org - linux.or.id - estuary.klwarta.or.id =
----------------------------------------------------------------------
Unsubscribe: [EMAIL PROTECTED]
Archive: http://www.vlsm.org/linux-archive/
Netiket autoresponder: [EMAIL PROTECTED]