2008/4/26 Edwin Pratomo <[EMAIL PROTECTED]>:

>
> --- Arie Kusuma Atmaja <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> > 2008/4/11 Leo Laksmana <[EMAIL PROTECTED]>:
> >
> > >  Mau nanya ke Bung Arie, filosofinya pertanyaan ini apa yah?
> >
> > I'm temperamental when talking about philosophy. Better not to talk
> > about that. Males panjang panjang omongin filosofi, enak saya mbaca
> > buku yg saya suka aja sambil rileks.
> >
> > > Karena ini kan gak ada practical use-nya di real life coding.
>
> bagaimana situ tahu bahwa itu tidak ada manfaat praktisnya?
>
> rgds,
> Edwin.
>
>

well, saya tidak melihat value-nya dari code tersebut... kalo anda bisa
berikan satu contoh kenapa saya harus atau bisa mengimplementasikan code
tersebut logically tolong beri saya pencerahan...

seingat saya code-nya begini:

var = nil if false
var.nil? #=> true

well logical buat saya aja "var = nil if false", ini gak ada practical
value-nya tokh? jelas kita sebagai programmer tahu bahwa "if false" apapun
di dalam block tersebut gak akan di evaluate.

anyway, mungkin saya balik lagi mau tulis apa yang saya tulis di thread ini
sebelumnya (kalau salah tolong dibenerin juga).

secara konteks semua variable begitu digunakan, tanpa previous initilization
atau declaration, adalah nil object. dalam konteks code snippet di atas,
karena block di dalam "if false" tadi gak pernah dievaluate, begitu ada call
"var.nil?" itu adalah first ever declaration of var, which in context is a
nil object. pertanyaan bung arie adalah, is it a feature or a bug? in which
i answered neither, because it's actually an implementation of the
programming language (technically a feature but it's actually a design
decision for the purpose of consistency; ini analisa saya lho? bukan
something yang saya baca di dalam parser or lexical analyzer ruby language).


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke