Ayo "Rame-rame" Kelola Sampah Sendiri 

Ester Lince Napitupulu

Mengandalkan pengelolaan sampah oleh pemerintah ternyata tak kunjung tuntas.
Rasanya sudah saatnya kini warga Ibu Kota lebih aktif mengelola sampahnya
sendiri. Termasuk di dalamnya para pedagang di pasar-pasar!

Dalam sebuah kuliah umum di perguruan tinggi swasta Jakarta, awal November
lalu, Gubernur Sutiyoso sanggup berpanjang lebar menyampaikan paparannya
soal upaya mengatasi kemacetan lalu lintas di Jakarta. Dari soal busway,
monorel, hingga subway atau Jakarta Metro System. Namun, ketika seorang
mahasiswa bertanya soal pengelolaan sampah, orang nomor satu di DKI Jakarta
itu terlihat tak sedikit pun menampakkan kebanggaannya.

Ia bahkan beberapa kali menyampaikan kekesalannya atas tak berminatnya lagi
investor untuk mengolah sampah dengan teknologi tinggi. Penolakan masyarakat
di sekitar tempat yang akan dijadikan tempat pengolahan sampah terpadu di
Bojong dituding sebagai akibat dari provokasi beberapa pihak dan telah
membuat investor memilih mundur.

Sutiyoso sadar bahwa sistem sanitary landfill atau yang diakuinya lebih
tepat disebut open dumping di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah Bantar
Gebang, Bekasi, sudah ketinggalan zaman, bahkan berisiko terhadap kerusakan
lingkungan. "Pengolahan sampah DKI sudah harus menerapkan teknologi tinggi.
Sampah harus dimanfaatkan," ujar Sutiyoso. Sayangnya, ketika teknologi
tinggi itu akan diterapkan, masyarakat lebih dahulu menolaknya sangat keras.

Dinilai tidak serius

Pengelolaan sampah DKI yang dinilai tidak juga bergerak maju belakangan ini
malah mendapat sorotan tajam. Peristiwa longsornya timbunan sampah di Zona
IIIA TPA Bantar Gebang pada 8 September dini hari yang menewaskan tiga
pemulung dan lima orang lainnya luka-luka semakin membuktikan bahwa
pengelolaan sampah secara asal-asalan hanya menunggu waktu untuk menjadi
sebuah bencana.

Berbagai pihak lalu mempertanyakan keseriusan Pemerintah Provinsi DKI
menangani sampah di wilayahnya sendiri. Wacana yang sudah lama didengungkan
agar DKI tidak mengandalkan pembuangan sampah ke daerah tetangga kembali
mencuat.

Namun, tampaknya sampai sejauh ini belum terlihat ada gerak untuk memulai
pengurangan sampah sejak di wilayah Jakarta sendiri. Akibatnya, sampah yang
dibuang ke TPA Bantar Gebang tetap saja tak berkurang dari angka 6.000 ton
per hari.

Semula, TPA Bantar Gebang yang kini sudah berumur 17 tahun itu memang
direncanakan menjadi tempat pengolahan sampah terpadu. Namun, sampai habis
masa kontraknya per Desember ini, Pemerintah Provinsi DKI dan Pemerintah
Kota Bekasi masih saja berkutat soal keuntungan yang didapat daripada
mematangkan TPA yang ramah lingkungan dan memberikan keuntungan bagi warga
sekitar.

Padahal, beberapa kajian telah mengingatkan bahwa masa pakai TPA Bantar
Gebang tinggal dua tahun jika sistem yang digunakan tetap sanitary landfill
(buang lalu uruk) seperti selama ini. Di sisi lain, rencana pembangunan tiga
sarana pengelolaan sampah utama dalam bentuk fasilitas pengolahan sedang di
wilayah Jakarta belum juga terlaksana.

Meski sudah diingatkan akan akibatnya, aparat DKI tidak juga bergerak cepat
untuk menyosialisasikan partisipasi masyarakat dalam mengatasi sampah
perkotaan. Padahal, penyelesaian masalah sampah di sumbernya itu harus
dilakukan karena kenaikan pelayanan pengangkutan sampah hanya 1,8 persen,
jauh di bawah kenaikan penduduk yang mencapai 2,5 persen per tahun.

"Dalam penyelesaian masalah persampahan di kota, pemerintah daerah jangan
hanya melihat untuk skala besar, seperti pengadaan tempat pembuangan akhir
sampah saja," papar Kepala Bidang Standarisasi dan Diseminasi Badan
Penelitian dan Pengembangan Departemen Pekerjaan Umum Lya Meilany Taufik.
"Justru pengelolaan sampah yang berbasis masyarakat, dan menyelesaikan
sampah sejak dari permukiman, sudah bisa memutus mata rantai masalah sampah
di perkotaan," ujarnya.

Masyarakat mulai bergerak

Ketika para petinggi DKI masih memikirkan dan mencari solusi bagaimana
mengelola sampah dengan teknologi tinggi yang belum juga terwujud, sebagian
masyarakat Jakarta justru sudah mulai bergerak sendiri. Tekad bahwa Jakarta
harus bisa menyelesaikan soal sampahnya sendiri dibuktikan dengan tindakan
nyata yang dimulai di lingkungan rukun tetangga.

Di beberapa sudut perkampungan yang padat, misalnya, sudah terlihat kegiatan
penghijauan dan pengomposan. Warga diajar memilah sampah mulai di rumah,
berupa sampah basah dan kering.

Ajakan itu dimulai dari segelintir warga yang peduli terhadap masalah
lingkungan. Kader-kader lingkungan itulah yang menjadi contoh dan mendekati
warga di forum arisan atau dalam perkumpulan warga lainnya.

"Bukan pekerjaan mudah untuk mengajak warga mengubah kebiasaan membuang
sampah. Alasannya, ngapain repot ngurusin sampah karena dengan bayar Rp
3.000 saja sampah diangkut petugas," tutur Ny Sidik (58), warga Cempaka
Putih Barat RT 07 RW 09, Jakarta Pusat, yang menjadi salah seorang kader
lingkungan.

Keinginan untuk menciptakan lingkungan yang bersih dengan pengelolaan sampah
yang bagus itu tertular karena melihat kampung tetangga yang sudah terlebih
dahulu menjalankannya. Di setiap RT ada dua kader lingkungan yang proaktif
mengajak warga untuk mau memilah dan membuang sampah basah ke komposter atau
alat pembuat kompos yang disediakan.

Di Perumahan Bumi Karang Indah, Lebak Bulus, Jakarta Selatan, misalnya,
pemilahan sampah hingga pembuatan kompos telah berjalan lama. Bahkan, tukang
sapu perumahan yang tadinya membuang daun-daun pepohonan begitu saja telah
mendapat uang tambahan dari membuat sampah organik menjadi kompos.

"Kami mengajarkan supaya sampah dapur sebisa mungkin jangan sampai keluar
rumah. Warga di sini sudah bisa buat kompos sendiri. Volume sampah yang
dibuang pun berkurang," tutur Ny Sri Murniati (62) yang menjadi motivator
warga bersama suaminya, Menteri Kehutanan pada era Presiden Soeharto,
Djamaludin Suryohadikusumo (72).

Di beberapa tempat juga sudah ada TPS Zero Waste (tanpa sampah). Sampah
warga yang dikumpulkan ada yang diolah menjadi kompos, sebagian lain diambil
pemulung.

Bagong Suyoto, Ketua LSM untuk Persampahan Nasional, mengutarakan, dalam
mengatasi masalah sampah warganya, DKI masih menganaktirikan partisipasi
masyarakat. Padahal, apa yang sudah ada di masyarakat itu jika dikelola
dengan baik akan sangat berarti dalam pengelolaan sampah Jakarta.

Kalaupun sekarang Pemerintah Provinsi DKI tak juga bergerak mengikuti
gerakan masyarakat yang sudah peduli sampah, tak ada salahnya kalau
masyarakat Jakarta bergerak sendiri untuk terus maju. Maka, marilah kita
beramai-ramai mengelola sampah sendiri....

 



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke