Hihihihihiiiii.... ;-) Baca milis IDNIC koq jadi seperti baca koran:
saling tuding, saling menyalahkan, menganggap diri paling benar,
.....dlsb. ;-) Bosen ah.... ;-)
salam,
Eriyawan
-----Original Message-----
From: Indra PRAMANA <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Tuesday, March 02, 1999 12:47 PM
Subject: [idnic] Re: [dick] Re: Konsep Tanggung Jawab Yang Mana
Daripada
>On Sat, 27 Feb 1999, Rahmat M. Samik-Ibrahim wrote:
>
>> Indra Pramana wrote:
>>
>> > Apakah yang Anda maksud dengan:
>> > - kekrisuhan
>> > - kekacauan
>> > - penyelewengan
>> > yang terjadi di IDNIC?
>>
>> Sebelum memperlebar masalah, harap terlebih dahulu pada fokus
>> yang sesuai judul thread ini: "KONSEP TANGGUNG JAWAB".
>> Ini ada sedikit tambahan dari Tempo terbaru:
>>
>> | Surat Pembaca (NO.21/XXVII/23 Peb - 1 Mar 1999)
>> |
>> | JANGAN DUKUNG YANG LALIM
>> |
>> | KETIDAKADILAN dan ketimpangan pembangunan, serta ambruknya
>> | kondisi ekonomi bangsa Indonesia adalah tanggung jawab
>> | pemerintahan Soeharto, Golkar, PPP, dan PDI. Mereka, termasuk
>> | ABRI, selama pemerintahan Orde Baru tidak melakukan amar makruf
>> | nahi mungkar dan membiarkan kelaliman, bahkan ikut berbuat
>> | aniaya terhadap rakyat.
>> |
>> | Kalau kita ingin menegakkan kebenaran dan keadilan, beramar
>> | makruf nahi mungkar, marilah kita tidak mendukung dan memihak
>> | kelompok-kelompok lalim (Golkar, PPP, dan PDI). Kita semua tahu,
>> | apa dan bagaimana curriculum vitae mereka, jadi janganlah
>> | tertipu lagi, sebagaimana sabda Rasullullah; "Tanda-tanda orang
>> | munafik ada tiga, apabila berbicara dusta, apabila berjanji ia
>> | ingkar, dan apabila dipercaya ia khianat."
>> |
>> | DR. Dato Hadji Malindo
>>
>> Saya sangat prihatin (eh sebetulnya jengkel), terhadap hal-hal
>> yang sekarang terjadi di Indonesia. Kelihatan sekali, terlalu
>> banyak pihak yang mengacungkan jempol memuju diri sendiri, lalu
>> menggunakan telunjuk menyalahkan pihak lainya. Konsep tanggung
>> jawabnya payah sekali. Dan, saya belum melihat ada tanda-tanda
>> perubahan, walau pun sudah hampir satu tahu dalam suasana
>> "reformasi".
>>
>> Yang bertanggung jawab, seharusnya ya pimpinannya. Jika tidak
>> mau bertanggung jawab, ya mundur; dan bukannya nyeyel "tidak
>> ada pilihan lain" dan bertahan hingga titik darah penghabisan.
>>
>> Dengan demikian pula, kekacau dan ketidak beresan pada IDNIC
>> sepenuhnya tanggung jawab pimpinannya. Adalah tidak benar,
>> kalau nantinya pimpinan IDNIC malahan ngeyel: "Wah saya tidak
>> tahu..." <blah blah blah ngeyel>. Perihal kekacauan IDNIC akan
>> menyusul di thread lain. ^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^
> ^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^
>
>Justru itu yang saya tanyakan, kekacauan apa yang sekarang terjadi di
>IDNIC. Saya tunggu "thread lain"-nya itu. :-)
>
>> OWP:
>> > Saya bisa bersimpati & merasakan apa yang dirasakan RMS ...
>>
>> Ah, masa? :^)
>
>Semua kesulitan yang dulu dialami Pak Onno mengenai sekolah dan
diploma di
>bawah D3 yang tidak bisa mendapatkan *.ac.id itu, setahu saya karena
sudah
>ada di peraturan IDNIC, dan peraturan itu telah ada sejak PDTT-ID
masih
>dipegang oleh Pak Ibam. Pak Budi yang menggantikan Pak Ibam tidak
merubah
>peraturan tersebut, karena beliau menganut prinsip "ganti menteri,
tidak
>harus ganti aturan".
>
>Bagaimana mungkin Pak Onno bisa bersimpati dan merasakan apa yang
>dirasakan Pak Ibam, wong peraturan sekolah dan diploma di bawah D3
yang
>tidak boleh mendapatkan *.ac.id itu kan dulu yang buat ya Pak Ibam
semasa
>masih menjabat PDTT-ID, bukankah begitu? :-)
>
>Yang sekarang harus dipikirkan bukan masa lalu, melainkan ke depan.
Saat
>ini telah dibuat sch.ac.id untuk menampung sekolah yang tidak
diterima di
>ac.id, bukankah itu sudah merupakan progress?
>
>Lebih baik hujatan terhadap masa lalu itu diganti dengan
masukan-masukan
>yang bermanfaat untuk IDNIC di masa depan.
>
>-ip-
>
>--
>STOP-LANGGANAN: 'unsubscribe' ke: [EMAIL PROTECTED]
>START-LANGGANAN: 'subscribe' ke: [EMAIL PROTECTED]
--
STOP-LANGGANAN: 'unsubscribe' ke: [EMAIL PROTECTED]
START-LANGGANAN: 'subscribe' ke: [EMAIL PROTECTED]