> Saya sebetulnya sih setuju setuju saja mau dibuat sub domain apa pun
> juga, that's not a problem, tapi yang harus dipikirkan adalah aspek
> nantinya misalnya plsm.ac.id, nanti misalnya purwadhika ingin punya
> domain plsm, dan dia punya sub cabang surabaya.
> jadinya ?
> http://surabaya.purwadhika.plsm.ac.id
> Weleh apa tidak kepanjangan itu ?
> ujung ujungnya dia akan lari ke *.com karena tinggal
> http://surabaya.purwadhika.com

Lho kan bisa pakai alias: come.to/pwd, go.to/pwd :-)

> Apalagi kalau ada alamat emailnya lagi, misalnya
> [EMAIL PROTECTED]
> wah, di masukin di kartu nama, males orang nulisnya.
> Mendingan sub domain name dijaga maximum 3 character , karena
> domainnya sendiri max bisa 32 character.

Kalau gitu kenapa nggak daftar dengan pwdh :-)


> Sebagai pertimbangan http://www.networkassociatesinc.com akhirnya dia
> buat http://www.nai.com karena lebih pendek (tahu gitu sebelum dia
> orang register nai.com saya register dulu, nanti tinggal dijual,
> sayang sih nggak ada uang buat main spekulasian gituan)

Cybersquatting inilah yang bikin Internet kacau.
Sebagian besar orang mikir duit melulu sih. he he he.
Think about Jon Postel (alm.), bagaimana kontribusinya dia
yang tidak dapat diukur dengan uang.

> Jadi saya lebih setuju sebetulnya misalnya sch.ac.id dibuat sch.id
> saja, karena pengertiannya kalau menurut saya lebih logis (schools in
> indonesia), daripada (schools academic in indonesia)
> dan lagi pengimplementasiannya, dalam bentuk lain lainnya seperti
> record di hard disk, dsb. atau mungkin di kartu nama, atau brosur,
> juga mudah, misalnya http://www.smak1.sch.id daripada
> http://www.smak1.sch.ac.id apalagi kalau dibuat sub domain lagi
> misalnya
> http://i-6.kelas.smak1.sch.ac.id akhir akhirnya orang lari ke
> http://come.to atau http://go.to dsb karena lebih ringkas.

Bahkan kalau perlu nggak pakai embel-embel apa-apa, tinggal . saja.
Misalnya budi@rahardjo, atau rahardjo@budi. he he he.

Tidak ada salahnya menggunakan domain alias kan?
Yang penting adalah informasi anda dapat disebarkan, orang
dapat mengakses.

Saya rasa orang salah menangkap filosofi dari URL ini.
Most people got it wrong and they don't realize it.
Mungkin dapat direnungkan kembali prinsip dasar dari URL ketika
Tim Berners-Lee membuat basis Web:
bahwa semestinya orang *tidak perlu tahu* URL.
Ini adalah untuk konsumsi *mesin* alias komputer.
Jadi URL yang panjang sampai 20kbytes pun tidak menjadi masalah.
Bahkan ide terusnya adalah setiap dokumen (bukan hanya homepage)
memiliki sebuah identifikasi yang unique.
Dalam hal ini, teknologi kita baru mampu sampai tahap URL.
Menunggu sampai ada yang menemukan ide atau teknologi baru.
Lihat konsep "filemarhum"nya pak Ibam/RMS46, misalnya.

Nah, kaitannya dengan hal ini, maka portal dan search engine
menjadi esensial. Karena kita tidak perduli dengan URL.
They (portal, search engine, yang lain yang belum ketemu idenya)
will give you the requested information.
Nah... makanya silahkan rame-rame membuat portal dan search engine.
(Itulah sebabnya portal dan search engine masih hidup, alive
and well, partly because they remove the need to type URL.)

Kalau anda perhatikan juga, Microsoft *got it* (partially)
yaitu dengan berusaha untuk meng-complete-kan URL ketika anda
menulis di baris address.
In the future, you don't have to type (complete) URL!
URL or URN is just an identification for computers, not human.



> Memang dipandang dari segi keteraturan itu bagus sekali, sch.ac.id,
> atau plsm.ac.id, tapi ini belum diimplementasikan dalam bentuk
> realnya, karena kita hanya melihat sepotong saja yaitu sch.ac.id atau
> plsm.ac.id, bagaimana kalau seperti contoh di atas ?, jadi yang saya
> ingin maksudkan agar kalau bisa domain *.id itu laku keras, dan jangan
> hanya domain *.com, *.net dsb.. 

Masalahkan kita bukan ingin *medagangkan* atau *menduitkan*
domain. Jadi tujuan utama kita bukan untuk membuatnya menjadi
komoditi sehingga harus laku keras.
Kalau ke sana yang diinginkan, ada cara lain, misalnya dengan
setup domain "personal.id", "my.id", "computer.id", "home.id"
dimana ID diplesetkan menjadi identification (seperti Tonga
dengan .TOnya).


> BTW ada yang bisa menjelaskan, kenapa cbn.net.id provider di
> indonesia, tapi punya juga cbn.net ?
> apakah karena pengaruh globalisasi ? atau karena apa yang saya
> ungkapkan di atas ?
> terus bii.co.id ada pula bankbii.com
> universal.astra.co.id ada juga bankuniversal.com
> dan banyak contoh lainnya yang tidak bisa saya tuliskan satu per satu.

Bukan itu, tapi ini lebih ke arah untuk proteksi brand.
Idealnya sih BII, misalnya, punya seluruh domain yang ada
nama BIInya: bii.com, bankbii.com, bii.net, bankbii.net,
dan nanti kalau ada web.id, saya rasa merekapun akan daftar
bii.web.id, go.to/bii, dan seterusnya.
Ini untuk memproteksi terhadap homepage "palsu"
(lihat artikel Kurt's closet tentang tewasnya SSL di
securityportal.com)
Sayangnya... pendekatan itu sangat mahal.

Lagi-lagi karena ini orientasi dari bisnis: marketing, HaKI, dsb.

Ingat, ketika nantinya URL menjadi konsumsi mesin, bukan orang,
maka hal di atas bisa menjadi useless.
Like I said, our level of knowledge masih pada level domain name.
(Somebody, please come up with a new scheme and you'll be
known world wide.)

> 
> Terus yang perlu dipertimbangkan lagi antara plsm.ac.id dan sch.ac.id,
> bagaimana kalau misalnya nanti mau dibagi per wilayah, misalnya smak1
> ada yang di jakarta (bpkpenabur), ada di bandung (bpkpenabur juga /
> KPS bandung), surbaya, dsb.
> Meskipun kebetulan nama smak1 (smuk1) itu kebanyakan masih dipunyai
> satu yayasan yaitu bpkpenabur.or.id, bagaimana nanti dalam soal
> pembagian wilayahnya ? seandainya di tahun 2200 semuanya punya domain
> name sendiri ?
> jakarta.smak1.sch.ac.id , bandung.smak1.sch.ac.id 
> atau ....
> smak1.jkt.sch.ac.id , smak1.bdg.sch.ac.id
> bukankah lebih simpel sedikit
> smak1.jkt.sch.id atau smak1.bdg.sch.id

Boleh-boleh saja. Saya prediksi orang akan berusaha daftar
sebanyak-banyaknya nama. Bahkan kalau nanti ada domain
geografis, maka mereka akan daftar lagi dengan domain tsb.
Ini sifat manusia; teritorial.
Eh... binatang juga gitu ya? he he he.

Mudah2an informasi di atas bisa bermanfaat.

-- budi
--
STOP-LANGGANAN: 'unsubscribe' ke: [EMAIL PROTECTED]
START-LANGGANAN:  'subscribe' ke: [EMAIL PROTECTED]

Kirim email ke