On 22 Feb 00, at 22:10, Sanjaya wrote:

> >* Pertanyaan 1: PT yang dibentuk ini milik siapa? Milik si XX & YY
> >   sebagai kontak admin & teknis? Atau sebagai pribadi? Bagaimana
> >   membedakannya? Atau nggak masalah sebagai apapun mereka itu?

> (start intro)
> Kenapa ya manusia itu senang sekali memiliki? Lupakah kalau semua 
> itu sifatnya cuma titipan? (end intro)

<Tribute to pak Samik>
Kalau nginget-nginget ini saya kebayang betapa perjuangan
pak Samik. Dulu ketika domain nggak ada yang ngurusi, ditawarkan
ke sana sini... nggak ada yang mau. Terpaksa dia yang ngurusi.
Kemudian ketika (konsep) pengelolaan domain ditawarkan ke sana sini,
lagi-lagi nggak ada yang mau. Bahkan konsep PT DNS Jaya, nggak
ada yang mau. Bukan ada yang mau, tapi nggak ada yang mau...
Aneh kan.
Sekarang ... semua berebut ingin.
Saya salut ke Pak Samik atas visi ke depannya.
</Tribute to pak Samik>


...
> Saya usul cc-TLD (sekarang Pak Budi Rahardjo, dulu Pak Samik) diganti
> secara periodik. Juga semua kontak admin dan teknis. Jadi ada rotasi,
> dan kalau bisa pergantiannya jangan sekaligus tapi bertahap supaya ada
> kesinambungan.
...

Ini sudah pasti.
BTW, kalau ada yang ngikuti milis ccTLD, di sana saya sudah
laporkan bahwa saya akan mundur 2002 sebagai IDNIC
sesuai dengan kesepakatan saya dengan TLD-ID (yang dulu,
pak Samik). Fungsi IDNIC *sebaiknya* dipisahkan dengan TLD-ID.
[Tadinya saya hanya ingin satu tahun, karena seinget saya
janjinya seperti itu. Tapi menurut beliau dan rekan lain
katanya saya janji 5 tahun. Jadi ya 1997+5 = 2002.]
It could be sooner lho...
Sekarang kan domain registration sudah mulai jalan.
Jadi sudah bisa saya lepas untuk pergi ke tugas baru.



> Jadi ngapain sih bikin PT? Yang penting ada
> mekanisme yang terbuka dan punya pelaporan yang rapi baik ke
> pemerintah maupun publik.

Wah... penting nih pak. Ini untuk membedakan mana yang
mengerjakan operasional daily dan mana yang policy.
Seperti IETF, IANA, InterNIC, dan NSI.
Nah, yang PT itu si NSI.
Apalagi menyangkut duit. Bagusnya PT, biar jelas.

IDNIC yang sekarang bisa lebih seperti IETF (bukan ngurusi
day-to-day operation, tapi ke arah policy).

> > >* Pertanyaan 2: Siapapun seharusnya bisa mengelola pendaftaran
> > >domain
> > >   & pengoperasian DNS server sehingga bisa saja ada lebih dari 1
> > >   PT. Siapa yang boleh/bisa menentukan mana yang boleh jadi PT,
> > >   mana yg tidak? Atau, siapa yang menentukan saat ini cukup satu
> > >   PT, nanti2 bisa ditambah, dst.?
> 
> Pendaftaran domain lain lagi urusannya, karena mengandung DUIT.

Apalagi kalau mengandung DUIT, semestinya larinya ke PT supaya jelas.
Itulah sebabnya pak Samik dulu menyodorkan konsep PT DNS Jaya.
[Kita-kita ini orang kampus paling males kalau ngurusi duit.]

> Saya
> punya prinsip, kalau ada urusannya duit harus ada alternatif (jangan
> monopoli). Sekarang pendaftaran domain diurus APJII sendiri. Bolehlah
> ditawarkan ke pihak lain yang mau berfungsi sebagai alternatif. Saya
> jamin rebutan (karena ada unsur 'D' itu).

Belum tentu pak. Dulu, pengelolaan billing juga ditawarkan kepada
siapapun yang berminat mengelola. Tapi nggak ada yang mau (karena
dulu mungkin belum kelihatan ada duitnya ya...).
Sekarang mungkin lain ya.

Kemudian juga ada semacam "sinergi" (kata halus untuk "paksaan")
untuk menghidupkan APJII. So we go along.
Tanpa ada IDNIC, kayaknya APJII nggak bisa survive :-)
(income dari mana?)

BTW, apakah APJII sampai sekarang merasa memiliki IDNIC?
Saya sendiri merasa bahwa IDNIC *bukan* milik APJII, despite
what some people might think. Ini adalah miliki komunitas Indonesia.


> Tapi kalau terus ada 100
> pihak yang jadi pengelola pendaftaran domain norak juga kan? Agak
> malu-maluin bangsa gitu.. lagipula duitnya nggak gede-gede amat :-)
> 
> Bagaimana kalau Asosiasi Content juga bisa jadi pengelola, atau 
> Asosiasi Warnet, atau asosiasi apapun yang berbau internet? Rasanya 5
> s/d 6 pengelola masih pantas kok.

Pengelola itu maksudnya pengelola keuangannya (billingnya) seperti
yang sekarang dikerjakan oleh APJII, atau pengelola sampai kepada
penentuan policy dsb?

Mengapa 5 s/d 6? Sebaiknya bukan angkanya, tapi kualifikasinya.
Seperti para registrar ICANN, mereka mengacu kepada kualitas 
registrar.
Mengapa asosiasi content? mengapa asosiasi warnet?
mengapa web hosting nggak disebut?
mengapa APJII kok malah nggak disebut?
(PS: Saya bukan orang APJII lho.)
Kalau dilihat secara sederhana, yang berkepentingan dengan domain
kan APJII, Web Hosting, Perusahaan, ... bukan asosiasi content
(yang mana lagi nih? saya kok baru denger ada asosiasi content.
Asosiasi ini berkesan cenderung memojokkan yang tidak ikut asosiasi.)

Saya sebetulnya sedikit bingung mengapa orang-orang berminat
mengelola. Padahal, seperti kata pak Sanjaya, duitnya nggak gede
dan nggak boleh dipakai sendiri untuk cari untung.
IDNIC tidak cari untung.
(Boro-boro untung, komputer IDNIC juga cuma 1 doang. Mau beli
satu lagi masih mikir-mikir. Soalnya pertanggungan jawab.
Padahal banyak orang yang komputer pribadinya lebih dari satu.)

> Sanjaya
> Sekjen APJII

-- budi
--
STOP-LANGGANAN: 'unsubscribe' ke: [EMAIL PROTECTED]
START-LANGGANAN:  'subscribe' ke: [EMAIL PROTECTED]

Kirim email ke