Saya hapus yang nggak berkaitan dengan tanggapan saya.

"Rhiza S. Sadjad" wrote:

> (Untuk rekan-rekan di IDNIC, sorry for the (irrelevant?)
> cross-posting, diskusi lengkapnya bisa anda simak
> di http://www.eGroups.com/group/ptn-dikti/ dan
> http://www.eGroups.com/group/unhas-ml/ ).
> >
> >Atmajaya bisa ngasih gratis untuk internet, tapi tanya dulu
> >biaya operasional dan pengadaannya darimana ?
> >Atau, dalam jangka waktu tertentu, dihitung-hitung secara
> >ekonomi akan 'breakeven' dan kembali modal, setelah itu
> >tinggal untungnya saja. Coba tanya lebih lanjut deh mengenai
> >hal ini. Atau mungkin sudah termasuk dalam biaya promosi
> >Atmajaya. Mohon kaji lebih lanjut, apalagi yang namanya
> >PT Swasta.....sangat-sangat entrepreneur dengan keleluasaannya.
> >
> Naah, Atmajaya itu sudah bener kalo' menurut saya
> pendekatannya ........ Kalo' kita mau menyediakan
> buku di Perpustakaan kampus, 'kan tidak pernah kita
> menghitung-hitung "break-even" segala macem.....
> kenapa? Karena semua orang juga sadar dan tahu,
> bahwa menyediakan fasilitas berupa buku di perpustakaan
> di kampus itu bukan masalah bisnis dong ........ya, 'kan?
> Bukan sesuatu yang musti diitung-itung untung-ruginya
> atawa dibuat-buat "business-plan"-nya segala macem....
>

Betul sekali tanggapan dari pak Rhiza bahwa pendekatan Atma Jaya dalam hal
Internet sama dengan buku di perpustakaan.
Kami tidak menghitung "break-even" tapi menyediakan fasilitas.
Fasilitas butuh biaya dan ini kami jabarkan dalam anggaran yang terbagi dalam
investasi
baru dan maintenance, total sekitar 250-an setahun.

Sebelum anggaran disetujui oleh Yayasan memang saya harus presentasikan dan
jelaskan
secara mendetail walaupun tidak dalam bentuk business plan segala karena
semuanya
"berbentuk" biaya, tidak ada revenue-nya.
Komponen biaya ini juga TIDAK termasuk dalam sektor promosi/humas tetapi
merupakan "pure" anggaran biaya Biro SIM.

> >>Jadi dalam hal Atmajaya, bisa saja internetnya gratisan, tapi pemasukan
> >dari sektor lain bertambah. Dipromosikan dapat memakai internet gratis,
> >tapi SPP naik dikiiit aja, atau pos lainnya dikurangi. Mohon penjelasan
> dari
> >rekan kita Stefanus untuk menjelaskan sumber dananya. Cukup mengenai
> >pengadaan internetnya saja, nggak perlu gedung 31 tingkatnya.
> >

Kalau SPP naik memang "rutin" setiap tahun, hal ini berlaku bagi sebagian
besar PTS,
karena memang kita "hidup" sepenuhnya dari SPP mahasiswa.
Kenaikan itu kan dipakai untuk "menanggung" kenaikan gaji maupun kenaikan
biaya
operasi dan inflasi. Tidak mungkin untuk Internet mendapat anggaran, misalnya,

x% dari kenaikan biaya kuliah atau Rp x per mahasiswa.

Setiap tahun kami harus menyusun anggaran biaya dan anggaran ini akan
dibicarakan
dan diputuskan. Kalau kurang ya sudah kecuali ada force majeure bisa negosiasi
lagi
dan kalau masih ada sisa ya kembali ke Yayasan.
Jadi sumber dana ya dari anggaran tahunan doang yang disediakan oleh Yayasan.

Surplus yang ada, setiap tahun, harus dikelola dalam rekening tersendiri dan
setiap
5 tahun akan diperiksa oleh Kantor Pajak.
Kumulatif surplus tersebut harus digunakan untuk investasi bagi kepentingan
pendidikan
lagi kalau tidak mau dikenakan pajak.

Banyak PTS lain yang menggunakan beberapa pendekatan berbeda dalam rangka
mengikuti
era Internet. Mungkin bisa dikompilasi sehingga dapat dijadikan model bagi
PTS/PTN yang lain.

Sekian dulu dan menunggu komentar lebih lanjut.

--
STOP-LANGGANAN: 'unsubscribe' ke: [EMAIL PROTECTED]
START-LANGGANAN:  'subscribe' ke: [EMAIL PROTECTED]

Kirim email ke