(Untuk rekan-rekan di IDNIC, sorry for the (irrelevant?)
cross-posting, diskusi lengkapnya bisa anda simak
di http://www.eGroups.com/group/ptn-dikti/ dan
http://www.eGroups.com/group/unhas-ml/ ).

-----Original Message-----
From: Agus Wismakumara <[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Monday, May 01, 2000 8:02 PM
Subject: [ptn-dikti] Re: Free Internet Zone
>

>Pak Rhiza dan rekan-rekan Yth,
>
>Saya ingin turut sumbang saran mengenai FIZnya Pak Rhiza.
>
Terimakasih pak Agus atas saran-sarannya, berikut
ini sekedar tanggapan saya .........
>
>FIZ dapat terwujud selama memang 'dari sononya' gratis,
>artinya provider-nya, PT. Telkomnya mau ngasih gratisan.
>Ditambah lagi biaya perawatan harus ada yang nanggung.
>Selama masih ada biaya yang dikeluarkan, maka 'some one
>has to pay'.
>
Sebetulnya ....... memang di dunia ini apa sih yang dari
sono-nya gratis (terutama yang hasil rekayasa manusia,
kalo' ciptaan Tuhan sih semua "gratis" dari sononya,
karena Tuhan memang Maha Pengasih dan Penyayang).
Kata orang barat : "There is no such a thing called 'free
lunch' ". Yang namanya "absolutely free" itu 'kan cuma
ada di iklan doang ........ Yang saya ingin "kampanye"-kan
adalah semangat di balik upaya-upaya pengembangan
Internet di kampus-kampus di negeri ini, swasta mau
pun negeri.......... mbok ya yang digembar-gemborkan
jangan semangat untuk mengembangkan "bisnis"
Internet di Kampus, walau pun hanya sekelas KOPMA
misalnya ......... melainkan semangat untuk
menyediakan fasilitas yang memadai bagi sebuah
kampus, bukan menjadikannya "obyekan
bisnis" seperti yang saya rasakan akhir-akhir ini ....
Mari kita sosialisasikan Internet gratis itu sebagai HAK
bagi seluruh warga kampus.......... janganlah ditawar-
tawarkan seperti menawarkan "jajanan makan siang"
di kafetaria gitu ah ....
>
>Atmajaya bisa ngasih gratis untuk internet, tapi tanya dulu
>biaya operasional dan pengadaannya darimana ?
>Atau, dalam jangka waktu tertentu, dihitung-hitung secara
>ekonomi akan 'breakeven' dan kembali modal, setelah itu
>tinggal untungnya saja. Coba tanya lebih lanjut deh mengenai
>hal ini. Atau mungkin sudah termasuk dalam biaya promosi
>Atmajaya. Mohon kaji lebih lanjut, apalagi yang namanya
>PT Swasta.....sangat-sangat entrepreneur dengan keleluasaannya.
>
Naah, Atmajaya itu sudah bener kalo' menurut saya
pendekatannya ........ Kalo' kita mau menyediakan
buku di Perpustakaan kampus, 'kan tidak pernah kita
menghitung-hitung "break-even" segala macem.....
kenapa? Karena semua orang juga sadar dan tahu,
bahwa menyediakan fasilitas berupa buku di perpustakaan
di kampus itu bukan masalah bisnis dong ........ya, 'kan?
Bukan sesuatu yang musti diitung-itung untung-ruginya
atawa dibuat-buat "business-plan"-nya segala macem....
>
>Bagi kita yang PTN, mohon jangan alergi dengan biaya
>pemeliharaan. Walaupun modalnya dari pemerintah,
>seperti WC, parkir, dll. tapi untuk pemeliharaannya
>perlu biaya. Apalagi investasi alat dan gedung.
>Sebagai 'rule of thumb' untuk biaya perawatan  (mohon koreksi bagi
>yang kompeten untuk hal ini) :
>    Bangunan/Konstruksi : 3 % dari biaya investasi per tahun.
>    Mekanik : 5 % dari biaya investasi per tahun.
>    Elektronik/Listrik : 7% dari biaya investasi per tahun.
>Jadi dipakai atau tidak, 'some one' akan mengeluarkan biaya perawatan
>tersebut.
>
Itu betul sekali.......... masalahnya sistem anggaran kita
yang berlaku sekarang ini sudah sangat kadaluarsa,
kalo' nggak salah buatan kolonial Belanda tuh ......
Jadi kalo' mbangun sesuatu, tidak pernah dikaitkan
dengan penganggaran operasional dan pemeliharaan.....
Dulu saya ingat ada PTS yang "cerdik" sekali. Kalo'
dapat anggaran untuk membangun sejumlah 100 %,
maka 50 %-nya saja yang betulan dipake' membangun,
50 % lagi di-deposito-kan jadi dana abadi, lantas
bunganya untuk biaya operasional dan pemeliharaan....
"Penggelapan" anggaran semacam ini tentu kalo'
dilakukan di PTN, ......... akan cepat masuk bui deh
Pimpro-nya yah .........
>
>Nah, ide FIZ tentu sehat-sehat saja, selama mereka-mereka yang
>berkecimpung dalam hal pengoperasiannya mencari jalan keluar
>bagaimana mendapatkan biaya pengoperasiannya dan perawatannya +
>up grading bila diperlukan.
>Pemakai boleh gratisan, tetapi pengelola harus berjiwa entrepreneur untuk
>membiayainya. Kalau perlu dapat untung.
>
Betul itu ......... sekarang ini kalo' ada pejabat Fakultas, biasanya
PD II,  yang bertanya pada saya tentang "Internet gratis", maka
saya bilang bahwa yang diupayakan gratis itu untuk dosen dan
mahasiswa dong, sedang PD II ya musti cari jalan untuk
membayar ongkosnya....... 'kan begitu. Apalagi kalo' tunjangan
jabatan PD II sudah naik menjadi "jut-jut" begitu, ya musti
kerja-keras cari jalan bagaimana supaya kalo' dosen
atawa mahasiswa nge-klik Internet itu sama dengan
nge-klik-in AC di kampus ....... nggak mikir bagaimana
bayar listrik-nya, 'kan?
>
>Jadi dalam hal Atmajaya, bisa saja internetnya gratisan, tapi pemasukan
>dari sektor lain bertambah. Dipromosikan dapat memakai internet gratis,
>tapi SPP naik dikiiit aja, atau pos lainnya dikurangi. Mohon penjelasan
dari
>rekan kita Stefanus untuk menjelaskan sumber dananya. Cukup mengenai
>pengadaan internetnya saja, nggak perlu gedung 31 tingkatnya.
>
>Semua pengadaan, baik diadakan sendiri oleh institusinya maupun
>diberikan oleh pemerintah (melalui loan ataupun hibah) menjadi
>tanggung jawab bersama dalam mendapatkan biaya pengoperasiannya
>dan perawatannya + up grading. Kalau semua dikembalikan ke
>proyek.......mana tahan.....
>
Mesti dipikirkan sistem anggaran yang lebih cocok untuk
Perguruan Tinggi (Negeri utamanya, kalo' swasta sih
kaya'-nya kebanyakan OK punya, yang bagus tentu saja...)
sehingga berorientasi ke pelayanan publik (dalam hal
ini civitas academica), bukan pelayanan pada "dapur"-nya
pak Pimpro aja dong .........
>
>Sekian komentar saya, salam,
>agus wis.
>
Terimakasih atas komentarnya, pak Agus.
Wassalam, Rhiza
[EMAIL PROTECTED]
http://www.unhas.ac.id/~rhiza/



--
STOP-LANGGANAN: 'unsubscribe' ke: [EMAIL PROTECTED]
START-LANGGANAN:  'subscribe' ke: [EMAIL PROTECTED]

Kirim email ke