Kalo menurut aku/TAP:

Anda tidak memverifikasi
maksud surat tersebut, yakni: Adanya dinamika
Pelayanan Internet kepada Masyarakat, termasuk
contohnya di cc-TLD yang mempunyai program
Registry-Registrar. Aku tdk tahu pasti, mengapa
seorang Budi, menjadi Kemerungsung, anggapan
saya, mungkin ada yang ngomporin, hingga Anda
menggunakan "power IANA" terlalu luber ke energi
negatif-nya dibandingkan energi-positif nya, sehingga
menuai reaksi dari publik.

Dari sisi APJII, IP & ASN merupakan layanan IDNIC
itu sudah ada di program APJII 1996, yang saat itu
memang disepakati menggunakan nama domain IDNIC.

Selaras dengan restrukturisasi di cc-TLD, melahirkan
Registry dsb, yakni adanya tuntutan kualitas pelayanan
jasa internet ke publik; Demikian pula halnya APJII dgn
IDNIC yang memang lebih lazim digunakan utk IP & ASN.
Di APNIC pun template APJII-ID sudah digantikan menjadi
IDNIC. Ini memang Program Peningkatan Kualitas Pelayanan
ke Publik serta keselarasan sehingga tidak campur mawur.


Karena, adanya Registry, maka Identitas nya juga harus jelas, yakni memang mau murni "pelayanan domain di Indonesia", Registry itu tidak cocok pake nama IDNIC lagi.

-teddy


At 05:30 AM 3/18/2005, Budi Rahardjo wrote:
On Thu, Mar 17, 2005 at 10:11:13PM +0700, Dolly Surya wrote:
> Jika ada masalah fundamental mohon dilupakan sepanjang tidak ada
> yg dirugikan, demi kemajuan .net di Indonesia...

Yang sudah pasti jelas:
1. Kami merasa dirugikan karena tiba-tiba dilarang menggunakan nama
   yang sudah kami gunakan bertahun-tahun.
2. Pengguna domain Indonesia dibuat pusing dengan situasi seperti ini.

Tapi apa boleh buat. Jika memang harus demikian ya harus demikian.
Biarlah ini dicatat dalam sejarah Internet Indonesia. Bagi rekan-rekan
yang sudah lama memantau Internet Indonesia, mungkin masih ingat masalah
lampau waktu jamannya pengelolaan domain dikomandani pak Ibam. Dia juga
dikerjain oleh beberapa pihak sehingga akhirnya dia mundur dari
pengelolaan domain .ID. Jangan lupakan sejarah. Mohon dicatat bahwa pada
bulan Maret 2005 ini kami dikerjain. Saya pribadi tidak akan melupakan
hal ini.

Saya sih nggak ngomong manis-manis ("demi kemajuan ini itu", dan sejenisnya)
tapi sebetulnya pahit. Ini kan politikus. Katakan apa adanya saja.

-- budi




Kirim email ke