> Tapi secara praktek tergantung institusi masing-masing negara. Wah tidak > sengaja kok ada artikel yang kebaca kabarnya akunting juga amat > dipengaruhi budaya lokal :-). Sampai sampai Australi pun menerapkan hal > ini, walau ada Akunting Internasional :-). Sorry sekedar intermezo saja. > Tetapi soal brand memang sulit ya diadopsi kedalam domain :-). Lha jadi > kaya gini mas Jul minta domain net.id tapi ndak memberi servis jaringan > data :-0. > Jadi inget Group Ijo :-). Ngiklanin roko Sampurna, tetapi dengan tampilan > banyolan tanpa roko sama sekali :-). Begitulah cara pemilihan brand kali > :-). Pak Marno mungkin lupa, bahwa memandang sesuatu itu akan lebih baik dari beberapa sisi, net diinterprestasikan sebagai penyedia layanan akses internet itu sudah sangat biasa. Yang mungkin sekarang dianggap kontroversial adalah pengertian Net sebagai jaringan itu sendiri, dimana jaringan itu terdiri dari infrastructure, aliran content, interaktiftas dari para entity didalamnya, mungkin ini yang terasa aneh bagi sebagian masyarakat di Indonesia. Meskipun masyarakat IT itu sendiri. Let's open our mind, dunia ini selalu berputar, yang dulunya gak pernah sangka Mainan yang dulunya ditujukan untuk para Hobbiest itu menjadi satu kebutuhan disetiap meja kantor dan rumah. Siapa yang diuntungkan? Orang yang mempunyai visi yang lebih baik. Internet yang dulunya untuk keperluan Badan Pertahanan Amerika dalam perang dingin, sekarang menjadi 'milik' dunia. Semuanya selalu berubah, begitu pula pengertian2 kita akan dunia itu sendiri. Let's open our mind!
Salam, Julyanto Sutandang _______________________________________________ Idnic mailing list [EMAIL PROTECTED]

