--- Iwan Yulianto <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> Mas Martin,
> 
> Mau tambahin juga nih (kali2 nulis email yang serius
> boleh dong).

Bang Iwan yb,
Sersan aje, sambil santai mana tahu kita bisa nemuin
permasalahannya, hehehe kalau ke solusinya ntar ada
yang bentak lagi 'anak bawang jangan banyak cakap'.

> Sedikit banyak kondisi ekonomi di Indonesia
> (terutama dengan naiknya 
> BBM dan harga2 lainnya di sana sini) juga
> berpengaruh terhadap 
> industri ikan di indonesia. Bagaimana tidak? Buat
> cari mencukupi 
> kebutuhan makan sendiri aja susah, apalagi musti
> cari makan buat 
> peliharaan. 

Ini setuju buanget, emang sekarang lagi buanyak sekali
peliharaan yang udah gak diurus majikannya. Gue coba
mau jadi majikannya tapi gak sanggup, soalnya gak
cukup pake aquarium, maunya punya kandang di apartemen
yang udah lengkap!. (just kidding).

> Kalau kebetulan ikannya herbivora atau
> omnivora sih 
> mending. Tapi kalau ikannya carnivora...kebayang
> beli makanannya 
> gimana tuh?

Betul, segala kenaikkan ini itu, bikin daya beli orang
semakin lemah. Ikan hias industri yang mati suri, dari
dulu, sekarang dan mudah2an nantinya gak lagi.

Dibilang gak exis nyatanya masih ada, dibilang exis
nyatanya kembang kempis kaya ikan koki kekurangan
oksigen.

> Untuk beli ikan2 yang baru atau sekedar tambah
> koleksi juga harus 
> berpikir 2 kali. Beli ikan sampai ratusan ribu???
> Gile lu Ndro.... 
> Walau memang ada teman2 kita yang "agak" gila. tapai
> untuk orang 
> awam? boro-boro beli makan, buat beli makan aja udah
> susah.

Pelihara ikan masih dianggap kemewahan dalam
masyarakat kita. Pengalaman masa kecil, bahkan ortu
dan ibu guru banyak yang discourage anak2 seakan ikan
itu ganggu pelajaran, kaca dan electriknya
membahayakan dll. Anak2 yang main ikan, adalah anak2
yang berani melakukan sesuatu yang gak disarankan
ortu/guru. Masalahnya berapa banyak anak seperti ini,
satu persenkah dari populasi anak sekolah. Setelah
dewasa dan mandiri, mungkin tinggal separuhnya yang
inget main ikan. Dan jumlah ini nyusut lagi karena gak
sanggup liwatin rintangan bini, mertua dll. Sisanya
tinggal segelintir yang coba berani nyatronin sumenep,
kartini dll. Dan saat itu, semakin dia perlihatkan
antusiasnya, maka semakin jebol kantongnya. Buntut2nya
aquariumnya ditengkurepin, bini dan mertua menang,
anak2 semakin dilarang main ikan.

Negatif sirklus ini terus berlangsung, kontraksi hanya
terjadi saat ikan hias dijadiin simbol hokkie, orang
yang seumur hidup gak kenal ikanpun akan mulus2 saja
belanjain jutaan rupiah buat seekor arawana or laohan.
Bini dan mertuapun support, suami/mantu dipuji
perhatiin hokkie keluarga.


> walau tidak bisa dipungkiri, bahwa kampanye atau
> marketing ikan hias 
> di pasaran lokal semakin jarang. dengan lewatnya era
> louhan, pameran 
> ikan hias semakin jarang.

Dagangan mistik berbentuk ikan ini disamping berhasil
mengemukan pundi2 orang malaysia, juga menghancurkan
bisnis ikan non louhan. Yang coba setia dengan diskus
misalnya, juga terpukul dengan harga cacing beku yang
gila2an. Di cupang dan guppy tampaknya ada harapan
mengejar ketertinggalannya, kontes cupang hampir ada
setiap bulannya. Hanya diguppy, masih perlu waktu
lagi.
Di cupang sudah ada tiga orang yang mengantongi
sertificat juri international, dan mudah2an diakhir
Agustus atau awal September bakal ada International
Betta Show pertama.

> makanya milis2 seperti ini memang diperlukan. paling
> tidak ikut 
> mewarnai industri ikan hias di indonesia.

Betul, hidup moderator.

Salam,
martin.

> salam serius, 
> 
> Iwan Y
> 
> 



                
____________________________________________________ 
Do you Yahoo!? 
Yahoo! Personals: It's free to check out our great singles! 
http://au.personals.yahoo.com


 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ikan_hias/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke