Judul posting ini bukan berbahasa Jerman, bukan pula bahasa alien. Kalau diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, bakal berbunyi "Stuttgart... Saya Datang".
Ya, saat ini saya telah mendarat di Stuttgart. Penerbangan Frankfurt-Stuttgart ternyata hanya sekitar 25 menit. Ibaratnya, baru saja take off, eh... sudah persiapan landing. Masa menanti panggilan boarding berkali-kali lipat lebih lama. Penerbangan jarak superdekat itu, kayaknya lebih singkat dari Surabaya-Jogja deh, ternyata bukan menggunakan pesawat Lufthansa. Yang lebih tepat, saya menumpang Eurowings, penerbangan regionalnya Lufthansa. Kali pertama melihat pesawat yang hendak saya tumpangi, saya langsung teringat dengan Merpati. Pesawatnya mungil. Tipenya BAe 146. Konfigurasi tempat duduknya dari depan sampai ke belakang sama. Yaitu, tiga di kiri dan tiga di kanan. Padahal, saya memegang tiket kelas bisnis. Apa dong bedanya? Tetap ada bedanya. Penumpang kelas bisnis mendapatkan nomor urut kursi bagian depan. Hal lain, satu kursi di tengah sengaja dikosongkan. Jadi, ukuran kursi sama persis dengan kelas ekonomi. Namun, konfigurasi tempat duduknya, isi-kosong-isi, kemudian lorong untuk berjalan, dan isi-kosong-isi lagi. Masih ada perbedaan lain. Sesaat setelah pesawat tinggal landas, penumpang kelas bisnis mendapatkan tawaran salad dan minuman ringan. Pelayanan seperti itu tidak diberikan kepada penumpang kelas ekonomi. Penumpang kelas ekonomi tak mendapatkan apa pun. Tetapi, karena penerbangan sangat singkat, mestinya tak masalah ya. Saya pun tadi menolak salad yang ditawarkan. Keluar dari terminal kedatangan di Bandara Stuttgart, penjemput telah menanti. Saya langsung diantar ke Marriott Hotels, tempat saya akan menginap selama di Stuttgart. Hanya meletakkan tas, saya dan rombongan dari Indonesia langsung keluar ke pusat perbelanjaan terdekat. Makan siang plus berbelanja minuman dan makanan ringan untuk dibawa ke hotel. Kebetulan, dua rekan asal Indonesia yang sejak di Singapura menumpang pesawat yang sama dengan saya sedang berpuasa. Restoran hotel baru buka pukul 06.30. Setelah mencoba mengajukan permintaan khusus, dapur hotel baru bisa mengantarkan roti ke kamar dua rekan itu pada pukul 05.30. Tidak bisa lebih awal lagi karena dapur memang belum buka. Jadi, membeli bekal untuk sahur tampaknya adalah langkah bijak. Mengapa? Waktu sahur di Jerman, kata seorang rekan, selambat-lambatnya pukul 04.25. Nah, kalau menanti kiriman roti dari dapur hotel, terlambat dong sahurnya. Durasi puasa di sini lebih lama ketimbang di Indonesia. Rekan yang puasa itu baru bisa berbuka setelah pukul 20.00. Saya lupa tepatnya, pukul 20.25 atau 20.30. Berarti, rekan saya tersebut harus berpuasa selama 16 jam. Sekarang saya berada di kamar. Mau mandi dulu. Sudah bau nih. Terakhir kali mandi kemarin sore waktu Indonesia. Padahal, sekarang di Indonesia sudah malam ya. Lalu, istirahat sebentar. Nanti pukul 17.35 waktu Jerman alias pukul 00.35 WIB saya sudah harus siap di lobi hotel. Acara pertama digelar malam ini. Kalau kemarin hingga saat ini posting dengan subjek Jerman lebih banyak berisi cerita ke sana kemari, mulai malam ini tampaknya mulai memasuki esensi. Malam ini ada "Calling All Innovators Award" ceremony. Kemudian, besok pagi Nokia World 2009 resmi dimulai. Selamat mengikuti terus posting saya. Semoga tidak bosan. Salam, Herry SW

