ngomongin soal narsis, gak ada habisnya...
  Ini coba saya lampirkan tulisan dari idola saya, tentang narsis, yg pernah 
dimuat di koran kompas, beberapa bulan lalu... 
  Inget ya.. ini sekedar untuk renungan bukan untuk menjadi polemik... (he he 
he...ketakutan duluan nih gue...)
   
  Salam
  Indri
  (Ibu2 gaul yg maniz....hehehe...ketularan narsis juga...)
   
   
  Narsisus
  Mohamad Sobary 
   
  Orang Yunani memiliki tokoh mitologis, Narsisus, yang jatuh cinta kepada 
dirinya sendiri. Tiap kali memandang dirinya di permukaan air, Narsisus kagum 
akan ketampanan wajahnya. 
   
  Novelis humoris dan tangkas memainkan ironi, Paulo Coelho, dalam kisah 
pembuka novelnya, The Alchemist, menceritakan betapa banyak peri hutan merasa 
iri kepada telaga, tempat tiap pagi Narsisus mengagumi dirinya. 
  "Enak ya kamu, tiap pagi memandang wajah tampan dan mata jernih itu," kata 
peri hutan. 
  "Apa dia tampan dan matanya jernih?" jawab telaga. 
  Lho, kamu melihatnya tiap pagi bukan?" 
  "Tidak. Aku tak sempat melihatnya sebab tiap kali ia jongkok di tepiku, aku 
sibuk memandang kejernihan wajahku sendiri yang terpantul di matanya." 
   
  Saya kagum membaca ketangkasan humor novelis ini. Dengan ringkas dan bagus ia 
hendak mengatakan, seperti para psikolog yang berurusan dengan 
"abnormalitas"—bahwa si telaga, mungkin maksudnya kita—sering lebih narsisisus 
daripada Narsisus sendiri. Sering kita berperilaku tak sehat, narsisme, tetapi 
tak menyadari bahwa kita mengidap gangguan jiwa. 
   
  Gejala tak sehat ini direkam pula dalam buku Alice Miller, The Drama of the 
Gifted Child: The Search for The True Self (Drama Anak-Anak Kita: Membedah 
Sanubari Mencari Diri Sejati) yang menguraikan betapa berjuta-juta anak di 
dunia menjadi korban watak narsisme orangtua mereka sendiri. 
   
  Kemudian anak-anak itu berangkat dewasa, secara narsistis pula. Dan ketika 
menjadi orangtua, mereka pun memperlakukan anak-anak seperti dulu mereka 
diperlakukan secara tak sehat. 
  Cinta orangtua yang narsistis tadi, pada hakikatnya wujud cinta pada diri 
mereka sendiri. Orangtua menyayangi anak bukan demi si anak melainkan demi diri 
sendiri. 
  Dan kita pun sering diperhadapkan pada sikap tak terduga. Anak yang tampak 
manis dan lembut, ternyata menyimpan potensi "bom" rasa cemas, takut, 
frustrasi, juga dendam secara sosial, dan dengan mudah meledak. Anak bunuh diri 
tanpa alasan masuk akal. Orang dewasa membunuh dengan kejam orangtua, istri, 
suami, atau anak sendiri juga tanpa alasan masuk akal. 
   
  Tentu saja tak masuk akal, sebab semua alasan terpendam di bawah sadar, 
disembunyikan rapat di balik rasa cemas yang disulap menjadi kepatuhan. Mereka 
patuh bukan karena patuh, tapi karena takut. 
   
  Menjadi anak saja sudah sulit. Apa lagi menjadi anak di dalam keluarga 
otoriter. Menjadi rakyat itu sulit, jalanan macet, dan harus mengalah dengan 
frustrasi tiap kali ada pejabat lewat dengan kawalan polisi. 
   
  Kita takut pada orangtua otoriter, guru galak, polisi, satpam, tentara, 
pengawal presiden atau wakil presiden, ajudan menteri yang lebih dari menteri, 
atasan di kantor yang melebihi kuasa Tuhan, dan sikap banyak Bank yang 
mempekerjakan preman kejam menjadi "debt collector" berjiwa jin dan hantu. 
   
  Mengapa kita sering membikin takut orang lain, dengan rasa bangga? Mengapa 
kecemasan orang lain menjadi kebahagiaan kita? Mungkin karena kita pun tak 
sepenuhnya waras. 
  Para selebriti—intelektual maupun yang sama sekali tidak intelek dan 
sebetulnya membosankan—hati-hatilah terhadap pengagum, atau pencinta fanatik. 
Banyak tokoh dunia dibunuh—juga Ghandi yang mulia dan agung—oleh pencinta dan 
pengagum fanatiknya. 
  Mengapa banyak pencinta dan pengagum fanatik pada tokoh publik? Mungkin 
karena pada dasarnya banyak orang tak pernah mendapat—dan karena itu 
membutuhkan—cinta dan kekaguman. Lalu mereka mengagumi orang lain demi diri 
mereka sendiri. 
  Pengagum sobat saya, kiai AAgym, berbalik menjadi dengki, marah, mengutuk, 
karena sobat ini dianggap cermin diri mereka, tapi cermin itu dibikin retak. 
Diri mereka yang cemas, merasa kurang, merasa rendah, dan berharap, tiba-tiba 
dikecewakan. Dulu AAgym pasti tak terlalu sadar bahwa kekaguman yang menjulang 
ke langit dari begitu banyak warga yang butuh kagum, pada dasarnya juga potensi 
kebencian. Kiai ini mungkin mengira mereka kagum pada dirinya, padahal 
orang-orang itu kagum hanya pada diri mereka sendiri seperti Narsisus dan 
Telaga dungu itu, 
   
  Cinta mereka tak sama dengan cinta pada Negara, yang menurut John Lenon 
membuat orang rela "to kill or die for" rela berkorban. Cinta dan kekaguman 
publik pada tokoh agama, seni, ilmu, filsafat, dan tokoh politik yang bisa 
mudah menang pemilu, disertai "bom" kemarahan, jengkel, kecewa, benci, dan niat 
balas dendam, dari memanggul setinggi langit ke niat mengubur dalam-dalam 
hingga kebencian terpuaskan. 
  Sekarang para tokoh politik mungkin mulai sadar, betapa tak sehat suasana 
pemujaan politik di masyarakat. Sang Terpuja, pelan-pelan diancam kebencian, 
kemarahan, rasa kecewa, frustrasi, dan serangan politik bertubi-tubi. Musuh 
politik menari-nari di atas kebencian terhadap orang lain. 
  Ini pun sebenarnya kedunguan yang tak disadari. Dikiranya dirinya tak mungkin 
dikenai sikap serupa. Kenapa kita tak mampu mengelola cinta dan kekaguman tetap 
menjadi cinta dan kekaguman? 
   
  Karena kita terbius popularitas. Kita terbius aroma pujaan, dan lupa membalas 
dengan kerja keras untuk mewujudkan harapan. Jangan lupa, di dunia politik, 
pendukung, pencinta, pemuja, tim sukses, intinya mendukung, mencintai, memuja, 
dan menyukseskan harapan mereka sendiri. Begitu harapan dikecewakan, mereka 
siap mengasah pedang pembunuh naga. 
   
  Pengagum, atau pemuja, juga dungu. Orang kok dipuja. Salah sendiri. Watak 
fanatis harus diubah. Kita mencintai, atau memuja secara dewasa. Dan kalau 
orang cukup dewasa, ia tak perlu pujaan. Akal, rasionalitas, dan hati harus 
seimbang supaya kita bisa meminta dan bisa memberi. 
  Kalau memberi—cinta dan pemujaan—ya harus memberi. Kita tak boleh 
terus-menerus naïf, cengeng dan mentah dalam menyikapi tokoh. Kita tak boleh 
terlalu dekat Narsisus. 
   

              
---------------------------------
Ahhh...imagining that irresistible "new car" smell?
 Check outnew cars at Yahoo! Autos.

Kirim email ke