Maaf nih mas Iristiantara, aku mau coba menanggapi, semoga berkenan
Soal indeks glikemik (IG) betul adanya.... bahan makanan yg ber IG tinggi
akan dengan cepat menaikkan kadar gula darah . Sehingga insulin akan dengan
cepat dikeluarkan oleh pankreas, dan berusaha menurunkan gula darah agar
balance.
(insulin diperlukan utk regulasi kadar gula darah, dan sbg homeostatis zat
gizi dlm plasma dan jaringan.) Hormon Insulin sifatnya spt anak kunci yang akan
membuka dan memasukan glukosa (hasil metabolisme karbohidrat) ke dalam sel,
agar glukosa dpt diubah mjd energi, dan dipakai oleh sel2 tubuh.
pernah denger khan kalo ada orang diabetes yg gula terlalu tinggi, dan sulit
dikontrol, dokter memberikan suntikan insulin (suntikan insulin juga diberikan
utk penderita diabetes tipe I, yg udah dpt penyakit ini dari "sono"nya).
karbohidrat simple seperti gula, madu, sirup memang ber IG tinggi, dibanding
karbohidrat kompleks spt beras, jagung, kentang, dsb. Meskipun dari sama2
beras, proses pemasakan akan mempengaruhi nilai IG, contoh Bubur lebih tinggi
IG nya dibandingkan dengan nasi , karena proses pencernaan bubur lebih cepat
drpd nasi. Dengan menambah serat, maka suatu makanan akan ber IG rendah, krn
lama dicerna dan diproses menjadi energi dlm tubuh.
Sebenarnya meskipun karbohidrat yg dimakan berupa karbohidrat simple (yg dng
mudah menjadi energi) tetapi jika diimbangi dengan aktivitas yg memadai, tidak
akan terjadi penimbunan lemak. Hanya saja, umumnya setelah buka puasa, orang
lebih sering tidak melakukan aktivitas yg cukup banyak, sehingga tidak balance
antara 'in" dan "out" nya
Dan biasanya waktu buka puasa, orang langsung "balas dendam", makan
sebanyak2nya....
Anjuran untuk minum air putih tepat adanya, karena yg terpenting adalah
mengembalikan cairan tubuh terlebih dahulu, kemudian menaikkan kondisi
hipoglikemi (kadar gula darah rendah). Untuk mengatasi kondisi hipoglikemi yg
cepat memang dgn minum yg manis dari gula sukrosa/madu/sirup, dsb, tapi
tentunya tidak berlebihan.
anjuran memilih makanan karbohidrat kompleks sangat bijak. dan itu yg
sekarang ini lebih sering kami anjurkan, agar proses metabolisme lebih
"perlahan" tidak melonjak tiba2...
Untuk sahur, konsumsi karbohidrat kompleks + serat sangat dianjurkan, agar
proses pengosongan lambung bisa bertahan lama, dan rasa lapar bisa ditunda.
itu saja ya mas Iristiantara. mudah2an bisa membantu...
iristiantara <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Bagi rekan miners yang akan menjalankan ibadah shaum ramadhan,
mungkin ada yang berkecimpung / ada kenalan dibidang kesehatan /
gizi yang bisa menanggapi?
Salam,
Arief
--- In [EMAIL PROTECTED], "anton ms
wardhana" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
as.wr wb,
berikut informasi yang nampaknya cukup penting
namun demikian, mohon bantuan konfirmasinya dari yang lebih
menguasai.. pls
cmiiw
was.wr.wb, ari ams
---------- Forwarded message ----------
From: agus.sumarna
Date: 4 Sep 2007 16:09
Subject: Jangan Berbuka Shaum Dengan Yang "Manis'
To:
Share info dari teman,
===============================================
Sekedar berbagi info menjelang shaum Romadhon.. J
*
Jangan Berbuka shaum Dengan Yang 'Manis*'
BENTAR lagi Ramadhan. Di bulan shaumitu, sering kita dengar
kalimat 'Berbuka shaumlah dengan makanan atau minuman yang manis,'
katanya. Konon,itu dicontohkan Rasulullah saw. Benarkah demikian?
Dari Anas bin Malik ia berkata : "Adalah Rasulullah berbuka dengan
Rutab (kurma yang lembek) sebelum shalat, jika tidak terdapat Rutab,
maka beliau berbuka dengan Tamr (kurma kering), maka jika tidak ada
kurma kering beliau meneguk air. (Hadits riwayat Ahmad dan Abu Dawud)
Nabi Muhammad Saw berkata : "Apabila berbuka salah satu kamu, maka
hendaklah berbuka dengan kurma. Andaikan kamu tidak memperolehnya,
maka berbukalah dengan air, maka sesungguhnya air itu suci."
Nah. Rasulullah berbuka dengan kurma. Kalau tidak mendapat kurma,
beliau berbuka shaumdengan air.
*Samakah kurma dengan 'yang manis-manis'? Tidak. Kurma, adalah
karbohidrat kompleks (complex carbohydrate).*
Sebaliknya, gula yang terdapat dalam makanan atau minuman yang manis-
manis yang biasa kita konsumsi sebagai makanan berbuka puasa, adalah
karbohidrat sederhana (simple carbohydrate).
Darimana asalnya sebuah kebiasaan berbuka dengan yang manis? Tidak
jelas. Malah berkembang jadi waham umum di masyarakat, seakan-akan
berbuka shaum dengan makanan atau minuman yang manis adalah 'sunnah
Nabi'.
Sebenarnya tidak demikian. Bahkan sebenarnya berbuka shaumdengan
makanan manis-manis yang penuh dengan gula (karbohidrat sederhana)
justru merusak kesehatan.
*Dari dulu saya tergelitik tentang hal ini, bahwa berbuka
shaum'disunnahkan' minum atau makan yang manis-manis. Sependek
ingatan saya, Rasulullah mencontohkan buka shaum dengan kurma atau
air putih, bukan yang manis-manis.
*
Kurma, dalam kondisi asli, justru tidak terlalu manis.
*Kurma segar merupakan buah yang bernutrisi sangat tinggi tapi
berkalori rendah, sehingga tidak menggemukkan (data di sini dan di
sini). Tapi kurma yang didatangkan ke Indonesia dalam kemasan-
kemasan di bulan Ramadhan sudah berupa 'manisan kurma', bukan lagi
kurma segar. Manisan kurma ini justru ditambah kandungan gula yang
berlipat-lipat kadarnya agar awet dalam perjalanan ekspornya. Sangat
jarang kita menemukan kurma impor yang masih asli dan belum berupa
manisan. Kalaupun ada, sangat mungkin harganya menjadi sangat mahal.*
Kenapa berbuka shaum dengan yang manis justru merusak kesehatan?
Ketika berpuasa, kadar gula darah kita menurun. Kurma, sebagaimana
yang dicontohkan Rasulullah, adalah karbohidrat kompleks, bukan gula
(karbohidrat sederhana). Karbohidrat kompleks, untuk menjadi
glikogen, perlu diproses sehingga makan waktu.
Sebaliknya, kalau makan yang manis-manis, kadar gula darah akan
melonjak naik, langsung. Bum. Sangat tidak sehat. Kalau karbohidrat
kompleks seperti kurma asli, naiknya pelan-pelan.
Mari kita bicara 'indeks glikemik' (glycemic index/GI) saja.
Glycemic Index
(GI) adalah laju perubahan makanan diubah menjadi gula dalam tubuh.
Makin tinggi glikemik indeks dalam makanan, makin cepat makanan itu
dirubah menjadi gula, dengan demikian tubuh makin cepat pula
menghasilkan respons insulin.
Para praktisi fitness atau pengambil gaya hidup sehat, akan sangat
menghindari makanan yang memiliki indeks glikemik yang tinggi. Sebisa
mungkin mereka akan makan makanan yang indeks glikemiknya rendah.
Kenapa? Karena makin tinggi respons insulin tubuh, maka tubuh makin
menimbun lemak. Penimbunan lemak tubuh adalah yang paling dihindari
mereka.
Nah, kalau habis perut kosong seharian, lalu langsung dibanjiri
dengan gula (makanan yang sangat-sangat tinggi indeks glikemiknya),
sehingga respon insulin dalam tubuh langsung melonjak. Dengan
demikian, tubuh akan sangat cepat merespon untuk menimbun lemak.
Saya pernah bertanya tentang hal ini kepada seorang sufi yang diberi
Allah 'ilmu tentang urusan kesehatan jasad manusia. Kata Beliau,
*bila berbuka puasa, jangan makan apa-apa dulu. Minum air putih
segelas, lalu sholat maghrib. Setelah shalat, makan nasi seperti
biasa*. Jangan pernah makan yang manis-manis, karena merusak badan
dan bikin penyakit. Itu jawaban beliau.
Kenapa bukan kurma? Sebab kemungkinan besar, kurma yang ada di
Indonesia adalah 'manisan kurma', bukan kurma asli. Manisan kurma
kandungan gulanya sudah jauh berlipat-lipat banyaknya.
Kenapa nasi? Lha, nasi adalah karbohidrat kompleks.
Perlu waktu untuk diproses dalam tubuh, sehingga respon insulin
dalam tubuh juga tidak melonjak. Karena respon insulin tidak tinggi,
maka kecenderungan tubuh untuk menabung lemak juga rendah.
Inilah sebabnya, banyak sekali orang di bulan shaumyang justru
lemaknya bertambah di daerah-daerah penimbunan lemak: perut,
pinggang, bokong, paha, belakang lengan, pipi, dan sebagainya. Itu
karena langsung membanjiri tubuh dengan insulin, melalui makan yang
manis-manis, sehingga tubuh menimbun lemak, padahal otot sedang
mengecil karena puasa.
Pantas saja kalau badan kita di bulan Ramadhan malah makin terlihat
seperti 'buah pir', penuh lemak di daerah pinggang. Karena waham
umum masyarakat yang mengira bahwa berbuka dengan yang manis-manis
adalah 'sunnah', maka shaum bukannya malah menyehatkan kita.
Banyak orang di bulan shaum justru menjadi lemas, mengantuk, atau
justru tambah gemuk karena kebanyakan gula. Karena salah memahami
hadits di atas, maka efeknya 'rajin shaum = rajin berbuka dengan
gula.'*
---------------------------------
Sick sense of humor? Visit Yahoo! TV's Comedy with an Edge to see what's on,
when.