Komentar ya.....Terus terang saat ini pengetahuan masyarakat akan pentingnya
asuransi sangat kurang, terlebih - lebih masih banyak masyarakat yang
mengkaitkan asuransi dengan kematian, justru sebaliknya seharusnya masyarakat
dapat merubah pola berpikir dengan mengkaitkan asuransi dengan kesejahteraan.
Nah...bagaimana caranya kita memiliki asuransi tapi hidup kita bisa sejahtera
atau hidup orang - orang yang kita cintai juga bisa sejahtera...kita harus
menilik lebih lanjut perusahaan seperti apa yang dapat membantu kehidupan kita
dikemudian hari. Karena dengan mengetahui dengan sejelas jelasnya tentang seluk
beluk perusahaan dan jenis proteksi yang kita ambil, kita bisa memastikan
manfaat dan keamanaan dari dana yang telah kita investasinya disana.
Yang paling penting perlu diingat bahwa asuransi bukan segalanya yang dapat
menolong kita ketika kita tertimpah musibah, tapi asuransi adalah jawaban no 1
yang dapat membantu kita ketika tertimpah musibah.
Asuransi dibeli pada saat kita sehat, karena ketika kita membeli pada sakit
belum tentu perusahaan asuransi dapat membantu...thank's
Ani Krisna - Prudential Life Assurance
[EMAIL PROTECTED] wrote:
Laporan Khusus Jumat, 26/10/2007 Angsuransi... Apaan tuh?
Lebaran adalah hari bahagia, liburan dan silaturahmi. Berjumpa kembali
dengan kerabat dan sahabat lama atau berkenalan dengan handai taulan baru.
Semuanya menyenangkan, kecuali satu hal berkaitan dengan fakta bahwa saya
bekerja di industri asuransi, lebih spesifik di sebuah perusahaan reasuransi.
Kenyataan ini memaksa saya meluangkan waktu setidaknya sekitar sepuluh menit
untuk menjelaskan mengenai pekerjaan yang saya geluti. Begitu mendengar kata
asuransi, ada kerabat yang langsung menebak dengan menyebut nama sebuah
perusahaan asuransi jiwa lokal yang kantornya tersebar di hampir seluruh sudut
Tanah Air. Nampaknya, nama perusahaan ini paling banyak melekat di benak orang
Indonesia, terutama di daerah. Banyak pula sahabat yang menyebut asuransi
dengan 'angsuransi'. Konyolnya sebagian mereka percaya nama itu diambil dari
kenyataan bahwa premi asuransi umumnya dibayar secara angsuran.
Biasanya, setelah sukses menjelaskan apa itu asuransi, perlu sedikit tambahan
waktu untuk menjelaskan apa itu reasuransi. Saya tak sendiri, kawan-kawan
lain yang bekerja di industri asuransi juga memiliki pengalaman yang sama.
Cukuplah ini membuktikan bahwa pengetahuan masyarakat tentang asuransi masih
sangat rendah, bila tidak dapat dikatakan terbelakang. Persepsi mereka terhadap
asuransi umumnya salah kaprah bahkan konyol. Memprihatinkan sesungguhnya,
mengingat sejarah asuransi Indonesia telah berjalan lebih dari satu abad.
Barangkali kualitas pendidikan Indonesia boleh menjadi kambing hitam, namun
penting untuk disadari bahwa kewajiban terbesar untuk mendidik masyarakat
tentang asuransi secara benar justru ada di pundak industri asuransi sendiri.
Bukankah 'tak kenal maka tak sayang?' Persepsi yang benar terhadap asuransi
akan membawa banyak dampak positif bagi industri asuransi dan tentu saja pada
perekonomian secara keseluruhan. Sebagian besar masyarakat
memahami asuransi sekadar sebagai bayar premi bisa diangsur, lalu dapat ganti
rugi lebih besar bila celaka. Sebuah pemahaman yang sangat dangkal. Sangat
sedikit masyarakat bisa memahami bahwa ide asuransi sesungguhnya berpusat pada
satu hal yang disebut risiko dan asuransi merupakan salah satu upaya untuk
menanggulangi risiko yang tidak mungkin dikelola sendiri. Sangat sedikit pula
yang mengerti bahwa sesungguhnya risiko merupakan ketidakpastian akan
terjadinya sesuatu yang membawa kerugian yang dapat diukur secara finansial dan
bahwa sesungguhnya asuransi hanyalah salah satu langkah yang dapat dilakukan
dalam manajemen risiko. Pemahaman ini terasa semakin penting mengingat tidak
semua risiko dapat diasuransikan. Area inilah yang paling banyak menimbulkan
pertikaian antara perusahaan asuransi dan pelanggan mereka. Bila konflik ini
tidak dikelola dengan baik, persepsi terhadap asuransi justru akan memburuk dan
trauma ini mudah menular kepada orang-orang disekitarnya.
Keep it simple stupid Tak dimungkiri bahwa masyarakat telah demikian
terbenam ke dalam budaya instan dalam banyak aspek kehidupan. Demikian pula
halnya industri asuransi yang percaya bahwa pelanggan sesungguhnya tidak mau
repot, yang penting tunjukkan kepada mereka benefit semaksimal mungkin
(biasanya dalam nominal) dan harga serendah mungkin. Kita telah demikian
percaya pada kekuatan KISS (keep it simple stupid), 'short and sweet' atau
'less is more'. Padahal, bila sesekali kita tempatkan diri pada posisi
pelanggan, akankah kita membuat keputusan membeli sesuatu yang nilainya
signifikan secepat memutuskan untuk membeli sepotong gorengan? Apakah Anda akan
membeli mobil baru dalam waktu sepuluh menit sejak menginjakkan kaki di
showroom pertama yang Anda kunjungi? Atau meski pada pandangan pertama hati
anda telah tertambat pada sebuah mobil di showroom itu, tetapi Anda
menghabiskan waktu hingga 20 menit berikutnya untuk bertanya dan menggali
informasi lebih banyak
kemudian mengunjungi showroom lain untuk melihat-lihat dan memperoleh
pembanding? Kebanyakan pembeli yang rasional akan melakukan hal yang
terakhir, meski akhirnya keputusannya tetap sama, ia memilih mobil di showroom
pertama. Lalu mengapa kita harus berpikir bahwa hal ini tidak terjadi ketika
para calon membuat keputusan membeli asuransi, sehingga kita cenderung hanya
mengeluarkan informasi yang kita pikir sederhana, tidak memusingkan pelanggan
tetapi menggiring mereka untuk memilih produk kita. Padahal untuk sesuatu yang
berharga, pelanggan siap 'pusing' untuk menerima banyak informasi agar dapat
membuat keputusan dengan meyakinkan. Tentunya, tidak perlu membebani
pelanggan dengan informasi yang terlalu teknis. Tidak pula perlu menguraikan
sesuatu dengan seribu kata, bila sepuluh saja cukup. Kemampuan mengemas hal
yang teknis dan spesifik dengan bahasa sederhana menjadi sesuatu yang krusial.
Sebagian besar perusahaan asuransi memberi informasi yang terlalu
disederhanakan. Pelanggan tidak diberi kesempatan memiliki informasi yang
cukup untuk membuat keputusan pembelian. Brosur dan newletters lebih banyak
menampilkan apa yang terjadi dalam organisasi perusahaan atau kegiatan sosial
bahkan piknik karyawan akhir pekan, ketimbang memberikan informasi berguna
tentang risiko, asuransi dan kaitannya dengan produk. Hampir semua perusahaan
asuransi memiliki situs Internet, tapi sayangnya hanya sekitar 10% yang tampak
diperbarui secara reguler. Hanya sekitar 5% yang berusaha mengoptimalkan fungsi
situs mereka untuk meningkatkan penjualan dengan memaparkan fitur produk atau
online-quotation. Ada beberapa situs yang sangat ramai akan informasi, tapi
sedikit saja yang bermanfaat bagi penjualan apalagi edukasi publik. Sebagian
besar halaman dijejali berita internal perusahaan, kegiatan koperasi atau
keagamaan karyawan, pekan olahraga antarcabang bahkan anggaran tahunan.
Sejauh ini hanya satu situs perusahaan asuransi memperlihatkan
dedikasi terhadap edukasi bagi masyarakat. Selain ditata apik untuk
menjelaskan fitur produk yang mereka pasarkan, ada seksi yang memuat informasi
mengenai asuransi secara mendasar. Mulai dari pengertian risiko, manajemen
risiko, pengertian asuransi hingga prinsip-prinsip dasar asuransi. Isinya
memang belum banyak, tetapi seksi pembelajaran ini ditampilkan dengan strategis
di halaman depan situs sehingga mudah menarik perhatian setiap pengunjung.
Tell more, sell more Semakin banyak informasi yang diterima oleh pelanggan,
maka semakin tinggi apresiasi bagi sebuah produk. Mendidik pelanggan juga
membantu mereka menghilangkan ketakutan dan keraguan. Sesungguhnya, semua calon
pelanggan akan menanyakan beberapa pertanyaan yang sama ketika mengambil
keputusan pembelian yang penting, antara lain "Akankah produk ini sama dengan
iklan yang saya lihat di TV?", "Apakah penawaran ini memberikan yang saya
butuhkan?", "Apakah saya mendapatkan harga yang bagus atau sedang dikerjain?"
Meski lebih banyak didorong oleh persaingan, intensitas komunikasi
perusahaan dengan publik melalui iklan sedikit banyak memberi indikasi tentang
perhatian terhadap edukasi publik. Dari sumber yang dapat dipercaya, belanja
iklan Indonesia 2006 mencapai Rp38 triliun, hampir sama dengan total premi
bruto yang dikumpulkan oleh seluruh perusahaan asuransi di tanah air pada tahun
yang sama yaitu sekitar Rp40 triliun. Industri asuransi ternyata hanya
menyumbang sebesar Rp58,5 milliar atau 0,15% dari total belanja iklan nasional.
Harus diakui bahwa bicara iklan berarti bicara biaya yang besar untuk ruang
yang terbatas. Dengan kondisi industri asuransi saat ini yang terus tertekan
oleh tingginya biaya akusisi bisnis dan perang harga habis-habisan, maka mudah
untuk memahami mengapa media iklan bukanlah pilihan untuk berkomunikasi dengan
publik. Biaya yang mahal akan selalu menjadi kendala apabila edukasi publik
hanya dikaitkan dengan kegiatan memasang iklan atau mensponsori
suatu kegiatan besar. Padahal, mendidik publik sesungguhnya tidaklah seberat
yang dibayangkan oleh kebanyakan perusahaan. Ia bisa dilekatkan sebagai
kesatuan tidak terpisahkan dalam operasional sehari-hari, setidaknya melalui
tiga hal berikut: Pertama, perusahaan asuransi hendaknya mulai mengkaji ulang
materi pemasaran mereka selama ini. Sudahkah cukup mendidik? Brosur, misalnya,
meski ruang terbatas, adakah cukup informasi berguna bagi pelanggan? Ataukah
hanya berisi foto kantor pusat perusahaan asuransi, nama produk lalu harga?
Adakah informasi yang terkandung di dalamnya sudah benar, seimbang, tidak
berlebihan dan tidak pula merugikan pihak lain, terutama kompetitor. Informasi
produk yang salah berarti membawa publik menuju opini yang menyesatkan terhadap
asuransi. Bagi perusahaan yang memiliki anggaran besar untuk berpromosi dan
mampu beriklan di berbagai media, tentu harus melihat pula apakah materi iklan
mereka memiliki kandungan pendidikan bagi masyarakat,
disamping kekuatan dalam membangun citra untuk meningkatkan penjualan.
Kedua, terus memberikan informasi gratis bagi pelanggan. Menulis artikel
tentang isu industri asuransi di media akan membantu banyak bagi publik untuk
lebih mamahami esensi asuransi. Ketiga, perusahaan menggunakan stay-in-touch
proses untuk mendidik publik. Sesungguhnya banyak perusahaan yang secara
reguler berkomunikasi dengan para pelanggan mereka melalui newsletter atau
belakangan menggunakan fasilitas e-mail. Saatnya kini memanfaatkan saluran
ini dengan konten-konten yang edukatif. Tidak mesti melulu berisi tentang apa
yang terjadi didalam perusahaan atau apa yang dilakukan oleh karyawan untuk
mengisi akhir pekan. Terus terang cerita itu tidaklah menarik bagi pelanggan,
sehingga tidak jarang newsletter dengan tragis berakhir di tempat sampah atau
tukang loak sebelum sempat dibaca oleh pelanggan. Terakhir, penting untuk
dimengerti bahwa dampak dari upaya edukasi ini tidak akan terasa serta
merta. Namun, bila dilakukan secara berkelanjutan, ia mendorong publik untuk
memberi apresiasi yang tinggi terhadap sektor asuransi. Apresiasi tinggi
masyarakat akan menjadi kekuatan penting dalam menuju industri asuransi yang
sehat dan kokoh. Oleh Delil Khairat
Underwriter Hannover ReTakaful, Manama, Bahrain.
© Copyright 2001 Bisnis Indonesia. All rights reserved.
Reproduction in whole or in part without permission is prohibited.
==================================
Hannover Rückversicherung AG, Karl-Wiechert-Allee 50, 30625 Hannover,
Germany;
Sitz (registered office) der Gesellschaft: Hannover; Handelsregister
(Commercial Register) Hannover HRB 6778
Aufsichtsrat (Supervisory Board): Wolf-Dieter Baumgartl
(Vorsitzender/Chairman)
Vorstand (Board of Directors): Wilhelm Zeller (Vorsitzender/Chairman), André
Arrago, Dr. Wolf Becke, Jürgen Gräber, Dr. Elke König, Dr. Michael Pickel,
Ulrich Wallin
====== Legal Disclaimer ======
As you may know, emails sent via Internet can easily be altered or
manipulated by third persons. For this reason, we do not assume any
responsibility for changes made to this message after it was sent. Furthermore
please note that the information (including any attachments) in this email is
strictly confidential and solely intended for the addressee named above. If you
are neither the intended recipient nor an employee or agent responsible for
delivering this message to the intended recipient, we hereby notify you that
any form of unauthorized use, publication, reproduction, copying or disclosure
of this emails contents is not permitted. If you have received this
communication in error, please notify the sender and delete the email from your
computer system.
__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com