Apakah pertamax termasuk yang memakan subsidi pemerintah ?

Kalau Pertamax termasuk BBM yang memakan subsidi pemerintah maka ada nilai 
positifnya, yaitu mengurangi pengeluaran negara (mengurangi pengeluaran untuk 
subsidi BBM tapi biasanya dialokasikan ulang untuk beli mobil pejabat di akhir 
tahun 2007, semoga ini tidak benar).
  a.. Walaupun misalnya BBM industri gak naik, jelas efek kenaikan ini terasa 
di budget pengeluaran mayoritas perusahaan di negara ini (khususnya yang di 
Jabotabek, khususnya perusahaan tempat aku kerja) karena hampir semua mobil 
para bos mengkonsumsi Pertamax dan Pertamax Plus. Sudah menjadi rahasia umum 
bahwa para bos di sini baik di swasta maupun negeri mana mau pake mobil yang 
mengkonsumsi premium. Ujung2nya tetap biaya tinggi. Surplus perusahaan yang 
bisa dipake buat lebih mensejahterakan karyawan akan teralokasi ke pengeluaran 
BBM perusahaan. Jangan heran tahun depan makin banyak demo buruh karena gaji 
tidak naik, atau bahkan gaji tak terbayar (semoga ini tidak terjadi).
  b.. Efek dengan kenaikan biaya perusahaan adalah kenaikan harga jual produk. 
Tidak dapat dipungkiri harga produk di negara ini termasuk mahal, bukan karena 
kualitas yang bagus sekali tapi karena faktor biaya tinggi, juga karena tingkah 
laku personal yang sangat konsumtif, pungli sana sini dan mengedepankan gengsi 
masing-masing. Harga produk yang mahal Lebih jauh akan memberi ruang bagi 
produk murah Import untuk masuk, misalnya produk2 China baik yang legal maupun 
yang gelap, dengan kualitas yang sedikit lebih rendah atau malah sama namun 
dengan harga jual yang sangat jauh (bisa setengahnya, bahkan sepertiganya). 
Akibatnya Industri mati, gulung tikar atau dijual ke investor asing. ujungnya 
para buruh juga yang menjadi korban.
  c.. Apabila BBM industri juga naik, dua poin di atas sudah hampir pasti 
terjadi ! karena per Desember 07 banyak raw material manufacturing juga sudah 
mengalami kenaikan sekitar 10%, biaya ekspedisi/transportasi juga sudah pasti 
naik, tarif gas juga sudah dicanangkan akan naik. Akibat tarif gas naik, 
beberapa perusahaan telah berinvestasi dengan mengubah instrumennya agar bisa 
beralih ke BBM. nah kalo BBM industri juga naik, ada double cost di dalamnya. 
Jangan heran tahun depan tingkat PHK karyawan juga akan meningkat (semoga hal 
ini juga tidak terjadi).
Apakah kompetitor Pertamina juga menaikkan harga ?
Pada level harga yang sama, secara jujur saya lebih memilih produk Shell 
dibandingkan Pertamina. Bahkan dengan selisih Rp 500-800, masih berani memakai 
Shell dibandingkan produk pertamina. Kenapa ? Referensi teman yang ahli 
dibidangnya, secara kualitas produk Shell lebih bisa di'pegang' belum lagi 
faktor kejujuran pelaku bisnis SPBU Pertamina yang selama ini banyak 
diberitakan negatif.
Nah jika Pertamina menaikkan harga jual, sementara kompetitor tetap atau 
kenaikannya lebih sedikit. Mesti dikaji, bukan tidak mungkin market share 
Pertamina di kelas Pertamax dan variannya akan jauh turun. Ingat bahwa 
Pertamina bukan lagi pemain tunggal di bisnis ini. Mestinya hal ini sudah 
dikaji, namun bukan rahasia juga bahwa bos-bos biasanya lebih sering cuma 
melihat value 'diujungnya' jika harga naik dapet profit sekian dll tanpa mau 
tahu kondisi pasar !!! Nah kalo bosnya gak tahu apa-apa di bisnis ini ???

Intinya kenaikan di bawah, sepertinya 'tidak menyentuh' konsumsi masyarakat 
bawah (konsumsi premium, solar, dll) tapi belajar dari kenyataan selama ini 
terus terang kok gak yakin yah ! Karena selama ini pejabat berpikirnya 
"bagaimana nanti" bukan "nanti bagaimana".
Semoga yang dikhawatirkan juga tidak terjadi.....


joni wrote :

Dari milis sebelah, semoga bermanfaat!!!!!


Pertamax Desember Rp7.645 per Liter 
Penulis: Reva Sasistiya

JAKARTA--MEDIA: PT Pertamina (Persero) berencana menaikkan kembali harga bahan 
bakar minyak (BBM) jenis Pertamax dan Pertamax Plus sebesar 10% per liternya 
per 1 Desember mendatang.

Sebelumnya, per 15 November Pertamina sudah menaikkan kenaikan harga dengan 
presentase yang sama. "Kenaikan ini tidak dapat dihindari karena cost-nya juga 
tinggi. Dari tanggal 10-20 November harga minyak stabil berada di kisaran 
tinggi," ujar Deputi Direktur Niaga dan Pemasaran Pertamina Hanung Budya di 
sela-sela rapat kerja dengan Komisi VII DPR di Gedung MPR DPR, Jakarta, Rabu 
(28/11). 

Dengan rencana kenaikan ini, harga Pertamax di wilayah Jakarta, Banten, dan 
Jawa Barat per 1 Desember diperkirakan akan menjadi sekitar Rp7.645. Sedangkan, 
harga Pertamax Plus di wilayah sama naik menjadi Rp7.865 per liter. 

Pasca kenaikan pada 15 November lalu, harga Pertamax di wilayah Jakarta, 
Banten, dan Jawa Barat naik menjadi Rp6.950 per liter jia dibandingkan dengan 
harga per 1 Nopember lalu sebesar Rp6.250 per liter.

Sedangkan, harga Pertamax Plus di wilayah sama per 15 November naik dari 
Rp6.400 menjadi Rp7.150 per liter, Pertamina Dex dari Rp7.500 menjadi Rp8.100 
per liter, dan Biopertamax menjadi Rp6.950 dari sebelumnya Rp6.250 per liter. 

Harga baru Pertamax, Pertamax Plus, ertamina-Dex, dan Biopertamax di wilayah 
lainnya juga mengalami kenaikan yang berkisar antara Rp600-800 per liter.

Kendati kenaikan Pertamax sudah hampir dipastikan, namun Hanung mengaku belum 
bisa menentukan besaran kenaikan harga BBM industri untuk 1 Desember mendatang. 
"Harga BBM industri masih kita kaji," jawabnya.

Harga BBM industri yang berlaku mulai 15 November ini rata-rata naik berkisar 
antara 10,98% dari harga yang ditetapkan 1 November lalu.

BBM industri yang naik adalah untuk jenis minyak solar, minyak diesel, dan 
minyak bakar. Kenaikan sebesar 11% juga berlaku untuk produk BBM nonsubsidi, 
seperti Pertamax dan Pertamax Plus.

Perubahan harga tersebut dipengaruhi harga produk BBM di pasar Singapura (Mean 
of Platts Singapore/MOPS) yang menjadi acuan Pertamina untuk menetapkan harga 
berkisar 10,98-12,66 %, termasuk produk Mops Mogas 92 dan nilai tukar Rupiah 
melemah 0,22% dari perhitungan bulan lalu. 

Dengan demikian, maka harga baru per liter minyak solar industri adalah 
Rp7.537, minyak solar transportasi Rp7.880, minyak diesel Rp7.402 dan minyak 
bakar Rp5.668. Sedang, pada 1 November, harga solar industri adalah Rp6.450 , 
solar transportasi Rp7.161, minyak diesel Rp6.642, dan minyak bakar Rp4.776 per 
liter. Harga premium dan minyak tanah tetap seperti harga per 1 November 
2007.(Eva/OL- 2)



Kirim email ke