----- Forwarded Message ----
From: º» índrí « º <[EMAIL PROTECTED]>
To: ikazi [EMAIL PROTECTED];
Cc: indra wiguna <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Wednesday, December 19, 2007 10:17:07 AM
Subject: [IKAZI] iseng2 hari ini
Ironi Malay, USA , dan Indonesia
Malay : ekonomi begitu maju tetapi tidak diimbangi dengan peningkatan
demokrasi dan kesetaraan hak pada warganya (diskriminasi rasial seperti yg
dialami warga keturunan India), public yg tidak bisa menyoroti masalah korupsi,
kebebasan pers yg terbelenggu dan penggunaan UU ISA (Internal Security Act)
yang makin membungkam suara demokrasi disana
Dengan kemajuan yg sangat pesat dlm ekonomi, sebenarnya merupakan dasar kuat
buat Negara sebelah untuk mulai bisa membuka diri dlm peningkatan demokrasinya.
Tapi itu kembali berpulang ke penguasa negara tsb, dan kita cuman bisa
'menontonnya' dari sini .
Tindakan yang arogan terhadap TKI illegal, (yang terkadang melupakan dimensi
kemanusiaan) , namun pada kenyataannya warga Malay lebih suka bekerjasama
dengan orang2 Indonesia (dikutip dari Anwar Ibrahim)
aneh
USA : sebagai salah negara industri, yg memberikan konstribusi karbon sangat
besar di bumi ini, ternyata cukup alot utk menyetujui Bali Roadmap yg lalu,
yang mentargetkan penurunan emisi karbon sebesar 25 40 % (target yang terlalu
ambisius kah?) ...hhmmm.. awalnya ironis sih...
Tapi, syukur, akhirnya negara tsb (bersama dengan Kanda & Jepang)
menyetujuinya, meskipun target penurunan emisi karbon tidak disebutkan. Ini
merupakan suatu kemenangan negara2 berkembang terhadap negara2 maju . Kita
tinggal tunggu realisasinya, apakah negara2 yg hadir kemarin di Nusa Dua, Bali
konsisten untuk memenuhi kesepakatan yang ada, termasuk tuan rumahnya,
Indonesia
Indonesia : demokrasi sudah diakui dunia internasional, namun belum bisa
diimbangi oleh peningkatan ekonomi yg signifikan. Peningkatan laju ekonomi
sebesar 6 % dinilai belum bisa mencukupi kebutuhan masyarakat bawah. Yang
terjadi justru peningkatan jumlah kekayaan para pengusaha dan konglomerat.
Sungguh ironis
..
Orang terkaya di Indonesia (menurut Forbes Asia) justru yang saat ini masih
menggantung nasib warga kecil di Sidoarjo sana . Di tunggu realisasi janji
anda pak Bakrie
Di Indonesia, demokrasi yang dicapai (perbedaan pendapat, red), seringkali
membuat kita terlihat bodoh, seperti halnya beberapa tahun belakangan ini
tidak pernah ada kata sepakat dalam menentukan 1 Syawal ataupun 10 Dzulhijah.
Orang lain sudah pergi ke bulan, tetapi kita ngintip bulan, buat menetapkan
waktu yang sama utk ke 2 tanggal tsb masih gak sepaham. Tetapi kenapa untuk 1
Hijriah, 12 Rabiulawal, dan hari2 besar lainnya semuanya bisa sepaham?? Sungguh
aneh
Selamat Hari Raya Idul Adha...10 Dzulhijah 1428 H.....
BR
º» índrí «º
Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now.
Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now.
____________________________________________________________________________________
Be a better friend, newshound, and
know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now.
http://mobile.yahoo.com/;_ylt=Ahu06i62sR8HDtDypao8Wcj9tAcJ