CINTA MAK SEPANJANG JALAN, CINTA MARTIN TERANTUK FOTO

Sejatinya, 2008 adalah tahun yang membawa perubahan bagi Martin (nama
sengaja disamarkan). Di kampung, emak telah mendapatkan jodoh yang tepat
buatnya. Titin (juga nama samaran), kembang desa yang baru lulus SMU, setuju
untuk dijodohkan dengan lelaki berusia 36 tahun ini.

Kesibukan memang tak memberi ruang bagi Martin untuk mengenal perempuan
lebih dekat. Ah, sebenarnya itu cuma alasan. Faktanya, Martin adalah lelaki
"pemalu" untuk urusan yang satu ini. Padahal, tak ada yang kurang dalam diri
Martin. Pekerjaan ada, meskipun berstatus karyawan kontrak. Tempat tinggal
disediakan kantor. Motor dan sekalian uang bensinnya juga di fasilitasi oleh
kantor.

Inilah saatnya bagi Martin memenuhi permintaan Mak, memberinya cucu. Dan tak
hanya menyuruh, Mak pun berjuang mencarikan jodoh baginya.

Perjalanan hidup Martin memang unik. Datang ke Jakarta dengan niat
melanjutkan S1 di Institut Agama Islam yang terkenal, Martin malah terdampar
di Bali menjadi guide. Hanya 4 semester ia bertahan di kampus. Awalnya hanya
refreshing. Namun ketika dapat tawaran untuk mengembangkan hobby melukis
dengan menjadi desainer patung, Martin lupa kalo di Jakarta ia punya
kewajiban untuk datang ke kampus.

Di Bali, Martin menjalani 3 profesi; desainer patung, penjaga toko dan
sekaligus guide. Setelah dirasa cukup, Martin rindu untuk kuliah. Namun
bukan jadwal kuliah yang ia dapat. Melainkan selembar surat pemberhentian
sebagai mahasiwa karena telah meninggalkan kampus melebihi masa cuti yang
diijinkan.

Tak patah arang, Martin beralih ke Universitas Terbuka dan berhasil
mendapatkan gelar Sarjana Bahasa Inggris. Nasib kemudian membawa Martin
bermukim di Bogor dimana ia membuka kursus bahasa Inggris. Lumayan sukses,
uang yang terkumpul digunakan Martin untuk mendaftar kuliah program S2
disalah satu kampus di Bogor.

Kursus bahasa inggris dikelola ditengah kesibukan kuliah. Kadang Martin
masuk mengajar, kadang harus digantikan oleh orang lain. Lambat laun
motivasi para murid menurun. Meningkatnya aktifitas di kampus tidak diiringi
dengan bertambahnya jumlah murid kursusan. Untuk membiayai keperluan kuliah,
Martin terpaksa menggunakan jurus "pembayaran dimuka" alias ngutang pada
temannya. Pembayaran dilakukan begitu ada murid yang membayar uang kursus.

Begitulah, kebutuhan kuliah jalan terus dan hutang Martin terus membengkak.
Malu pada temannya, Martin menawarkan jalan damai. Setelah wisuda, Martin
memperoleh dua surat. Ijazah S2 dan surat pengalihan kepemilikian lembaga
kursus. Martin terbebas dari hutang, tapi lembaga kursus yang dibangunnya
melayang.

Berbekal ijazah S2, Martin mencoba peruntungan dengan menjadi guru bahasa
inggris. Tak perlu menunggu lama, sebulan kemudian Martin telah menerima
panggilan "Pak". Adalah sebuah SMP swasta yang menjadi tempat berlabuh
Martin berikutnya.

Agar bisa mengajar tepat waktu, Martin pun memutuskan untuk kost di dekat
sekolah. Keputusan yang kemudian mengantarkan Martin untuk menjadi juragan
lele. Loh, kok bisa.

Begini, karena predikat guru yang disandangnya, Martin sering kedatangan
tamu. Para pemilik tambak lele merasa perlu berkonsultasi dengan pak guru.
Martin menikmati pertemanan ini. Meski harus dibayar mahal dengan bengkaknya
pengeluaran, karena setiap malam harus menyediakan gula dan kopi untuk para
tamu.

Tak sampai disitu, para tamu pun mulai berani meminjam uang. Beragam alasan
yang dikemukakan. Mulai dari anak masuk sekolah sampai istri berbaring di
rumah sakit. Pendek kata, Martin tak pernah bisa menyisihkan uang.

Dan entah entah bagaimana ceritanya, Martin tiba-tiba mendapat kontrak untuk
mengelola tambak lele selama 1 tahun. Belakangan diketahui pemilik tambak
tak mampu membayar hutang pada Martin. Sejarah sepertinya berulang. Kali ini
Martin yang ketiban "ditukargulingi" .

Bosan dengan kehidupan "kampung", Martin Hijrah ke Jakarta. Adalah teman
sekampus di program S2 dulu, mengajaknya untuk terlibat dalam program
pemberdayaan masyarakat perkotaan. Kebetulan sang teman telah menjadi
Koordinator Program. Entah mendapat informasi darimana, sang teman tertarik
dengan kesuksesan Martin "mengakuisisi" tambak di daerah Bogor. Bukti nyata,
Martin berbakat jadi Community Worker. Posisi yang lowong di kantor tempat
sang teman bekerja.

Jadilah Martin menerima semua fasilitas yang tadi disebutkan. Rumah kost,
motor dan seperangkat Komputer. Meski dalam struktur di kantor Martin berada
di level paling bawah, tapi di lapangan Martin adalah "kepala" kantor
perwakilan. Siapa yang tak akan terkesiap melihat penampilan Martin saat
ini. Lelaki bermotor yang menyimpan ijazah S2. Wajah lumayan ganteng,
penampilan selalu rapi. Punya kantor sendiri.

Dan pada titik inilah Mak mengultimatum. 2008 Martin harus kawin.

Mengenai Titin, gadis yang telah ditemukan Mak, sekilas tak ada yang kurang
pada dirinya. Manis dan juara di kelasnya. Pandai juga berbahasa inggris.
Singkat kata, Mak menggaransi Martin tak akan kecewa. Cuma satu permintaan
Titin, Titin ingin melihat foto bang Martin. Inilah yang belum bisa dipenuhi
Mak. Martin tak pernah berkirim foto ke kampung, sejak merantau ke Jakarta.

"Bang, kirimlah foto abang yang paling cakep, si Titin ingin melihat abang".
Begitu pesan singkat yang dikirimkan Desi, adik Martin yang paling kecil.
Desi memang menjadi perpanjangan tangan Mak selama ini bila berhubungan
dengan Martin. Manalah bisa Mak berurusan dengan tombol-tombol yang ada di
Hp itu.

Entah karena lupa atau memang sibuk, pesan ini sepertinya terabaikan oleh
Martin. Tak kunjung dikirimnya foto yang diminta oleh Titin. Mak pun juga
tak lagi mengabari perkembangan perihal perjodohan itu.

Lalu, kira-kira 2 hari menjelang malam pergantian tahun, usai
mendokumentasikan kegiatan di lapangan, Martin tergerak untuk membuat foto.
Mumpung kamera digital kantor masih di tangan. Setelah beberapa fose, Martin
mengirim pesan buat Desi.

"Des, besok pergilah ke warnet, abang kirim foto lewat email".
Sms dikirim. Dan tak lama kemudian mendapatkan balasnya.
"Buat apa lagi foto, bulan depan si Titin dah kawin ama orang kampung lain".

Martin ternganga, bagaimana bisa. Tak cukup ber sms, Martin merasa butuh
menelpon adiknya untuk mendapatkan kebenaran. Memanfaatkan tarif murah malam
hari, Martin bercuap-cuap dengan adiknya hampir setengah jam.

Hasilnya, Martin hanya bisa pasrah. Jodoh yang sudah didepan mata, disergap
oleh lelaki kampung sebelah. Titin tak salah. Bukan kemilau harta yang
membuatnya berpaling. Bukan pula janji manis lelaki itu yang meluluhkan
hatinya. Titin hanya tak kesengsem dengan Martin. Sosok Martin ternyata tak
masuk dalam kriteria "lelaki idaman" Titin.

Tapi, darimana Titin tahu sosok Martin? Bukankah foto diri Martin baru akan
dikirim besok pagi. Selidik punya selidik, semua disebabkan oleh Mak. Karena
Martin tak kunjung mengirimkan foto, Mak berinisiatif memperlihatkan foto
Martin yang ada di raport SMU.

Akibatnya, Martin di tolak pada pandangan pertama. Di foto itu Martin tampak
kurus dan kering khas anak SMU. Manalah Titin suka. Pinangan lelaki sebelah
yang sengaja di pending, segera saja di approve. Bulan depan mereka akan
bersanding di depan penghulu.

Entah malam ini Martin bisa tidur atau tidak. Tapi satu hal sudah bisa
ditebak, Martin patah hati. Andai boleh memilih, Martin lebih memilih untuk
sakit gigi, duh..

Pesan moral: Bila Mak mu minta dikirimin foto, segeralah kirim. Terlambat
dikirim, bisa-bisa jodohmu melayang, ha ha ha...

Kirim email ke