Jadi tuh kayaknya, pemerintah mengimplementasikan pembatasan pemakaian premium. Untuk pertama akan diujicobakan di Jabotabek. Rencananya setiap pemakai kendaraan pribadi diberi quota pemakaian premium sehari 5 liter. Artinya kalau beli maksimal 5 liter akan mendapatkan harga subsidi, nah kalau belinya lebih sisanya akan membayar dengan harga tanpa subsidi. Untuk angkutan umum ketentuannya belum jelas bener, apakah akan sama seperti ini atau ada quota khusus.
Pertanyaannya, bagaimana kontrol di lapangan ?? Misalnya saya beli premium di Senen 4 liter, kemudian jalan ke Kuningan bensin mo habis. Beli lagi deh 4 liter lagi. Bagaimana pompa bensin tahu kalau quota saya dah kepake 4 liter dan tinggal sisa 1 liter ? Kata yang berwenang sih mo dibikin 'online', data setiap kendaraan masuk database so (kata dia) begitu ada kendaraan masuk petugas pompa bensin tinggal masukkan nomor kendaraan akan keluarlah data-data sisa quota. Nah pemilik kendaraan gak bisa mengelak jika quotanya habis ! He he he ternyata gampang banget yah !! Nah realitanya, bagaimana membuat online semua pompa bensin yang ada ? perlu berapa tahun ? sementara rencana nya kan mo diimplementasikan di sekitar Maret 2008 (rencana awal) !! Alternatifnya memakai kartu pintar, mekanisme nya gak jelas mo seperti apa. Yang kebayang sih tuh kartu ditunjukan setiap kali ngisi premium dan akan diberi tanda dan sisa quota. Hmmm yakin nih bisa dijalankan ?! Sudahlah, anggap saja semua mekanisme itu bisa berjalan. Masalahnya quota 5 liter seberapa cukupkah untuk konsumsi di Jakarta ? dengan mempertimbangkan kemacetan dan sebagainya. Hampir pasti pemakai kendaraan (kecuali motor) akan mengisi di atas 5 liter, dengan kata lain value konsumsi BBM akan naik, otomatis. Kesimpulannya sebenarnya tuh BBM naik, gitu aja kok repot-repot dengan quota dll. Masih ada yang ingat janji SBY bahwa BBM Tidak akan naik setidaknya hingga tahun 2009 lewat ?? Efek dari kebijakan ini, kemungkinan pemakai mobil pribadi akan beralih ke kendaraan umum (?) kecil sih kemungkinannya karena kualitas angkutan umum aja gak karuan. Yang paling mungkin yaa naik motor. Naik motor sejauh-jauhnya 5 liter sehari masih cukup, lah emang rumahnya dimana kalo 1 liter aja cukup untuk 40 - 50 km. Bersiaplah Jakarta menjadi lautan motor. =narko=
